Loading...
Wednesday, January 17, 2018

Sharing Setting bersama Shabrina Ws


Postingan kali ini, saya masih ingin berbagi cerita tentang kehadiran bintang tamu di Kelas Fiksi kemarin malam (16/01/2018). Iya, saat Mbak Shabrina Ws menyempatkan waktu untuk anak-anak ODOP Batch 4.

Seperti sudah saya singgung di postingan kemarin, bahwa Mbak Shabrina Ws sharing tentang setting dalam tulisan fiksi. Tahu, kan apa itu setting? Setting itu latar, jadi Mbak Shabrina Ws bercerita proses kreatif beliau dalam menuliskan setting dalam karya-karya beliau. Setting yang bagus itu harus benar-benar membawa pembaca ke dalam cerita. Kalau menulis setting tempat yang seram tentu harus bisa menakuti pembacanya. Hihi....

Salah satu setting novel karya Mbak Shabrina Ws yang berjudul Always Be in Your Heart adalah Timor Leste ketika peristiwa referendum 99. "Novel itu memerlukan riset panjang," kata Mbak Shabrina Ws. Cara menetukan dan mengenal setting dengan riset bisa lewat internet, film, atau pun buku dan foto-foto. "Saya beli buku Timor Timur Satu Menit Terakhir dan Kamus Tetun-Indonesia," ungkap beliau.

Mbak Shabrina juga mengungkapkan ketika menulis novel Betang: Cinta yang Tumbuh dalam Diam, beliau membeli buku Tjilik Riwut Kalimantan Membangun dan Manaser Penatau Tatu Hiang. "Waktu itu saya juga berkenalan dengan atlet pelatnas karena ini novel tentang dayung. Juga berulang kali menonton tayangan dayung di Youtube," kisah beliau.

"Dalam novel Ping, saya mengumpulkan banyak foto orangutan, pergi ke bonbin, taman safari, dan tentunya membaca buku tentang orangutan. Sementara di nove Sauh, setting di Pacitan, jadi saya sambil mengingat, namun banyak hal tetap saja saya membaca dan bertanya untuk melengkapi info," lanjut Mbak Shabrina semangat, "Intinya, riset setting adalah hal yang menyenangkan. Jangan lelah. Karena saat kita membaca dan menemukan sesuatu bisa jadi kita mendapat ide baru juga."

Mbak Shabrina Ws mengisahkan, awalnya Always Be in Your Heart hanya satu novel, tapi seiring menemukan hal-hal baru akhirnya berkembang menjadi satu cerita bersambung, enam cerpen dan sepuluh puisi.

"Kata Jakob Sumardjo, setting dalam fiksi bukan hanya background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian. Tetapi setting yang kuat adalah yang menjadi unsur cerita itu sendiri. Yang berjalinan erat dengan karakter, tema, dan suasana cerita," jelas penulis penyuka pagi ini.

Untuk menilai apakah setting kita integral, kata Jakob, kita dapat ajukan pertanyaan:

1. Dapatkah setting diganti tempat lain tanpa mengubah isi cerpen/novel?
2. Sejauh mana setting menentukan tema/plot?
3. Sejauh mana setting membentuk watak yang tidak dihasilkan daerah lain?

"Jadi, setting dan cerita yang berhasil adalah, ketika setting dipindah, maka cerita akan berantakan," simpul beliau. "Misalnya, setting saya Timor Timur 99 akan berubah total cerita saat saya pindahkan keSingapura."

Demikian Mbak Shabrina menjelaskan dengan sangat lengkap proses kreatif beliau dalam menulis setting. Saya akui, saya sangat lemah dalam membuat deskripsi setting. Tampaknya saya harus banyak berlatih untuk ini. Harus gigih dan tidak boleh gampang menyerah. Ibaratnya berlatih 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Intinya, jangan ada kata menyerah. Semoga bisa mengikuti jejak kesuksesan Mbak Shabrina Ws. Aamiin...

#30DWC Day7

6 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP