Loading...
Monday, October 9, 2017

Bukan Malin Kundang


Kapal besarku mulai menepi. Sebentuk rindu mencuat di dadaku. Pantai itu..., di tempat itu dulu Amak melepaskanku pergi. Amak... bahkan aku tidak tahu masih hidupkah beliau.

Begitu melihat kapal besar dan bagus milikku berlabuh, para nelayan berbondong mendekat. Mungkin penasaran akan siapa pemiliknya? Atau sekadar ingin melihat dari dekat kapal besar dan bagus yang jarang bisa mereka lihat.

Para pengawalku mendahului mencarikanku jalan. Dan aku turun penuh wibawa. Menginjak pantai yang lama kutinggalkan. Mata-mata nelayan itu, kurasa ada beberapa yang masih mengenaliku. Bisik-bisik yang sempat kudengar, "Malin... itu Malin...?"

Langkahku terganggu saat para pengawalku kesulitan mencarikanku jalan. Rupanya ada seseorang menghalangu jalan. Kudengar suara salah seorang pengawalku, "Menyingkirlah, Tuan Muda ingin lewat! Lekas menyingkir!"

Aku bersabar sejenak. Biarlah para pengawal itu menyelesaikan tugasnya. Aku memberi isyarat pada lelaki yang berjalan di dekatku. Anak buah kepercayaanku, namanya Bejo, orang dari Tanah Jawa. Dia mengerti mauku. Segera diangsurkan cerutu yang langsung kujepit di bibir. Bejo menyalakan api dari pemantik.


Kepulan cerutu pertama yang keluar dari mulutku, beriring dengan teriakan suara yang amat kukenal. "Biarkan aku menemuinya. Aku ini amaknya! Aku ini amaknya!"

Pengawalku yang bertubuh kekar itu kulihat mendorong-dorong tubuh ringkih seorang perempuan tua yang ternyata sedari tadi menghalangi jalan kami. Perempuan tua berpakaian kumuh itu terus menunjuk-nunjuk ke arahku. Amak? Amakkah itu?

"Pengawal, biarkan dia kemari...!" seruku.

"Tapi, Tuan Muda..."

"Sudahlah. Biarkan dia, beri jalan kemari...."

Perempuan tua itu... Itu Amak. Ya Tuhan, beliau sangat kurus dan ringkih. Pakaian beliau sangat tidak layak. Tegakah aku padanya?

"Malin... Malin Kundang anakku...," perempuan tua yang kuyakin memang Amak itu harus merangkak mendekatiku. "Sekian lama Amak menunggu kepulanganmu, Nak...."

Aku harus tega. Kusentak tangan yang hampir menyentuh kakiku. Kutambah dengan membanting cerutu di depannya. "Perempuan tua, kau salah mengenali orang. Aku bukan anakmu!"

Amak tersungkur. Ia menangis. Iba hatiku. Tapi aku bertahan. Aku harus kebal dari rasa itu. Amak..., semakin kau terluka hatimu, semakin kuatlah kutukanmu. Itu mauku. Maafkan aku, Amak.

"Malin, kau tega perlakukan Amak begini?" tangis Amak menjadi.

"Wahai perempuan tua, apa kau punya bukti bahwa aku yang kaya raya ini adalah anakmu? Jangan asal mengaku-aku. Semua orang bisa melakukannya. Tapi bukti apa yang kau miliki?" bentakku. Sungguh, bentakan ini beriring tangis batinku. Maafkan aku, Amak.

"Malin... Kau tega sekali, Nak. Aku memang tidak punya bukti apa-apa...."

"Kalau begitu ada cara bagus untuk membuktikannya...! Kutuklah anakmu, bukankah itu senjata andalan orangtua? Ayo, kutantang kutuklah anakmu. Jika kutukanmu bertuah maka aku akan hancur oleh kutukanmu, jika memang kau ibu kandungku!" Dadaku berdesir-desir sendiri mendengarkan sumbarku.

Amak memandangku. Amak tak tega mengutuk?

"Kutuklah disambar petir, atau ditelan bumi, atau duterjang ombak! Pilih sesukamu!" seruku. Amak masih melihat ke arahku seperti tidak percaya aku yang bersuara.

Akhirnya....

"Baiklah. Baiklah.... Wahai langit dan bumi, saksikanlah! Kukutuk anakku yang tidak tahu diri ini menjadi batu! Kabulkan, Tuhan!" kutukan Amak keluar.

Waduh, Amak... Mengapa harus jadi batu? batinku. Apa tidak ada kutukan lainnya? Tapi sudahlah, kutuk sudah terucap. Aku sudah merasakan tanda kutukan itu mulai didengar Tuhan.

Angin mendadak ribut. Laut bergelombang tinggi. Petir di langit menyambar-nyambar. Para pengawalku terlihat bertiarap. Bejo, anak buah kepercayaanku juga bertiarap. Aku menjadi ngeri, tapi inilah yang harus kujalani. Amak, semoga kutukanmu berhasil.

Sejenak suasana gelap. Matahari tertutup awan pekat sekali. Para nelayan yang sedari tadi menyaksikan peristiwa tentang Amak ini segera berlarian pergi. Takut terkena imbas kutukan. Dan mereka yang berlarian menyingkir inilah yang kelak menyebarkan cerita dari mulut ke mulut tentang anak durhaka bernama Malin Kundang, yang dikutuk amaknya menjadi batu. Aku tidak sempat memikirkan mereka. Suasana yang kalut cukup menghentakku. Dan, tidak ada yang sempat melihat bagaimana kejadiannya, ketika seonggok batu sudah terbentuk dari kutukan Amak.

Suasana sudah kembali normal. Langit cerah kembali. Ombak setenang tadi. Angin tinggal semilir sepoi. Aku melihat Amak yang terpana memandangku.

"Malin... Kau tidak mempan kutukku?" Amak kebingungan.

Aku lekas menoleh ke sampingku. Bejo tidak lagi tampak.

"Amak... Maafkan Malin. Kutukan Amak telah berhasil. Lihatlah Bejo, anak buahku, sudah jadi batu saat bertiarap. Dialah sebenarnya anak Amak...," kataku segera.

Kutunjuk tubuh Bejo yang sudah berubah jadi batu. Lalu kudekati Amak. Menuntunnya mendekati Bejo.

"Bejo..., anakku Bejo? Bukankah anakku adalah Malin Kundang? Bukankah engkau anakku?" tanya Amak masih sambil memandangiku.

"Inilah anak Amak yang sebenarnya. Namanya Bejo, Mak. Maafkan Malin memaksa Amak mengutuk anak Amak. Berkat kutukan Amak pada anak Amak, maka terjawablah sudah bahwa Malin bukan anak kandung Amak," kucoba menjelaskan. Air mataku mulai meleleh. Meski terbukti Amak bukan ibu kandungku, tapi kebersamaan dari bayi hingga dewasa dalam kasih-sayangnya adalah kenangan terindah dan tak pernah terlupakan olehku.

"Aku tidak percaya, Malin. Anakku adalah engkau. Bukan Bejo seperti katamu...." Amak masih menggeleng.

"Yakinlah, Amak. Anak Amak si Bejo itu. Mungkin ada yang bisa menjelaskan lebih terang kepada Amak. Lihat, Amak, Malin membawa seseorang....," kataku pelan.

Lalu kuperintah pengawalku membawa keluar seorang kakek renta dari atas kapal besarku. Amak akan kaget berjumpa dengannya.

"Siapa, siapa lelaki tua ini, Malin?" tanya Amak segera.

"Amak lupa sama suami Amak yang merantau bertahun-tahun tapi tidak berkabar dulu? Amak... Beliau suami Amak...!"

Seperti dugaanku, Amak terkejut. Selama ini ia berpikir suaminya merantau tidak ingat pulang. Kini... Di depannya ada seorang lelaki seusianya disebut sebagai suami?

"Maafkan aku, Mak.... Aku terlunta-lunta di Jawa. Tidak bisa pulang menemuimu...." suara lelaki tua itu menambah kekagetan Amak.

Meski berpisah sekian lama, rupanya Amak masih mengenali suara suaminya. Amak menangis sejadi-jadinya. Keduanya berpelukan. Air mata tumpah menganak sungai.  Aku sendiri tak kuasa menahan lelehan bening di pipi. Sekian puluh tahun, Amak berpisah... dan kini bertemu lagi dengan suaminya.

"Bagaimana ini semua bisa terjadi, suamiku?" tanya Amak dalam isaknya.

"Malin Kundang bukan anak kita, Amak. Anak kita si Bejo. Bejo yang kurang ajar dan tidak tahu diuntung...."

Kubiarkan keduanya melepas kerinduan. Semua akan segera jelas setelah suami Amak memberikan penjelasannya.

(Sebenarnya sampai di sini tangan penulis sudah capek bener ngetik di hp. Tapi nanggung, dikit lagi kelar.)

"Anak kita ya si Malin Kundang. Semua orang sudah tahu," bantah Amak.

"Aku ceritakan semua biar jelas, Mak," pinta suami Amak.

"Iya, Mak, dengarkan dulu," kataku ikut berbicara.

"Waktu itu, aku mencoba mengadu nasib ke Jawa. Di Jawa, aku bekerja pada seorang juragan bernama Bejo. Bejo ini sangat kaya, tapi kelakuannya pada Bapak dan Emaknya sangat keterlaluan."

"Bapak dan Emak?" tanya Amak.

"Dengarkan dulu, Amak," pintaku.

Suami Amak melanjutkan, "Pernah gara-gara perkara sepele, Bejo mengurung Bapak dan Emaknya di gudang. Tanpa diberi makan sama sekali. Aku merasa kasihan, lalu mengirimkan makanan untuk mereka."

Amak terlihat mulai tertarik pada cerita sang suami. Aku menahab kecamuk di hatiku.

"Saat itulah kudengar Bapak dan Emak itu berbincang-bincang. Kau tahu, Amak, perbincangan itu mengejutkanku."

Amak tidak sabar. "Apa yang diperbincangkan mereka?"

Suami Amak menarik napas dalam-dalam. "Mereka menyesal telah menukar bayi mereka dengan bayi dari pasangan perantau Minang saat sama-sama usai melahirkan di salah satu dukun bayi."

"Menukar bayi?" tanya Amak. Suaminya mengangguk.

"Mereka ingin memiliki anak berkulit terang, sedangkan bayi yang mereka dapatkan berkulit sawo matang."

"Lalu mereka menukar bayi mereka dengan bayu pasangan perantau Minang yang lebih terang kulitnya?" tanya Amak.

"Iya. Dan setelah kutelusuri, ternyata pasangan perantau Minang itu adalah kita berdua saat masih muda. Saat kita merantau ke Jawa sebelum akhirnya pulang ke Minang."

Aku menutup mukaku. Seolah tidak tahan mendengar tutur lanjutan suami Amak.

"Bapak dan Emak itu mati kelaparan. Bejo tidak ambil pusing. Dia kembali bekerja tanpa terganggu kematian Bapak dan Emak. Betapa biadab dia... Aku tidak percaya bahwa Bejo adalah anak kita, Amak."

Amak tertegun. Suaminya menangis penuh sesal.

"Kedatangan Malin ke Jawa, membawa kemujuran. Malin sukses. Aku bertemu Malin dan mengisahkan tentang Bejo. Malin tidak terima jika ternyata Bapak dan Emak, kedua orangtua kandungnya mati karena kebiadaban Bejo. Tapi Malin juga tidak bisa terima kenyataan bahwa kedua orangtuanya sempat menyia-nyiakannya."

Kupupus air mataku. Kutahan segala gejolak di dadaku.

"Malin dengan siasatnya, berhasil menjadikan Bejo sebagai anak buah kepercayaannya. Bersamaku, Malin menyusun rencana agar Amak mengutuk anak Amak. Siapa pun yang termakan kutuk, maka dia adalah anak Amak. Ini sekaligus membuktikan kebenaran cerita pertukaran bayi itu."

Amak masih terpana.

"Dan lihatlah, siapa termakan kutukanmu, Amak...?"

Amak menatap batu tiarap seperti orang sujud itu. "Bejo.... Anakku, Bejo? Mengapa semua berakhir begini?"

Aku tak tahan lagi. Segera kurangkul Amak. Juga suaminya. "Apapun, aku tetap Malin Kundang, anak Amak. Meski bukan anak kandung, tapi Malin tetap akan membaktikan diri kepadamu, Amak...."

Tangis pun pecah berderai. Seluruh pengawal dan anak buahku ikut menangis. Mereka pun bahkan baru tahu kisah hidupku ini. Ternyata tak seindah yang mereka bayangkan.

Sementara ombak menggelepar. Menjilati patung batu yang menyimpan kisahnya dalam keabadian zaman. Bejo, yang semua orang menyangkanya sebagai batu si anak durhaka Malin Kundang. Entah sampai kapan kisah itu bisa diluruskan. Aku tidak ambil pusing. Di sisi Amak adalah kebahagiaanku.

SELESAI

29 komentar:

  1. Seru ceritanya...
    Jadi seperti Malin yang tertukar

    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya hanya meluruskan cerita yang terlanjur beredar. Biar tidak ada salah paham. Hihihi...

      Delete
  2. udah sesuai ini bang, cuma elipsisnya aja kurang tepat ya? Kalau cukup pakai tanda koma ngga perlu elipsis lagi kan ya?

    ReplyDelete
  3. Kreatif sekali. Masalah EBI biarkan yang lain yang mengireksi. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Moga ke depannya EBInya gak lupa dicampurin.

      Delete
    2. tanpa ebi, ga akan jadi terasi, hehehe...

      Delete
  4. Replies
    1. Percayakah Anda itu batu adalah si Bejo? Hahaha

      Delete
  5. Malin bejo,malin yang tertukar 😊

    Baguss

    ReplyDelete
  6. 😂😂😂 malin yang tertukar..
    Amazing
    😻

    ReplyDelete
  7. dahsyat imajinasinya, daaaan aku salut ini diketik d hp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waw... Malah nyaman pake hape dari pada pensil!

      Delete
  8. Tantangan pekan ini adalah cemilannya Kang Wakhid. Sebenarnya justru saya ingin pengecualian kapada sampean. Tantangannya adalah menulis historical dengan gaya sastra. Bukan gaya edian seperti biasanya.

    Tapi, apapun saya tetap suka cerita Malin Kundang versi Kang Wakhid ini.

    Wehehe ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan nyastra, mati aku!! Yang fiktif-fiktif aja...

      Delete
  9. Keren Mas wakhid.ada aja idenya hahaha...

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP