Loading...
Sunday, October 8, 2017

Pengibar Panji Islam


Serial Lembar Ibrah
Dalam kisah Mush'ab bin Umair Pengibar Panji Islam
Dikisahkan oleh Suden Basayev

Panah-panah dari atas bukit Uhud bagai hujan deras menghalangi langkah kuda-kuda pasukan kafir Quraisy. Mereka yang selamat dari anak panah berlarian kocar-kacir, sebagian besar tewas di tempat.

"Allahu akbar! Kita menang! Ayo kita bergabung dengan para sahabat di bawah!" seru salah seorang pemanah yang ditugaskan Rasulullah Saw di atas bukit.

"Benar, kita sudah menang! Lihatlah, mereka bergelimpangan terkena panah-panah kita!" sahut yang lainnya.

Mush'ab bin Umair yang bertugas mengibarkan panji Islam terkejut mendengar seruan-seruan itu. Ia segera berteriak, "Saudara-saudaraku semua! Ingat pesan Rasulullah! Kita tidak boleh turun bukit, kita harus bertahan di atas bukit!"

Teriakan Mush'ab ditelan seruan-seruan lainnya. "Kita sudah menang! Lihat ke bawah, ghanimah bertebaran di mana-mana. Ayo kita bantu para sahabat yang di bawah untuk mengumpulkannya! Ayo kita turun!"

"Jangan, saudara-saudaraku! Bertahanlah di bukit sampai Rasulullah memerintahkan turun!" teriak Mush'ab sambil mengangkat tinggi-tinggi panji Islam yang ia pegang.

Tapi sayang, sebagian besar pasukan pemanah di atas bukit Uhud sudah terlanjur merasa menang dan tergiur berlimpahnya ghanimah, harta rampasan perang, yang berceceran di bawah sana. Padahal Rasulullah sudah tegas-tegas melarang mereka turun sampai perang benar-benar usai.

Melihat pasukan pemanah Muslimin berloncatan turun, Khalid bin Walid yang menjadi pemimpin pasukan berkuda kaum kafir Quraisy segera berseru, "Cepat naik ke bukit! Cepat ke puncak bukit! Pasukan pemanah segera ke bukit!"

Seruan itu disambut gebrakan kuda dan lompatan pasukan kafir yang bergegas menuju ke puncak Uhud. Seketika situasi berubah, yang sebelumnya pasukan Islam menguasai pertempuran, dengan dikuasainya puncak Uhud, maka justru pasukan Islamlah yang kini jadi sasaran empuk panah-panah dari atas bukit.

Sebagian kecil pemanah Muslim yang bertahan di atas bukit tidak berdaya dengan serbuan pasukan pimpinan Khalid bin Walid itu. Keadaan pasukan Islam menjadi kacau-balau.

"Bunuh Muhammad! Bunuh Muhammad!" seruan-seruan itu mengerikan sekali. Uhud menjadi saksi betapa banyak darah para sahabat tumpah untuk melindungi Rasulullah.

Menyadari kondisi sedemikian, Mush'ab sang pembawa panji Islam mengibarkan panjinya tinggi-tinggi, sambil berkelebat kesana-kemari. Mush'ab berusaha mengalihkan perhatian pasukan kafir yang mencoba mengejar Rasulullah yang memang sudah terluka.

Mush'ab cukup berhasil membuat perhatian lawan terpecah-pecah. Kibaran panjinya yang berkelebat seolah menyibak gelanggang peperangan. Terpancinglah pasukan kafir hingga banyak yang mengerumuninya.

Ibnu Qaimah, salah seorang anggota pasukan kafir melihat Mush'ab bin Umair sedemikian heboh, lekas menggebrak kudanya mendekati pemegang panji itu.

"Rasakan ketajaman pedangku ini. Heaaa!!!"

Crass!

Pedang Ibnu Qaimah membabat deras ke arah Mush'ab. Sekali tebas tangan kanan Mush'ab terputus, potongannya jatuh ke tanah berlumur darah. Panji yang ia pegang pun tercampak.

Mush'ab berseru, "Tidaklah Muhammad melainkan seorang Rasul yang sebelumnya telah didahului beberapa Rasul. Apakah jika Muhammad terbunuh, kalian akan kembali ke belakang?"

Mush'ab belum menyerah. Ia lekas memungut panji Islam dengan tangan kiri dan mengangkat tinggi-tinggi. "Allaahu akbar!"

Ibnu Qaimah tersenyum sinis. "Masih sanggup kau bertingkah?! Perlu sekali lagi pedangku berbicara? Heaa...!"

Tebasan pedang Ibnu Qaimah yang kedua untuk Mush'ab. Potongan tangan kiri itu menggelinding. Panji yang ia pegang pun turut tercampak.

Ibnu Qaimah tertawa puas. "Lihat kedua tanganmu sudah putus! Tajam bukan, pedang Ibnu Qaimah?"

Tawa Ibnu Qaimah terhenti saat melihat panji Islam berkibar kembali. Rupanya Mush'ab menggunakan dua pangkal lengannya yang tersisa untuk mengangkat panji Islam dengan memeluknya di dada. Tiada erangan kesakitan. Bibirnya tak henti menyebutkan kesaksian tentang kerasulan Muhammad.

"Ibnu Qaimah, biar tombakku ikut berbicara. Heyaaahhh!" salah seorang pasukan kafir berseru mendahului Ibnu Qaimah. Dia menyerang Mush'ab dengan tombaknya.

Mata tombak menghunjam ke dada Mush'ab. Menembus sampai ke punggung. Saking kuatnya, tombak itu sampai patah jadi dua.

Mush'ab bin Umair gugur, bersamaan panji Islam yang ia peluk terlempar. Tawa kemenangan pasukan kafir mengiring robohnya ia ke tanah.

4 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP