Loading...
Thursday, November 22, 2018

Belahan Jiwa yang Terasa Hambar



Judul: Belahan Jiwa
Penulis: Nuniek KR
Penerbit: BOOM Publishing, Tangerang
ISBN: 978-602-7775-32-9
Terbit: Juni 2015
Tebal: vii+132 halaman

Saat dia selalu bersamamu, cinta itu telah hadir.

Membaca novel tipis tulisan Nuniek KR ini, sejujurnya saya merasa hambar. Tapi saya menuntaskannya, kok, sampai lembar terakhir. Hambar di sini, saya sama sekali tidak mendapat pencerahan apa-apa. Ceritanya terlalu biasa, atau malah terkesan mengada-ada. Saat saya bilang pada chat salah satu grup kepenulisan di WhatsApp bahwa saya sedang baca buku jelek, teman saya menanggapi, bahwa tidak ada buku jelek, yang ada ia tidak cocok dengan selera kita, bagi orang lain bisa saja itu bacaan bagus. Iya juga, ya. Saya pun sadar, ngomong asal doang! Bisa menyelesaikan tulisan menjadi novel saja adalah hal luar biasa, bahkan saya belum kelar-kelar mau bikin novel. Oke, saya kasih applause deh buat Nuniek KR atas Belahan Jiwa-nya ini. Semoga selalu semangat menulisnya, ya!

Novel ini diterbitkan BOOM Publishing, asing di telinga saya, entah indie atau major, tapi masih banyak typo lolos dari editor, yang mengganggu di dalamnya. Novel ini saya beli di bazar buku murah beberapa hari lalu di kota kabupaten tempat tinggal saya.

Salah satu kesalahan besar dalam buku ini, pada halaman awal yang seharusnya diisi kata pengantar, malah diisi sinopsis. Iya, sinopsis! Mana full lagi! Termasuk ending-nya! Spoiler banget, edan! Tapi saya sportif membacanya sampai kelar, soalnya terlanjur pilih buat tantangan membaca di komunitas yang saya ikuti.

Tema yang diangkat persahabatan dan cinta ala-ala anak muda. Tokoh utamanya Mong (nama aslinya keren, Monica Anabella), Gun, dan Lila. Mong sahabatan sama Gun, lalu muncul Lila. Mong baru sadar ia jatuh cinta sama Gun setelah ada Lila yang mendekatinya. Gitu inti ceritanya. Saya nggak mau ikutan spoiler, kasihan yang mau baca.

Nuniek KR menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama, Mong sebagai aku dalam novel ini. Alur maju, dan terasa jalan biasa saja, saya nggak lagi bilang hambar lho, ya! Namanya juga sudah ketebak apa yang diceritakan sejak baca sinopsisnya.

Sebenarnya pada blurb cukup bagus, bikin agak penasaran, buktinya saya beli gara-gara baca tulisan di sampul belakang novel ini, selain melihat sampulnya yang cukup keren. Blurb bilang kalau pertemuan Mong dengan Gun di terminal gara-gara Mong menyangka Gun tukang hipnotis di terminal saat ia kehilangan dompet, berakhir dengan persahabatan. Lalu Lila muncul sebagai orang ketiga yang pengin jadi pacar Gun, bikin Mong cemburu. Saat Gun hendak menyampaikan perasaan ke Mong, si Mong terlanjur kesal dan ogah akui perasaan yang sama. Sebenarnya kalau digarap lebih greget, mungkin konfliknya bisa dibuat makin 'berdarah-darah' dengan memainkan emosi pembaca. Tapi sayang, saya tidak merasakan itu.

Belahan Jiwa, biarlah ikut mewarnai dunia pernovelan di tanahair tercinta dengan gayanya sendiri. Toh, ia akan menemukan pembacanya juga. Mungkim satu hal yang bisa saya ambil sebagai ibrah, yakni saya tetap harus bisa menyelesaikan apa yang tidak kelar-kelar saya tulis: novel. Hehehe.

13 komentar:

  1. Setiap tulisan akan menemukan penulisnya. Seperti setiap jiwa yang akan menemukan belahan jiwanya.
    Ini komen nggak nyambung..

    Tapi, baca judul review bukunya saya jadi tertarik. Tapi ...tapi ..tapi lagi..ya nggak jadi ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kali ini review-nya gak buat ajak2. Hanya sebatas review...

      Delete
  2. aku mereview buku karya teman Kokang... malah dikomeni begini: "Ini bukan Review, tapi Profokaror!"

    ReplyDelete
  3. Aku punya bukunya lho, Bang. Menurutku ide ceritanya bagus, tapi ceritane terlalu singkat dan buru2. Jadi kurang gimana gitu

    ReplyDelete
  4. Nah betul tuh mas, ga ada cerita jelek, semua punya sasaran pembacanya sendiri2. Pun saya pernah ikut sebuah pelatihan menulis berbayar yg ga mahal, yang judging buku jelekk dan bagus. Loh...yg best seller tulisan si ini, si itu, dan si lain-lainnya dibilang ga bermutu, laris iya mutu nol. Gitu kata mentornya. Saya langsung ilfil. Saya ga baca buku2 yg dia sebutkan jelek, tapi kan ya sakit hati klo selera pembaca umumnya saat ini dibilang ga bermutu. Heleeeeeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya juga sih, saya saja yang merasa kurang suka. Tapi kan sportif, kubaca sampai kelar. Hehehe...

      Delete
  5. Aku tadi hampir saja gak aku terusin, baca review ini. Habis yang nulis saja bilang jelek sich, tapi aku tetap saja baca hingga tuntas. Bab ingin tau endingnya. Wkwkwk ... Dan ternyata ... Belom kelar juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh kan... Ngapain coba pakai dikelarin bacanya!

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP