Loading...
Friday, January 12, 2018

Rumah Kulon (3)


Alfian kembali membuka mulutnya. Dua suapan dari sang istri yang masih membuatnya heran. Barusan marah-marah, eh sekarang menyuapinya.

"Mamah tumben?"

"Tumben apa?"

"Nyuapin Papah. Rasanya selama punya Novia dan Sovia, baru kali ini deh Mamah nyuapin Papah."

Dita tersenyum lagi. "Terakhir kali Mamah suapin kapan?"

"Lupa. Sudah lama banget."

"Ya sudah, nggak usah diingat-ingat. Ayo, lanjutin," kata Dita sambil menyodorkan suapan ketiga.

"Mamah nggak mau nyobain mie godoknya?"

"Kan spesial buat Pak Alfian."

Alfian berhenti mengunyah. "Udah, ah. Hilang lagi selera makan Papah."

"Aduh... maaf deh, Pah. Mamah salah bicara ya?"

Alfian menolak suapan berikutnya. Dita jadi merasa bersalah. "Ya sudah... Mamah ikut makan," kata Dita sambil menyuapkan sesendok mie ke mulutnya sendiri.

"Enak nggak, Mah?" Alfian bertanya.

"Lumayan lah. Tapi tetap kalah sama bikinan Mamah."

Alfian nyengir. "Sesekali Mamah bikin yang banyak. Kasihlah ke rumah Mbak Irene semangkuk."

Dita tiba-tiba seperti tersedak. "Apa, Pah?"

"Kenapa, Mah? Minum dulu, gih!"

"Ambilin."

Alfian segera bangkit. Keluar kamar menuju dispenser di dekat ruang makan. Tidak lama kemudian sudah kembali ke kamar dengan segelas air putih.

Dita lekas meneguk cairan tawar itu. Alfian bertanya, "Mamah kenapa pakai tersedak begitu? Tidak cocok dengan saran Papah?"

"Memangnya buat apa pakai kirim makan ke mereka?"

"Tetangga yang baik itu ya begitu, Mah. Suka memberi."

"Maksud Papah, Irene itu tetangga baik? Terus Mamah sebaliknya? Kan Mamah nggak pernah kirim makanan ke mereka."

Alfian merangkulkan tangan ke pundak Dita yang duduk di sebelahnya. Ia tahu masih ada nada tidak suka pada kalimatnya barusan.

"Papah nggak ngomong begitu. Mamah sensi banget deh kalau denger nama Mbak Irene."

"Kan Mamah udah bilang, nggak suka sama sikap tetangga genit begitu."

"Itu kan hanya menurut pandangan Mamah saja."

"Papah kok malah mbelain dia terus? Mau bikin Mamah kesel lagi?"

Alfian memeluk Dita. "Sudah ah. Nggak asik malam-malam ribut."

Dita menghela napas perlahan. Tangannya bergerak lagi. Menyuapi Alfian. Alfian menyambut dengan senang hati. Kadang lucu juga istrinya ini, kesal sendiri, sebal sama Mbak Irene, tapi mau menyuapi sang suami dengan makanan bikinan Mbak Irene. Alfian tidak mau mempersoalkannya.

Keduanya tidak berbicara lagi. Suapan Dita bergantian ke mulut suaminya lalu ke mulut sendiri. Sampai suapan terakhir.

"Alhamdulillah habis, Mah." Alfian merasa justru mie godok inilah pahlawan bagi sikap Dita yang kembali hangat.

"Mbak Novia... sebal deh!"

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari kamar si kembar. Alfian dan Dita saling pandang. "Kenapa tuh anak-anak?" Alfian bertanya.

"Coba Mamah lihat. Mamah pikir sudah pada tidur...."

Dita lekas melangkah ke luar kamar sambil membawa mangkuk kosong untuk ditaruh di dapur. Alfian merebahkan diri. Bersyukur juga Dita tidak lagi uring-uringan nggak jelas seperti tadi.

Dita langsung menuju kamar duo kembarnya setelah menaruh mangkuk di dapur. Begitu pintu dibuka, terlihat Sovia sudah berdiri sementara Novia duduk sambil tertawa di atas kasur.

"Ada apa ini? Sudah malam bukannya tidur malah pada ribut?" omel Dita.

"Mbak Novia tuh, Mah... kentut bau banget!" Sovia mengadu sambil menunjuk Novia yang cekikikan.

"Eh... kalian ini. Cuma masalah kentut saja diributkan. Sudah ah. Sovia kembali ke tempat tidur. Matikan lampunya!" Dita lekas mendekati Sovia dan menuntunnya ke atas ranjang.

"Tenang saja... sudah hilang baunya kok," kata Novia masih sambil tertawa.

"Kalian ini... cepetan bobok. Awas saja kalau kalian bangunnya kesiangan, Mamah tinggal di rumah," kata Dita dengan nada setengah mengancam.

"Jangan, Mah... kita ikut ke rumah kulon," protes Novia cepat. "Kangen sama Simbah."

"Ya sudah... kalau ikut segera tidur."

"Iya, Mah. Iya, Mah...."

Sovia berbaring bersebelahan dengan kembarannya. Dita segera membetulkan selimut yang menutup tubuh kedua putrinya itu.

"Jangan lupa berdoa dulu," Dita mengingatkan.

"Iya, Mah."

Dita mematikan lampu kamar duo kembarnya. Menyalakan lampu tidur kecil yang menancap pada stop kontak. Lalu ke luar kamar.

Sesampainya di kamar, Dita menjumpai Alfian sudah terkapar di atas kasur. Dita memandangi sang suami. Seorang lelaki baik yang menjadi pahlawan di hatinya. Sebuah kecupan didaratkannya ke kening sang kekasih. Lalu ia berbaring di sebelahnya. Merangkulnya hangat.

BERSAMBUNG

8 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP