Loading...
Thursday, January 18, 2018

Gembul Imut


Imut tetap menganggap ini adalah masalah dalam hidupnya. Segala macam diet sudah dicoba. Godaan masakan Ibu sekuat tenaga bisa dilewatinya. Hanya sedikit nasi putih tanpa lauk dan air putih jadi pengisi perutnya. Tapi apa daya, timbangan badan di kamarnya sepakat dengan bayangan di cermin kaca. Apa mungkin kedua benda itu sama-sama mengerjai Imut dengan menunjukkan kepalsuan? Imut kesal sendiri.

"Sudahlah, Mut. Hentikan program diet yang menyiksamu ini." Bujukan Ibu berkali-kali. Imut tetap menggeleng. Meski ia merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi fisiknya yang melemah gara-gara ia paksa menghindari konsumsi makanan yang biasa ia lahap.

Masih terbayang Yos dan kawan-kawannya yang selalu mengejeknya dengan panggilan Embul. Imut sering sebal dengan mereka. Tadi siang memang Imut sempat terpancing geram dengan ejekan itu. Imut sempat melabrak mereka seperti singa hendak menerkam kawanan kijang liar. Mereka menjauh tapi tetap meneriakkan panggilan yang paling Imut benci itu.

Imut terkapar di kamar. Lemas tubuhnya. Tertidur ia dalam kelemahan jiwa dan raga. Ia bermimpi seperti sedang berada di sebuah ruangan hampa. Dalam kesunyian itu Imut merasakan sangat lapar. Tapi tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakannya. Imut berlari ke sana kemari mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan pengganjal perut. Tapi nihil. Tidak ada apa pun.

Tiba-tiba Imut menangis. Ia seperti bayi kehilangan botol susunya. Ia seperti seorang anak kecil yang lupa diberi makan orangtuanya. Dia merasa sangat rindu pada apa saja yang biasa singgah ke perutnya. Daging sambalado, ayam goreng mentega, sop kacang merah plus tetelan, ikan asam padeh, sambal bajak, sayur lodeh, rempela goreng....

"Aku lapar... aku mau makan! Aku lapar...!" Imut berteriak-teriak. Tanpa disadarinya, teriakan itu menembus ke alam nyata. Dan Ibu lekas masuk ke kamarnya.

"Mut... bangun, Mut. Kalau lapar, masakan Ibu sudah menantimu. Ayolah, Nak, bangun!" Suara Ibu dengan penuh kelegaan. Ia sangat khawatir dengan anak semata wayangnya itu.

Imut terbangun. Dijumpainya Ibu sudah ada di hadapannya dengan senyum lebar. "Ayo, Ibu temani kamu makan. Sudah, jangan menyiksa diri lagi!" kata Ibu sambil menarik tangannya.

Dan entah mengapa Imut tidak kuasa menolak ajakan Ibu kali ini. Menurut saja ia ditarik-tarik Ibu ke ruang makan. Saat dijumpainya masakan Ibu yang komplit, selera makannya segera terbit. Terngiang ejekan Yos dan kawan-kawan. "Peduli apa dengan ejekan mereka?" desis Imut.

Dan Ibu tersenyum puas. Imut sudah kembali. Gembul-gembul saja, yang penting sehat selalu. "Habiskan nasinya, Nak," Ibu mengelus kepala Imut penuh cinta.

#30DWC
#TantanganRCO

Tulisan ini sekaligus menjawab tantangan RCO untuk menulis cerita dengan konflik yang diambil dari kumcer yang dibaca. Ini saya adaptasi bebas dari konflik cerpen Imut karya Asma Nadia yang dimuat dalam kumcer Kerlip Bintang Diandra.


19 komentar:

  1. Idenya Mas Suden ini ada ada saja

    ReplyDelete
  2. Walai kamu gembul tapi tetep imut, dan sampai kapanpun tetap jadi imut

    ReplyDelete
  3. Ini cernaknya bagus...kayak yang di bobo-bobo gitu

    ReplyDelete
  4. Mut mut ... jangan menyiksa dirimu, nak..

    ReplyDelete
  5. Jangan diet, Mut. Masa pertumbuhan~

    ReplyDelete
  6. Aku juga suka di ejek kalo mau diet,




    Soalnya aku kecil 😂😂

    ReplyDelete
  7. Imuuut...!
    Gak usah diet lah nak...
    Yang penting bahagia 😄

    Salam kenal pak 😊

    From
    shintadwijiarti.blogspot.com

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP