Loading...
Monday, January 22, 2018

Merah Darah di Tambak Beras

 

"Adi Kebo Anabrang! Lepaskan cekikanmu! Jangan membunuh Ranggalawe dengan cara keji seperti itu!"

Kebo Anabrang bukan tidak mendengar seruan Lembu Sora, tapi dia sedang menghadapi Ranggalawe yang tidak bisa dianggap remeh. Ia sudah berhasil menjepit leher adipati Tuban itu. Dan dengan segenap kekuatan, berulang kali Kebo Anabrang membenam-benamkan kepala Ranggalawe ke dalam Sungai Tambak Beras yang menjadi ajang pertarungannya dengan pemberontak Majapahit itu.

Ranggalawe yang sudah tidak berdaya dan tidak mampu lagi menghimpun tenaga dalam, terlihat sangat menderita dalam himpitan tangan kekar Kebo Anabrang. Berkali napasnya hampir putus karena terbenam di derasnya air. Tangannya bahkan tidak ada tenaga sama sekali untuk sekedar mencengkeram himpitan lawan. Rinai gerimis mewarnai pertarungan yang mulai tidak berimbang itu.

"Kau tidak mendengarkan aku, Adi Kebo Anabrang?!" seru Lembu Sora dengan nada meninggi.

"Kakang Lembu Sora tenanglah di tempatmu! Aku hanya melaksanakan perintah Sanggramawijaya. Tidak ada yang boleh seenaknya memberontak kepada Majapahit. Meskipun Ranggalawe jasanya sebesar Gunung Penanggungan sekalipun."

Kebo Anabrang kembali membenamkan kepala adipati Tuban itu dengan tanpa rasa ampun. Ranggalawe benar-benar sudah terkulai.

Mata Lembu Sora berkaca-kaca. Sesungguhnya perang itu berkecamuk dalam batinnya. Bagaimana pun Ranggalawe adalah keponakannya. Meski pun ia memilih menjadi pemberontak karena kekecewaannya pada sabda Sanggramawijaya, tetapi sungguh Lembu Sora tidak sampai hati melihat putra Arya Wiraraja itu megap-megap di himpitan tangan Anabrang.

"Adi Anabrang... Lepaskan Ranggalawe. Lepaskan...!" Suara Lembu Sora serak. Panglima perang Majapahit itu benar-benar dalam kekalutan. Tapi Kebo Anabrang tidak memedulikannya.

"Tambak Beras akan menjadi saksi kematianmu, Ranggalawe!" Kebo Anabrang menahan kepala satria kebanggaan rakyat Tuban itu dalam benaman air sungai. Tidak ada lagi tenaga selemah apa pun padanya. Hilang sudah segala sakti segala pandai olah kanuragan. Ajal segera menjemputnya.

Lembu Sora menatap Keris Megalamat, senjata andalan keponakannya itu, tergeletak di tepi sungai setelah terpental lepas dari genggaman pemiliknya. Entah siapa yang menggerakkan abdi kesayangan Sanggramawijaya ini untuk memungut senjata pusaka itu. Bergetar tangan Lembu Sora mencengkeram gagang keris itu. Lalu mata nanarnya tajam menatap ke arah Kebo Anabrang yang masih menyiksa keponakannya.

Kebo Anabrang tidak menyadari adanya bahaya. Dia tidak pernah menyangka Lembu Sora akan mengambil keputusan itu. Kebo Anabrang merasakan tusukan itu menembus kulit punggungnya, menembus tulang merobek daging. Darah muncrat dari luka lebar itu. "Aargh!" Kebo Anabrang menjerit keras seiring limbung tubuhnya. Megalamat menancap di punggungnya.

#30DWCday12

8 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP