Loading...
Saturday, January 13, 2018

Jenazah Mati Lampu


Kejadian ngeri-ngeri sedap ini dialami Gendhuk Nicole, warga Sidowayah, Ngreco, Weru, Sukoharjo, saat tetangganya ada yang meninggal dunia, Mbah Cempluk, tetangga satu RT yang meninggal karena sakit. Saat itu sudah sekitar pukul 18.00 WIB.

Sudah adat saben di Sidowayah, kalau yang meninggal perempuan maka ibu-ibu pengajian yang membantu proses memandikan dan mengafani jenazahnya.

Gendhuk Nicole bersama beberapa ibu-ibu pun lekas membantu proses memandikan bersama keluarga almarhumah sebelum azan Isya berkumandang.

Tidak lama kemudian, jenazah sudah diangkat ke balai-balai yang sudah disiapkan kain kafan. Gendhuk Nicole dan kawan-kawan segera bersiap mengafani jenazah Mbah Cempluk. Jon Koplo dan Tom Gembus datang membantu memasang lampu agar rumah duka lebih terang benderang.

Sebenarnya Gendhuk Nicole masih sering takut kalau bertugas mengurus jenazah, tapi ditepisnya jauh-jauh rasa takut itu. "Wedi apane, wong mati ora bakal medeni," tekadnya.

Ndilalah malam ini Gendhuk kebagian memegang dan mengikat bagian kepala jenazah. Deg degan juga dia, takut nanti masih terbayang-bayang wajah almarhumah.

"Bismillah...," begitu Gendhuk menekatkan hati. Dengan hati dag-dig-dug dia mengikat kepala jenazah.

Tiba-tiba mak pet! Lampu mati! Gendhuk langsung menjerit ketakutan. Lekas ditaruhnya kepala jenazah dan berlari sipat kuping menjauh.

Rupanya daya listrik rumah almarhumah tidak kuat dipasangi banyak lampu besar. Tom Gembus langsung mengurangi lampu yang dipasang. Jon Koplo kembali menyalakan meteran listrik.

Begitu lampu kembali menyala, Gendhuk Nicole malu setengah mati karena mendadak dia menjadi pusat perhatian dari semua yang hadir di rumah duka. Sial... sial...

Wakhid Syamsudin
Sidowayah RT 001/RW 006, Ngreco, Weru, Sukoharjo 57562

Dimuat di harian Solopos edisi Jumat Pahing, 12 Januari 2018



Tara... di atas adalah tulisan saya yang berhasil lolos di koran Solopos kemarin. Saya mengirimkan sehari sebelumnya, dan alhamdulillah tidak perlu menunggu dua tiga hari atau lebih, cerita itu berhasil dimuat di Solopos.

Tulisan ini menjawab tantangan Kelas Fiksi ODOP Batch 4 untuk mengirimkan tulisan ke media massa. Rupanya saya sedang beruntung, tulisan langsung lolos. Kadang sering kesal juga ketika berkali mengirim tulisan tapi tidak kunjung dimuat.

Semoga menambah semangat dalam menulis. Aamiin...

22 komentar:

  1. Replies
    1. Mari kita nyalakan terus semangat menulisnya, Pak Bari. :)

      Delete
  2. itu nama tokohnya harus unik gitu? atau itu nama asli?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kirim ke rubrik Ah Tenane Solopos harus pakai nama itu, Mbak. Laki: Jon Koplo, Tom Gembus. Perempuan: Lady Cempluk, Gendhuk Nicole. Cerita kisah sehari2 yg kucu dan unik.

      Delete
  3. keren poll .. itu kalau kirim ke media ada batas teks kah?

    ReplyDelete
  4. Idenya simple tapi keren lohh pantes di muat

    ReplyDelete
  5. Namanya unik2 mas renyah banget cerita nya hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nama unik itu sdh ditentukan sama Solopos kok mbak... kita tinggal pake sebagai nama tokoh.

      Delete
  6. Replies
    1. Tulisan di rubrik ini memang harus pakai nama2 itu...

      Delete
  7. Saya dulu pembaca kolom ini juga....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa sekarang enggak? Coba nulis kirim ke solopos.

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP