Loading...
Saturday, January 20, 2018

Masih Ada yang Istimewa dari Bang Syaiha


Judul: Masih Ada
Penulis: Bang Syaiha
Penerbit: LovRinz Publishing
ISBN: 978-602-6330-44-4
Tebal: viii+480 halaman


Sebuah novel tebal karya Bang Syaiha, founder One Day One Post Community, berjudul Masih Ada, sebuah kisah tentang harapan, cinta, dan pengabdian, sudah saya tuntaskan membacanya. Saya sangat bersyukur karena novel ini bisa saya anggap sebagai hadiah dari Bang Syaiha. Beliau sendiri yang mengirimkan novel ini ke alamat saya melalui jasa kurir. Terima kasih, Bang, semoga sukses selalu!

Novel ini berkisah tentang Muhammad Khalid, seorang pemuda yang berasal dari Bengkulu, Sumatera, yang bergabung di sebuah gerakan mengajar ke pedalaman. Khalid bertugas mengabdi ke Sambas, Kalimantan Barat. Sebuah papan pengabdian yang jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan. Di sana Khalid mengajar di sebuah sekolah dasar yang juga tempatnya untuk tinggal selama di Sambas.

Tepatnya Desa Kota Bangun, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, tempat Khalid menanamkan harapan kepada anak-anak keturunan Melayu yang masih minim kesadarannya dalam dunia pendidikan. Kehadiran Khalid bagi warga sangat memberi arti, apa lagi kepandaian Khalid sangat berguna di sana. Wajar saja dengan segala sopan, keramahan, dan kebaikan, kehadiran Khalid disambut.

Dikisahkan, Khalid menjadi pemuda pertama di Kota Bangun yang dipercaya menjadi khatib saat salat Jumat, yang biasanya hanya para tetua tokoh agama atau berjuluk labay saja yang boleh berkhutbah pada salat Jumat. Dan itu 'berakibat fatal', Khalid jadi idola para orangtua yang memiliki anak gadis. Termasuk Pak Ahmad, seorang labay, yang berharap Khalid bisa menikah dengan Nila, anak gadisnya.

Sementara Khalid memiliki hubungan khusus dengan gadis bernama Dhisya yang juga sama-sama anggota gerakan mengajar ke pedalaman. Hanya saja Dhisya bertugas ke daerah Riau. Long distance relationship keduanya. Entah sebutannya apa, kekasih, pacar atau bukan. Intinya, keduanya saling cinta, dan Khalid sudah berkali menyampaikan keinginan melamar Dhisya, tapi tidak diijinkan orangtua Dhisya karena Khalid memiliki kekurangan fisik, dia memang seorang penyandang polio.

Cerita mengalir dengan sederhana. Saya sebut sederhana karena memang tidak ada konflik tajam yang disajikan. Saya cukup nyaman menelusuri tiap lembar halamannya. Hanya konflik utama yang kentara, yakni terhalangnya hubungan Khalid dengan Dhisya yang tidak kunjung mendapatkan restu.

Bang Syaiha menceritakan detail kisah ini, tetapi sayangnya beliau saya nilai kurang dalam mengangkat setting muatan lokal di Sambas maupun Riau. Belum bisa saya rasakan bau-bau tanah, sungai, rumah-rumah, dan hutan di sana. Masih sangat minim informasinya.

Tapi ada beberapa informasi lokal yang sempat Bang Syaiha angkat, yakni adanya adat istiadat makan-makan bernama saro'an, pelepasan ratusan perahu kecil berwarna-warni yang disebut ajung yang dipercaya membawa roh jahat untuk dibuang ke lautan lepas, dan festival perahu dayung di Garatak Sabok.

Seperti saya katakan tadi, kisah mengalir begitu saja dengan nyaman-nyaman saja. Saya bahkan tidak menyangka adanya kejutan ketika sampai pada bagian Dua Puluh di mana Nila akan menikah. Sumpah, saya tidak sempat menebak kalau arah cerita ke sini.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menginspirasi, banyak amanat dan manfaat yang tersampaikan. Terutama tentang keikhlasan dalam mengabdi, keteguhan dalam memperjuangkan impian, kesetiaan, dan juga bagaimana menghargai adat-istiadat peninggalan nenek moyang.

Ada sih beberapa yang membuat saya agak kurang sreg. Misalnya Dhisya yang sebagai seorang gadis taat beragama, tapi enjoy saja curhat tentang pemuda yang dicintainya kepada Mamak, orangtua angkatnya di tempat pengabdian. Biasanya kan seorang gadis tidak mudah terbuka soal seperti ini. Tapi ini kewenangan Bang Syaiha sepenuhnya sih, untuk menciptakan watak tokoh rekaan beliau.

Hal lain yang rasanya agak kurang sreg juga, adalah Khalid dan Dhisya yang paham Islam tapi memiliki panggilan kesayangan Kakak-Adek dan sering saling telepon meski bukan siapa-siapa. Sekali lagi ini bukan kapasitas saya untuk menggugatnya.

Terakhir, saya salut dengan ketelatenan Bang Syaiha menggarap novel setebal ini. Saya terprovokasi dan termotivasi agar bisa juga menulis dengan serius hingga jadi novel. Ah, tapi kapan? Semoga bisa menyusul.

Novel Masih Ada enak dibaca, mengalir, dan inspiratif. Saya terhibur, dan bisa mengambil banyak hikmah darinya. Terima kasih, Bang Syaiha. Saya tutup dengan menukil kalimat di sampul belakang: Kita memang tidak akan pernah tahu masa depan. Karena itu tidak penting. Biarkan ia menjadi rahasia Allah. Jauh lebih penting dari segalanya adalah, bahwa kita harus memperjuangkan apa yang sudah kita mulai. Bahwa kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita jalani.

#30dwc day10

17 komentar:

  1. Terimakasih atas review nya... Semoga menjadi pelajaran buat semua dan terutama saya... Salam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, Bang, kalau kurang berkenan dengan reviewnya. Salam...

      Delete
    2. ajib bgt dah, salah satu org yg menginspirasi sy dlm semangat menulis. Sukses terus Bang Syaiha, makasih review nya Bang Suden

      (f)

      Delete
  2. Dan saya belum membaca, seperti kemaren juga nggak dapat novel gratis, ketinggalan info nih.
    Jadi penasaran dengan ceritanya

    ReplyDelete
  3. meskipun saya belum membaca searasa sudah membaca dari review Kang Suden...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentunya lebih asik baca langsung novelnya, pak.

      Delete
  4. Setuju, novel ini sangat menginspirasi. Banyak pesan dan amanat yg disampaikan di sana

    ReplyDelete
  5. Enter your comment...jadi pengen beli bukunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Syaiha ada bagi2 buku beliau gratis. Cek fb beliau msh ada stok nggak...

      Delete
  6. waaaah...reviewnya bisa jadi bahan dan ide buat posting karya argumentasi

    ReplyDelete
  7. Perasaan saya dengar bagi-bagi buku gratis di FB. Apa buku bang syaiha ini ya..?!

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP