Loading...
Tuesday, January 23, 2018

Siasat Membalas Dendam


Halayudha menatap tajam ke arah pemuda itu. Mahisa Taruna, ia tegap seperti ayahandanya, Kebo Anabrang. Pastilah sisa didikan sang ayah melekat pada pribadi anak muda itu. Tapi dia gelisah. Dan kegelisahan itu yang akan dimanfaatkan Halayudha.

"Kau harus menuntut hukuman pada Lembu Sora. Jangan takut, aku akan mendukungmu, Mahisa Taruna." Halayudha kembali memberikan saran.

"Tapi dia seorang kepercayaan Gusti Prabu, abdi kesayangan, Paman Halayudha."

Halayudha tertawa. "Kitab Kutaramanawa mengatur Majapahit tanpa memandang bulu, Ngger. Kau hanya perlu menyampaikan tuntutan di hadapan Sang Prabu. Sisanya, aku yang akan membantumu."

Mahisa Taruna tidak langsung menanggapi perkataan punggawa Majapahit itu. Ia berpikir keras. Ia tahu, siapa yang akan dihadapinya. Lembu Sora bukan nama sembarang orang di Majapahit. Meski dendam atas kematian ayahandanya tetap membara di hati.

"Jujur aku tidak bisa terima perlakuan Lembu Sora pada ayahandamu. Aku menjadi saksi. Anyir darah dari tikaman Megalamat seolah masih menguar di hidungku. Apa kau terima begitu saja, Ngger?"

Mahisa Taruna mulai terhasut. Ia menahan geram teramat. Halayudha tahu persis, Mahisa Taruna itu ibarat permukaan yang polos. Kata-kata yang diucapkannya kepada pemuda itu adalah seperti barisan goresan serupa arsir, yang jika ditelateni akan menjadi barisan rapi coretan di permukaan polos, yang akan menghitamkannya. Dan kalau sudah tertutup sempurna, maka Halayudha akan semakin mudah memasukkan hasutannya.

"Tapi, Paman. Apalah dayaku. Aku punya kekuatan dan kekuasaan apa?" Mahisa Taruna masih berusaha berpikir jernih.

"Kebenaran. Kau punya kebenaran. Itu di atas segalanya. Sekali lagi, kau hanya perlu menuntut keadilan. Sisanya aku yang akan membantu."

Mahisa Taruna menghela napas berat.

"Kalau kau bersedia, aku akan mengajakmu menghadap Gusti Prabu di balai paseban agung. Tidak ada yang perlu kaurisaukan."

Pemuda itu masih beku. Halayudha tahu, tidak mudah mempengaruhinya. "Baiklah, mungkin kau perlu waktu untuk berpikir. Aku menunggu kesediaanmu. Bagaimana pun keadilan harus tegak di bumi Majapahit. Kita harus menjaga kewibawaan negeri tercinta ini."

"Paman... beri waktu aku memikirkannya."

Halayudha bangkit. Ia harus bermain cerdik. Ia tidak akan memaksa. "Baiklah, aku pamit dulu."

Mahisa Taruna mengantar kepergian punggawa Majapahit itu sampai ke halaman. Halayudha segera menaiki kereta kudanya. Kusir sudah menggerakkan tali kekang kuda, ketika Mahisa Taruna berseru, "Paman, aku akan berkunjung ke kediamanmu besok. Aku akan membawa jawaban tawaranmu."

"Bagus, aku tunggu." Halayudha tersenyum. Di matanya sudah terbayang Lembu Sora masuk ke penjara kerajaan. Satu penghalang akan dia singkirkan dengan perantara Mahisa Taruna.

Kereta kuda bergerak meninggalkan wisma tempat tinggal Mahisa Taruna.

#30DWCday13

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP