Loading...
Monday, January 29, 2018

Mengenang Purnama


Setiap orang pasti punya kenangan masa kecil yang tidak pernah bisa dilupakan. Begitu juga saya yang pernah mengalami masa-masa tidak kenal duka-lara itu. Masa terindah tanpa beban problema kehidupan. Siapa pun pasti akan selalu mengenangnya.

Sebenarnya banyak sekali kenangan masa kecil terutama berbagai permainan yang dilakukan bersama teman-teman sebaya. Sebut saja gobak sodor, betengan, kelereng, petak umpet dan lain-lain. Tapi di sini saya hanya akan mengenang sebuah serpih masa kecil yang kenangan itu sekarang sudah tidak bisa saya temui.

Kenangan itu adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan ketika malam bulan purnama. Ketika cahaya sempurna sang Dewi Malam menerangi bumi. Waktu-waktu itu, saya dan keluarga saya, yang juga dilakukan tetangga-tetangga saya, menggelar tikar di halaman rumah setelah salat Isya. Waktu itu belum ada listrik di kampung saya. Hanya lampu-lampu minyak tanah yang menemani malam.

Di atas tikar di bawah guyuran cahaya purnama itu kami bercanda bersama, mengobrol apa saja. Anak-anak bermain. Sementara yang punya radio bertenaga baterai ABC menyetel lagu-lagu dangdut dengan penyiarnya yang suka bikin heboh dengan keseruannya. Saya paling ingat adalah radio salah satu tetangga yang menyetel acara bertajuk Senandung Senja radio Swara Graha kalau tidak salah ingat. Penyiarnya Dul Kempul. Memutar lagu dangdut yang enak dinikmati, tidak koplo-koplo-an seperti sekarang ini.

Saya senang bermain petak umpet (pembela kalau istilah di kampung saya), bersembunyi di tempat yang agak gelap dan sukar dicari. Adik saya yang penakut sering jadi bahan bully karena tidak berani sembunyi di tempat gelap, dan takut mencari teman yang sembunyi di tempat kurang cahaya. Pokoknya seru ....

Semua itu kini tinggal kenangan. Kebiasaan itu sudah benar-benar sirna. Tidak ada lagi keseruan malam purnama. Semua asik dengan tontonan televisi di rumah masing-masing. Begitulah, ketika zaman memang musti berubah. Tidak menyalahkan siapa pun.

Anda pasti punya kenangan tidak kalah seru, silakan share di komentar. Mengenang masa-masa indah kala itu ....

#30DWCday19

16 komentar:

  1. Masa kecil yang penuh sukacita, karena belum mengenal gawai :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang kalah sama teknologi. Begitulah, Bun. ;((

      Delete
    2. main petak umpet seru, eh tapi aku jg pobia gelap pasti senasib sm adeknya mas wakhid kalo ikutan main (p)

      Delete
  2. Saya juga pernah merasakannya, gelar tikar di depan rumah ketika -bulan purnama, sambil makan kacang rebus.

    ReplyDelete
  3. ngadu ayam jago, pake rerumputan. bikin wayang pake daun singkong :D

    ReplyDelete
  4. Maen sepeda mlm" kalo pas purnama, alasannya lebih terang haha

    ReplyDelete
  5. hihihi...
    gobak sodor, bentengan, petak umpet

    kita seumuran gitu? 😨

    ReplyDelete
  6. Oiya, dulu ada mainan namanya pembela ya mas. Sekarang kayanya ngga pernah lihat lagi anakanak tetangga main ini. Pelanpelan pupus 😷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah. Tapi di kampungku masih ada yang suka main pembela.

      Delete
  7. Sama nih, bercengkerama di bawah pohon talok

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP