Loading...
Wednesday, January 24, 2018

Tidak Pandang Bulu


Sanggramawijaya, raja pertama Majapahit itu, bangkit dari dampar kencana. Keresahannya terlihat jelas. Lembu Sora menghaturkan sembah, sebelum berbicara. "Ampunkan hamba, Gusti Prabu. Hamba sudah mengakui semua yang hamba lakukan. Hamba dengan sadar telah menikam Adi Kebo Anabrang. Hamba tidak tega melihat perlakuannya kepada keponakan hamba, Ranggalawe. Hamba sadar sepenuhnya, ini adalah sebuah pelanggaran hukum."

Sanggramawijaya mendesah. Pengakuan itu sudah kesekian kalinya diucapkan Lembu Sora. Bahkan di hadapan para punggawa kemarin saat pertemuan di paseban agung. Raja Majapahit itu memandang Lembu Sora. "Paman, masalah ini sangat rumit. Saya tidak bisa grasa-grusu, tergesa-gesa, dalam mengambil keputusan."

"Ampun, Gusti Prabu. Paduka tidak perlu menganggap ini masalah yang rumit. Angger Mahisa Taruna telah menyampaikan tuntutan agar ada keadilan bagi kematian ayahandanya. Pelaku pembunuhan sudah jelas dan mengakui. Paduka tinggal mengambil keputusan hukuman sesuai apa yang tercantum dalam Kitab Kutaramanawa."

Sanggramawijaya mengalihkan pandangan dari abdi setianya itu. Kembali terbayang masa-masa sulit akibat pemberontakan Jayakatwang dulu, yang membuatnya menjadi pelarian bersama keluarga raja yang masih tersisa. Lembu Sora adalah abdi yang setia, yang selalu siap mengorbankan nyawa untuk keselamatan keluarga raja. Sanggramawijaya tahu persis bagaimana isi dalam hati Lembu Sora. Sekarang ia dihadapkan pada masalah pelik, antara menghukum abdinya ini dengan mengampuni kesalahannya. Pembunuhan atas Kebo Anabrang dari sudut mana pun tetap tidak bisa dibenarkan.

"Andai Paman tidak mengakuinya, tentu saya bisa melepaskan Paman dari hukuman."

"Jangan ada pikiran sempit seperti itu, Paduka. Paduka harus menegakkan keadilan di Majapahit. Adanya peraturan perundangan adalah untuk meninggikan kewibawaan kerajaan. Jangan sampai kesalahan seorang Lembu Sora membuat Paduka bertindak tidak adil. Lembu Sora adalah kawula Majapahit, yang juga harus menerima segala titah berdasar Kitab Kutaramanawa. Hukum tidak pandang bulu, Paduka."

Kembali raja Majapahit itu menatap Lembu Sora. Menemukan keteguhan dalam sikapnya. Membuatnya semakin dilema. "Paman adalah ksatria Majapahit. Jasa Paman tidak terukur."

"Hamba hanya seorang kawula yang telah melanggar hukum, Paduka."

"Saya tidak tahu, bagaimana melanjutkan pemerintahan jika kehilangan Paman."

"Ampun, Gusti Prabu. Paduka tetap akan meneruskan pemerintahan ini. Apalah seorang Lembu Sora. Dia hanya seonggok kunyit di antara bahan masakan yang bisa digantikan bahan lain. Hidangkan yang terbaik untuk rakyat Majapahit, Paduka. Jangan ada kesenjangan. Rakyat butuh teladan dalam menegakkan hukum. Hamba siap menerima segala keputusan Paduka."

Sanggramawijaya merasakan matanya basah oleh genangan air mata. Apakah ia akan sanggup mengambil keputusan itu? Menghukum berat seorang abdi yang kesetiaannya tidak diragukan lagi oleh siapa pun. Raja Majapahit itu menghempaskan diri, kembali terduduk di atas dampar kencana. Sementara Lembu Sora masih teguh dengan segala sikap ksatrianya.

#30DWCday14

4 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP