Loading...
Monday, January 15, 2018

Rumah Kulon (4)


Pagi yang indah. Suara burung saling sahut di pepohonan menyambut sinar matahari pagi yang mulai menyembul dari balik bukit sebelah timur. Sementara ayam jago sudah kelelahan berkokok, mereka menikmati sarapan pagi bekatul dicampur nasi sisa yang diaduk ditambahi sedikit air. Rasanya benar-benar mantap. Apalagi ditemani betina-betina yang sedang begairah. Makin serulah pagi ini.

Dita sedang mengeringkan rambutnya. Sebelum Subuh tadi dia sudah mandi keramas. Alfian juga sudah terlihat rapi. Rambutnya masih terlihat basah tapi sudah disisir rapi. Ia sedang memanaskan mesin motor bebeknya di beranda depan. Sementara si kembar Novia dan Sovia masih ribut di kamarnya mau pakai baju apa.

Waktu menunjukkan pukul 06.12 WIB saat tergopoh-gopoh, Mbah Wiwid mendatangi rumah Alfian. Alfian yang sedang mengelap motor bebeknya segera bangkit. Mbah Wiwid tiba di depannya.

"Ada apa, Mbah? Kok seperti buru-buru begitu?" tanya Alfian lekas.

"Mas Alfian libur, kan? Simbah mau minta tolong...," kata Mbah Wiwid dengan nada penuh harap.

"Minta tolong apa, Mbah? Memang sih, saya libur hari ini."

"Syukurlah kalau begitu. Itu lho Mbah Kakung demam sudah tiga hari. Batuknya juga tidak mau berhenti. Sudah saya bujuk-bujuk untuk berobat dari kemarin belum juga mau. Alhamdulillah pagi ini Kakung bersedia untuk diantar berobat."

Alfian sudah menangkap arahnya. "Mbah minta saya yang ngantar?"

"Siapa lagi, Mas Alfian. Kami memang kaki-nini yang cuma bisa bikin repot Mas Alfian. Beginilah susahnya anak jauh semua, Mas."

Alfian terdiam. Mbah Wiwid memang tinggal berdua saja sama Mbah Bari, suaminya. Rumah mereka sebelah timur rumah Alfian hanya dibatasi sebuah pekarangan kosong. Sebenarnya mereka memiliki lima orang anak, tapi semua sukses di perantauan. Mereka hanya mudik ketika lebaran. Alfian sering merasa kasihan, maka tiap kali kakek-nenek itu butuh bantuan, ia tidak bisa menolak.

"Bagaimana, Mas? Bisa minta tolong periksakan Mbah Kakung ke Bu Dokter Ilmi seperti biasa?" tanya Mbah Wiwid bernada bujukan.

"Ya, sudah. Biar saya antar Mbah Bari berobat. Sebentar lagi saya ke sana."

"Matur nuwun sekali, Mas Alfian. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu dengan limpahan rezeki dan barakah...."

"Aamiin, Mbah."

Mbah Wiwid terlihat bersemangat. Segera ia pamit dulu untuk memastikan suaminya siap-siap. Sejenak Alfian memandangi langkah perempuan tua itu. Ada rasa kasihan juga menyusupi benaknya.

Alfian masuk ke rumah. Meraih jaket yang ditaruh di gantungan baju. Lalu mengenakannya. Ia melihat jam dinding. Kemudian ke kamar. Menjumpai Dita yang sudah berganti baju.

"Mah, Papah mau ngantar Mbah Bari periksa dulu ke Dokter Ilmi. Kasihan, kata Mbah Wiwid sakit sudah tiga hari."

Dita melongo. "Kita kan mau berangkat, Pah?"

"Sebentar ini. Mamah sabar dulu ya. Kasihan Mbah Bari kelamaan menunggu."

Alfian tidak menunggu Dita menjawab. Ia lekas keluar. Menaiki motor bebeknya. Tak lama kemudian sudah meluncur ke rumah Mbah Wiwid.

"Mah... Papah ke mana tuh?" Suara Sovia.

Dita tidak menjawab. Dibantingnya sisir rambut yang ia pegang ke lantai dengan kesal.

"Tadi kayak suara Mbah Wiwid yang datang?" Novia ikut bicara. Kedua kembar ini sudah keluar dari kamar. Sudah dandan cantik siap berangkat.

Sementara Alfian sudah sampai di rumah Mbah Wiwid. Mbah Bari juga sudah duduk menunggu di lincak yang ada di serambi rumah. Kakek itu batuk-batuk terus.

Alfian lekas turun dari motor. Kemudian membimbing Mbah Bari ke atas jok motor bebeknya.

"Bismillah, Kakung. Nanti ketemu sama obatnya pasti sembuh," bujuk Mbah Wiwid sambil membenarkan jaket lusuh yang dikenakan suaminya.

Saat itulah, terlihat seorang perempuan mendekat. Rupanya Irene.

"Mbah Bari mau diperiksakan ya?" tanya Irene memperlihatkan kepeduliannya pada tetangga.

"Iya, Nduk. Tiga hari tidak turun dari tempat tidur. Susah dibujuk suruh periksa." Mbah Wiwid menjawab.

Irene ikut membetulkan duduk Mbah Bari di atas boncengan. "Hati-hati, Mbah."

"Sudah siap, Mbah?" Alfian bertanya. Ia sudah duduk di depan. Sudah menyalakan mesin motor juga.

Mbah Bari batuk lagi. "Uhuk... iya, sudah siap," jawabnya.

Irene memandang Alfian sambil tersenyum. "Untung ada Pak Alfian yang baik hati. Yang suka menolong orang susah."

Mbah Wiwid mengangguk membenarkan perkataan Irene. Alfian melirik Mbah Wiwid sambil berkata, "Kami berangkat dulu, Mbah."

"Iya. Hati-hati, ya...."

"Mari, Mbak Irene."

"Iya, Pak Alfian. Pelan-pelan saja tidak usah ngebut."

Motor Alfian lekas melaju di atas jalan kampung. Matahari mulai beranjak. Langit benar-benar cerah pagi ini. Mbah Wiwid dan Irene memandang kepergian Alfian dan Mbah Bari sampai belok di tikungan jalan.

Sementara ada sepasang mata memandang kejadian itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Matamu seperti anjing melihat tulang, Irene!" desis pemilik sepasang mata yang terlihat kesal itu.

"Mamah... kita jadi ke rumah kulon nggak, sih?" Sovia mengguncang tangan mamahnya.

"Mamah nggak tahu. Tanya papahmu nanti. Menyebalkan!"

BERSAMBUNG

6 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP