Loading...
Saturday, December 30, 2017

Menyibak Fakta Wali Songo Tanpa Kemistisan


Judul: WALISONGO Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404 - 1482 M)
Penulis: Rachmad Abdullah, S.Si., M.Pd.
Penerbit: Al-Wafi, Solo
Tebal: 240 halaman

Apa yang muncul di benak kita saat disebut nama Wali Songo? Pasti banyak yang langsung membayangkan para Sunan yang berdakwah dengan seribu satu kesaktian, kekeramatan, dan kemistisan. Ketika dinalar, apalagi dengan mengkaji Islam yang sebenarnya, maka akan sangat bertentangan ketika dakwah Islam dipadupadankan dengan segala kesaktian melebihi para pendekar di film-film silat.

Kali ini saya ajak Anda menelisik dan mengkaji tentang para ulama yang tergabung dalam dewan wali yang kita kenal dengan nama Wali Songo ini. Panduannya adalah membaca sebuah karya Ustaz Rachmad Abdullah, S.Si., M.Pd berjudul Wali Songo: Gelora Dakwah dan Jihad di Tanah Jawa (1404 - 1482 M).

Buku setebal 240 halaman ini merupakan seri pertama dari trilogi Revolusi Islam Jawa. Penulisnya sendiri sebenarnya berlatar belakang profesi sebagai seorang Guru IPA Fisika di SMP Al-Islam 1 Surakarta. Tapi untuk karya luar biasa ini, Rachmad Abdullah melakukan kajian ilmiah yang cukup panjang dan melelahkan.

Buku ini menyuguhkan fakta menarik tentang Wali Songo yang akan sangat terasa berbeda dengan pemahaman khalayak ramai saat ini. Bahkan bisa jadi akan menjungkalkan pemahaman yang banyak diikuti pemerhati sejarah tentang para wali tersebut.

Saya sendiri menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sering melintas di benak saya selama ini. Di antaranya adalah tentang kesaktian para Sunan yang tidak ubahnya seperti cerita mitos dan legenda, yang menutupi idealisme para pendakwah tersebut. Di mana agungnya nilai ajaran Islam dan kekayaan khazanah keilmuan serta keluhuran sikap seolah tidak pernah ada, tertutup cerita-cerita ajaib yang beredar dari masa ke masa.

Buku ini cukup efektif menyikapi ketidakberpihakan catatan sejarah yang selama ini diajarkan secara umum, kepada dakwah Islam. Bahkan secara kasar menyatakan berdirinya kerajaan (kesultanan) Islam pertama di tanah Jawa, yakni Demak Bintoro, adalah dengan menyerang dan menghancurkan kerajaan Majapahit yang berbeda keyakinan. Setidaknya itu adalah doktrin yang dimuat dari buku Babad Tanah Jawa, yang dijadikan acuan para penulis baik itu pada cerita-cerita silat bergenre historical fiction maupun karya non fiksi tentang masuknya Islam di Indonesia. Apalagi yang berpegang teguh pada kitab Darmo Gandul dan Gatoloco yang sangat-sangat memojokkan ajaran Islam.

Memang dalam buku pertama ini baru sekadar disinggung tentang Demak Bintoro, yang lebih lengkapnya akan dibahas di buku kedua. Secara garis besar dapat disimpulkan, adanya perang saudara di Majapahit membuat lumpuhnya kekuatan kerajaan Hindu Syiwa-Buddha itu. Di mana sebenarnya terjadi perebutan kekuasaan oleh Girindra Wardhana yang mengakibatkan lepasnya kerajaan-kerajaan bawahan, sehingga Majapahit terpuruk menjelang keruntuhannya.

Ketika itulah Wali Songo mendirikan Kerajaan Islam Demak dan melantik Raden Patah sebagai raja (sultan). Meski sebenarnya, Raden Patah sendiri adalah putra dari Raja Brawijaya V dengan seorang selir dari Champa. Jadi ada hak bagi Raden Patah untuk menjadi raja di bekas reruntuhan Majapahit.

Kembali pada Wali Songo. Dalam buku ini, kita akan dikenalkan bahwa sebenarnya Wali Songo bukan hanya 9 Sunan yang kita kenal saja. Wali Songo adalah dewan wali, yang terbagi menjadi enam angkatan. Dan memang setiap angkatan selalu ada 9 wali yang menempati anggota dewan wali tersebut. Para ulama yang masuk pada angkatan I adalah tim dakwah bentukan Khalifah Turki Utsmani (Sultan Muhammad I) yang sengaja dikirim ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam.

Angkatan I (1404-1421) terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, M.A Jumadil Kubra, Muh. Al-Maghribi, Maulana Malik Isra'il, Muh. Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana Aliyuddin dan Syekh Subakir.

Angkatan II (1421-1436) Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 1419 M digantikan oleh Sunan Ampel (Raden Rahmat).

Angkatan III (1436-1463), Maulana Malik Isra'il dan Muh. Ali Akbar meninggal dunia, digantikan oleh Ja'far Shodiq (Sunan Kudus) dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Angkatan IV (1463-1466), Maulana Ishaq, Maulana Hasanuddin, Maulana Aliyuddin, dan Syekh Subakir digantikan oleh Raden Paku (Sunan Giri), Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Said (Sunan Kalijaga), dan Raden Qasim (Sunan Drajat).

Angkatan V (1466-1478), M.A Jumadil Kubro dan Muh. Al Maghribi meninggal, gantinya adalah Raden Patah (Raden Fattah) dan Fathullah Khan (Fattahillah).

Angkatan VI (1478-...) Raden Patah dan Fatahillah digantikan oleh Umar Said (Sunan Muria) dan Ki Ageng Pandanaran (Sunan Tembayat).

Penulisan buku ini dengan melacak dari sumber berita Portugis, Belanda, Malaysia, Cina, dan Jawa tentunya. Dari berbagai sumber tersebut, yang lebih valid adalah dokumen yang tertulis di atas daun rontal sebagaimana yang dijadikan bahan penelitian kaum Orientalis Belanda. Ada 2 sumber yang layak dipercaya sebagai bahan rujukan tentang bagaimana ajaran, wejangan, madrasah, mazhab, serta aliran pemikiran asli Wali Songo.

Dua sumber itu adalah teks wejangan Sunan Bonang (Het Boek van Bonang) yang tersimpan di perpustakaan Belanda dan dokumen Kropak Ferrara yang tersimpan di perpustakaan Italia.

Akhirnya, kehadiran buku ini tentu menjadi tambahan kekayaan khasanah historiografi Wali Songo sebagai pendakwah Islam di tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Buku ini cocok untuk Anda yang butuh pencerahan tentang para wali, yang akan membuat Anda menyadari kesalahan-kesalahan pemikiran yang banyak diiyakan khalayak tentang para ulama tersebut.

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP