Loading...
Friday, December 22, 2017

Angkuhnya Penulis yang Tidak Suka Membaca

 

Seorang penulis terlahir karena dia pernah membaca. Itu sebuah kepastian. Tidak mungkin seseorang mau dan berkeinginan menulis ketika dia belum pernah membaca. Jadi ada korelasi antara membaca dengan menulis. Ada kaitannya yang seharusnya tidak terpisah dari kedua aktivitas tersebut.

Tapi pernahkah ada penulis yang enggan membaca? Ada. Saya pernah sangat enggan membaca, padahal hobi saya sejak kecil adalah membaca. Saya kecil pernah suka mencuri buku-buku di perpustakaan sekolah yang tidak terurus sama sekali. Saya menyelamatkan dan mengentaskan buku-buku cerita dari gudang perpus yang tidak tersentuh perhatian guru waktu itu. Saya kecil adalah penggila buku.

Lalu, ketika saya sedang belajar menulis, ketika cerpen saya sudah dikonsumsi teman-teman. Bahkan beberapa berhasil nongol di media. Saya merasa ada yang aneh pada diri saya. Apa itu? Saya mulai merasa enggan membaca buku. Saya memang suka mengoleksi buku, tapi bahkan waktu-waktu itu tidak satu buku pun berhasil saya tuntaskan membacanya. Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa saya jadi begini?

Lalu saya berpikir aneh-aneh. Apakah ini sebuah keangkuhan yang muncul pada diri saya seiring tulisan saya yang mulai ada yang berkenan membaca, meski belum benar-benar maksimal? Saya mulai khawatir jika itu akan membuat saya menjadi penulis yang masa bodoh dengan tulisan orang lain. Itu berarti tidak akan ada asupan ilmu yang masuk pada jiwa saya. Dan saya yakin itu akan menjadi hal yang kurang baik.

Saya mulai menginsyafi hal ini. Lalu saya coba untuk membaca di sela kesibukan sehari-hari saya. Apalagi hadirnya smartphone yang juga ikut menjadi penghambat membaca buku. Memang banyak ebook bisa dibaca di smartphone, tapi saya selalu tidak nyaman dengannya, masih nyaman buku fisik. Saya pun mulai membaca lagi. Menemukan keasyikan pada tulisan orang lain. Menghirupnya dengan nikmat.

Saya juga berpikir akan adanya sebuah karma. Karma? Iya. Saya berpikir, jika saya menjadi penulis tapi enggan membaca karya orang lain, maka apakah tidak mungkin jika orang lain pun akan enggan membaca tulisan saya. Itu karma yang bisa jadi akan saya terima.

Maka, saya pun mulai menggemari lagi membaca. Semoga Allah mengampuni keangkuhan saya.

7 komentar:

  1. Nah iya, nggak boleh angkuh. Nggak baik. Sifatnya setan hahaha..

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Kayaknya kena sindir nih Mbak Uky. Hahaha...

      Delete
  3. Saya juga berpikir akan adanya sebuah karma. Karma? Iya. Saya berpikir, jika saya menjadi penulis tapi enggan membaca karya orang lain, maka apakah tidak mungkin jika orang lain pun akan enggan membaca tulisan saya. Itu karma yang bisa jadi akan saya terima.


    Nabok

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP