Loading...
Saturday, December 23, 2017

Kisah Cinta Paling Baper Sedunia


Sebuah taman dengan berbagai jenis tanaman bunga yang bermekaran. Wanginya semerbak mengundang kumbang penghisap sari. Dua ekor kupu-kupu terbang dari kuntum satu ke kuntum yang lainnya. Lalu saling berkejaran, melintas di atas bangku taman tempatmu duduk sambil mencium mawar merah jambu yang barusan kupetikkan untukmu.

"Yah...," panggilmu. Aku lekas mengambil duduk di sebelahmu.

"Kenapa, Bun?" tanyaku sambil menatap teduhmu.

"Bunda pengin dengar cerita tentang dia."

"Dia siapa?"

"Dia-nya Ayah, lah," katamu sambil kembali menghirup aroma mawar di tangannya.

Aku tertawa kecil. "Buat apa, Bun? Ayah sudah membunuhnya dari hati."

"Bunda pengin mendengarnya. Apa tidak boleh?"

Kutarik napas dalam. "Buat apa mengungkit luka lama. Tidak akan ada manfaatnya, Bun."

"Waw. Luka lama."

"Em... Ayah salah bicara, ya, Bun?"

Kamu memandangku. "Apa ada yang bisa memberikan luka kalau tidak seseorang yang istimewa?"

Aku kembali tertawa kecil. Menertawakan diriku sendiri. "Tidak ada yang lebih istimewa bagi Ayah melebihi kehadiran Bunda."

Kamu malah menarik bibir memberikan cibiran. "Gombal," katamu.

"Serius, Bun. Bunda kok tidak percaya begitu, sih?"

"Iya, iya, Bunda percaya. Sekarang Bunda pengin Ayah cerita tentang dia."

"Penting?" tanyaku.

"Bunda kan berhak tahu juga tentang masa lalu Ayah."

Kembali kuhela napas. "Kalau itu yang Bunda mau, baiklah. Ayah akan menceritakannya."

Kamu diam dengan sikap siap mendengarkanku. Aku agak kebingungan juga mau dimulai dari mana. Kulirik kamu lagi.

"Dia...," kucoba memulai. Mengenang kembali masa-masa itu. "Dia adalah seorang gadis yang berbeda dari kebanyakan gadis lain seusianya. Saat teman-temannya sibuk dengan hedonisme dan hura-hura, dia memilih jadi pembimbing bagi anak-anak kampung yang belajar mengenal Alquran di masjid. Saat remaja sebayanya ribet ikut mode busana terbaru, dia istiqamah dengan jilbabnya. Dia sangat bersahaja, anggun, seolah segala kebaikan perilaku ada pada pribadinya."

"Dia cantik, salihah, menarik, dan Ayah jatuh cinta," sahutmu terdengar ketus.

Lekas kutatap kamu. Kamu membuang pandangan. "Bunda kenapa?"

"Bisa, ya, Ayah memuji perempuan lain di depan istri sampai sebegitunya," protesmu tanpa mengembalikan wajah ke arahku.

"Lho... kan Bunda yang minta Ayah cerita. Kenapa, Bun? Hm... Ayah tahu, Bunda cemburu, ya?" godaku.

"Cemburu sama siapa? Apa gunanya?" elakmu, membuatku terkekeh dengan sikapmu.

"Kalau Bunda tidak nyaman ya sudah tidak perlu dilanjut ceritanya," kataku.

"Lanjutkan saja. Tapi tidak usah terlalu detail begitu kalau memujinya."

"Ayah tidak memuji. Ayah sedang bercerita."

"Tapi benar, kan, Ayah jatuh cinta padanya?"

"Apa artinya jatuh cinta padanya. Toh takdir Ayah tetap sama Bunda."

Kamu mulai mengembalikan wajah padaku. "Ayah kecewa, menyesal?"

Aku tertawa lagi. Kamu terlihat lucu kalau cemberut begitu. Kuraih pundakmu dalam rengkuhan lengan kananku. Memelukmu dari samping sambil berkata, "Ayah memang menyesal."

Kamu menepis pelukanku. "Benar, kan? Memang cinta Ayah cuma buat dia, kan?"

Lagi, aku tertawa. "Ayah menyesal karena tidak dipertemukan dengan Bunda sejak awal. Seharusnya Ayah tidak perlu menyukai gadis lain waktu itu. Tapi Allah memang menggariskan begitu. Jodoh Ayah adalah Bunda yang cantik jelita ini."

"Alah... gombal!" cibirmu.

"Kok bilang gombal melulu. Ayah beneran. Em... berarti tidak usah cerita tentang orang lain lagi, ya?" simpulku.

"Ayah tetap harus cerita. Lanjutkan. Bunda tidak apa-apa, kok."

Aku tersenyum. "Baiklah. Ayah dulu menyukainya. Tapi Ayah pendam saja. Sampai pada suatu kesempatan Ayah menyatakan perasaan Ayah padanya."

"Terus?"

"Waktu itu... calon perawat itu sedang PKL di sebuah rumah sakit. Dan Ayah berkesempatan menelepon dia. Atau tepatnya berkenekatan menelepon dia."

"Ngobrol apa saja?"

"Ya... basa-basi saja, sampai akhirnya keberanian itu muncul."

"Ayah menyatakan cinta?"

"Iya."

Hening sejenak. Desau angin lembut menyapa kami. Meniup ujung kerudungmu. Aku pejamkan mata. Ada luka yang mendadak terasa goresannya lagi. Ah, sudahlah. Lalu kubuka mata dan menemukan teduhmu.

"Dia pasti senang dan menerima Ayah. Iya, kan?" desakmu.

Aku lekas menggeleng. "Tidak. Dia dengan tegas menolak dan tetap menganggap Ayah sebagai seniornya di kegiatan remaja masjid. Sebagai sahabat dalam perjuangan dakwah di kampung. Dia sudah nyaman begitu dan tidak ingin lebih dari itu."

"Masak, sih? Dia menolak Ayah? Bukannya Ayah pernah bilang kalian saling mencintai? Bukankah ini bertepuk sebelah tangan namanya?" tanyamu dengan tidak percaya.

"Tapi Ayah ditolak, Cantik...," kataku menekankan.

"Ayah pasti sedih sekali waktu itu?" tebakmu.

"Tidak. Ayah malah merasa lega sudah mengungkapkan apa yang selama ini Ayah pendam dalam-dalam. Meski pun penolakan yang Ayah terima."

"Idih, sok bijak, deh, Ayah."

Aku tertawa. "Sedikit kecewa wajarlah. Namanya ditolak sama orang yang ditaksir, bagaimana sih rasanya. Ayah bisa segera menata hati. Menganggap semua baik-baik saja. Setidaknya sebelum cerita itu berlanjut."

Kamu memandangku. "Masih ada lanjutannya?"

Aku mengangguk. "Iya. Sebuah kenyataan yang membuat bangunan ikhlas yang Ayah dirikan waktu itu kembali ambruk berkeping-keping."

"Waw? Apa yang terjadi?" tanyamu dengan wajah dipenuhi keheranan.

"Selang sehari dari penolakan itu. Ayah ditelepon seseorang."

"Dia menelepon Ayah?"

Aku menggeleng. "Bukan."

"Lalu siapa?"

Kutarik napas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. "Sahabatnya, teman sekamarnya di tempatnya PKL."

"Adakah hal penting yang sahabatnya sampaikan?" kamu tuh makin penasaran saja.

"Iya. Sebuah kenyataan yang membuat Ayah serasa hancur waktu itu."

"Ayah bikin penasaran, deh."

Aku lepas pandangan jauh. Lalu berkata, "Sahabatnya menangis saat menelepon Ayah."

"Kok bisa?"

"Usai menolak ungkapan cinta dari Ayah, usai dengan tegas menolak Ayah, setelah telepon Ayah tutup waktu itu. Dia lemas lunglai. Tangisnya pecah, air matanya mengucur menganak sungai."

Kamu diam.

"Sahabatnya kebingungan. Sahabatnya membujuk agar dia tenang. Dipeluk gadis berlinang air mata itu. Dan meluncur kisah yang tidak pernah Ayah duga."

"Apa, Ayah?"

Kupeluk kamu. Kamu yang kebingungan. Entah mengapa aku merasa butuh memelukmu untuk menguatkan diri.

"Ayah... nanti ada yang lihat, lho. Masak di taman begini Ayah peluk-peluk Bunda," kamu lekas mengingatkan. Kulepas pelukku.

"Bunda. Dia sudah lama menyimpan perasaan sama kepada Ayah. Dia sudah sekian lama menunggu Ayah menyatakan cinta. Dia tahu Ayah menyimpan rasa itu dari sikap-sikap Ayah. Tapi penantian itu seperti mimpi yang jauh dari kenyataan. Bahkan berkali dia menolak menjawab pinangan orang lain sekadar untuk menunggu Ayah. Penantian tanpa kepastian."

Kamu terpana dalam kediamanmu.

"Hingga akhirnya dengan berat hati dia menerima pinangan seseorang karena tidak tega menolak lelaki yang sangat baik kepada keluarganya. Meski ia belum tahu apa bisa mencintainya."

Kamu menatap nanar padaku. "Dan Ayah mengungkapkan perasaan itu setelah dia menerima pinangan lelaki lain?"

Aku mengangguk.

"Ayah tega." Kamu kenapa? Mengapa ada bening mengambang di matamu?

"Kenapa, Bunda?"

"Betapa hancur hatinya, Yah. Bunda bisa merasakannya."

Matamu berkaca-kaca. Aku tidak berani menatapmu. "Sudahlah, Bunda. Ayah sudah membunuh namanya. Jangan dihidupkan lagi."

"Bunda merasa seperti tidak layak menjadi istri Ayah."

"Bunda ngomong apa, sih?" sentakku.

"Kasihan dia."

"Sudah, sudah. Bunda malah baper begini...."

Kamu susut air mata. Lalu menyandarkan kepala ke bahuku.

"Cinta sejati tetap akan menemukan takdirnya. Bundalah cinta sejati Ayah."

"Terima kasih, Yah."

Suasana syahdu sejenak. Sepasang kupu-kupu mendekat, lalu berkejar lagi di antara wangi bunga.

Kamu sudah bisa mengendalikan perasaan. "Ayah. Berarti tebakan Bunda benar."

"Bunda menebak apa?"

Kamu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang kamu bawa. "Isi tulisan Ayah di sini sebagian adalah tentang dia."

Kulihat apa yang kamu pegang. Sebuah buku. "Kok Bunda bawa-bawa buku itu?"

"Apa tidak boleh? Ini Bunda ambil di rak buku Ayah."

Lalu kamu memandangi sampul buku itu. "Senyuman Bidadari. Karya Suden Basayev," kamu membacakannya.

"Ah, Bunda. Tidak semua isinya tentang dia, kok."

Lalu kamu membalik sampul belakang. "Penerbit Leutika Prio."

"Kan di halaman persembahan Ayah tulis buat Bunda tercinta," kataku.

Kamu tersenyum. "Ayah. Bunda bersyukur bisa mendampingi Ayah."

"Bunda ngomong apa, sih?"

Kamu tidak menggubrisku. Lalu memandang ke arah kamera. "Pemirsa. Bagi Anda yang ingin membaca 20 cerpen karya suami saya dalam kumcer ini, silakan bisa order di www.leutikaprio.com. Terima kasih...."

Klik. SEKIAN.

#TantanganKelasFiksi
#CintaPertama

27 komentar:

  1. asyiiiik, sllu mengasyikan nih tulisan mad Wahid (c)

    ReplyDelete
  2. Sedih ih ceritanya, bikin baper.
    Tapi ujung-ujungnya iklan. Keren, promo terselubung

    ReplyDelete
  3. paling baper versi pak suden inimah wkwkwkw

    ReplyDelete
  4. Baperrrr aaaaaaa😂😂😂😂

    ReplyDelete
  5. "Apa ada yang bisa memberikan luka kalau tidak seseorang yang istimewa?"

    Di awal udah kena serangan baper 😞

    *Oiya, iklan di ending kreatif juga mas 😅

    ReplyDelete
  6. Real story kah?
    Aku dah sedih, trakhirnya kok lngsung bikin ngakak haha

    ReplyDelete
  7. Benar benar baper dan akhirnya dibuat tertawa karena iklan 😅😅

    ReplyDelete
  8. Bikin baper banget kak suden, nih air mata rasanya udah di pelupuk, ehh lha kok endingnya iklan duhh ketawa deh jadinya hihi😂 kerennn kak sudennn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bapernya kebangetan ini. Gubis ayu mari nangis ngguyu :-)

      Delete
    2. Kayak anak kecil aja. Habis nangis ketawa ketiwi...

      Delete
  9. Sudah baper dibuat ketawa hehe.wah...kalo aku jadi istri tokoh itu, cemburu membunuhku wkwkwk.

    ReplyDelete
  10. Wah bapak... ini demi nyari referensi saya metani blog nya...gpp kan pak😁

    ReplyDelete
  11. Petani saja, banyak kutunya di sini. Hahaha.

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP