Loading...
Friday, December 15, 2017

Penantian Gadis


Cuaca cerah seketika. Hujan yang tadi turun sedemikian deras sudah lenyap sama sekali. Di langit timur terlihat pelangi melengkung indah memamerkan warnanya. Hujan yang usai, menyisakan daun-daun basah, tanah becek dan kubangan di pinggir tegalan sawah menggenang airnya. Pas sekali untuk bermain bebek-bebekku sambil mencari makan di situ. Cacing, ikan kecil, bahkan kecebong menjadi santapan sore mereka. Termasuk keong sawah yang menjadi hama perusak tanaman petani, selain tikus sawah dan wereng. Keong sawah adalah favorit ternak-ternakku, sebagai makanan bergizi tinggi yang bagus untuk masa pertumbuhan mereka.

Lekas kugiring sekitar 100 ekor bebek piaraanku meninggalkan kandang. Berjalan beriringan dengan rapi sekali. Lebih rapi dari barisan paskibraka anak sekolahan pada Agustusan kemarin.

Aku menggiring bebek-bebekku menelusuri jalan kampung yang lupa belum diaspal oleh pemerintah. Becek yang lumayan parah. Makanya aku lebih suka bertelanjang kaki dari pada memakai sandal jepit yang pasti segera jebat, putus karetnya karena jeblok parah, lengket oleh gemburnya tanah becek.

Kring! Kring!

Suara bel sepeda. Aku tahu pasti si Gadis, anak Pakde Minto, biasa habis Asar dia harus ke sawah menunggu tanaman padi yang sudah mulai katak, berisi biji muda. Ia harus menghalau kawanan pipit yang selalu menyerbu ke sawah. Mengicip buliran padi sesuka mereka.

Bebek-bebekku agak menepi, memberi jalan Gadis dengan sepeda mininya. Di rak angsang depan terlihat dua buah buku yang siap menemaninya di gubuk di tepi sawah. Gadis memang pintar menikmati suasana sore....

"Aku duluan, Mas Jaka...."

"Iya, Dis... hati-hati ya, jalannya becek banget."

"Iya, Mas."

Kutatap Gadis yang mendahului dengan sepedanya. Lihatlah... seorang perawan kampung yang ayu dan sederhana. Jilbabnya yang berkibar dipermainkan angin sore, seolah melambai kepadaku. Jujur, aku mendambakan sosok anggun seperti itu untuk mendampingi hidupku. Aku menyukainya, tapi masih kupendam saja. Sudahlah.

Sudah sampai di area persawahan. Ternak-ternakku langsung menyebur ke kubangan. Menyusur mencari makan sambil berenang. Kubiarkan saja mereka. Aku memilih menoleh-noleh ke gubuk kecil di tepi sawah Pakde Minto. Melihat Gadis di sana.

Kakiku melangkah ke tempat Gadis berada. Sebuah gubuk kecil tanpa dinding, disokong empat tiang bambu, atasnya tumpukan rumbai sebagai atap. Gadis duduk di dalam gubuk panggung itu. Tangannya menarik-ulur tali yang dihubungkan dengan orang-orangan sawah yang ditancapkan di beberapa sudut untuk menghalau datangnya gerombolan pipit. Setiap kali tali digoyang, suara kaleng bekas yang ditautkan bergemerincing menakuti burung-burung kecil itu.

"Dis, biarkan sekali-sekali mereka menikmati aroma padi muda itu," kataku saat sudah di dekatnya.

"Eh, Mas Jaka, bebeknya tidak dijaga?" tanya Gadis begitu melihat kehadiranku.

Aku tertawa kecil. "Mereka sudah bisa cari makan sendiri, juga menjaga diri sendiri."

"Bisa saja Mas Jaka ini."

Sekelompok burung kecil itu mendekat lagi ke sawah Gadis. Gadis lekas menghalaunya.

Kutengok dua buah buku yang belum disentuh Gadis. Dua judul buku fiksi. Kelihatannya satu novel dan yang satu lagi sebuah antologi, kumpulan kisah yang ditulis bersama beberapa penulis.

"Lagi baca buku apa aja, Dis?" tanyaku.

"Biasa, Mas. Bacaan gadis pengangguran. Iseng dari pada jenuh."

Aku mengangguk saja. Sore yang indah. Siapa sangka aku sedang menikmati alam membentang berdua saja dengan seorang gadis yang diam-diam kutaksir ini. Gadis kembali menarik-narik tali penghalau pipit.

"Dis."

"Ya, Mas?"

"Kamu tidak jenuh sendirian begini?"

"Maksud Mas Jaka?"

"Maksudku... apa kamu belum memikirkan berumah tangga?"

Gadis memandangku. Dahinya berkerut. "Memangnya kenapa, Mas?"

Kulempar pandangan jauh ke hamparan sawah. Mengapa aku mendadak bertanya begitu tadi, ya? Wah... jadi sungkan sendiri jadinya. Tapi kepalang tanggung, mungkin inilah waktu yang tepat. Menyatakan perasaan pada Gadis. Terserah apa tanggapannya nanti.

"Mas Jaka kenapa jadi diam?"

Aku tersenyum. Memandang Gadis, meski tidak berani berlama-lama. "Teman-temanmu sudah pada menikah, kan? Bahkan sudah punya anak."

Gadis mencoba tersenyum. Makin cantik. "Maksud pertanyaan Mas Jaka apa?"

"Ya... aku pengin tahu saja, Dis. Apa kamu belum berpikir untuk menikah?"

"Sudah."

"Sudah?" Aku terhenyak dengan jawabam singkat itu. "Maksudmu? Kamu sudah punya calon?"

Gadis memandangku. "Calon apa, Mas Jaka?"

Waduh. "Ya... calon suami, Dis. Sudah ada yang akan meminangmu?"

Gadis tidak langsung menjawab. Dilempar jauh pandangannya ke hamparan sawah. Sekelompok pipit terbang menjauh.

"Mas Jaka mau jadi calon suamiku?"

Aku terkejut. Gadis? Mengapa kau bertanya begitu? Jantungku berdegup kencang jadinya.

Gadis tertawa kecil. "Mas Jaka malah kaget?"

"Kamu langsung bertanya begitu. Kan aku bingung jadinya."

"Mengapa harus bingung, Mas Jaka?"

Aku jadi salah tingkah. Heran, Gadis seberani ini? Padahal dia kalem saja orangnya. Kutu buku. Tidak suka pergi-pergi.

"Kalau aku memang berkeinginan menjadi suamimu bagaimana, Dis?" Aku ikut nekat. Berani juga kan aku?

"Aku sudah menduganya, Mas Jaka."

"Dari mana kau bisa menduga?"

"Sikap dan kata-kata Mas Jaka setiap bertemu denganku."

"Oh ya?"

"Mas Jaka mencintaiku?"

Dag dig dor hatiku. Mengapa Gadis malah yang fasih bicara?

"Tidak ada yang harus kusembunyikan lagi, Dis. Aku memang mencintaimu diam-diam."

Gadis tersenyum. "Tepat. Seperti cerita di novel yang nyaris kutuntaskan ini, Mas."

Kupandang novel yang diperlihatkan Gadis. "Sikap dan perilaku Mas Jaka padaku sama persis dengan sikap tokoh laki-laki di novel ini, yang akhirnya mengungkapkan cinta pada si tokoh wanita."

Waw. Aku terpesona.

"Jangan menyembunyikan rasa apapun di depan kutu buku, Mas. Pasti ketahuan."

Lalu apa yang harus kukatakan lagi?

"Lalu apa tanggapanmu, Dis?"

Gadis menghela napas. "Aku memang menantikan janji Tuhan. Dia yang menyiapkan jodoh untukku."

"Kau... kau bersedia menikah denganku?" tanyaku berani sekali.

Gadis diam. Aku pun diam. Aroma bulir padi muda dibawa angin ke angkasa.

"Jodohku bisa siapapun, Mas. Mas Jaka juga bisa."

"Maksudmu?"

"Asal bisa memenuhi syarat dariku."

"Syarat? Apa itu?"

Gadis kembali diam. Aku menunggu ia berkata-kata lagi. Cukup lama.

"Mas Jaka siap mendengar syaratku?"

"Tentu saja."

"Aku takut Mas Jaka menganggap syarat ini aneh."

Aku makin penasaran jadinya.

"Apa aku bisa memenuhinya kira-kira?"

"Semua tergantung Mas Jaka."

"Aku makin penasaran, Dis. Coba katakan saja syaratnya. Aku pasti berusaha memenuhinya. Sebisaku, semampuku."

"Baik. Dengarkan ya, Mas Jaka."

Diam lagi. Suasana menjadi benar-benar kaku.

"Aku hanya ingin dibelikan sebuah buku."

"Buku? Bukankah koleksimu sudah banyak?"

"Ini buku istimewa. Aku bertekad hanya akan menikah dengan laki-laki yang menghadiahiku buku itu."

Buku? Buku apa seistimewa itu?

"Buku apa itu?"

"Sebuah kumpulan cerpen."

"Penulisnya? Judulnya?"

"Penulisnya Suden Basayev. Judul buku itu Senyuman Bidadari."

Kuingat-ingat nama penulis yang pernah kubaca karyanya. Tidak ada nama asing itu. Suden Basayev? Senyuman Bidadari?

"Asing sekali nama penulisnya?"

"Memang. Buku itu juga terbit indie. Tidak ada di toko buku. Pesan khusus ke penerbitnya, Mas Jaka."

Aku diam. Apa asyiknya buku karya penulis tidak terkenal begitu? Terbit indie juga.

"Bagaimana, Mas Jaka? Aku cuma mengajukan syarat itu."

"Mengapa kamu begitu mengistimewakannya?"

"Aku menyukai tulisan Suden Basayev. Makanya aku ingin memiliki bukunya."

"Kulihat kamu sering juga beli buku online. Mengapa kamu tidak membeli buku itu sendiri?"

Gadis menghela napas. "Mas. Mungkin ini terdengar konyol. Tapi beginilah aku. Aku sangat menginginkan buku itu. Tapi aku tidak mau membelinya sendiri. Bukan masalah uang. Buku itu harganya Rp45.000,-. Berisi 20 cerita pendek. Tebal bukunya 271 halaman, Mas Jaka. Karena belinya online tentu tambah ongkos kirim. Tapi bukan itu alasan aku tidak membelinya, Mas."

"Lalu apa alasanmu?"

"Aku hanya ingin buku itu menjadi hadiah terindah dari calon suamiku. Itu saja keinginanku, Mas. Makanya aku tadi takut Mas Jaka menganggapnya aneh. Tapi memang itu yang kuinginkan, Mas."

"Kau kenal penulisnya?"

"Iya. Sangat mengenalnya."

"Kau... kau menyukainya? Mencintainya?"

Gadis tertawa kecil. "Dia sudah beristri, Mas Jaka."

Tapi aku merasakan getar kecewa yang dalam pada ucapan itu. Kuhela napas dalam. Apa Gadis sudah menuliskan nama laki-laki lain di hatinya? Suden Basayev?

"Tapi kau mencintainya?"

"Tidak. Aku hanya... hanya suka tulisannya. Aku tidak butuh alasan lain."

"Lalu kalau aku tidak mau membelikan buku itu?"

"Aku akan menunggu orang lain yang akan membelikannya untukku, Mas Jaka. Bisa siapapun."

"Gila."

"Apa, Mas? Mas mengataiku gila?"

"Bukan begitu maksudku. Persyaratanmu ini gila, Dis."

"Aku tadi takut Mas Jaka akan menganggap aneh persyaratanku. Ternyata lebih dari itu. Gila, ya...."

"Maaf kalau membuatmu tersinggung. Lalu... di mana aku bisa membeli buku tulisan Suden Basayev-mu itu?"

"Mengapa menambahi -mu pada namanya? Mas Jaka cemburu?"

Aku diam. Apa iya aku cemburu?

"Mas. Kalau Mas Jaka masih menginginkan Gadis, Mas bisa order buku itu di www.leutikaprio.com, website penerbit buku itu. Daftar dulu sebelum membeli. Di website itu ada kolom pencarian, tulis judul bukunya, Senyuman Bidadari. Setelah ketemu bisa diorder."

"Kamu hafal sekali?"

"Itu tidak penting, Mas Jaka."

Aku mengangguk-angguk. "Kamu benar-benar pengagumnya, Dis."

"Mas Jaka juga bisa order lewat SMS atau WhatsApp. Ketik Tanya biaya/jumlah eks/Senyuman Bidadari/alamat. Kirim ke 081904221928. Nanti akan dibalas lengkap harga dan ongkos kirim serta rekening untuk bayarnya."

"Bahkan kamu hafal nomornya?"

"Itu bukan nomor Suden Basayev, tapi nomor untuk pesan buku di Leutika Prio, Mas."

Kuhela napas. "Tapi aku jadi berpikir lagi, Dis."

"Berpikir apa?"

"Tepatnya berpikir ulang."

"Maksud Mas Jaka?"

"Aku takut menikahimu, tapi di hatimu hanya ada nama penulis itu. Apa jadinya rumah tangga kita."

Gadis hendak menyahut tapi tidak jadi. Aku memandangnya. "Hatimu sudah milik orang lain. Mengapa kamu tidak minta dinikahi Suden Basayev saja?"

Gadis menatapku dengan sorot tidak suka. "Mas Jaka. Aku perempuan baik-baik. Bahkan aku lebih rela Suden Basayev bahagia dengam keluarga kecilnya. Tidak terbersit niat sekotor itu di hatiku. Sekarang terserah Mas Jaka. Ingin meneruskan keinginan menikahiku atau mundur. Aku sudah terbiasa menanti dalam sepi, Mas."

Kulihat mata Gadis berkaca-kaca. Aku serba salah. Ada kecewa juga menyusup hatiku. Aku tidak berani bertemu tatap dengan kedua mata berair bening itu. Entahlah, aku belum bisa memutuskan. Apakah aku akan maju meminang Gadis ataukah membiarkannya kembali dalam penantiannya.

#TantanganKelasFiksiODOPBatch4
#Tantangan5KataKunci

25 komentar:

  1. Keren. Bisa banget menyisipkan promosi di cerita. *jempol

    ReplyDelete
  2. Ngiklannnnnnn!!!
    Iso aeee ...
    Geleng-geleng deh

    ReplyDelete
  3. aku juga mau dibelikan, mas....
    wkwkkwkkwk

    ReplyDelete
  4. udah baca, bisaa senyum2 sendiri, kebawa dalam cerita, e la bawahnya banyak iklan ya mas hehe, semangat terus mas 😃

    ReplyDelete
  5. Peh mantap
    Amanat tersampaikan dengan baik mas😂😂

    ReplyDelete
  6. Hidup soft selling!
    Hahaha...
    Keren pak 👍

    ReplyDelete
  7. Wahh pagi2 udah bikin senyum2 sendiri nih mas Suden. Emang paling bisa dehh..

    Apalagi ada unsur pesan tersembunyinya mantap...

    ReplyDelete
  8. ayo dibeli, dibeli "Senyuman Bidadari", beli 5 gratis pembatas buku, hahaha.... :d

    Keren abis

    Kalau gak salah ini senandika: "Gadis? Mengapa kau bertanya begitu? Jantungku berdegup kencang jadinya." bisa di-italic kayaknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pada cerpen pov 1 gini berlaku senandika nggak ya mas? Bingung juga ya...

      Delete
  9. Cerita berselubung, UUI (ujubg-ujungnya iklan)
    Mantap deh

    ReplyDelete
  10. Aduh gara2 Suden Basayev nih satu perjaka jadi galau 😂

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP