Loading...
Thursday, February 7, 2019

Tembus Koran Ala Pangerang P. Muda


Di sebuah grup WhatsApp, saya berkesempatan menyapa Pangerang P. Muda, penulis yang pada Minggu, 3 Februari 2019 kemarin, cerpennya dimuat di Tribun Jabar, berjudul Perempuan di Atas Jembatan.

Memenuhi permintaan Sariak Layung (Komala Sutha), admin grup tersebut, Pangerang membagikan buah karyanya itu untuk bersama-sama dianalisa para anggota grup. "Semoga menginspirasi," harapnya.

Seperti pengakuan guru SMK Negeri 1 yang tinggal di Parepare ini, cerpen Perempuan di Atas Jembatan lolos setelah proses kurasi dan harus menunggu sekitar 2 bulan, dari pengiriman sampai terbit di harian tersebut. "Sudah biasa (menunggu lama, red.), di majalah dulu ada yang sampai setahun," ungkapnya.

Ternyata, seorang penulis juga musti punya kesabaran ekstra sebelum menuai hasil, melihat nama dan karyanya tercetak di media massa dan pastinya mendapatkan honorarium. Sesuai pengalaman Pangerang, untuk koran dan media online, paling cepat seminggu masa menunggu sudah ada yang dimuat. Bahkan penulis lain ada yang cuma tiga hari menunggu. "Berarti cerpennya sangat disukai redaktur," katanya menyimpulkan.

Saat ditanya terkait proses kreatifnya dalam menulis, Pangerang P. Muda mengatakan bahwa setiap lintasan ide selalu ia catat di buku kecil, bahkan kadang mimpi pun dicatatnya ketika terbangun dan masih bisa diingat. "Itulah nanti yang jadi ide dasar untuk ditulis," jelas penulis yang karyanya sudah wara-wiri di koran seperti Solopos, Tribun Jabar, Padang Ekspres, Berita Pagi Palembang, Banjarmasin Post, Minggu Pagi Jogja, Haluan, Merapi, Radar Lampung, dan lainnya.

Dalam usaha menembus koran, tiap media punya tingkat kesulitan masing-masing. Prinsipnya, kirim saja dan lupakan. Tulis lagi yang lain dan kirim lagi. "Saya belum pernah tembus Pikiran Rakyat," akunya, "masih berjuang."

Sementara untuk kiat menembus media koran, bagi Pangerang tidak ada yang spesifik, cara yang umum ditempuh saja. Contoh di Tribun, perhatikan semua tema dan aliran yang pernah dimuat. Tiga cerpen Pangerang yang lolos di sana beda tema semua. "Untuk aliran, cerpen realis ada diterima, yang surealis pun ada. Jadi prinsipnya, bikin saja cerita yang menarik, memukau, dan kisah di dalamnya tidak terlalu klise."

Pemahaman sederhananya, realis itu nyata, sementara surealis agak gelap. Tidak perlu dibingungkan dengan istilah, tulis saja cerita yang mau ditulis. Kita baru meribetkan istilah itu kalau memang niat menspesialisasikan diri menulis satu saja aliran. Karena telaahnya malah makin bikin puyeng, ada cerpen semi-realis, absurd, realis-magis, dan lainnya.

"Untuk gaya tulisan yg disukai, lebih real kalau baca langsung cerpen-cerpen yg dimuat Tribun. Banyak di lakonhidup.com," sarannya. "Kalau saya susah menarasikan penjelasannya. Saya nulis dan ngirim cerpen ke media tidak mempertimbangkan faktor itu. Setiap cerpen saya jadi dan saya anggap cocok di media sasaran, ya kirim."

Demikian sekelumit obrolan maya dengan Pangerang P. Muda, kita memang harus rajin menganalisa sendiri cerpen-cerpen yang dimuat di media untuk mempelajari karakter dan aliran yang disukai media yang kita incar.

Buat yang penasaran dengan tulisan-tulisan Pangerang, bisa main ke blog-nya, klik di sini. Atau berteman saja di facebook: Pangerang P. Muda, instagram @pangerang_p.muda.

"Aku hanya seorang Toekang Tjerita; mohon diperkenankan bercerita hingga cerita-ceritaku sampai pada cerita ke seribu satu...." (Pangerang P. Muda)

6 komentar:

  1. Wah saya nih masih belum apa-apa. Perjuangannya memang perlu waktu panjang ya plus ditambah kesabaran. Kuncinya mungkin, nulis kirim...nulis lagi...kirim...gitu terus, yang penting ada catatatnnya kapan dan kemana di kirim. dah biarin berjodoh nggak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, mbak. Saya juga merasa belum apa2. Semoga kelak bisa menyusul ketertinggalan ini.

      Delete
  2. Replies
    1. Tergambar betapa semangatnya luar biasa. Sangat menginspirasi.

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP