Loading...
Friday, February 1, 2019

Kecelakaan


"Aaaa! Sakiit...!" teriakku.

Ini memang sial. Lengan kiriku dijahit. Kulitnya robek tembus ke daging, mungkin tercabik aspal saat aku menggelasar jatuh dari motorku.

"Tahan, Nduk, sakit sedikit biar nanti segera sembuh," suara bapak-bapak paruh baya itu. Dia yang telah dengan sangat salah, mengendarai motor sambil bertelepon ria, hingga terjadilah kecelakaan itu. Dia menabrakku!

"Ooh! Sakit sekali!" teriakku lagi. Masa bodoh dengan para petugas yang ada di ruang UGD puskesmas ini. Biar saja mereka mau komentar apa, yang jelas petugas yang menjahit lenganku telah begitu tega menusuki kulit dagingku.

"Istighfar, Nduk...," bapak-bapak itu bersuara lagi. Ah, sumpek dengarnya! Sudah main tabrak, sok melarang orang berteriak pula. Sakit tahu!

Terdengar dering HP miliknya. "Nduk, aku angkat telepon dulu," pamitnya padaku sebelum keluar dari ruang UGD. Aku melengos saja.

Lukaku selesai dijahit.

"Bu...," kupanggil petugas UGD di dekatku. "Boleh pinjam HP?"

"Oh, mau menelepon keluarga?" tanyanya. Aku mengangguk. Dia menyerahkan HP-nya padaku. Lekas kuhubungi nomer Bapak.

Ah, sial, nomer tidak aktif! Kuulangi beberapa kali. Sama. Nomer Bapak tidak aktif. Aku jadi ingat pada HP jadul Bapak. HP yang casing-nya sudah tidak rapat lagi, Bapak mengikatnya dengan karet. Memang mengenaskan. Pasti HP jadul itu kehabisan baterai.

Bapak belum punya duit untuk beli HP baru. Bapak hanya buruh kasar di pasar dengan keuangan minim. Aku hanya tinggal berdua dengan Bapak setelah ibuku kawin lagi dengan lelaki lain di Jakarta sana. Dan sekarang Bapak pasti sedang di tempatnya kerja.

Tidak bisa menghubungi Bapak, aku ingat Lek Mul, siapa tahu beliau bisa kesini.

Benar saja, tak menunggu lama, usai kutelepon, adik kandung ibuku itu datang. Meski kakaknya sudah bukan istri Bapak, Lek Mul masih berhubungan baik dengan keluargaku.

"Kok bisa begini, Nin? Kamu tidak hati-hati naik motor?" tanya Lek Mul saat melihat kondisiku. "Bapakmu mana?"

"HP-nya tidak aktif, Lek."

Saat itulah, penabrakku masuk ke ruang UGD usai menuntaskan obrolannya di telepon. Melihat kedatangan Lek Mul, dia langsung menyalami. "Keluarga Nduk Nindi?" tanyanya.

"Saya paklek-nya," jawab Lek Mul, "Bapak ini siapa?"

"Saya Syarif, yang menabrak Nduk Nindi, Pak. Kecelakaan yang tidak kita inginkan. Saya mohon maaf sekali...."

Lek Mul berbincang dengan penabrakku. Tidak lama, bapak-bapak bernama Syarif itu menuju meja petugas. Sementara Lek Mul mendekatiku. "Nin, kita pulang. Kata petugas, kamu hanya luka-luka luar, bisa langsung pulang."

"Terus, urusannya sama yang nabrak?" tanyaku.

"Beliau bertanggung jawab. Untuk urusan pengobatanmu, juga perbaikan motormu," jawab Lek Mul. "Sekarang kita pulang. Bapak itu akan kembali ke lokasi kecelakaan untuk membawa motormu ke bengkel."

"Kalau dia kabur? Apa bisa langsung percaya begitu, Lek?" tanyaku pula.

"Aku meminta KTP-nya."

Lek Mul mengantarku. Setiba di rumah, aku kaget ternyata Bapak sudah pulang.

"Bapak sudah pulang? Ditelepon kok tidak bisa, sih?" tanyaku. Kesal juga rasanya.

"Iya. Bapak kerja setengah hari. HP Bapak jatuh di jalan. Belum bisa beli baru, malah HP jatuh entah di mana...," Bapak menjawab. "Kamu tidak parah, kan?"

"Ya, ini lenganku dijahit, Pak," aduku. Bapak hanya melihat sepintas lenganku. Bapak terlalu cuek untuk melihat anaknya yang kecelakaan. Bapak lebih memilih ngobrol dengan Lek Mul sebelum akhirnya pamanku itu berpamitan.

Sore sekali, penabrakku berkunjung. Dia ditemani seorang lelaki lebih muda. Bapak menyambutnya dengan sikap tak acuh.

"Bapak yang nabrak anak saya? Kok bisa? Apa sampeyan tidak melihat jalan sampai bisa menabrak Nindi?" suara Bapak. Sifat bapakku memang begitu. Kadang mudah terpancing emosi dan berangasan. Biarlah Bapak yang menyelesaikan urusan ini. Lagi pula, orang yang menabrakku yang salah.

"Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja," Pak Syarif mencoba membela diri.

"Kata Nindi, Bapak naik motor sambil teleponan. Itu kan berbahaya untuk orang lain, Pak."

"Untuk itu, saya minta maaf. Saya akui itu salah."

"Baguslah kalau Bapak sadar itu salah. Terus sekarang akibatnya seperti ini. Anak saya yang baru pulang sekolah Bapak tabrak. Bagaimana kalau besok tidak bisa masuk sekolah? Repot, kan?"

Wah, Bapak benar-benar marah rupanya.

"Pak, saya mohon maaf. Sebenarnya, saya yang menelepon Ustaz Syarif sesaat sebelum menabrak putri Bapak. Saya tetangga beliau," lelaki yang lebih muda yang menemani penabrakku ikut berbicara.

"Oo, jadi begitu? Kalau begitu, Bapak juga harus ikut tanggung jawab," Bapak menyahut.

"Mari kita bicarakan baik-baik, agar semua bisa selesai. Pokoknya, Ustaz Syarif sebagai penabrak, bertanggung jawab penuh atas kecelakaan ini."

Rupanya penabrakku seorang ustaz. Semoga sebagai ustaz dia memang serius menanggung semua ini.

"Iya. Lain kali, Bapak jangan ulangi lagi naik motor sambil nelepon. Bahaya."

Wuih, bapakku hebat. Berani memberi nasihat seorang ustaz.

"Sebenarnya saya waktu menelepon Ustaz Syarif, sedang mengabarkan kondisi anak beliau yang juga jadi korban kecelakaan. Beliau tergesa ingin segera ke rumah sakit, sehingga menerima telepon sambil naik motor."

Bapak belum menanggapi, orang itu melanjutkan bicara, "Dik Nindi barangkali lebih beruntung karena yang menabrak bertanggung jawab. Sementara anak Ustaz Syarif, penabraknya kabur, tabrak lari."

"Ya, itu tidak ada hubungannya dengan anak saya yang ditabrak," bapakku menyela.

"Saya hanya ingin Bapak juga memahami posisi Ustaz Syarif saat berkendara sambil menelepon. Meskipun itu juga salah."

Penabrakku, Ustaz Syarif, yang beberapa saat hanya diam, kembali bersuara. "Saya kemari ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya, karena saya juga harus segera mengurus anak saya yang masih di ruang ICU."

Heh? Separah itukah? Aku jadi terusik. Aku yang sedari tadi rebahan di depan TV, mencoba duduk. Kasihan juga rupanya Ustaz Syarif ini. Entah mengapa aku tiba-tiba penasaran dan bertanya, "Lalu, yang menabrak anak Bapak?"

Ustaz Syarif menolehku. "Saya belum memikirkan pelaku tabrak lari itu. Yang penting anak saya segera mendapat perawatan. Juga soal kamu, Nduk Nindi. Saya ingin segera selesai."

Aku jadi sedikit merasa bersalah juga sudah berprasangka aneh-aneh. Rupanya, hati Ustaz Syarif ini mulia juga. Tidak hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan saat anaknya jadi korban tabrak lari, dia masih sempat mengurusiku yang ditabraknya. Meskipun dalam kasusku, dia tetap yang salah.

"Saya juga belum yakin bisa menemukan pelakunya. Saya tidak punya saksi. Juga tidak tahu siapa penabraknya. Hanya ada petunjuk ini, milik pelaku tabrak lari itu." Ustaz Syarif merogoh saku baju kokonya. Ia mengeluarkan sesuatu yang membuatku tersentak. "HP ini miliknya yang terjatuh di TKP, tapi kayaknya rusak, mati total."

Aku sontak menatap ke arah bapakku. Raut muka Bapak pun mendadak berubah. Kembali kuyakinkan penglihatanku pada apa yang dipegang Ustaz Syarif. Sebatang HP jadul dengan karet mengikat casing-nya yang tidak rapat lagi. Aku hapal betul itu HP siapa. Bapak mendadak pucat pasi.

***

Dimuat di Majalah Hadila edisi 139 bulan Januari 2019
Honor 200 ribu ditransfer akhir bulan.

Dikirimi 2 eks majalah bukti terbit. 




17 komentar:

  1. Wah honornya lumayan juga ya, mata ijoo royo royo.....

    duduk manis di OTM...

    ReplyDelete
  2. Wuah... harus nulis dan ngirim juga nih.
    Cerpennya bikin merinding Pak Ketua kerenlah.

    ReplyDelete
  3. Mas, cerita ini bukannya pernah dimuat yaa? Hanya pada cerita kali ini, ada perubahan dan penambahan pada endingnya, bener ndak?

    Btw, Barakallah, Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide cerita sama dgn tugas cerbung kelulusan batch 4. Kalau dimuat media belum sih.

      Delete
  4. Keren ceritanya. Pantas di muat disana 😃😃

    ReplyDelete
  5. Waaah keren ceritanya. Honornya juga, Mas 😅

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP