Loading...
Wednesday, February 6, 2019

Kiat Menembus Koran


Salah satu media cetak yang jadi incaran utama para penulis adalah media koran atau surat kabar harian. Menembus koran dengan karya-karya kita memang susah-susah gampang. Makanya, agar bisa berhasil menembusnya, kita perlu berkenalan dulu dengan koran yang mau kita coba kirimi tulisan.

Kita harus tahu apa saja yang bisa dan biasa dimuat di surat kabar yang terbit setiap hari itu. Secara umum, tulisan yang dibutuhkan oleh koran di antaranya adalah opini, cerpen (cerita pendek), cernak (cerita anak), resensi buku, dan puisi. Ada juga beberapa koran yang memiliki rubrik lokal atau ciri khas tertentu seperti cerkak (cerita cekak), yakni cerpen berbahasa Jawa. Kalau di Solopos ada rubrik Ah... Tenane yang jadi ciri khas dengan tokoh uniknya, Jon Koplo dkk. Di Kedaulatan Rakyat ada rubrik mini SST (Sungguh-Sungguh Terjadi) atau Koran Merapi dengan TSS (Terjadi Sungguh-Sungguh), dan sebagainya. Makanya, melihat langsung edisi cetaknya merupakan keharusan agar kita nyambung dengan keinginan redaksinya.

Untuk kolom atau rubrik opini, biasanya setiap koran butuh satu tulisan setiap harinya, kecuali hari libur. Cerpen, puisi, resensi, atau cerkak, biasanya seminggu sekali, rata-rata pada edisi hari Minggu. Melihat waktu terbitnya, tentu saja mengirim tulisan ke koran rata-rata masa menunggu pemuatan bisa lebih cepat. Bahkan hitungan hari bisa saja tulisan kita dimuat kalau memak layak.

Contoh rubrik lokal Ah... Tenane koran Solopos


Perlu kita ketahui juga, dari area edar, koran bisa kita bagi dua yakni koran lokal dan koran nasional. Koran lokal terbit dan beredar di daerah, sementara cakupan koran nasional lebih luas. Contoh koran lokal adalah Solopos, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Waspada, dan koran-koran di bawah Tribun seperti Tribun Jabar, Tribun Jogja, Tribun Jateng, Tribun Sumsel, Tribun Jambi, Tribun Batam, Tribun Lampung, dan sebagainya. Koran nasional bisa kita sebut di antaranya Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Suara Merdeka.

Contoh opini di Solopos

Koran dengan jangkauan nasional, tentu saja lebih sulit menembusnya karena saingan kita dari seluruh Indonesia, bahkan penulis-penulis yang sudah ternama pasti mengincar rubrik-rubriknya di sana. Honornya pun bisa dipastikan lebih besar dari koran lokal. Maka, sebagai permulaan, kita bisa mencoba menembus dulu koran lokal di daerah tempat tinggal kita. Syukur-syukur kita tahu alamat kantornya, hingga kalau dimuat, kita bisa mengambil honor ke sana.

Contoh cerpen di Kedaulatan Rakyat

Honor koran lokal, biasanya sangat lambat jika menunggu ditransfer dari bagian keuangan mereka. Ini sudah menjadi rahasia umum. Makanya, lebih enak kita menulis untuk koran lokal di daerah kita dulu, sebelum coba-coba kirim tulisan lintas regional. Banyak penulis mengeluh, terpaksa harus nagih-nagih demi mendapatkan honornya. Padahal jika kita bisa secara langsung mengambil honor ke kantornya setelah sepekan pemuatan, pasti langsung cair. Itulah alasan utama saya lebih suka mengirim tulisan ke Solopos.

Tampilan Tribunnews Epaper

Sekali lagi, usaha awal menembus media koran, kita tetap butuh melihat edisi cetaknya. Kita bisa membelinya di lapak-lapak koran atau berlangganan. Sekarang sudah banyak koran yang menyediakan epaper atau koran cetak versi digital, yang bisa kita akses. Ada yang harus berlangganan dulu dengan sejumlah uang, ada yang benar-benar menggratiskannya untuk diakses siapa saja.

Koran di bawah naungan Tribun bisa kita simak edisi cetaknya setiap hari dengan mengunduh aplikasi Tribunnews Epaper di Playstore. Ada sekitar 22 koran lokal seluruh Indonesia ada di situ. Setiap hari di-update dan bisa kita simak sama persis dengan edisi cetaknya. Dari situ kita bisa mengenali karakter tulisan yang bisa dimuat di sana.

Contoh tampilan epaper koran.

Selain Tribunnews Epaper, kita juga bisa mengakses beberapa link koran digital gratis yang hanya dengan mendaftarkan email tanpa biaya. Di antara yang gratis itu adalah Waspada Medan, Pikiran Rakyat, dan Kedaulatan Rakyat. Jadi tidak ada alasan kita malas berkenalan dengan koran. Mulai dari mengenal dan menganalisa, kita bisa mencoba mengirim tulisan agar dimuat di sana.


Saatnya kita bergerak. Menulis bukan sekadar hobi, tapi bisa jadi pundi uang karena honor bisa didapat dari tulisan kita yang dimuat di koran. Selamat mencoba! Jangan pernah putus asa.


12 komentar:

  1. Bismillah, semoga bisa kayak Mas Bunga :>) Btw, kata 'susah-susah gampang' diganti jadi 'gampang-gampang susah' dong, Mas :>) biar tambah semangat

    ReplyDelete
  2. Penasaran sih mau kirim ke solopos..

    ReplyDelete
  3. Menulis di koran gampang, nulis iklan baris misalnya tinggal bayar terbit hihi

    ReplyDelete
  4. Mantaappp banget infonya, Mas. Terima kasih banyak. Bismillah, semoga saya bisa meniru jejak Mas Suden Basayev.
    Btw, blognya daebaaakkkk niaan, Mas. Bikin aku ngecesss ;)

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP