Loading...
Thursday, October 25, 2018

Pendidikan Karakter dari Kumcer Jenengku Tegar



Judul: Jenengku Tegar
Penulis: Haryo Guritno & Sri Sunarsih
Penerbit: Erlangga, Jakarta
ISBN: 978-602-434-657-7
Tebal: 74 halaman

Saya asli Jawa tapi belum pernah sekalipun menulis cerkak, cerita cekak alias cerpen bahasa Jawa. Pernah sih mencoba menulis tapi tidak selesai dan file lenyap entah kemana. Ternyata memang bukan hal mudah menulis cerita dalam bahasa yang sebenarnya saban hari digunakan dalam berkomunikasi.

Kali ini, saya akan sedikit review buku tipis berjudul Jenengku Tegar, kumpulan cerkak yang telah mendapat penilaian dan dinyatakan layak sebagai bacaan muatan lokal bahasa Jawa berdasar Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 420/139 Tahun 2017 tentang Buku Bacaan dan Buku Pengayaan/Referensi Muatan Lokal Bahasa Jawa untuk SMA dan SMK Provinsi Jawa Tengah.

Buku ini memuat 10 cerpen berbahasa Jawa yang ditulis berdua oleh Haryo Guritno dan Sri Sunarsih. Sekilas tentang penulis, Haryo Guritno adalah pensiunan PNS pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal yang sudah terbiasa menulis susastra, baik puisi, cerpen, artikel kesusastraan, dan repertoir drama. Beberapa karyanya pernah menghiasi beberapa media massa. Sementara Sri Sunarsih adalah seorang guru sekolah dasar di Ungaran, sering menulis artikel berbahasa Jawa pada majalah Pustaka Candra terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Ibu dua anak kelahiran Batang, 6 September 1971 ini pernah meraih Juara 2 Lomba Penulisan Naskah Sandiwara Berbahasa Jawa Tingkat Provinsi Jawa Tengah (2007). Jadi kumpulan cerkak ini bisa dipastikan sangat cocok dibaca anak sekolahan atau siapa saja yang suka sastra berbahasa Jawa.

Jenengku Tegar dipilih sebagai judul, merupakan cerkak pembuka dalam kumpulan cerkak ini. Berkisah tentang Tegar dan adiknya, Asih, yang harus berjuang sendiri untuk hidup dan bersekolah sepeninggal kedua orangtuanya. Cerkak lain di antaranya adalah Jamal Kepingin Bali, Cucakrawa, Telpon, Nasehate Tante Mira, Dhipan Kayu Sawo, Rong Puluh Taun Tumuli, Arisan, Tembang Tengah Wengi, dan Sawijining Dina ing Lereng Merapi.

Semua cerita bersifat fiksi, tapi tersusun baik dengan memuat nilai pendidikan karakter dan budi pekerti. Penyajiannya juga menggunakan istilah kekinian dan komunikatif tapi tidak melupakan kaidah penulisan bahasa Jawa yang semestinya. Cerita-ceritanya mudah dimengerti, penempatan bahasa juga sudah sesuai unggah-ungguh-nya.

Saya sendiri belajar banyak dari cerkak dalam buku ini. Keinginan untuk bisa menulis cerkak tumbuh begitu selesai membaca tiap ceritanya. Jujur, yang sukar adalah menempatkan unggah-ungguh bahasa Jawa, memilih kata yang tepat, bahkan ejaan yang benar.

Saya sangat mengapresiasi buku kumpulan cerita cekak ini. Semangat yang ditumbuhkannya, selain kekuatan karakter tokoh dengan tata krama dan kegigihan, juga menginspirasi pembaca untuk melihat pribadi sendiri, bagaimana pemahaman berbahasa lokal, apakah sudah mumpuni atau justru hambar sama sekali.

Saya rekomendasikan untuk seluruh siswa sekolah di Jawa Tengah, buku ini sangat bagus sebagai pembelajaran. Disinau, dianalisis, lan bisa dianggo tuladha, begitu istilahnya.

Semoga makin banyak buku sejenis ini, untuk memperkaya dan referensi bacaan berbahasa Jawa. Wong Jawa aja ilang jawane. Suwun.

6 komentar:

  1. Dari dulu pengen nulis cerkak lalu dikirim ke djaka lodang tapi belum kesampaian :D

    ReplyDelete
  2. udah lama nggak baca cerkak.
    Tegar, aku keingetan dulu nama anak Tegar yang kakinya dilindas kereta, yang ngelakuin itu bapaknya, karena sakit hati sama ibunya.
    eh maaf OOT.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biyuuh... Kasihan sekali si Tegar itu mbak. Adakah versi lengkap yg bisa dibaca?

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP