Loading...
Saturday, September 23, 2017

Gokilisasi Ramayana




Lomba yang digelar di alun-alun Kotaraja Mantili sangat beragam. Dari lomba paling keren seperti balap karung, sampai lomba-lomba menguras pikiran seperti lomba makan kerupuk. Lomba yang diminati banyak warga Mantili dan sekitar, adalah lomba tarik tambang berhadiah tambang bagi pemenang, soalnya tambang sangat berguna bagi hidup warga Mantili. Selain dimanfaatkan untuk menarik kereta kuda, pengikat ternak, bahkan menjemur cucian, tambang juga bisa dijual dengan harga yang lumayan mahal. Sungguh, selain bermanfaat bagi hidup warga Mantili, ternyata tak jarang, tambang juga bermanfaat bagi mati warga Mantili. Terbukti beberapa koran lokal pernah memberitakan warta mengejutkan tentang korban bunuh diri dengan menjerat leher, bergantung ria dengan tali tambang. Demikianlah, arti pentingnya tambang.

Tak kalah menarik, adalah lomba panjat pinang. Di mana lomba ini menjanjikan hadiah berlimpah. Semua hadiah digantung di atas. Peserta langsung berjibaku untuk memanjat batang pohon pinang yang diberi pelicin itu dengan penuh semangat. Jika sampai di atas dan bisa meraih hadiah, mereka langsung menumpahkan hadiah itu ke bawah, disambut teman yang telah bersiap dari awal untuk menampung tumpahan hadiah itu. Ada yang berupa air teh manis, ada yang air gula, ada juga tuak (sebangsa miras tempo doeloe). Itulah yang disebut hadiah berlimpah, karena di atas diberi wadah dari tabung batang bambu, maka peserta yang meraihnya harus menumpahkan ke bawah. Sungguh, hadiah yang melimpah tumpah!

Rama Wijaya terlihat bingung. Tokoh kita ini melongok ke sana-kemari mencari adiknya, Lesmana, yang terpisah darinya gara-gara banyaknya masyarakat dari berbagai kalangan yang memenuhi alun-alun. Bahkan tak jarang, orang-orang dengan niat jahat pun turut berbaur di keramaian seperti ini. Maka, pihak kerajaan sudah menghimbau para pengunjung untuk berhati-hati dengan kemungkinan adanya pencopet. Himbauan itu juga dibalas dengan himbauan balik kepada pemerintahan, agar juga berhati-hati dengan para copet di kalangan penguasa negeri. Hehe, ini penulis mau sok memasukkan kritik sosial politik, tapi kesannya memaksakan, ya! Emangnya ada di jaman wayang yang namanya copet dalam politik pemerintahan? Hehe. Sudahlah, itu bukan inti cerita kita, kok!

Beruntung, Rama Wijaya melihat Lesmana di antara peserta lomba makan kerupuk! Aturan lomba ini adalah, peserta diharuskan menghabiskan kerupuk yang digantung. Peserta berdiri dengan kedua tangan di belakang. Siapa yang bisa menghabiskan kerupuk paling dulu, maka dialah pemenang! Dan, dengan kesaktiannya, Lesmana berkali-kali memenangkan perlombaan ini!

"Dimas," Rama memanggil Lesmana yang baru saja menghabiskan kerupuknya. Tapi sepertinya, ia tidak mendengar panggilan sang kakak.

Rama lekas menghambur dan menghampiri adiknya. Ditepuk bahunya dari samping. "Hey! Dipanggil dari tadi, tidak dengar, ya?"

Lesmana sedikit kaget. Ditolehnya sang kakak. "Loh, kapan manggilnya?"

"Dari tadi diteriaki 'Dimas-Dimas', masa nggak dengar!" gerutu Rama Wijaya.

Lesmana kernyitkan dahi. "Woalah, tadi manggil aku, to? Lha, bukannya namaku Lesmana, bukan Dimas?" tanyanya tanpa dosa.

"Ya ampuun! Iya, bener namamu Lesmana! Aku kan kakakmu. Aku manggil kamu 'Dimas', terus kau panggil aku 'Kangmas'!"

Lesmana menepuk kening. "Waduh, bener juga, ya! Aku baru ingat panggilan begituan. Maklum, baru kali ini aku berperan di kisah kolosal begini. Biasa juga di kisah aksi sama yang berbau hantu-hantuan!"

"Sudah, tidak perlu pamer, mentang-mentang bintang kenamaan!" Rama terusik juga. Maklum, ia memang baru kali ini main dalam kisah wayang. Bahkan, ini pertama kali ia memainkan tokoh utama. Jadi, wajar, ia harus bersikap sok profesional!

"Iya, deh, maaf. Bukannya mau sombong, tapi kan memang, gara-gara wajahku ganteng gini, aku banyak tawaran bermain dalam cerita-cerita misteri bahkan tembak-tembakan!" Lesmana makin kacau.

"Iya, iya! Cukup!" Rama segera mengalihkan perbincangan agar lebih bermutu. "Ngomong-ngomong, buat apa Dimas mengikuti lomba makan kerupuk?"

"Kangmas Rama," Lesmana terlihat serius. Padahal batinnya hampir tertawa ngakak (Batin tertawa? Pilihan kata, dong!), ternyata lidahnya agak kelu mengucap panggilan seperti itu. Tapi, tak mengapa, ia lanjutkan kata, "Selama ini, aku selalu menjalani rutinitas di istana sebagai putra dari Ayahanda Prabu Dasarata. Selalu saja dalam penghormatan dari para kawula dan abdi dalam. Kangmas, baru di Mantili inilah, aku merasakan indahnya berbaur dengan masyarakat.... Sangat menyenangkan! Tidak ada sekat, sehingga sepertinya tidak penting dari kalangan mana kita datang, semua berbaur penuh suasana kekeluargaan. Indah sekali, Kangmas...."

Rama Wijaya terkesima dengan pemikiran adiknya. Tak menyangka dari bibir Lesmana keluar kalimat seindah itu. Yang ia tahu, adiknya itu paling banyak diam. Pemalu dan suka mengalah. (Sifat terakhir ini yang Rama paling suka! Sejak kecil, ia selalu menang berebut mainan sama Lesmana. Ia pasti menang!)

"Dimas Lesmana," Rama menatap sang adik dengan berkaca-kaca. "Kangmas salut pada cara berpikir Dimas. Memang kadang jenuh dengan keseharian di istana. Selalu dihormati dan disembah-sembah. Makanya Kangmas-mu ini sering keluar istana. Sekedar berkuda, atau berburu di hutan. Di dunia luar, memang kita seolah bebas. Tidak ada ikatan dan tata krama kerajaan yang terlalu mengekang. Kita bebas berekspresi, mengenal ragam karir, update akan hal-hal baru, tidak jadi kuper apalagi primitif. Jauh dari belitan birokrasi, bahkan...."

"Kangmas, mohon maaf, aku memotong ucapanmu," Lesmana tiba-tiba menghentikan kalimat panjang sang kakak, "Kita ini sedang berperan dalam kisah pewayangan. Tentu saja ini ceritanya zaman dahulu, Kangmas. Kangmas jangan memakai kata-kata modern seperti ekspresi, karir, update, primitif, apalagi birokrasi! Jaga tata bahasa kita, Kangmas. Ini kan tidak etis dalam dialog pada kisah yang terjadi di zaman dahulu."

Rama Wijaya menyadari kekhilafannya. "Iya juga, Dimas. Sebenarnya Kangmas-mu ini juga paham hal itu. Bukankah yang memulai memakai bahasa modern dirimu juga? Coba cek dialog di atas. Kamu pakai kata rutinitas segala! Memangnya, kata itu sudah ada di zaman Ramayana? Heh?"

Lesmana hampir menyangkal. Tapi begitu melirik ke beberapa paragraf sebelumnya, ia baru menyadari memakai kata tersebut. Waduh, ternyata peran dalam kisah kolosal begini tidak bisa dianggap mudah. Sebuah tantangan tersendiri rupanya.

"Ya sudah, Kangmas," kata Lesmana, "Mumpung belum terlambat, masih dalam pembuka kisah, kita mulai saja berhati-hati dalam memilih kata. Sebisa mungkin memakai bahasa lama. Tapi jika sekali-dua kali keceplos memakai istilah-istilah modern, ya sudah tidak mengapa. Toh, pemeran kisah ini juga dari teman-teman kita. Mereka pasti paham dialog dengan istilah-istilah kekinian."

Rama Wijaya mengangguk setuju. Matanya melirik ke arah penulis. Penulis turut mengangguk (mengangguk beneran nih!), mengizinkan usulan Lesmana. Mereka pun melanjutkan cerita....

"Dimas, Kangmas-mu ini terharu, dengan pemikiranmu. Dimas sangat merasa nyaman berbaur dengan masyarakat. Tanpa melihat diri sebagai putra raja, Dimas begitu menikmati kebersamaan ini."

Lesmana tersenyum bangga. "Iya, Kangmas. Biarlah, ini dijadikan pelajaran, contoh teladan, bagi para pemimpin dan bangsawan di masa depan. Bahwa pangkat itu tidak perlu ditonjolkan, sudah sepantasnya sebagai pemimpin, tetaplah harus berbaur dengan masyarakat."

Rama Wijaya mengangguk mantap. "Aku bangga padamu, Dimas."

"Aku juga bangga pada tokoh yang kuperankan ini, Kangmas," Lesmana ikut mengangguk. "Bukankah kata-kataku sudah sesuai skenario, Kangmas?"

"Benar. Seperti yang tertulis di skenario, Dimas."

"Itulah alasan aku ikut lomba makan kerupuk bersama masyarakat. Alasan yang sesuai keinginan penulis. Tapi jujur, Kangmas, ada alasan lain yang membuatku bersemangat mengikutinya," kata Lesmana dengan sedikit berbisik.

"Apa itu, Dimas?"

Lesmana mengelus perut. "Maaf, Kangmas. Jujur, aku lapar! Dari tadi, aku menahan lapar. Kangmas terburu-buru mengajak ke Mantili, tadi pagi aku belum sempat sarapan. Eh, sampai di sini juga, Kangmas tidak mengajakku mampir ke warung. Aku tidak mau merepotkan Kangmas, jadi aku tidak berani bilang kalau aku lapar. Cukuplah, lomba makan kerupuk. Lumayan buat ganjal perut. Itulah yang membuatku bersemangat hingga menang berkali-kali, Kangmas...."

"Ya ampun. Mengapa tidak bilang dari tadi, Dimas?" Rama terlihat menyesal. "Tapi, maaf juga, kalau pun Dimas bilang lapar, aku juga tidak bisa apa-apa. Kau sendiri tahu, Dimas, kita baru main adegan pembuka. Penulis bilang, belum boleh kasbon. Jujur, Kangmas-mu ini tidak bawa uang sepeser pun!"

"Uang pribadi masa tidak ada, Kangmas?" Lesmana tak percaya.

"Dimas kan tahu, banyak yang ingin berperan jadi tokoh utama di cerita ini. Kangmas bela-belakan menyogok si penulis agar peran ini jangan diberikan pada orang lain. Untung, uang yang Kangmas sodorkan diterima si penulis. Jadilah Kangmas-mu tokoh utama. Kan lumayan, pasangannya kan cantik jelita. Dewi Sinta!"

Mulut Lesmana membulat, "Ooo.... Pantas saja, permintaanku ke penulis agar dijadikan tokoh utama ditolak. Ternyata...."

"Sudahlah, Dimas. Tidak perlu diperdebatkan lagi," Rama Wijaya segera memotong.

"Iya, Kangmas," Lesmana patuh. Lalu bertanya, "Kangmas dari tadi ke mana? Ikut lomba apaan?"

"Kangmas belum ikut lomba sama sekali. Kangmas hanya ingin ikut lomba utamanya nanti. Tadi, Kangmas mengintip ke taman keputren, melihat yang namanya Dewi Sinta!" kata Rama jujur.

"Hah? Kangmas sudah melihat ke taman keputren? Cantik beneran yang namanya Dewi Sinta itu, Kangmas?"

"Halah! Ekspresi-mu sok serius begitu! Iya, Dimas. Dewi Sinta cantik luar biasa! Pantas saja, banyak raja dan putra mahkota berkeinginan melamarnya!" Rama kembali membayangkan wajah rupawan Dewi Sinta.

"Hmmm..., kalau begitu, Kangmas harus memenangkan perlombaannya nanti!" Lesmana menyemangati, disambut anggukan mantap sang kakak.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi gong besar di samping panggung utama alun-alun Kotaraja Mantili. Sebuah pertanda, ada hal penting yang akan diumumkan kepada khalayak.

"Mohon perhatian kepada seluruh khalayak yang hadir di alun-alun Kotaraja Mantili!" terdengar suara lantang salah seorang abdi dalam.

Serentak semua diam. Suara itu seperti memiliki daya magis yang mampu membuat segala keriuhan di alun-alun mendadak berhenti. Rama Wijaya dan Lesmana pun turut mengalihkan perhatian ke panggung utama.

"Sebagaimana telah diumumkan sebelumnya, baik melalui pamflet, spanduk MMT, selebaran maupun iklan di radio dan televisi, bahwa hari ini akan digelar perhelatan akbar, sebuah perlombaan. Perlombaan tak sekedar perlombaan biasa, karena pemenang dari lomba ini akan mendapat hadiah, yakni diangkat menjadi menantu Gusti Prabu Janaka! Pemenang lomba akan dinikahkan dengan Kanjeng Putri Dewi Sinta!"

Seruan itu disambut tepuk tangan riuh gegap-gempita membabi buta oleh segenap manusia yang kumpul di alun-alun ini. Lesmana melirik kakaknya, ingin berkomentar tentang seruan itu. Ia terusik dan merasa tidak nyaman dengan kata-kata abdi dalam yang memakai istilah pamflet, spanduk MMT, bahkan radio dan televisi. Mana ada di zaman gini! Tapi yang ia jumpai, sang kakak ikut bersorak senang mendengarkan pengumuman itu. Lesmana melirik penulis, deu..., si penulis juga keasyikan menyimak pengumuman! Hey, bukannya protes dengan bahasa kekinian si abdi dalam!

"Dan sekarang, kita sambut, inilah... Gusti Prabu Janaka!" suara abdi dalam semakin menggelegar menyebut nama rajanya!

Diiringi penghormatan para hadirin, Prabu Janaka naik ke atas panggung utama, dengan pakaian kebesarannya (sebenarnya, penulis mau menjadikan ini 'pelesetan', kebesaran dalam hal ukuran, tapi karena sudah sering dipelesetkan begitu, maka penulis mengurungkan niat). Di atas kepalanya bertengger mahkota kerajaan. Sepasang mata elangnya (biar sedikit keren lah!) menyapu ke seluruh hadirin. Kewibawaan seorang pemimpin penuh kharisma.

"Assalamu'-...," Prabu Janaka lekas menutup bibir dengan jari! Waduh! Dasar kesehariannya jadi RT, kelepasan deh! Baru juga ucapan pertama, sudah salah dia! Penulis melotot ke arahnya. Sang Prabu tak berani menantang mata penulis. Hehe, mata elangnya keok di hadapan mata penulis kita, hahaha! Lekas dia perbaiki keadaan dengan berkata lantang, "Selamat datang di alun-alun Kotaraja Mantili! Kebanggaan bagi kerajaan Mantili, atas kesediaan para hadirin di sini!"

Para hadirin penuh semangat menyimak titah sang raja. Memang, peran hadirin sekarang ini hanyalah untuk menyimak, tidak untuk menentang ataupun berdemo ria. Mereka memang penurut, sesuai permintaan pemberi dana. Mereka diminta berperan sebagai penyimak, ya menyimaklah dengan baik. Kalau mereka dibayar untuk berdemo, ya mereka bakal teriak-teriak menyerukan tuntutan, sesuai keinginan sponsor. Hehe, sok kritis lagi, deh!

"Dari buku tamu yang Ingsun baca, Ingsun berterima kasih sekali atas kehadiran para pangeran dan raja-raja muda dari seantero jagat. Ingsun bangga, ternyata undangan berlomba yang Ingsun sebarkan disambut hangat oleh semuanya. Ini menunjukkan bahwa Ingsun masih dihargai di kancah pewayangan. Masih disegani di segenap negeri, dan masih dihormati dalam hubungan antar kerajaan," terlihat kebanggaan luar-biasa terpancar di wajah Prabu Janaka. Kepedean amat raja kita satu ini, padahal kebanyakan hadirin datang kan tergiur hadiah perlombaan, bukan lantaran pengundangnya adalah Prabu Janaka! (Stt, biarlah Prabu Janaka tahunya seperti itu, buat menjaga acting-nya biar terlihat menjiwai!)

Prabu Janaka kembali memandang ke seantero alun-alun. Lantang suaranya kembali membahana, "Para hadirin, hari ini, Ingsun menggelar perlombaan utama, di mana nantinya akan ada satu pemenang yang berhak meraih hadiah istimewa, yakni Ingsun angkat jadi menantu!"

Sambutan meriah para hadirin begitu riuh. Suitan-suitan terdengar di sana-sini (kebiasaan di perempatan nih!). Semangat yang luar biasa....

"Kangmas Rama," Lesmana mengerling sang kakak yang terlihat santai tanpa beban. "Kok Kangmas santai sangat? Bukankah peserta perlombaan teramat banyak, dari berbagai kerajaan?"

"Iya, Dimas. Hehe, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Kangmas-mu sudah baca skrip cerita ini keseluruhan. Hasil lomba, Kangmas-lah pemenangnya!" sahut Rama Wijaya begitu yakin.

"Hehe. Iya, aku juga tahu, Kangmas. Tapi kan tidak seharusnya Kangmas membocorkan hasil lomba kepada pembaca, mereka kan jadi tidak penasaran lagi!" protes Lesmana.

"Heh, benar juga katamu. Kalau pembaca sudah tahu hasil lomba, bisa saja mereka tidak penasaran, lantas menghentikan membaca!" Rama menyadari kesalahannya.

"Semua sudah terlanjur. Ya sudah, Kangmas. Urusan pembaca biar jadi tanggung jawab Mas Penulis. Ini juga ujian kemampuan dia, kalau dia penulis hebat, pasti mudah menggiring pembaca untuk membaca sampai halaman terakhir. Tugas kita, lanjutkan ceritanya saja!" kata Lesmana. Diliriknya penulis yang rada jengkel gara-gara Rama sok tahu membocorkan hasil lomba. Mentang-mentang dia pemenangnya!

"Ingsun menggelar lomba rakyat di alun-alun ini, sebagai bentuk kedekatan Ingsun dengan rakyat semuanya," suara Prabu Janaka kembali mengusik, "Dan sebagai lomba utama dengan hadiah jadi menantu Ingsun. Kini adalah saat yang kita tunggu. Lomba utama Kerajaan Mantili!"

Sorak gembira kembali membahana. Prabu Janaka mengedipkan mata kepada penulis. Penulis mengangguk, mengiyakan untuk segera memulai lombanya. Sesuai kehendak penulis, tampaklah seorang abdi dalam yang sudah sepuh, menaiki panggung diiringi empat prajurit khusus di kanan kirinya. Abdi dalam ini membawa sebuah peti bertutup kain sutra dengan hiasan jalinan bunga melati.

Sementara dari sudut lain, naik ke panggung seorang lelaki berwajah pucat. Dari mimik wajahnya terlihat takut-takut. Sesaat lelaki itu melirik ke penulis. Keraguan terpancar. Tapi dua prajurit pengawal yang menggiringnya mendorong ia terus menaiki panggung utama.

"Adapun ketentuan lombanya adalah, barang siapa berhasil memanah buah jeruk ini," Prabu Janaka mengambil sebuah jeruk sebesar kepalan tangan dewasa, dari nampan di atas meja di depannya, lantas melanjutkan bicara, "tentu tidak dengan sembarang panah bisa dipakai. Panah yang akan digunakan untuk lomba, adalah panah khusus, yakni panah pusaka Kerajaan Mantili...."

Prabu Janaka memberi isyarat kepada abdi dalam yang membawa peti untuk membukanya. Begitu peti dibuka, tampak cahaya berpendaran menyeruak keluar dari sebuah busur dan beberapa anak panah pada tempatnya di dalam peti itu.

Seluruh hadirin berdecak takjub. Baru kali ini mereka menyaksikan secara langsung panah pusaka Kerajaan Mantili itu. Dan bisa jadi ini adalah kali pertama dan terakhir mereka melihat senjata pusaka itu. Maklumlah, senjata ini hanya diperlihatkan penulis pada cerita kali ini. Yakinlah, pada cerpen-cerpen berikutnya senjata pusaka itu tidak bakal ditampilkan lagi.

"Siapa pun yang bisa memanah dengan panah pusaka Kerajaan Mantili, tepat menembus buah jeruk ini, maka dialah pemenangnya!" kata Prabu Janaka. Selanjutnya, orang pertama Kerajaan Mantili ini menaruh buah jeruk yang ia pegang di atas kepala lelaki berwajah pucat tadi. Kini, pembaca bisa memaklumi penyebab kepucatan si lelaki.

Prabu Janaka kembali berseru, "Silakan yang mau berlomba! Buah jeruk ini Ingsun taruh di atas kepala seorang sukarelawan."

Si lelaki berwajah pucat nyaris protes. Tidaklah! Masa ia sukarelawan. Ia bersedia menjadi sarana penempatan sasaran panah bukan tanpa sebab, kok! Mana mungkin mau dengan ikhlas begitu saja. Taruhannya nyawa, Bro!

Melihat gelagat si pucat, penulis lekas memberi isyarat dengan menggesek ibu jari dan jari telunjuk. Penulis meyakinkan bahwa semua akan sesuai rencana. Bahwa si lelaki berwajah pucat akan selamat dari salah sasaran panah. Tentu, jatah honor tidak akan terlupa. Penulis meyakinkan bahwa sebagai penanggung jawab, ia tetap akan memberikan hak si lelaki pucat, walau sebenarnya ia banyak tombok untuk bayar pemain. Anggukan lelaki pucat itu disambut senyum ceria si penulis. Jangan sampai kisah ini gagal tidak sampai ending!

"Baginda, bagaimana jika ada lebih dari satu orang yang bisa memanah buah jeruk itu? Apakah bisa ada pemenang lebih dari satu? Kan hadiahnya tunggal?" seorang Pangeran negeri seberang bertanya.

"Benar, Baginda. Masa sih, Putri Kerajaan Mantili dinikahi lebih dari satu orang!" menanggapi hadirin lain. Seorang Raja tua yang masih saja pengen ikutan lomba ini. Di otak joroknya hanya ada gambar Dewi Sinta yang berpose menawan hati (sensor, red).

"Husy! Jangan bicara ngawur! Hanya akan ada satu pemenang. Itu sudah pasti!" seru Prabu Janaka menanggapi pertanyaan itu. Ia sudah diyakinkan oleh penulis. Tidak diragukan, hanya akan ada satu pemenang.

Maka demikianlah, perlombaan dimulai!

Urutan peserta sesuai formulir pendaftaran. Rama dan Lesmana santai-santai saja karena Rama tadi mengumpulkan formulir paling akhir, menjelang deadline (kebiasaan penulis nih, kalau ikutan lomba nulis. Hahaha!). Memang, seperti sudah lumrah, bahwa tokoh utama akan tampil belakangan.

Peserta pertama adalah seorang pangeran dari negeri terjauh dari Mantili. Konon, dia datang sehari sebelum pengumpulan formulir dibuka. Ia menginap di alun-alun demi mendapat urutan pertama dalam perlombaan bergengsi ini.

Sang Pangeran mendekat peti berisi panah pusaka. Ia lekas memegang pusaka itu. Sesaat mau mengangkatnya, dia teringat pesan penulis tentang peran yang harus dia lakukan. Aneh, busur panah ini ringan! Bukannya dalam skenario diterangkan bahwa ia tidak kuat mengangkat si busur pusaka?

Pangeran muda ini mengintip teks skenario yang ia simpan di saku celananya. Memang benar tertulis, bahwa ia tidak kuat mengangkat busur pusaka Kerajaan Mantili. Wah, rupanya ia hanya disuruh acting kalau senjata pusaka itu berat, padahal kenyataannya enteng! Ya sudahlah, memang nasibnya bukan menjadi tokoh utama. Akhirnya, peserta pertama ini gugur karena tak kuat mengangkat busur pusaka Kerajaan Mantili tersebut!

Dilanjut peserta kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Penulis bersyukur karena semua berperan sesuai skenario yang ada. Beberapa peserta tidak kuat mengangkat busur panah pusaka itu. Beberapa lagi bisa mengangkat, tapi tak mampu menarik senar panah untuk memanah. Beberapa lagi yang (biar kelihatan) agak sakti, mampu memanah tapi tidak bisa tepat sasaran. Buah jeruk itu masih bertengger manis di atas kepala sukarelawan.

"Peserta terakhir adalah Sri Rama, putra mahkota Kerajaan Ayodya putra dari Prabu Dasarata yang lumayan terkenal beken dalam kisah pewayangan. Kita sambut peserta terakhir! Apakah ia mampu menyelesaikan perlombaan ini dengan baik ataukah gugur seperti para peserta lainnya? Kita akan menyaksikannya...."

Rama melirik Lesmana. Lesmana mempersilakan sang kakak. Rama lekas naik ke panggung. Tak lama kemudian, ia sudah memegang busur panah pusaka yang sebenarnya ringan itu. Lantas diambilnya satu anak panah.

Tiba-tiba Rama merinding. Tengkuknya terasa dingin. Keringat bercucuran membasahi dahinya. Wah, bisa luntur nih riasan di wajahnya. Gila! Ternyata di depan orang banyak dan jadi tokoh utama cerita menegangkan juga, ya!

Rama mengucap bismillah dalam hati (kalau sampai melafalkannya, pasti di-cut sama penulis, kan zaman wayang Hindu!), lalu melepas anak panah dari busurnya!

Anak panah itu dengan tepat sasaran berhasil menembus buah jeruk itu tepat di tengah-tengahnya! Disambut seruan para penonton yang bersorak mengelukan nama Rama.

"Bagus sekali! Prabu Janaka akhirnya berhasil mendapatkan menantu pada perlombaan kali ini! Selamat kepada Sri Rama yang telah memenangkan perlombaan ini!" suara Abdi Dalam yang mengumumkan pemenang membahana.

Rama bersyukur. Prabu Janaka mendekatinya, menyalami dan memeluk calon menantunya itu.

Tak lama kemudian, Dewi Sinta naik panggung. Decak kagum seluruh hadirin mengiring naiknya sang dewi cantik. Rama melirik penulis, berharap diberi kesempatan adegan mesra. Tapi sayang, penulis terlanjur menutup kisah ini sampai di sini.

Demikianlah, Rama berhasil menyunting Dewi Sinta setelah memenangkan pagelaran lomba yang diadakan di alun-alun Kerajaan Mantili. Sebuah prestasi membanggakan bagi Kerajaan Ayodya. Rama dan Sinta pun mulai mengukir sejarah pewayangan. Akan banyak aral rintangan yang menyambut keduanya. Sementara itu, penulis lekas menutup kisahnya, SELESAI.

16 komentar:

  1. Waah...
    Ini mah sudah pro...

    Segar bacanya!


    Sudah mengalir dan berhasil menempatkan joke di tempat yang tepat!

    Suka-suka, walau kepanjangan untuk ditempatkan di blog.

    Sukses selalu Mas!

    ReplyDelete
  2. Gak bosen baca cerita wayang ala modern gini.

    ReplyDelete
  3. Tetiba dapet inspirasi setelah mengunjungi blog ini. Hihihi.. Follback yaa~ Mari berkunjung ke blogku yang masih kosong :D

    ReplyDelete
  4. Ini idenya dapet darimana? keren banget...

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP