Loading...
Tuesday, March 16, 2021

Review Novel Merpati Biru Achmad Munif



Saya akan mencoba membuat review novel Merpati Biru karya Achmad Munif yang diterbitkan Navila. Sebuah novel bertemakan sosial menyorot keberadaan praktik seks bebas di kampus, terkhusus mahasiswi yang berprofesi sebagai merpati biru. Novel setebal 284 halaman ini menemani saya beberapa hari.

Identitas Novel Merpati Biru

  • Judul: Merpati Biru
  • Penulis: Achmad Munif
  • Penerbit: Navila
  • ISBN: 979 9503 15 9
  • Cetakan: Kedelapan, Mei 2005
  • Tebal: 284 halaman

Sinopsis Novel Merpati Biru karya Achmad Munif


Universitas Nusantara gempar saat Tabloid Suara Mahasiswa menyuguhkan headline "Sisi Muram Dunia Pendidikan, Banyak Merpati Biru di Kampus". Senat Mahasiswa selaku penerbit tabloid langsung disidang rektor dan jajarannya karena menganggap liputan itu terlalu berlebihan dan berpotensi mencoreng nama besar universitas. Dengan sangat lugas, para mahasiswa dengan idealisme tinggi itu memaparkan temuan mereka sebagai bentuk pertanggungjawaban akan apa yang telah ditulis.

Tersebutlah Ken Ratri, tokoh utama novel Merpati Biru karya Achmad Munif ini, yang merupakan satu dari sekian mahasiswi pelaku seks komersil profesional cukup terhenyak dengan keberanian Tabloid Suara Mahasiswa menurunkan liputan yang sangat sensitif itu. Ken di bawah asuhan Mama Ani menggeluti profesi sampingan berpenghasilan besar itu bersama beberapa mahasiswi lain, di antaranya Lusi dan Nanil. Mereka memiliki latar belakang berbeda yang menyebabkan jatuh ke jurang kotor itu.

Ken Ratri dikecewakan Zul, lelaki masa lalunya, ditambah hancurnya bisnis keluarga hingga sang ayah dipenjara karena tak mampu membayar utang besar dan ibunya terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa. Sementara Ken harus menghidupi dan memastikan pendidikan Maya, adiknya, tidak terbengkalai. Ia membohongi keluarga, mengaku berbisnis emas permata padahal telah menjual diri untuk melanjutkan hidup.

Tersebutlah Satrio yang menyukai Ken Ratri. Mahasiswa itu berusaha mengajak jalan Ken. Setiap kali gagal, ia berusaha lagi. Ken sebenarnya tertarik juga dengan Satrio, tapi ia tahu diri: ia kotor. Tak mungkin ia menerima cinta Satrio, apalagi cowok itu adalah ketua senat mahasiswa! Ken tak bisa membayangkan jika Satrio tahu siapa ia sebenarnya, status kotor di mata sosial yang ia sandang. Bagi Ken, Satrio lebih pantas dengan mahasiswi lain yang menjaga kesucian dan kehormatannya.

Efek liputan Tabloid Suara Mahasiswa mulai bermunculan. Terjadi demo besar yang diboncengi pihak luar kampus hingga terjadi pengrusakan kantor redaksi dan tuntutan cabut izin tabloid kebanggaan kampus itu. Ken terkejut karena beberapa hari sebelumnya ada yang mencoba memprovokasinya ikut mendukung demo lantaran ia termasuk merpati biru yang disebut-sebut merusak tataran sosial pendidikan. Beruntung ia menolak, tapi ia tahu ada teman-temannya yang terjebak ikut andil dalam demo itu.

Di sisi lain, saat Ken menjenguk kampung halaman di Mojokerto, ia tersentuh dengan kondisi orang tuanya yang mulai belajar salat dan pengajian, tumbuhlah keinginan berubah: meninggalkan dunia hitam. Ia pun mengajukan berhenti pada Mama Ani.

Bagaimana proses pertaubatan Ken Ratri? Bagaimana hubungan dengan Satrio? Bagaimana kampus menyikapi semua permasalahan terkait merpati biru? Apa yang terjadi saat Satrio selaku ketua senat ketahuan dekat dengan seorang merpati biru? Baca sendiri ya, soalnya saya sekadar membuat review novel Merpati Biru karya Achmad Munif. Kan tidak seru kalau semua ditulis di sini, apalagi sampai spoiler.

Fakta Sosial Novel Merpati Biru Achmad Munif


Setidaknya Achmad Munif sudah mengangkat realitas kehidupan ke permukaan apa adanya. "Biar orang tahu bahwa dunia kampus tidak selalu membanggakan diri sebagai institusi yang bersih, gemerlap, idealis, dan benar sendiri. Ternyata dunia kampus juga punya borok-borok." (Halaman 27)

Gugatan penulis dengan mempertanyakan sedemikian sakralkah dunia kampus hingga tak bisa menerima fakta sosial yang ada pada lingkungannya sendiri. Ataukah kampus bisa secara jernih membedakan antara institusi pendidikan dengan perilaku orang di dalamnya? Setiap manusia menyimpan potensi kejahatan dan kebaikan, positif dan negatif, bermoral dan amoral.
 
Foto Achmad Munif bersama Cak Nun

Achmad Munif menulis novel ini diilhami dari pemberitaan media massa yang sempat menghebohkan, tentang mahasiswi yang nyambi jadi perempuan panggilan, menjadi merpati biru. Melalui novel Merpati Biru, penulis mengungkapkan bahwa ada mahasiswa yang idealis, sok idealis, pragmatis, dan masa bodoh.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Merpati Biru karya Achmad Munif


Novel karya penulis kelahiran Jombang, 3 Juni 1945 yang wafat di Yogyakarta pada 30 Maret 2017 ini tergolong dalam novel pop dengan gaya bahasa sederhana sehingga mudah dinikmati siapa saja. Cerita yang mengalir membuat betah membacanya. Meski yang dibahas dunia pelacuran kampus tapi bahasa yang digunakan sangat sopan.

Kekurangan dari segi penceritaan, penulis terlalu mudah menyelesaikan problematika yang ada. Proses taubat yang seolah tanpa kendala, padahal tokoh utama berhenti dari sebuah profesi hitam. Gampangnya ia lepas dari dunia kelam, bahkan dukungan dari sana-sini begitu mulus. Tak ada kendala berarti.

Tak hanya itu, kasus penculikan di akhir cerita yang sebenarnya potensial digarap dengan seru ternyata juga diselesaikan dengan sangat entengnya. Tapi tak apalah, cukup untuk menutup novel ini dengan baik.

Dari segi kualitas cetak buku, novel ini menggunakan kertas HVS putih dengan font berukuran sedang. Tampilannya mengingatkan pada novel-novel cetakan lama. Memang sih, ini bukan buku baru. Novel yang saya baca ini merupakan cetakan kedelapan, Mei 2005. Dan sangat disayangkan, pada cetakan kesekian itu ternyata masih banyak layout yang tidak rapi dan penggunaan kata yang tidak baku bahkan keliru. Saya berpikir mungkin penerbit mencetak ulang tanpa ada revisi lagi.

Puisi Buat Ken Ratri


Sebagai penutup, saya mencoba menulis sebuah puisi setelah kelar membaca novel ini. Saya tidak ahli dalam hal ini, tapi tak apalah buat sekadar iseng. Berikut puisi saya, semoga berkenan membaca.

Merpati Berlepas Diri

: Untuk Ken Ratri

Kau menyadari penuh akan pekat itu
Dan mumpung jalanmu tak sedang buntu
Dan hatimu sedang tidak membatu
Dan memancar nur dari yang satu

Ketika panggilan kembali kian kaudengar
Tangan-tangan ilahi terentang sedemikan lebar
Serupa rindu yang lama terbiar
Atau serupa kerontang yang diserbu serangan lapar

Jalan benar menuju cahaya yang mengintip di sela jendela hitam
Saat daunnya terkuak lebar cerahnya menerangi kamar-kamar muram
Yang dulu kau biarkan diri tenggelam
Dalam jahat kejinya malam

Mumpung napas masih panjang
Jalan cahaya masih terentang
Meski kau tak lagi suci
Pertaubatan akan mencuci

Maret 2021


Sekali lagi, puisi di atas adalah penutup dari review novel Merpati Biru karya Achmad Munif ini. Meski sekadar review ala-ala saya saja. Sekaligus penanda saya pernah membaca novel ini.

#RCO9
#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP9

14 komentar:

  1. Jadi pengin baca juga. Saya baru dengar nama Achmad Munif. Tahunya Chatib Munif 🤭

    ReplyDelete
  2. Pertanyaan-pertanyaan yang bikin penasaran pengen tahu kelanjutannya ^^

    Ditutup dengan puisi yang ciamik. Suka~

    ReplyDelete
  3. Aku jadi inget ternyata pernah baca novel ini. Punya temenku SMA yang belum tak balikin sampe sekarang. Udah minta maaf buat diikhlasin aja. Hahaha

    ReplyDelete
  4. Jadi inget dulu pernah baca novelet bertema serupa.

    Puisi ternyang pertaubautan, keren Pak :)

    ReplyDelete
  5. Jadi inget dulu pernah baca novelet yang ceritanya tentang kupu-kupu malam.

    Puisinya tentang pertaubautan, keren Pak :)

    ReplyDelete
  6. rekomended nih untuk daftar bacaan selanjutnya

    ReplyDelete
  7. Pakde emang juara. Beli bukunya di mana pakde? Aku pingin baca juga.

    ReplyDelete
  8. di Novel Ahmad Munif ini kita menemukan istilah baru: Merpati Biru, di tengah penyebutan mainstream ayam kampus.
    Then, Puisinya mas Wakhid keren sangat. Well done

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP