Loading...
Friday, September 22, 2017

Arjuna Mencari Tinta



Arjuna mengatur napas yang ngos-ngosan, sambil melirik kanan-kiri. Ia tak mau terlihat oleh siapa pun kalau sedang capek luar biasa. Ia harus jaim (jaga imej, red.) di depan siapa pun, secara dia adalah anak Pandhawa yang terkenal paling cakep sedunia. Malu lah kalau para fans-nya melihat raut muka cengar-cengir-nya waktu kecapekan. Apalagi kehadiran paparazi yang kadang tak disadari sering merusak citra para artis sangat mengkhawatirkan. Terakhir, ia sangat dirugikan dengan beredarnya foto dirinya yang sedang ngupil, hasil kerjaan paparazi, yang membuat kontrak kerjanya dengan pabrik kaos kaki mendadak dibatalkan. Nggak nyambung, ya!

Ia melihat banner cukup mencolok di pintu masuk padepokan. Tertulis jelas dalam aksara Jawa yang menunjukkan bahwa tempat ini adalah Pertapaan Retawu, tempat kediaman Begawan Abiyasa. Ia mendapat tugas khusus dari Prabu Kresna untuk menemui sang Begawan. Sebenarnya, Arjuna malas melaksanakan perintah tersebut. Berhubung selain tampil cakep secara fisik, ia juga pengin dinilai berjasa dan jadi ksatria dalam pertempuran melawan Kurawa, maka dia pun mau tidak mau menjalankan tugas itu. Menemui Begawan Abiyasa untuk minta saran, bagaimana mengalahkan Resi Bhisma (jagoan Kurawa) yang memiliki Aji Swarshandamarana, yang tidak bisa mati kalau bukan karena keinginannya sendiri. Berbagai cara telah Pandhawa lakukan untuk mengalahkannya. Termasuk cara paling halus dengan memberi sogokan suap agar ksatria Kurawa itu rela untuk berkeinginan mati, tapi toh semua gagal dengan penolakan. Pandhawa dibuat bingung, bagaimana memenangkan Perang Baratayudha, perang paling bergengsi dalam dunia perwayangan ini. Mau ditaruh di mana muka, Pandhawa kalau sampai kalah melawan Kurawa?

"Maaf, Mbah, mau numpang nanya," Arjuna menyapa seorang kakek yang sedang main kelereng bersama seorang nenek.

"Ada apa, Nakmas?" tanya si kakek tanpa menoleh Arjuna, sambil mengarahkan luncuran kelerengnya ke arah kelereng si nenek yang tergolek tak jauh darinya. Mata tuanya cukup ampuh untuk memfokuskan serangan.

"Eh, ada cowok ganteng," tak disangka si nenek malah mendekati Arjuna, dengan gaya kemayu menjijikkan hay! Tangannya langsung menowel dagu belah dua Arjuna.

"Idih, Nek, kita bukan mukhrim!" seru Arjuna.

"Halah! Cuma nyolek ini ...," si nenek tambah ganjen. "Nakmas rumahnya mana, ada perlu apa? Nyari Nenek, ya?" tanyanya pede.

"Hey, kamu tuh apa-apaan!" si kakek tiba-tiba berseru sambil menarik tangan si nenek. Waduh, rupanya si kakek cemburu berat! Mungkin nyadar juga, kalau bersaing cakep pasti kalah sama si Nakmas ini. Secara dia sudah tua, dibanding Arjuna yang masih cute.

"Maaf, Mbah, cuma mau nanya, di mana saya bisa bertemu Begawan Abiyasa?" Arjuna tak mau menunggu lama.

Si kakek menatap Arjuna. "Ada apa mencariku? Apa masih ada yang mau menantangku main catur? Atau mau menantang main kelereng?"

"Waduh, bukan, Mbah. Jadi, Mbah ini Begawan Abiyasa, ya? Kok nggak mecing sama namanya?"

"Apa maksudmu?"

"Enggak, maksudku, setahuku Begawan Abiyasa itu sangat penuh wibawa, tidak seperti ini!" Arjuna salah tingkah juga.

"Sudahlah, kamu kemari atas perintah siapa dan ada apa?!" Begawan Abiyasa sok terlihat marah. Ia tahu, syut kamera sedang mengarah ke dialognya sama si Arjuna. Jadi, kalau akting yang ia tunjukkan oke, kan bisa mendongkrak namanya, siapa tahu dapat jatah peran lain yang lebih mumpuni.

"Saya Arjuna, diperintah Prabu Kresna untuk meminta saran Begawan terkait kasus susahnya mengalahkan Resi Bhisma. Kan ceritanya, ini sedang episode Perang Baratayudha, Begawan...," Arjuna menjelaskan maksud kedatangannya.

Begawan Abiyasa mengangguk. Diingatnya teks skenario yang sempat ia hapalkan. Orang tua ini merasa lebih pede menghapal dialog dari pada menyontek naskah skenario, kan niatnya biar terlihat profesional, demi menanjaknya karir.

"Iya. Tidak ada yang bisa mengalahkan Resi Bhisma. Dia tidak akan mati kecuali atas kemauannya sendiri," Begawan Abiyasa lalu memunguti kelereng yang bertebaran. Si nenek masih senyam-senyum dan main mata ke arah Arjuna. Arjuna sampai keki dibuatnya.

"Makanya, kami bingung, cara apa yang harus ditempuh, Begawan."

Begawan Abiyasa memandang Arjuna. "Aku punya solusi. Tapi, aku butuh kertas dan pulpen untuk menuliskan solusi itu. Nanti kamu sampaikan tulisan itu kepada Prabu Kresna."

"Apa Begawan tidak punya alat tulis?"

Begawan mengerling Arjuna. "Kamu jangan bilang siapa-siapa, ya. Semua alat tulis di padepokan ini sudah aku jual ke tukang loak. Uangnya kugunakan untuk membayar utang gara-gara kalah main catur sama Pak RT kampung sebelah. Kemarin sisanya, kubelikan kelereng buat nyenengin calon istriku ini."

Arjuna melirik si nenek. Calon istri Begawan?

"Sttt!" Begawan menempelkan jari telunjuk di hidung, "Jangan bilang ke media dulu. Masih proses penjajakan. Kalau cocok sama bidadariku ini, nanti aku akan buat siaran pers."

Arjuna melengos. Sok juga Begawan satu ini. Tapi bukan kapasitas dia untuk memprotes sang Begawan. Apalagi memprotes si penulis cerita! Bisa-bisa dibuatkan sad ending nanti!

"Ya sudah, tapi di mana saya bisa mendapatkan alat tulis itu?" tanya Arjuna.

Begawan Abiyasa tampak mengingat-ingat sesuatu. "Untuk kertasnya, kita pakai kertas naskah skenario punyaku saja. Kan tulisan teks halamannya tidak bolak-balik. Nanti biar kita manfaatkan halaman belakangnya."

"Lalu pulpennya?"

"Itu dia masalahnya."

"Kenapa?"

"Asal kamu tahu, Anak Muda. Di dukuh sekitar padepokan pertapaanku ini, semua remajanya sedang gandrung menulis. Mereka ramai-ramai membuat bermacam karya tulis. Baik fiksi maupun non fiksi. Banyak yang menulis syair, pantun, cerpen, bahkan novel. Dan seperti kamu tahu, pada zaman kita kan belum ada komputer, laptop dan sebangsanya. Jadi mereka menulis pakai tinta. Makanya, di wilayah kita sudah sangat susah mendapatkan pulpen atau tinta. Setiap warga sebenarnya memiliki stok tinta, tapi mereka tidak mau berbagi kepada orang lain, karena bagi mereka tinta adalah segalanya. Dengan tinta, mereka dapat berkarya. Dengan karya, mereka akan dikenang sepanjang zaman. Makanya, akan banyak karya sastra lahir dari mereka yang nantinya menjadi karya klasik di masa depan."

Arjuna mengerutkan kening. "Kok saya baru dengar hal ini, Begawan?"

"Wah, kalau Nakmas tidak tahu tulis-menulis seperti ini, di wilayah ini Nakmas tidak akan dihargai sama sekali. Meski tampang ganteng begitu, tapi tidak suka menulis, apalagi sama sekali belum pernah bikin karya meskipun sekedar puisi, maka tidak akan ada cewek yang bakal naksir Nakmas."

Arjuna terperanjat. Sebegitu pentingnya menulis di wilayah sekitar padepokan pertapaan Retawu ini? Wah, ke-geer-an tadi Arjuna pas sampai wilayah sini, ia pikir modal tampangnya mampu menaklukkan para gadis daerah sini. Eh, ternyata, tiada karya sastra tiada cinta di sini!

"Berarti tidak bisa mencari tinta di sekitar sini, Begawan?" tanya Arjuna. Sekaligus mengalihkan pembahasan. Ia paling benci kalau ada yang bilang ia tidak 'laku'!

"Begitulah. Atau, kamu balik ke keraton para Pandhawa untuk mengambil tinta?" usul Begawan.

"Waduh. Harus melewati daerah konflik, Begawan. Saya tidak mau. Areanya cukup berbahaya. Saya masih harus menyimpan energi untuk perang terbesar Baratayudha nanti di padang Kurusetra. Kan nggak lucu kalau sampai saya cedera padahal belum mengikuti perang terakhir. Kan nanti, rencananya Pandhawa menang, Begawan."

Begawan Abiyasa mendengus. Nih bocah sok kecakepan, banyak alasan pula! Diputarnya otak. Mencari solusi. Ia jadi ingat, kemarin nonton film Hollywood tentang mesin waktu yang bisa melontarkan seseorang ke masa depan ataupun masa lampau. Ia juga sempat berkompromi dengan penulis cerita ini, untuk menambah properti cerita dengan alat canggih itu. Bagaimanapun, cerita ini harus nyambung dengan judul!

"Baiklah, Nakmas. Kamu bisa mencari tinta-tinta sebanyak mungkin di masa depan. Setahuku, di masa depan nanti orang menulis cerpen, puisi, novel dan karya sastra lainnya dengan alat canggih semacam komputer, laptop, netbook, bahkan handphone, Blackberry, PDA-Phone dan sebagainya. Jadi, tinta yang ada di masa depan akan sangat jarang digunakan. Menurutku, kamu harus mencari tinta di masa depan!" Begawan Abiyasa terlihat begitu yakin dengan idenya. Salah satu aksen wajah andalannya, hingga ia sampai sekarang tetap dipercaya memerankan tokoh Begawan satu ini.

"Bagaimana caranya menuju masa depan, Begawan?" tanya Arjuna tidak paham. Sebenarnya (tak banyak yang tahu!), tampang cakep tokoh kita ini, tidak diimbangi dengan kecerdasan yang mumpuni. Jadi, ia sering lola (loading lambat, red.) dalam menghadapi masalah-masalah pelik.

Begawan Abiyasa mengajak Arjuna masuk ke sebuah goa. Si nenek yang mulai hilang simpati sama Arjuna gara-gara tidak pandai merangkai kata (baca: berkarya sastra, red.), hanya mengikuti keduanya tanpa kata. Ia memang tidak dijatah dialog sama sekali. Pertama, untuk menghemat halaman. Kedua, memang si penulis sempat lupa ada tokoh nenek-nenek di babak ini. Coba tadi tokohnya diganti gadis cantik atau setara bidadari pewayangan gitu, pasti deh kejatah dialog.

"Ini dia, mesin waktu!" berseru Begawan Abiyasa sambil menyibak tabir kain yang menutupi sesuatu. Sesuatunya itulah yang disebut mesin waktu!

Arjuna terperangah. "Loh! Ini kan properti film The Time Machine, Begawan!"

"Nah loh! Nakmas malah ingat judul film itu. Dari tadi aku coba ingat-ingat, lupa, maklum bahasa asing susah diingat otak tuaku!" Begawan Abiyasa beralasan.

Arjuna tersenyum bangga. Kemampuan bahasa Inggrisnya yang tak seberapa ternyata dianggap bagus oleh Begawan Abiyasa. Tak sia-sia dia sering baca judul-judul film di iklan bioskop di koran-koran.

"Nakmas, silakan masuk ke mesin waktu ini. Nanti aku setel Nakmas biar meluncur ke masa depan, di mana di sana nanti, orang-orang sudah menulis dengan alat-alat canggih. Tugasmu, carilah tinta sebanyak-banyaknya!" titah sang Begawan.

"Untuk menulis solusi, apa perlu tinta banyak?"

"Memang cuma butuh sedikit, tapi kan nanggung, jauh-jauh ke masa depan masa cuma ambil dikit," Begawan lalu berbisik, "Nanti, sisanya kita jual di sini. Dijamin laris!"

Singkat cerita, Arjuna benar-benar meluncur ke masa depan...! Sesuai tugas yang diemban, Arjuna langsung berburu tinta. Dengan kesaktiannya, Arjuna berhasil mengumpulkan tinta dengan jumlah sangat melimpah, sebagian besar berwujud pulpen.

Teknologi di masa depan ternyata sangat luar-biasa, kehadiran Arjuna ternyata terdeteksi oleh manusia zaman tersebut. Anjuran penulis, Arjuna segera hengkang kembali ke masa pewayangan sambil membawa sekarung pulpen dan juga stok tinta dalam beberapa kotak wadahnya. Konon, para manusia masa depan yang mendeteksi kehadiran Arjuna, menyebut peristiwa ini dengan istilah 'Arjuna Mencari Tinta'. Sampai ada novel yang terbit dengan judul plesetan dari istilah tersebut, yakni 'Arjuna Mencari Cinta' dan sebuah lagu berjudul sama oleh sebuah band dari tlatah nusantara.

"Bagus..., kerja yang bagus, Nakmas," kata Begawan Abiyasa penuh kepuasan. Bayangan mata uang sudah memenuhi pelupuk matanya. Ia akan kaya dengan tinta! (Pesan moral: Jadilah kaya dengan tinta!)

Tak berapa lama kemudian, Begawan Abiyasa sudah menuliskan solusi yang disarankannya.

Selesai menulis, Begawan melipat kertas itu, lalu mengangsurkannya pada Arjuna. "Nakmas, ini. Serahkan pada Prabu Kresna. Sekalian sampaikan salamku nanti pada Resi Bhisma saat kalian bertemu di medan perang."

Arjuna mengangguk dan menerima kertas itu. Selanjutnya, ia minta pamit pulang.

Demikianlah, berbekal saran dari Begawan Abiyasa, akhirnya Pandhawa bisa mengalahkan Resi Bhisma. Adapun saran itu tertulis, agar yang maju melawan Resi Bhisma adalah Dewi Srikandi, istri Arjuna. Arjuna semula kurang senang jika istrinya yang memang terkenal sebagai pemberani itu maju ke medan perang bersamanya. Ia sok khawatir Dewi Srikandi kenapa-napa, meski sebenarnya ia hanya malas jika keberadaan sang istri seolah mengawasi tingkah-polahnya, tentu ia merasa kurang bebas. Beruntung, diyakinkan semua keluarga besar Pandhawa, akhirnya majulah Dewi Srikandi melawan Resi Bhisma di Kurusetra.

Saat Resi Bhisma berhadapan dengan Dewi Srikandi itulah, di mata sang Resi, tampaklah bayangan Dewi Amba menyatu dengan Dewi Srikandi! Tidak menunggu lama, Dewi Srikandi lekas melepas panah Herudadali.

Adapun Dewi Amba adalah putri yang meminta dinikahi Resi Bhisma karena kekasihnya dibunuh sang Resi dalam sebuah perlombaan. Resi Bhisma menolak, karena ia sudah bersumpah untuk tidak menikah. Karena sang Dewi terus memaksa, Resi Bhisma menakut-nakuti dengan panah pusakanya. Ternyata, takdir merenggut nyawa sang Dewi, panah itu tanpa sengaja menancap ke tubuhnya. Menjelang ajal, Dewi Amba bersumpah akan mengambil Resi Bhisma dengan menitis pada seorang Dewi nantinya, dan Dewi itu adalah Dewi Srikandi!

Demikianlah....[]

20 komentar:

  1. Jadi gak keren kalo g nulis yaa... Hihihi... Kreatif

    ReplyDelete
  2. Kalau pelajaran sejarah dibikin cerita gini,betah belajar ya... :)

    ReplyDelete
  3. Mantap ceritanya...cerita lawas jadi warbiasa...

    ReplyDelete
  4. Imajinatif 👍
    Keep One Day One Post.

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Akhirnya, Dewi Amba kembali menitis pada Dewi DeAn untuk menyebarkan hobi menulis di masa depan. hahaha.

      Delete
  6. Subhanallah , mencampur aduk para fiksi menjadi motivasi ... mohon bimbingan kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 belajar... Saya belum bisa apa2...

      Delete
  7. Baca separuh tadi pagi lalu lanjut sampai tuntas sebelum isya. Keren ceritanya..lucu lagi. Jadi pengen baca karya lainnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Boleh, silakan baca yg di blog. Tapi yg dipost di blog nggak banyak..

      Delete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP