Loading...
Saturday, November 26, 2011

Bagi Duit, Mas...

Kali ini, mengulang promosi di daerah Miratan. Kemarin sempat kami lewati karena ada warga sedang hajatan, dan rumahnya pas di samping rumah Pak RT.

Jam 13:30 WIB. Belum satupun warga datang. Rumah Pak RT yang sekalian warung tidak menyediakan tempat duduk di emperan, maka aku dan Bowo memilih duduk di sebuah dipan di bawah pohon talok, di depan rumah Pak RT.

Beberapa menit berlalu, barulah datang seorang bapak mengecek mata. Bowo sebagai RO melaksanakan tugas dengan baik. Sayang, si bapak sudah punya kacamata dan ukuran lensanya masih sesuai dengan kebutuhan mata beliau.

Berlalunya bapak itu, kembali penantian sepi di tengah panas siang. Hanya terlihat beberapa bocah bermain dekat kami. Keceriaan kanak-kanak yang tak peduli cuaca gerah begini.

Seorang anak usia SD mendekati kami. Tepat di sebelahku, ia bersandar pada dipan.

"Mas, minta uangnya, Mas," bocah SD itu berkata padaku.

Aku menolehnya. "Apa, Dik?"

"Minta uangnya, Mas."

Aku toleh Bowo yang juga melirikku. Kembali kutanya tuh bocah, "Siapa yang mengajarimu minta kayak gini?"

"Kakakku."

"Kakakmu di mana?"

"Di rumah."

"Rumahmu di mana?"

"Situ, dekat jalan raya," katanya sambil menunjuk arah jalan raya.

"Kok minta uang? Minta dong sama orang tuamu."

"Bapak sudah meninggal. Ibuku juga."

Oh? Tapi, jujur atau bohong nih anak?

"Ayolah, Mas, bagi uangnya. Seribu juga nggak apa-apa."

"Buat apa?"

"Buat jajan, Mas."

"Itu, kamu sudah beli es?" tunjukku, ia memang memegang es dalam plastik.

"Ini yang ngasih temenku kok."

"Kamu tidak sekolah?"

"Sekolah."

"Di mana?"

"Di MI situ, tapi tidak pernah bawa uang saku," ia menunjuk ke arah timur. Aku tahu arahnya MI Ngadirejo.

"Kakakmu?"

"Kelas 1 SMP."

"Yang masakin tiap hari?"

"Ya kakakku."

"Yang bayarin sekolah?"

"Saudara jauh di Solo sana."

Aku kembali saling pandang dengan Bowo.

"Ayolah, Mas. Bagi duitnya...."

Dilema. Membantu atau kena tipu. Juga, menolong atau memberi didikan tidak baik. Tapi, rasa kasihan juga yang menang, kurogoh juga saku celana, menyerahkan selembar duaribuan padanya.

Apa iya, ada anak yang 'bisa' menipu di kampung begini? Kalau di perkotaan bisa saja terjadi. Wallahu a'lam.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP