Loading...
Thursday, December 1, 2011

Buah Talok

Tahu yang namanya buah talok? Aku sih tidak tahu bahasa Indonesianya apa. Buah ini lagi musimnya di daerahku. Pohonnya ada di mana-mana, terutama di pinggiran jalan raya. Buahnya bulat kecil-kecil, sebesar anggur yang ukurannya kecil. Kalau matang warnanya merah. Rasanya maniiss sekali, banyak anak yang suka. Bahkan orang tua pun banyak yang senang memakannya. Konon, juga bisa untuk obat kalau lagi capek (katanya sih!)

Ceritanya, di depan kantor Setia kan ada dua pohon talok yang buahnya cukup banyak, tiap hari ada saja yang matang di pohon. Bahkan di bawahnya banyak bercecer yang jatuh. Tapi kalau sudah jatuh begitu, hilang nafsu memakannya. Kadang aku suka meraih buah yang rantingnya bisa diraih berdiri. Memakannya begitu saja. Enak juga, hehe. Tapi mau ambil yang tinggi agak tidak enak hati alias rada malu dilihat orang. Kayak anak kecil aja manjat talok. Hehe.

Aku pernah cerita tentang talok ini pada istriku. Eh, ternyata dia kepengen, minta dibawain pulang tuh buah. Soalnya di rumah kulon ada satu pohon talok yang sering dipanjati anak-anak demi mendapat buahnya yang tak seberapa dan kadang belum sampai benar-benar merah.

Kemarin aku pulang tanpa talok.

"Mana taloknya?" tagihnya.

"Hehe. Malu, Bun, nyarinya."

"Oh... Ayah malu nyari taloknya? Mbok bilang, tiwas Bunda berharap Ayah pulang bawa talok."

Nah, hari ini, konsentrasiku terganggu sejak sampai di kantor sebelum keluar demo kacamata. Buah talok itu benar-benar banyak yang merah. Ketika bersama Bowo keluar mencari konsumen, di sepanjang jalan kulihat talok yang seakan memanggil-manggilku. Ingat istri di rumah yang kepengen tuh buah!

Sampai di kantor lagi saat tengah hari. Aku di bawah pohon talok melihat-lihat ke atas. Mau manjat, malu... Serba bingung nih! Meraih yang rendah hanya dapat beberapa buah.

"Ada apa, Mas?" ibu yang di warung sebelah kantor bertanya saat melihatku memandangi ke atas.

"Hehe. Ini, Bu, talok."

"Oh..., kalau pegel-pegel bisa buat obat tuh. Pake ini aja, Mas, kalau mau ngambil taloknya."

Tak kusangka, si ibu mengambilkan sebuah galah bambu khusus untuk mencari talok. Galah yang ujungnya ada potongan bekas botol air mineral yang berfungsi menampung talok yang jatuh kena galah. Jadi malu deh, ternyata...

"Makasih, Bu," kuterima uluran galah itu. Hehe.

Hari ini, aku bisa memanen tuh buah talok. Oleh-oleh buat istri di rumah. Hahahaha....

Pesan moral: Malu tuh pada tempatnya aja, buat apa malu kalau hanya membuat kepengenan tak terobati. Betul? Hehe.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP