Loading...
Sunday, October 20, 2019

Tak Usah Ngegas, Toh Tuhan Maha Santai!




Padahal mudah saja bagi-Nya kalau menghendaki semua orang beriman dan bersatu dengan kuasa Kun Fayakun-Nya, tapi tidak, Dia Swt tidak begitu, toh Dia santai-santai saja….

Pohon Islam kokoh menghunjam karena berakarkan iman kepada Allah Swt, tegak menjulang karena batang dan cabang-cabangnya adalah takwa. Daunnya sangat rimbun dengan buah-buah lezat yang bisa dinikmati dan dirasakan manfaatnya karena berupa akhlak karimah pemeluknya. Siapapun yang melintas dan berteduh di bawahnya akan merasakan kesejukan.  Siapa pun itu, tidak peduli ia makhluk beriman ataupun kufur, tetap akan diteduhi, sebagaimana Allah Swt yang Maha Kokoh pula ‘Maha Santai’, meneduhi semuanya tanpa pilih kasih, dalam pelukan Rahman Rahim-Nya.

Dalam buku terbarunya ini, Edi AH Iyubenu menyebut Tuhan ‘Maha Santai’ karena memang Dia Swt bersikap santai terhadap orang yang tidak mematuhi dan mengikuti ajaran-Nya. Sebagaimana ayat Quran menyebutkan: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Maka takkan beriman seseorang kecuali dengan izin Allah Swt. Dan Allah Swt menimpakan keburukan kepada orang-orang yang tak pernah mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus : 99-100) (halaman 8)

Keyakinan Bukan Hasil Paksaan

Kemahakuasaan Allah Swt takkan bertambah cemerlang sedikit pun umpama semua manusia dan jin beriman dan beribadah kepada-Nya, sebagaimana kemahakuasaan Allah Swt pun takkan cedera sedikit pun umpama semua manusia dan jin kufur kepada-Nya. (halaman 10)

Edi mengajak pembacanya berpikir, merenungkan bahwa keyakinan adalah urusan personal mendalam, bukan hasil paksa-paksaan, ngototan, ngegas, sekalipun dimaksudkan untuk menegakkan ibadah wajib seperti salat misalnya. Sebagai muslim, kita memiliki tugas rohani untuk menanamkan rasa takut dan harap seumur hidup hanya kepada Allah Swt, dengan mengikuti syariat-Nya dan Rasulullah. Sementara untuk ke luar diri kita, tak lain adalah keharusan berakhlak karimah tanpa batas, tanpa sekat SARA apa pun.



Maka, gerangan apa lagi alasannya bagi kita untuk bersikap tegas dan keras kepada orang lain seolah-olah kita inilah pemangku kebenaran-Nya, pengemban amanah-Nya, pembela kekuasaan-Nya di dunia, dan penentu sahih/tidaknya iman dan amal orang lain? (halaman 12)

Lautan Tinta Pun Takkan Bisa Menulis Kalimat-Nya

Al Kahfi ayat 109 atau Luqman ayat 27 mengilustrasikan perumpamaan lautan dijadikan tinta lalu digunakan untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah Swt agar bisa dipahami oleh bahasa manusia, maka akan keringlah lautan sebelum tuntas menuliskannya. Bahkan jika didatangkan satu lautan tinta lagi, tak akan mampu. Dari itu, apakah kita ada wewenang menerjemahkan Allah Swt adalah harus seperti ini, tidak seperti itu, harus begini, bukan begitu, harus sesuai dengan pendapat kita, bukan pendapat orang lain? Jadi sangat tak pantas sekiranya kita jemawa menegasi pandangan dan keyakinan orang lain yang tak sama dengan kita?

Untuk itulah, kiranya di hadapan Allah Swt dalam segala pandangan, tafsir, takwil, dan resepsi setiap kita tiada lain yang paling patut untuk kita kedepankan kecuali kerendahan hati untuk menerima realitas majemuk paham dan cara taqarrub ilalLah itu sebagai bukti keagungan-Nya yang tiada batas. Usaha menepis realitas tersebut terlihat jelas bertentangan dengan sunnatullah-Nya, kehendak-Nya, fakta-fakta kemahaan-Nya. (halaman 20)

Kapasitas Setiap Diri dalam Berdakwah

Problema masa kini, adalah ketika generasi milenial yang begitu mudah mengakses segalanya lewat dunia maya, kepada siapa mereka berguru ilmu agama? Mayoritas adalah mencari ilmu pada Google, bahkan broadcast di grup-grup WhatsApp. Sesederhana itu. Tidak ada dialog, tidak ada muthola’ah, tidak ada bimbingan dan koreksi dari sang guru, dan tentu tidak ada “konteks asal” pada bangunan pemahaman mereka tentang hukum-hukum yang didapat secara instan tersebut. Mekanisme penilaian kesahihan hanya dengan bertenggernya link di halaman pertama Google. ‘Pesantren Google’ telah sempurna mengambil alih majelis-majelis taklim tradisional ala pondok pesantren.

Dan ketika para santri didikan Google terpanggil berdakwah karena dalil “Sampaikan walau hanya satu ayat”, maka keilmuan yang diperoleh instan itu tidak diimbangi dengan kapasitas memadai. Sedemikian mudah menilai salah pada pandangan dan pemahaman yang tidak sejalan dengan apa yang mereka yakini. Perbedaan bagi mereka bukan lagi rahmat.

Kita semua tampaknya perlu sekali membaca buku bagus ini. Agar bisa lebih bisa memahami apa sesungguhnya kebenaran, bagaimana menyikapi perbedaan, dan tidak melulu mengedepankan kekerasan dan emosi dalam melihat keragaman pola pikir yang tak serupa. Tidak perlu ngegas, selowlah, wong Tuhan saja Maha Santai. Padahal mudah saja bagi-Nya kalau menghendaki semua orang beriman dan bersatu dengan kuasa Kun Fayakun-Nya, tapi tidak, Dia Swt tidak begitu, toh Dia santai-santai saja….

Judul buku : Tuhan Itu ‘Maha Santai’, Maka Selowlah…
Penulis : Edi AH Iyubenu
Penerbit : DIVA Press
ISBN : 978-602-391-789-1
Cetakan : Pertama, September 2019
Tebal : 180 halaman


Dimuat di website Harakatuna edisi 13 Oktober 2019, link: https://www.harakatuna.com/tak-usah-ngegas-toh-tuhan-maha-santai.html

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP