Loading...
Monday, October 23, 2017

S. Tidjab, Maestro Sandiwara Radio yang Menuliskan Novel Perdananya


Terpesona saya ketika akhirnya menemukan novel berjudul Pelangi di Atas Gelagahwangi, Drama Cinta di Senja Kala Majapahit. Apa istimewanya? Nama penulisnya: S. Tidjab!

Bagi yang mengalami masa jaya sandiwara radio di era 80-90, tentu tidak asing dengan nama besar S. Tidjab, sang maestro penulis skenario Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, Kaca Benggala, Kidung Keramat, dan banyak lagi judul sandiwara radio yang lahir dari tangan kreatifnya.

Terlahir di Solo pada 1946, Stanislaus Tidjab bergumul di dunia kesenian sejak SMP. Menjadi karyawan Sanggar Prathivi tahun 1983-1990 sebagai penulis dan sutradara. Skenario sandiwara radionya selalu memukau, dialog-dialognya yang benar-benar hidup seolah membawa pendengar masuk ke zaman sejarah, bertemu para tokoh dari Singasari, Majapahit, bahkan Demak Bintoro.

"Beliau sangat pandai dalam mengolah cerita. Tokoh-tokoh fiktif dihadirkan dengan tokoh-tokoh sejarah sehingga menjadi suatu cerita yang sangat menarik untuk dinikmati dan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan," komentar Ferry Fadli, salah satu nama yang tenar memerankan tokoh rekaan S. Tidjab, seperti Arya Kamandanu dan Mpu Janardana.

Senada dengan Ferry Fadli, pemeran tokoh Sakawuni, yakni Ivone Rose, turut memujinya, "Saya menyukai karya-karya beliau karena alur cerita yang runut dan konflik-konfliknya tajam di samping tokoh-tokoh yang utuh, kuat, dan menantang."

S. Tidjab yang kini tinggal di Bogor bersama sang istri, Siti Saanah, dan lima anaknya: Andong Bhegawan, Titah Dono Panduko, Trisulo Abdi Dharmo, Praptani Putri, dan Putri Saraswati, ternyata masih selalu bergelora dalam berkarya.

Novel perdananya, Pelangi di Atas Gelagahwangi, adalah adaptasi dari sandiwara radio karyanya yang telah disiarkan secara serentak di 100 stasiun radio nusantara pada 2007.

"Semula saya ragu apakah saya bisa menulis sebuah novel? Saya sepenuhnya sadar jika sandiwara radio dan novel adalah dua media yang sangat berbeda karakter," ungkap S. Tidjab.

Namun, dia menyimpulkan bahwa karakter kedua media tersebut memiliki titik persamaan mendasar. "Keduanya membutuhkan ide atau gagasan seorang penulis, membutuhkan komunikan (pembaca atau pendengar), membutuhkan teknik bertutur yang memadai, ada pengenalan tokoh, setting peristiwa, speed dan dinamika cerita, klimaks, dan sebagainya," simpulnya.

Berdasar pertimbangan itulah, S. Tidjab memberanikan diri menyerahkan naskah Pelangi di Atas Gelagahwangi untuk diterbitkan oleh Qanita, lini PT Mizan Pustaka. Cetak perdana Agustus 2008 dengan tebal 704 halaman, novel perdana S. Tidjab pun launching ke pasar buku tanah air.

Bagi penulis pemula, sebenarnya bisa belajar banyak dari karya-karya S. Tidjab, baik yang berupa sandiwara radio, yang banyak dijumpai di internet dalam format mp3, atau video-audio Youtube, mau pun belajar langsung dari novelnya.

Pada karya-karya besar S. Tidjab, penulis pemula bisa belajar bagaimana menciptakan dialog-dialog yang benar-benar hidup. Berkisah dengan penuturan tanpa menggurui melalui percakapan para tokohnya.

S. Tidjab sendiri berharap karyanya yang terbit dalam bentuk novel sejarah ini agar bisa dinikmati dan misi yang terkandung di dalamnya bisa dengan mudah dipahami oleh para pembaca.

Apakah debut sang maestro sandiwara radio ini akan bisa mendapat hati para penggemar novel di Indonesia, khususnya novel sejarah? Yang pasti, novel Pelangi di Atas Gelagahwangi ini adalah sebuah terobosan baru yang akan mengobati kerinduan para pecinta sandiwara radio, yang memiliki nostalgia pada zamannya, terlebih penggemar racikan gurih S. Tidjab.

24 komentar:

  1. Luar biasah. Langsung post tantangan. Btw, saya mau tanya dong mas Wakhid, novelnya itu murni sejarah atau masuk kategori historical fiction?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Historical fiction kok, sederet nama tokoh fiktif jadi warna dalam novel, disandingkan dengan nama tokoh sejarah seperti Raden Patah dan para Sunan.

      Delete
  2. Wah, zamanku ini, sandiwara radio. Fery Fadli, ivone rose..
    Zaman keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artinya, kita memang tidak muda lagi, mbak Wid...

      Delete
  3. Saya dlu juga seneng banget denger sandiwara radio, tp g pernah tau siapa yg d balik layar.. hihihi keren banget.. menambah khazanah informasi dunia "persandiwaraan radio" #apaseeh hihihi

    ReplyDelete
  4. hampir tiap mlm kayaknya ya denger sandiwara radio, dan seru, daya khayal qt juga kebangun,,
    bisa ya mas Wakhid nulis keren kayak gini (Y)

    ReplyDelete
  5. mantab orang yang penuh semangat ini. saya lupa-lupa ingat kalau sandiwara radio, dulu memang sering bawa radio kemanapun pergi, jaman masih am, belum berganti fm.

    ReplyDelete
  6. Keren kak wakhid, udah posting tantangan aja wehee 😂 btw kok tau sampai segitu banyak kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe. Bahkan saya googling, info ttg S. Tidjab sama sekali nggak nemu...

      Delete
  7. Menarik sekali. Dari penulis sandiwara radio menjadi penulis novel. Dan saya baru tau nama penulis ini. Jadi inspirasi untuk semangat menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal karya beliau sudah merajai dunia perfilman silat kolosal. Tapi banyak yang tidak tahu tangan emas itu milik siapa.

      Delete
  8. Secara tidak langsung pak S.Tidjab ini menjadi guru bagi mas Wakhid dalam menciptakan dialog yang hidup.


    Tulisan muridnya aja jempol, apalagi gurunya yaa. Nanti kepoin mengenai beliau ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, saya belajar banyak dari karya2 beliau, terutama Tutur Tinular.

      Delete
  9. Saya juga terinspirasi dari sandiwara-sandiwara radio karya beliau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat dan inspirasi yang beliau torehkan semoga jadi amal jariyah...

      Delete
  10. Wow ... vinny kecil hampir tidak pernah mendengar sandiwara radio jadi tidak tau beliau yang ternyata orang bogor. Berarti kapan2 bisa berke alan dengan beliau. Penasaran dengan novelnya. Suka dengan cara mas wakhid menulis biographynya.

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP