Loading...
Wednesday, July 6, 2011

BRI

Ke BRI Unit Weru. Ambil uang transferan kontributor Proyek Buku Gotong-Royong sama titipan uang Kembung dari adiknya di Jakarta.

Seperti biasa, antri. Terpampang juga tulisan peraturan baru yang belakangan ini sangat merepotkanku : "NOMOR YANG LEWAT AMBIL LAGI".

Terus terang, biasanya aku menyempatkan ambil antrian dulu pagi-pagi lantas pulang, nunggu waktu kembali ke BRI. Atau minta tolong teman yang kerja dekat BRI untuk mengambilkan antrian. Tapi apa daya, sekarang sudah tidak boleh begitu. Seringkali tiap aku kembali ke BRI, nomor yang kubawa sudah terlewati. Huh, jadinya ikut antri dengan nomor baru lagi. Begitulah!

Di halaman kantor sebenarnya sudah ada ruang untuk ATM. Kata karyawannya, ATM akan dioperasikan awal 2011, jadi nasabah dianjurkan melengkapi butab dengan kartu ATM. Eh, dari sejak pemberitahuan di akhir 2010 itu, sampai sekarang (Juli 2011) si mesin ATM belum juga berfungsi. Hmm, profesional ya!

Dengan berlakunya peraturan untuk mengambil nomor lagi bagi antrian yang sudah lewat, aku berpikir alangkah baiknya kalau mesin ATM berfungsi. Saat kulirik nomor center BRI di dinding kantor, aku kirimkan saran, "Bos, dr pd ngurusi antrian yg sdh lewat, mendingan diberesi aja ATM-nya. (Wakhid, Sidowayah)."

Barangkali karena aku bukan siapa-siapa (selain hanya nasabah sok setia gara-gara butuh) jadi tak ada tanggapan apa-apa. Yowis lah!

Saat hampir dekat nomor urut yang kubawa dipanggil, kulihat Harwanti tetanggaku ikut antri dengan nomor jauh banget.

"Nitip ambilin bisa nggak?" tanyanya penuh harap.

"Ya." mantap kubilang. Biasanya juga sering aku mendobel transaksi. Kadang ada yang nitip diambilkan, kadang ada yang nitip ditransferkan.

Tiba giliranku. Nomor yang tertera di kartu antrianku dipanggil. Di loket, kuserahkan dua butab yang hendak diambil uangnya.

"Yang satu ini punya siapa?" tanya teller wanita yang melayaniku.

"Tetangga, Bu," jawabku sambil menunjuk ke Harwanti di tempat duduk pengantri.

"Suruh ambil sendiri ya, Mas," ketus sekali.

"Biasanya juga bisa!" aku beralasan.

"Tadi Mbaknya sudah ambil antrian sendiri, kan? Suruh nanti sendiri saja!"

Lah, mendadak kok sebel juga nih!

"Ribet amat aturannya," kataku. "Dari pada ngurusi antrian begini mbok mending ATM-nya difungsikan!"

"Ini juga menunggu mesinnya dari pusat, Mas," teller menanggapi.

"Dari 2010 sampai sekarang belum dioperasikan."
"Mas, saya hanya karyawan. Itu kan urusan dari pusat."
Hedeh. Aku sebenarnya masih pengen ngomong. Tapi kutahan. Dipendam deh jadinya. Kasihan juga malah kelamaan kerjanya si teller ntar.
Saat kubagi keluh di FB. Salah satu teman komentar, bahwa dari namanya saja sudah kelihatan ketidakprofesionalannya. Maksudnya? Dari namanya? Ada Indonesia-nya gitu? Haha, nggak tahulah ....

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP