Loading...
Monday, June 27, 2011

Aku, Bunda!

akulah yang memaksamu memuntahkan seluruh makanan yang baru masuk ke lambungmu
membuatmu mual, merasakan morning sickness yang melelahkan
aku, bunda, yang barusan memenangkan piala kejuaraan berebut ovum
mengalahkan seribu satu spermatozoid, menumbangkan mimpi mereka, mengantarku kepada harapan indah menjadi family hoping di tengahmu dan ayah!
yang akan merebut kasihsayang, menyita finansial, meminta waktumu tanpa jeda
sembilan bulan, bahkan seumur hidupmu nantinya

tapi kulihat senyum itu
senyum bahagia bunda melihat hasil tes urine dengan strip test pack
saat human chorionic gonadotropin terdeteksi
mengindikasi keberadaanku
aku, bunda, yang belum-belum sudah menyusahkanmu

aku, bunda, yang menyiksamu diperantara tingkat esterogen dan progesteron menggila
menyerikanmu, membuatmu sensitif pada rasa sakit
aku pula yang membuatmu pening berkelanjutan
kelelahan tak tertahankan
menyita waktumu dengan perubahan selera makan, mengidam, konstipasi, kontraksi, hipersalivasi
kau tidak marah dengan kenakalanku, malah kau belai aku yang menggerogoti nutrisimu melalui plasenta
aku, bunda, yang menyiksamu dengan kelaparan yang tak henti bahkan di setiap detik waktu

apa yang membuatku terharu adalah saat sepenuh cinta kau mengawasi keadaanku
memerhatikan usiaku, kalkulasi dengan hitungan naegele
berusaha selalu memberikan yang terbaik dalam perkembanganku sebagai embrio
dari sejak ovulasi sampai persalinan nanti
penuh cinta kau lengkapi aneka nutrisi, tanpa rasa enggan kau habiskan uang untukku yang kau anggap sibuahhati
rutin periksa, menelan pahitnya multivitamin untuk menguatkanku
aku, bunda, yang memaksamu menderita kebingungan posisi tidur
kala ujudku kian membesar

saat kau lalui trimester demi trimester
penuh kesabaran penuh keikhlasan penuh perhatian
dan aku dengan masabodohnya menguras energimu, nutrisimu, vitamin-mineralmu, kalsiummu, zat besimu, bahkan emosimu
tapi kau menghiburku dengan musik klasik yang menghanyutkan
padahal seberapa sering kakiku yang mulai terbentuk menendang keras dinding rahimmu
aku, bunda, yang mengaduk-aduk kesehatanmu
dalam kelemahan fisikmu

sampai saat perjuanganmu mencapai puncaknya,
aku, bunda, yang memaksamu antara hidup dan mati
aku yang nyaris membunuhmu
dalam derita tiada tara, dalam erangan dan ejanmu yang meruntuhkan langitbumi
aku, bunda, aku yang menjerit untuk pertamakalinya di dunia fana ini
dengan pertaruhan nyawamu!

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP