Loading...
Wednesday, April 27, 2011

Tega

Pulang kerja sekaligus menjemput istri dan mampir puskesmas, jenguk ibunya Mas Sisri yang sakit. Istriku tadi juga menjenguk anaknya Mbak Erna, teman kerja yang menggantikan Mbak Peh, yang sakit demam.

Di sebelah ibunya Mas Sisri, ada anak kecil yang juga dirawat. Kata dokter si anak harus pindah ke rumah sakit lain yang lebih besar karena tidak bisa hanya dirawat di puskesmas. Aku tak begitu paham sakit apa. Aku hanya terusik cerita Ana, anak Mas Sisri tentang keluarga anak yang sakit itu.

"Kasihan sekali, itu ibunya mengurusi sendiri anak yang sakit. Suaminya tukang judi nggak mau peduli sama anaknya," cerita si Ana.

Saat jalan pulang, istriku juga berkisah, "Yah, tadi pas jenguk anaknya Mbak Erna, kasihan, masak yang jagain Mbak Erna sendiri sama adiknya. Katanya dari semalam nggak ada yang gantiin jaga."

Suami Mbak Erna juga tidak bertanggung jawab. Sudah sering istriku cerita tentang rekan kerjanya yang baru itu. Konon, si suami yang tidak mengurusi itu malah pergi ke Jakarta dan meninggalkan beban jutaan di rumah. Aku hanya tertegun tak habis pikir jika mendengar cerita seperti ini. Bukan cerita fiksi, bukan sinetron, ini kisah nyata.

"Bunda," kataku prihatin, "kok ada ya para suami yang setega-tega itu ..."

Istriku melirik penuh makna padaku. "Pokoknya, Ayah paling baik sedunia!"

Aku hanya memajukan bibir bawah. "Jelek. Ayah cuma nggak habis pikir, para lelaki kok banyak yang tega begitu sama istri."

Kami pulang bersama kelelahan masing-masing. Kelelahan fisik dan pikiran. Ya Allah, aku tak sanggup membayangkan betapa sulit perjuangan para istri yang malang seperti mereka itu. Mudahkanlah mereka, Robbana. Angkat derajat mereka ke titik tertinggi. Aamien.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP