Loading...
Thursday, February 25, 2021

Antologi Cinta




Dita sedang asyik menikmati novel di salah satu bangku di ruang baca perpustakaan sekolah, saat seseorang menyapa, “Boleh duduk di sini?”

Dita menyilakan. Baru kemudian menoleh cowok yang sudah duduk di sebelahnya. Si cowok mengangguk padanya dengan tatapan persahabatan.

Dita kembali ke halaman novel yang ia baca. Tapi ia kehilangan fokus, penasaran dengan cowok di sebelahnya. Ia merasa cowok itu asing, baru sekali ini dia lihat. Ingin ia bertanya tapi sungkan.

Dita masuk kelas disambut seruan penuh keceriaan teman-temannya.

“Hore... jam kosong!” Begitu kebahagiaan tak terkira para remaja penerus generasi bangsa saat guru yang punya jam pelajaran menitipkan soal untuk dikerjakan pada ketua kelas.

“Dit, ada anak baru, tapi di kelas sebelah sih,” kata Reni di sela hiruk-pikuk kelas.

“Pindahan dari mana?”

“Dari Jakarta kayaknya.”

Reni membuka gawainya. “Ini, Ulfi mengirimi foto tuh cowok di grup OSIS,” katanya sambil memperlihatkan layar gawai ke Dita.

Semula Dita tidak begitu merespons, tapi saat sepintas mengerling wajah cakap seorang cowok di gawai Reni, ia terkejut. Itu wajah sama yang ia jumpai di perpustakaan barusan.

“Oh, dia,” kata Dita datar.

“Dih, kamu kenal?”

“Enggak, sih. Cuma barusan ketemu di perpus.”

“Serius? Kalian sudah kenalan dong?”

“Belum. Cuma baca buku semeja.”

“Semeja? Waw! Harusnya kamu ajak kenalan, Dit. Siapa tahu dia jomblo, kan kamu juga jomblo.”

“Ih, omong apa sih, Ren. Aku jomblo kan memang karena nggak mau pacaran. Kalau kamu mau ambil saja tuh cowok, syukur-syukur dia mau sama kamu,” sahut Dita pula.

Kedatangan siswa pindahan dari kota itu memang cukup menghebohkan. Para cewek kurang kerjaan berebut menarik simpatinya. Memang cowok itu tampan. Dari gayanya juga tajir. Pertama ketemu di perpus, Dita juga bisa menyimpulkan kalau anak baru itu cukup sopan.

Esoknya, begitu sampai di sekolahan, Reni mengabari Dita kalau ada pesan dari tata usaha, ada paketan untuk Dita yang dialamatkan ke sekolahan. Seperti biasa, siswa yang mendapat kiriman paket atau surat harus mengambilnya ke ruang tata usaha (TU).

Dita menuju ke ruang TU saat jam istirahat pertama. Begitu sampai di sana, ia menjumpai Pak Dwi yang berjaga.

“Dita, ambil paketan, ya?” Pak Dwi mengangsurkan bungkusan. Dita melihat nama pengirimnya.

“Alhamdulillah,” ucapnya lega.

“Itu pengirimnya penerbit buku, ya, Dit? Di sampul ada tulisan kontributor. Kamu ikut menulis di buku ini?” tanya Pak Dwi membuat Dita agak terkejut.

“Eh, iya, Pak. Saya iseng-iseng belajar nulis cerpen. Alhamdulillah ini bisa lolos ikut antologi cerpen kisah cinta anak sekolahan.”

“Nulis pengalamanmu sendiri, ya?” tuduh Pak Dwi sambil tersenyum.

“Ih, enggaklah, Pak. Ini hanya fiksi saja kok.”

Dita memang ingin menjadi penulis. Ia ingin bisa bikin cerpen bahkan novel seperti yang sering ia baca di perpustakaan sekolah. Dan ini pengalaman pertama ikut lomba antologi cerpen dan dibukukan. Setiap kontributor yang lolos seleksi akan mendapat kiriman buku hasil penerbitan. Di tangannya kini, buku itu sudah dipegang. Ingin rasanya lekas membuka bungkus paket tapi sungkan pada Pak Dwi.

“Selamat ya, saya ikut senang kalau ada siswa SMA kita yang suka menulis sepertimu.”

“Terima kasih, Pak.”

“Oh iya, paketan dari penerbit itu ada dua lho. Yang satu juga belum diambil pemiliknya. Tampaknya ada dua siswa yang menulis di buku yang sama.”

Pak Dwi meraih bungkusan lain di atas meja. Belum sempat Dita merespons, tiba-tiba ia dikejutkan seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.

“Saya Ilham, Pak. Itu paket buat saya.”

“Kamu?” Dita spontan menoleh ke cowok yang barusan muncul.

“Iya. Kita sebuku di antologi cinta. Saat penyelenggara bilang ada alamat sama dengan sekolahanku, aku jadi penasaran dan sempat menjumpaimu di perpustakaan. Tapi kita belum sempat kenalan,” kata Ilham.

“Kamu suka nulis juga?” tanya Dita tak percaya.

Pak Dwi menyerahkan paket buku milik Ilham. “Kalian terlihat serasi lho,” katanya.

“Ih, apaan sih, Pak!” Dita menyahut cepat.

“Sebuku, Pak, bukan serasi,” Ilham meralat.

“Sebuku, serasi, sejoli juga bisa, kan? Hahaha.”

Pipi Dita memerah mendengar candaan Pak Dwi. Ilham tertawa lebar seolah itu kelucuan. Jujur, mendadak hati Dita berdebar.

***

Wakhid Syamsudin 

Sidowayah RT 001 RW 006 Ngreco Weru Sukoharjo.

Dimuat di tabloid Minggu Pagi edisi No.46 Th 73 Minggu IV Februari 2021

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP