Loading...
Monday, March 1, 2021

Valentine Tina


Oleh: Wakhid Syamsudin

Sepulang sekolah, Tina bergegas menyusul ke toko Tante Bertha tempat Ibu bekerja. Tante Bertha tidak pernah marah kalau ia main ke toko, hanya Ibu berpesan jangan terlalu sering datang, apalagi saat toko sedang ramai. Sesampainya di sana, took memang sedang ramai pembeli. Tina menunggu di parkiran.

Ibu yang melihat kedatangan Tina lekas mendekatinya. “Ada apa, Tin? Kok kamu nyusul Ibu?” tanya Ibu.

“Tina dapat tugas sekolah mengumpulkan foto saat membantu orang tua,” jawab Tina.

“Ya, nanti di rumah saja. Ini toko lagi ramai, nggak enak sama Tante Bertha kalau tahu kamu susul Ibu.”

“Sebenarnya Tina pengin foto saat bantu Ibu di toko, bukan di rumah.”

“Duh, tidak bisa begitu, Tin. Tante Bertha bisa marah, Ibu kerja, nanti disangka main-main,” kata Ibu keberatan.

Tante Bertha tahu-tahu sudah berdiri dekat mereka. “Eh, ada Tina. Masuk saja ke dalam, Nak.”

“Tak usah, Tan. Tina sudah mau pulang kok,” Ibu berkata sambil memberi kode agar Tina lekas pamit.

“Tadi Tante dengar kamu ada tugas sekolah. Tugas apa?” Tante Bertha bertanya ramah.

Tina ragu mau menjawab. Namun ia tahu, tidak sopan kalau ditanya malah diam saja. “Mm … tugasnya mengumpulkan foto saat bantu orang tua, Tante. Tadinya Tina pengin bantunya di sini, bantu Ibu di toko.”

“Oh, begitu. Malah bagus itu. Kebetulan ada pekerjaan ringan yang bisa kamu lakukan sama ibumu. Ayo, masuk.”

Tante Bertha mengajak Tina masuk. Ibu ikut masuk bersama beberapa pembeli yang baru datang.


Tante Bertha membawa Tina ke pojok toko, di situ ada dua karyawan yang sudah Tina kenal, sedang membungkus dagangan. Toko Tante Bertha yang berjualan serbaada dan memang cukup ramai, memang dibantu oleh 3 karyawan, satu di antaranya adalah ibu Tina.

“Hallo, Tina,” sapa dua karyawan itu. Tina tersenyum menyambutnya.

Tante Bertha berkata, “Tin, kamu di sini saja. Duduk-duduk sambil mengemas cokelat dan permen. Mudah sekali, kok.”

Tante Bertha lalu mengatakan pada dua karyawannya agar mengajari Tina membungkus cokelat dan permen dalam satu kemasan plastik dan kotak kado transparan beserta bunga plastik yang terlihat cantik. Semua paket itu berwarna serbamerah muda.

Tina senang sekali, ternyata pekerjaan mengemas cokelat dan permen itu sangat mudah. Hasil kerjanya juga tak kalah rapi dengan karyawan Tante Bertha. Tante Bertha tersenyum melihat kecekatan Tina.

“Dalam beberapa hari ini, paket cokelat dan permen seperti ini laku keras, Tin. Kamu tahu kenapa?”

Tina menggeleng. Tante Bertha menjawab sendiri pertanyaannya, “Karena beberapa hari lagi tanggal 14 Februari. Kamu tahu nggak soal Hari Valentine? Banyak remaja yang beli paketan cokelat dan permen sebagai kado Hari Kasih Sayang.”

Tina baru tahu ada peringatan seperti itu. Yang dia tahu dari sekolah hanya hari nasional seperti Hari Kartini, Hari Kesaktian Pancasila, Hari Sumpah Pemuda, dan sebagainya.

Sejak hari itu, sepulang sekolah, Tina datang ke toko membantu mengemas paket cokelat dan permen. Tina menikmatinya dan sangat senang sekali. Ibu yang sempat tak enak dengan Tante Bertha turut senang juga.

Tina melihat sendiri, memang paket Valentine serbamerah muda itu laku keras. Beruntung ia bisa bantu-bantu di toko. Puncaknya memang tanggal 14, semua paket cokelat dan permen itu benar-benar habis terjual.

Sorenya, saat tutup toko, Tante Bertha memanggil Tina.

“Terima kasih, ya, Tin, kamu sudah bantu Tante selama beberapa hari ini.”

“Sama-sama, Tante,” kata Tina pula. “Ibu sudah minta tolong sama karyawan Tante untuk memfoto saat Tina bantu Ibu bungkus dagangan, tinggal mencetaknya nanti.”

Tante Bertha tersenyum. Lalu, ia mengeluarkan sebuah plastik hitam yang sudah disiapkannya. “Ini buat kamu. Kamu boleh lihat isinya di sini. Buka saja,” kata Tante Bertha sambil menyerahkan bingkisan itu.

Tina berterima kasih. Lalu membuka isi plastik. Ternyata ada beberapa bungkus cokelat besar dan permen berbentuk hati dan seikat kecil bunga plastik. Ada juga selembar kertas yang tercetak fotonya saat sedang membantu Ibu. Ia terpana.

“Tante yang memfoto sendiri saat kamu asyik sama ibumu. Jadi, itu foto nyata kamu bantu orang tua untuk tugas sekolahmu.”

“Terima kasih sekali, Tante.”

“Dan ini ada sedikit uang saku buatmu.”

“Tidak usah, Tante.”

“Tidak apa-apa. Anggap saja beberapa hari ini kamu kerja. Jadi, ini hasil keringatmu sendiri.”

Tina tak bisa menolak pemberian Tante Bertha. Ia hampir menangis terharu dengan kebaikan Tante Bertha. Bahkan, atasan ibunya itu tak sungkan memeluk Tina sambil berkata, “Selamat Hari Valentine, Tina.”

Dimuat di Majalah Utusan edisi No. 02 Tahun ke-71, Februari 2021

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP