Loading...
Friday, June 7, 2019

Sendiri


Lutfi merasa benar-benar sendiri. Meski dalam ruangan kelas ada 35 siswa, tapi ia merasa bahwa mereka hadir tidak untuknya, dan keberadaannya tidak dianggap oleh mereka. Mungkin ini semua adalah konsekuensi yang harus dijalaninya, akibat sikap yang ia pertahankan.

Saat jam istirahat, ketika beberapa teman sekelasnya bergerombol di salah satu meja, Lutfi pernah mendekat. Tapi ia kecewa karena semua mendadak bubar, atau berpindah ke kelompok kecil lainnya. Septian sempat berkata dengan nada sinis, "Tidak ada teman untuk orang yang tidak setia kawan."

Perkataan Septian ditimpali oleh Fadli, "Pintar cuma buat diri sendiri, buat apa berteman dengan kami?"

Lutfi tidak mampu menjawab apa-apa. Ia sadar betul, teman-temannya merasa kesal karena setiap kali ada pekerjaan rumah, tugas sekolah, bahkan ulangan, ia memang tidak pernah bersedia pekerjaannya dicontek siapapun.

"Biar dia rasakan hidup sendirian," sentak Alfian sambil menjauh dari Lutfi.

Lutfi mengalah, dan dia terima perlakuan teman-temannya dengan lapang dada. Mau apa lagi, ia memang tidak akan pernah sekalipun mengubah sikap. Ia paling benci ada teman yang hanya mengandalkan pekerjaan teman lain, meniru dan menconteknya tanpa mau berpikir sendiri. Bahkan tugas yang jawabannya jelas ada dalam buku paket saja, mereka malas mencarinya. Biarlah, Lutfi rela hidup sendiri di dalam kelas. Ia jadi orang asing di tengah teman-temannya.

Hari ini pulang agak cepat dari pada hari biasanya. Bapak ibu guru ada rapat pleno, jadi siswa diharap belajar di rumah.

Lutfi melangkahkan kaki ke luar gerbang sekolah. Ia berencana mampir warnet yang ada di seberang sekolah. Ada tugas yang harus dikerjakan, dan referensinya harus dicari di internet.

Beruntung, ia masih kebagian salah satu bilik warnet yang ternyata penuh pengunjung. Rupanya kesempatan pulang awal, dimanfaatkan juga oleh teman-temannya untuk ke warnet. Tapi Lutfi tahu, tidak semua temannya ke warnet untuk mengerjakan tugas, kebanyakan mereka memilih main game online, atau sekadar nonton video di YouTube.

Sesaat berada di biliknya, Lutfi sudah asyik membuka laman web untuk mencari kelengkapan bahan tugas. Saat itulah, ia mendengar sedikit ribut di tempat penjaga warnet yang memang berada di dekat biliknya. Suara penjaga warnet itu jelas sekali ia dengar.

"Tapi bilik penuh, Mbak. Lihat saja sendiri, tidak ada yang kosong," kata Mas Zaini, penjaga warnet.

"Ya, gimana dong. Tugas saya banyak sekali, Mas." Suara seorang siswi.

"Ke warnet lain coba," saran Mas Zaini.

"Warnet sebelah juga pas penuh, Mas."

"Kalau begitu, tulis saja tugasmu apa. Nanti aku carikan. Besok pagi, bisa kamu ambil," saran Mas Zaini.

"Ini kan tugas saya, Mas. Bukan tugas Mas."


"Sama saja. Aku kan cuma bantu mencarikannya di internet. Gurumu juga tidak bakal peduli kamu kerjakan sendiri atau tidak. Sama kayak teman-temanmu, seperti biasa. Tugas tinggal pesan padaku, pasti beres."

"Maaf, Mas. Saya tidak bisa begitu. Ini tugas saya, dan saya harus kerjakan sendiri."

"Terserah, yang jelas warnet lagi penuh. Itu, teman-temanmu yang pada main game online, tugasnya juga cuma nitip aku yang cariin."

Lutfi sejak tadi terusik dengan obrolan seorang siswi dengan Mas Zaini itu. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dalam hati ia takjub dengan sikap siswi itu.

"Siapa dia? Kok aku penasaran pengin kenal dia," batin Lutfi. Ia lalu mengintai dari pintu bilik yang terbuka, dan matanya menangkap badge nama di atas saku baju sekolah siswi itu. Namanya Sovia.

Suara Mas Zaini terdengar lagi, "Kalau mau bersabar, silakan tunggu sampai ada bilik yang kosong."

"Baiklah, saya akan menunggu saja," putus Sovia.

"Silakan duduk di kursi itu, semoga ada yang cepat keluar," kata Mas Zaini.

Lutfi segera mempercepat pekerjaannya. Ia ingin segera memberi kesempatan pada Sovia untuk mengerjakan tugasnya. Entah mengapa, Lutfi merasa keberadaan Sovia membuatnya merasa tidak sendiri lagi.

***

Wakhid Syamsudin, ketua komunitas menulis One Day One Post, tinggal di Sidowayah RT 001 RW 006 Ngreco Weru Sukoharjo Jawa Tengah.

Cerma (cerita remaja) dimuat di tabloid Minggu Pagi edisi No 09 Th 72Minggu V Mei 2019

2 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP