Loading...
Wednesday, December 24, 2014

Putri Iklan


Turun dari metromini P11, bersamaan azan Magrib berkumandang. Langkahku serasa gontai. Capek luar biasa hari ini. Wajar, hari Minggu awal bulan. Lapak pakaian bekas pakai yang kujaga di Pasar Senen ramai pembeli. Kerja ekstra keras sesiang ini terbayar dengan lembaran rupiah yang lumayan.

"Rami1, Zal?"

"Alhamdulillah, Bang. Dapeklah rasaki labiah2 hari ini," jawabku tersenyum, begitu Bang Jon, bosku, datang mengambil uang omzet.

"Alhamdulillah. Sanang yo, Zal, kok manggaleh rami taruih3," kata Bang Jon seraya menerima uluran tas pinggang tempatku menyimpan uang hasil jualan.

"Abang ini, kayak baru saja berdagang. Namonyo manggaleh, ado kalanyo rami, ado kala juo langang. Iyo ndak, Bang?4"

"Lah pandai waang5 sekarang, Zal!"

"Iyo, samanjak ikuik karajo samo Bang Jon.6"

"Ini buat jajan waang7, Zal," kata Bang Jon menyerahkan upahku. Sepintas kulirik, ada lembaran biru di lipatan uang yang diselipkannya di tanganku.

Kuraba saku belakang celana jeansku. Lembaran pemberian Bang Jon masih di situ. Kuteruskan langkah kakiku bersemangat. Secapek apapun kalau ada hasilnya tetap menambah gairah hidup. Rezeki tetap harus disyukuri.

Sampai di perempatan yang jika belok ke kanan ke arah rumah kontrakanku dan jika ke kiri arah masjid, aku sempat berhenti sejenak. Ah, lama sekali tidak jamaah Magrib ke masjid, pikirku. Rasa syukurku barangkali yang akhirnya membelokkanku ke kiri.

Langkahku kian mantap begitu memasuki gerbang salah satu masjid besar di Kelurahan Sumur Batu ini. Langsung menuju tempat wudhu.

Selesai shalat, sesaat berzikir mensyukuri segenap kenikmatan. Capek mengajakku sesegera mungkin pulang ke rumah kontrakan.

Saat jalan pulang itulah aku berbarengan dengan seorang gadis yang juga baru keluar dari masjid. Ia terlihat terburu-buru. Sepintas kulihat wajah ayunya dalam balutan mukena. Ia berjalan mendahuluiku, rupanya rumahnya searah dengan kontrakanku. Tapi siapa dia? Baru sekarang aku melihatnya. Entahlah....

***

Ba'da Isya, aku nongkrong di depan rumah kontrakanku bersama Azam. Mendadak aku terusik oleh sosok tubuh ramping berkerudung yang berjalan dan berhenti di warung kelontong depan kontrakanku. Ah, gadis yang tadi....

"Cantik, ya, Zam...," komentarku tiba-tiba, sedikit berbisik.

"Siapa?" tanya Azam sambil mengikuti arah pandanganku. "Oh, cewek berjilbab itu? Namanya Putri, rumahnya masih se-RT sama kita, di ujung jalan dekat taman."

"Sok kenal kau, Zam?" sahutku.

"Emang aku kenal. Namanya doang. Baru dua hari ini di sini."

Gadis yang kata Azam bernama Putri itu terlihat membeli sesuatu dengan sedikit bingung apa yang akan dibeli. Aku jadi tertarik mengupingnya, karena memang jarak yang tak terlalu jauh. Bahkan aku yakin, obrolanku dengan Azam pun bisa jadi didengarnya. Terbukti gadis itu sempat melirik ke arah kami sesaat setelah Azam menyebut namanya tadi.

"Apa, Mbak?" tanya Mpok Atik, pemilik warung.

"Beli yang di iklan itu, Mpok. Apa namanya, ya?" Putri seperti mengingat-ingat. "Yang iklannya pakai joget-joget, bentuk produknya kayak jari tangan."

"Ini, bukan?"

"Iya, yang ini. Berapa harga, Mpok?"

Setelah mendapatkan apa yang ia beli, gadis itu berlalu pulang. Entah mengapa, mendadak ada debar aneh di hatiku.

***

Pagi cerah. Sudah mandi dan bersiap berangkat ke pasar. Duh, saban hari begini terus. Pagi berangkat kerja, pulang senja. Terkadang terasa sekali hambar jiwaku.

"Ada nggak, Mpok?" Suara gadis bernama Putri itu yang pertama kali mampir ke pendengaranku begitu kubuka pintu rumah. Pagi-pagi sudah ke warung tuh gadis.

"Yang ini, bukan?" tanya Mpok Atik memperlihatkan salah satu dagangannya.

"Bukan kayaknya, Mpok. Yang bintang iklannya Sule itu, lho!"

"Oo... ini dia," Mpok Atik mengambil lagi dagangannya yang lain.

"Iya, betul, ini, Mpok. Berapa duit?"

Ah..., gadis berkerudung itu. Lucu juga, ya, saban hari ke warung belinya aneh-aneh. Ada saja produk iklan di televisi yang dibelinya. Mana sampai warung masih perlu menjelaskan iklan yang dimaksud. Cantik-cantik, sayang korban iklan, batinku.

Aku menutup kembali pintu rumah. Menguncinya. Azam belum pulang. Anak Klaten itu kerja PT, dapat shift malam. Dia keluargaku serumah di Jakarta, satu kontrakan. Kami masing-masing membawa satu kunci rumah. Aku lekas melenggang meninggalkan rumah bersamaan HP-ku berbunyi.

"Aslm. Zal, amakmu sakit. Mak Etek baru bisa kasih obat warung. Sebaiknya kamu kirim uang saja biar Mak Etek bawa ke dokter."

Ah, Amak sakit lagi? Baru sebulan kemarin Amak sakit dan harus ke dokter. Amak..., sudah sedemikian sepuh engkau. Maafkan Buyuang yang harus jauh merantau.

Lekas kubalas SMS Mak Etek Yan, "Wslm. Iya, Mak Etek. Sampai di pasar nanti Zal mampir ke ATM. Tolong Mak Etek periksakan Amak. Maaf, merepotkan terus...."

***

Aku kembali shalat Magrib di masjid sepulang kerja. Waktu jalan pulang, terbersit harapan bisa menjumpai Putri lagi. Dan, memang gadis itu muncul dari pintu terdekat dari shof jamaah wanita. Ah..., setan menyusup, mengembus niat selain karena Allah. Ampuni aku ya Allah.

Putri tetap sama, berjalan terburu meninggalkan masjid. Jalan searah, kuikuti langkahnya sampai kupastikan di mana rumahnya.

Aku mampir warung nasi padang langgananku. Minta dibungkuskan nasi dengan dendeng balado. Segan makan di warung karena belum mandi. Tak lama kemudian, aku sudah berjalan pulang menenteng kresek kecil berisi makan malamku.

Ada SMS masuk. "Zal, amakmu sudah Mak Etek periksakan. Kecapekan saja kok, tidak usah khawatir."

Berbalas pesan dengan Mak Etek Yan, mengantarku sampai di rumah kontrakan. Alhamdulillah....

"Bukan, Mpok. Yang terbaru, iklannya juga baru nongol di tivi hari ini."

Duh, Putri sudah di warung depan kontrakanku. Produk iklan apa lagi yang dicarinya? Ah, masa bodoh, aku terlalu capek untuk menyimak obrolannya dengan Mpok Atik.

***

Aku baru terjaga dari ketiduran setelah shalat Subuh tadi. Suara ribut di luar sepagi ini. Lekas kubuka pintu dan keluar.

Terlihat Pak Hadi tetangga sebelah rumah, berjalan terburu bersama Mang Dadang dan Om Hasan.

"Ada apa, Pak?" tanyaku.

"Ada yang meninggal, Zal," sahut Pak Hadi. "Ayo, kesana sebentar. Satu RT kita, kok."

"Siapa, Pak?"

"Mamanya si Putri, Zal," yang menjawab Mang Dadang.

Mamanya Putri? Lekas kututup pintu dan mengikuti ketiganya. Ada perasaan yang mendorongku untuk sekedar ambil peduli pada gadis itu.

Mpok Atik juga keluar warung yang terlanjur dibuka. Berpesan pada Ujang, anaknya, untuk menjaga dagangan.

"Mamanya sakit apa, sih?" tanyaku. Maklum, meski se-RT, aku jarang tahu kondisi tetangga.

"Sudah jompo, kok, Zal," yang menjawab Mpok Atik. "Sudah pikun dan kena stroke. Tiap hari cuma duduk depan tivi. Putri itu anak dari suami pertama mamanya. Tadinya ia tinggal sama bapaknya di Bekasi. Belakangan ia diminta menjaga mamanya itu karena Desta, anak bungsu mamanya mendapat panggilan kerja ke luar kota."

Aku hanya mendengarkan saja cerita Mpok Atik yang meluncur berbarengan langkahnya. "Kalau jadi Putri, ogah aku suruh ngerawat sendiri orang jompo begitu," lanjut Mpok Atik. "Bayangkan, mamanya itu sudah jompo, kalau minta apa-apa musti langsung dituruti. Kayak anak kecil, tiap lihat iklan makanan di tivi maunya dibeliin. Anehnya Putri mau aja nuruti kemauan mamanya itu. Padahal setelah cerai sama suami pertamanya, Putri tidak pernah mendapat kasih sayangnya!"

"Sudahlah, Mpok!" Pak Hadi menyahut. "Orang sudah meninggal kok diributkan. Dosa!"

Aku tertegun mendengar cerocosan dari Mpok Atik. Putri yang tiap ke warung membeli produk yang diiklankan di tivi itu..., ah mulia sekali hatinya.

Terhempas tiba-tiba, aku jadi ingat hubunganku dengan Amak. Beliau yang memaksaku merantau ke Jakarta. Amak selalu membandingkanku dengan tetangga yang sukses di Jawa. Hingga muncul keinginanku ke Jawa berambisi memamerkan kemampuan merantau pada wanita yang melahirkanku itu. Meski sampai delapan tahun aku tinggalkan Bukittinggi, belum ada tanda-tanda aku jadi orang sukses. Aku masih jadi kuli orang!

Aku dan Putri. Dua potret yang berbeda.

***
1ramai (Bhs. Minang)
2Dapatlah rezeki lebih
3Senang ya, Zal, kalau jualan ramai terus
4Namanya jualan, ada kalanya ramai, ada kala juga sepi. Iya tidak, Bang?
5Sudah pintar engkau
6Iya, sejak ikut kerja Bang Jon
7kamu

Dimuat di Majalah Ummi edisi Maret 2014

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP