Loading...
Monday, June 13, 2011

Rezeki

Rezeki mutlak Allah-lah yang menentukan.

Siang panas dengan sinar matahari memanggang. Seperti biasa, terik di atas kepala itu tidak menghalangi langkahku membagikan brosur undangan kepada warga untuk menghadiri demo/ promosi (keur) kacamata. Kali ini di rumah Pak RT dukuh Gangin Lor, Karakan. Menembus panas siang, tentu dengan harapan doa agar pas jam demo banyak yang datang untuk cek ketajaman penglihatan mata (keur) dan tentu saja membeli kacamata.

Kemarin, panas mentari juga menemani, tidak satupun warga datang memenuhi undanganku. Artinya, semaksimal apapun usaha kita sebagai manusia, belum tentu Allah menghendaki rezeki menghampiri.

Kelar membagikan brosur undangan, aku rebahan di serambi masjid Gangin Kulon. Kebetulan antara Gangin Lor (yang masuk Karakan) dengan Gangin Kulon (masuk Karangtengah) hanya dibatasi jalan alias berseberangan. Kebetulan juga rumah Pak RT tepat sebelah timur masjid (seberang jalan), jadi masjid Gangin Kulon adalah lokasi paling pas untuk istirahat menunggu jam setengah dua siang, jam demo.

Seorang bapak usai dhuhur, mendekatiku. Menyalamiku.

"Rumahnya mana, Mas?" tanya beliau.

"Sidowayah, Pak," jawabku. Selanjutnya, kami mengobrol. Ternyata, beliau masih terhitung 'pakde'- nya Anang, karibku.

Kemudian, beliau bertanya tentang apa yang kujual. Setelah kujelaskan, beliau malah minta dicek mata alias di-keur.

Setelah kucek, mata beliau sebelah kanan +0,50 untuk jarak jauh, sementara untuk baca kanan-kiri +3,00. Beliau lantas minta diperlihatkan koleksi frame.

"Kalau kacamata frame ini ukuran saya tadi, berapa harganya, Mas?" tanya beliau sambil mencoba sampel frame yang dipilih.

"Angsuran 50rb enam kali, Pak," jawabku tanpa membuka harga tawar, alias dipaskan harganya.

Inti dari ceritaku adalah, akhirnya, si bapak jadi beli. Bahkan, istri beliaupun ikut dibelikan, meski untuk sang istri harus menunggu bulan depan deal pengiriman. Inilah rezekiku. Padahal hari sebelumnya, Saiful sudah demo di Gangin Kulon dan beliau ini tidak datang memenuhi undangan.

Setelah melayani si bapak, tiba giliran ke tempat demo bersama Solikin, RO yang menyertaiku. Dan, sepi. Tak satupun warga datang. Bahkan Pak RT izin tak bisa menunggui, ada keperluan lain. Hanya ada Bu RT yang sibuk membungkus kedelai untuk dibuat tempe.

Memang, rezeki kan Allah yang mengatur.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP