Loading...
Tuesday, May 31, 2011

Disuntik

Demo di dukuh Genjeng, Karakan, Weru.

Di rumah Pak RT. Beberapa warga yang menerima undangan promosi yang kubagikan sebelumnya, mulai berdatangan. Mulai pengecekan alias keur mata. Bergantian aku mengecek mereka. Solikin, RO baru yang menyertaiku, belum begitu bisa mengecek. Kulihat ia agak bingung, jadi aku tidak memintanya mengecek. Biarlah dia melihat cara mengecek dulu.

Satu persatu warga yang datang kucek. Ada yang minus silinder, dan pasti ada yang plus. Pengecekan berlangsung cukup meriah karena para warga banyak menyelingi dengan canda, terutama saat ada yang dicek salah menyebutkan angka yang ditunjuk. Pasti semua berkomentar dan menertawakan, padahal pas dia dicek pun kesulitan membaca angka cek jarak pandang jauh itu.

Tiba giliran seorang ibu muda yang takut-takut, tapi disarankan oleh ibu-ibu yang lain untuk cek. Ia terlihat canggung duduk di kursi tempat cek.

"Takut apa to, Bu?" tanyaku sambil mengajaknya bercanda, "Cuma dicek begini kok takut. Sekarang, matanya dicek sebelah kanan dulu ya ..."

Kututup mata kiri si ibu muda untuk mengecek ketajaman mata kanan. Kanan kucek normal. Lalu dilanjut yang kiri. Nah, si ibu muda ini mulai panik saat ternyata mata kirinya tidak sejernih yang kanan untuk melihat jauh.

"Ini yang kiri minus setengah, Bu," kataku.

"Mbok jangan minus to, Mas," si ibu protes, seperti tidak terima dinyatakan minus.

"Minus ya minus kok, masak minus mau dibilang normal," seorang bapak menanggapi. Aku tersenyum saja.

"Sering migrain, sakit kepala sebelah, ya, Bu?" tanyaku.

"Iya, Mas," jawabnya.

"Itu karena mata kanan dan kiri ukurannya beda, Bu. Kanan normal, kiri minus setengah," kujelaskan, "jadi saraf mata satu dipaksa mengikuti kemampuan saraf mata yang satunya. Akibatnya Ibu merasakan sakit kepala sebelah."

Entah siapa yang tiba-tiba nyeletuk membuat si ibu tambah panik, "Wah, parah, disuntik saja, Mas!"

Celetukan canda yang tidak tahunya dikira serius sama si ibu muda!

"Jangan, Mas, saya nggak mau disuntik!" seru si ibu sambil melepas kacamata cek yang ia kenakan. Kentara ketakutan di raut mukanya.

Aku tertawa pendek, "Nggak-nggak, Bu, nggak disuntik kok!"

"Kalau nggak disuntik sembuhnya susah," tambah si bapak yang nyeletuk semaunya tadi.

Eladalah, malah ada ibu-ibu lain yang juga mengira itu beneran, "Yang disuntik matanya ya, Mas?"

"Maaf, Bu, ini cuma cek mata alias keur, tidak ada pengobatan apalagi suntik segala," kataku menenangkan.

Si ibu muda terlanjur ketakutan. Geli deh melihatnya, pengen ketawa aja! Sementara si bapak usil masih menyeploskan candanya.

Yang cek sekitar sembilan warga, tapi Allah belum memberikan rezeki demo kali ini. Tak satupun warga yang jelas-jelas ada keluhan mata, memesan kacamata. Ya sudah, manusia berusaha toh Dia yang menentukan. Hanya kupesankan pada hadirin, jika suata saat nanti memerlukan kacamata bisa menghubungi kantor Kacamata Setia.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP