Loading...
Tuesday, October 17, 2017

Serunya Jumpa Penulis di Taman Ismail Marzuki bersama 7 Penulis Nasional


Hari Minggu, 15 Oktober 2017, adalah hari yang ditunggu-tunggu para pecinta dunia kepenulisan. Pasalnya, ada event Jumpa Penulis yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Jumpa Penulis adalah event tahunan yang diselenggarakan oleh tim KMO Indonesia untuk mempertemukan para penulis nasional dalam satu panggung dan satu waktu sekaligus dengan para peserta yang punya minat di dunia kepenulisan atau bercita-cita menjadi seorang penulis.

Pada Jumpa Penulis (JP) kali ini, tercatat ada 7 nama penulis nasional yang siap berbagi pengalaman di dunia kepenulisan pada para peserta. Mereka adalah Ippho Santosa, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Tere Liye, Ahmad Rifai Rifan,  Tendi Murti, dan Dewa Eka Prayoga.

Siapa yang tidak kepengin coba? Sayangnya, tidak semua orang punya keberuntungan bisa hadir dalam event langka ini. Bagaimana tidak langka? Bayangkan saja betapa panitia berjuang penuh kesulitan mengumpulkan ke-7 penulis tenar itu dalam satu waktu sekaligus, mengingat kesibukannya masing-masing yang luar biasa.

Saya salah satu pecinta tulis yang malang, hiks, tidak berkesempatan hadir dalam event keren ini. Tapi saya tidak perlu berkecil hati, karena ada para sahabat yang hadir yang tidak segan berbagi pengalaman berharga ini.

Kebetulan saya gabung di komunitas menulis ODOP (One Day One Post) Batch 4. Sebuah komunitas online yang saling menyemangati dalam hal tulis-menulis. Nah, beberapa sahabat saya di komunitas ini beruntung bisa menghadiri event langka di Taman Ismail Marzuki, Jakarta ini.


Ini contoh para sahabat maya yang akhirnya bisa kopdar di event JP.
Para sahabat saya selain bisa berburu ilmu langsung pada para penulis di atas, juga bisa kopdar bertemu teman-teman yang selama ini hanya berkomunikasi di dunia maya. Sungguh menyenangkan sekali. Saya hanya bisa pasang muka pengin. Hihihi...

Kang Fery foto bersama para pecinta menulis, paling ganteng dari sebelah manapun.
Salah satu sahabat, yang juga adalah pengurus di ODOP, yakni Kang Fery, dengan senang hati berbagi ilmu yang diperoleh dari event Jumpa Penulis ini. Berikut ini, beberapa catatan beliau yang di-share di grup ODOP, yang saya ringkas, yang semoga bisa bermanfaat. Saya minta izin Kang Fery ya, untuk share di blog saya ini.

Ini Kang Fery ODOP yang berbaik hati share pengalaman di JP
1. Tere Liye

Beliau mengatakan bahwa sudah menulis selama 25 tahun. Menulis itu harus ditumbuhkan, dan terus dirawat meski masih berupa lilin kecil, agar bara apinya berkobar membara dan bisa menerangi dunia.

Tere Liye menasihatkan agar berhenti mengeluhkan kesibukan dan tidak punya waktu untuk menulis. Menulis membutuhkan latihan, yang tentunya bukan perkara mudah, dan merupakan perjalanan panjang. Beliau mengisahkan proses penulisan novelnya yang berjudul "Pulang", 70% diselesaikan di atas kereta! Di mana saja kita bisa menulis. Manusia modern kan terbiasa menulis lebih dari 1000 kata per-hari. "Cek pesan WhatsApp-mu," kata beliau.


Perjalanan menulis seorang Tere Liye tidak selalu mulus. Dulu, novelnya yang berjudul "Hafalan Shalat Delisa", perlu melewati 2 kali penolakan penerbit, sebelum akhirnya berjodoh dengan penerbitnya, bahkan sampai difilmkan.

Closing statement dari Tere Liye, "Waktu terbaik menanam pohon adalah 25 tahun yang lalu. Jangan berkecil hati jika belum, karena waktu terbaik kedua adalah hari ini! Menulis adalah salah satu jejak keabadian. Tanamlah pohon kepenulisan sekarang juga."

2. Tendi Murti

Beliau mengenalkan KMO (Komunitas Menulis Online), dan memperkenalkan seorang penulis disabilitas bernama Indah, yang menulis lewat handphone dan tidak pernah sekolah.


Tendi Murti lalu menyemangati dengan Ikrar Peristiwa: "Saya mengijinkan diri saya untuk menjadi penulis dan menerbitkan 1 buku dan menjadikannya best seller atau lebih dari itu."

3. Ahmad Rifai Rifan


Beliau menyampaikan Kunci Sukses Menulis, yakni: Motivasi, Eksekusi, dan Konsistensi. "Ibadah diterima Tuhan jika memenuhi dua syarat, niat dan cara. Begitu pun menulis."

4. Ippho Santosa

"Ilmu itu seperti kijang, kalau kita tidak mengikatnya, maka akan lepas begitu saja. Bagaimana mengikatnya? Dengan menulis," kata Ippho Santosa. "Orang yang menulis biasanya selalu tenang dan telah berdamai dengan dirinya sendiri."


Beliau memaparkan banyak hal tentang kepenulisan. Sampai juga pada poin, jika seorang penulis sudah menerbitkan karya dan diundang dalam acara-acara. Maka tipsnya:

- Memasang niat dan berdoa
- Menghilangkan gugup
- Membedakan audiens agar tepat apa yang akan diomongkan
- Menyamakan audiens, anggap semua sama
- Memahami posisi bagus berdasar pengamatan orang lain, bukan diri sendiri
- Membaur dan kontak mata, bergerak ke semua, jangan hanya satu sisi
- Memahami VAK, Visual Audio Kinestetik.

5. Helvy Tiana Rosa

HTR mengutip pesan Umar bin Khattab ra., "Ajarkanlah anak-anak kalian menulis, karema menulis akan mengubah pengecut menjadi pemberani."


Jenis tulisan apa pun, kalau ditulis dari hati, maka akan menggugah hati-hati yang lain. "Menulislah yang memberi makna, bukan hanya jejak di dunia, tetapi jejak sampai akhrat," nasihat beliau.

HTR juga memberikan tips menjadi penulis: Tekad kuat, mau berlatih, dan bergabunglah dalam komunitas menulis.

6. Dewa Eka Prayoga

Dewa Eka Prayoga menulis berdasar pengalaman pribadi. Beliau berkisah pada tahun 2012, di usia 21 tahun, mengalami bangkrut besar hingga hitungan 7 miliar! Setelah itu, menulis menjadi aktivitasnya.


“Penulis harus bisa jualan,” kata beliau. Bagaimana supaya laris sebelum launching? Ada 3 step:

Pertama, Personal Branding. Sharing-sharing dahulu, selling-selling kemudian. Makin kita narsis, makin eksis dan makin laris. Jadi expert dan jadi ahli.

Kedua, List Building. Bangun database (follower). Manfaatkan semuanya, email, Facebook group, WhatsApp, Telegram, Line, dan lain-lain.

Ketiga, Cyber Army. Bangun pasukan digital sebagai asset pendongkrak penjualan. Rekrut, bina caranya, dan komporin terus.

“Tidak semua rencana berhasil, apalagi tidak merencanakannya,” kata beliau. So, ada 4 hal yang harus dilakukan: Rencanalan seperlunya, action sebanyaknya, doa sekencangnya, dan sedekah sebanyaknya.

7. Asma Nadia

“Menulis adalah menebar semangat, menebar inspirasi, dan melangitkan mimpi,” kata Asma Nadia.


Pada kesempatan ini, beliau melaunching novel Bidadari untuk Dewa, yang merupakan kisah hidup Dewa Eka Prayoga. Kisah Dewa menarik karena melibatkan tantangan yang lengkap, yaitu harta, tahta, dan wanita, serta jatuh-bangun yang hebat di usia muda.

Demikian sedikit ringkasan sangat singkat yang berhasil saya himpun dari sharing Kang Fery ODOP. Semoga bermanfaat.

*Semua foto hasil jepretan Kang Fery, dan ada 2 foto share dari Mbak Uky ODOP. Copyright ada pada mereka.

4 komentar:

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP