Loading...
Wednesday, October 18, 2017

Semata karena Allah



Serial Lembar Ibrah
Dalam kisah Ali bin Abi Thalib Semata karena Allah
Dikisahkan oleh Suden Basayev

Adalah Amr bin Abd Wad al-Amiri, dedengkot musyrikin Quraisy yang sangat ditakuti di medan perang. Suatu ketika dalam situasi perang Khandaq, ia sesumbar menantang berduel pasukan muslim. "Hai, orang-orangnya Muhammad. Siapa di antara kalian yang bernyali besar? Majulah! Aku tantang berduel satu lawan satu. Akan aku tunjukkan kekuatan seorang Amr bin Abd Wad al-Amiri. Dan biar semua tahu betapa konyolnya Muhammad dan penmgikutnya. Ayo, siapa berani maju?"

Mendengar tantangan itu, Rasulullah Saw memandang kepada para sahabat yang memang sudah siap berperang. Tapi tidak untuk duel berdua dengan Amr. Beliau berkata, "Siapa yang bersedia menyambut tantangan itu?"

Saat semua terdiam membayangkan ngerinya kekejaman Amr bin Abd Wad al-Amiri, terdengar suara seorang pemuda sambil mengangkat tangan bersedia. "Saya siap, ya Rasulullah!"

Rasulullah Saw melihat ke arah pemuda itu. Dialah Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah Saw sendiri. Ia masih terlalu muda. Maka kembali ia tawarkan, "Siapa yang berani selain Ali?"

Tidak ada sambutan. Sedemikian ngerikah seorang Amr bin Abd Wad al-Amiri?

"Perkenankan saya menghadapinya, ya Rasulullah," pinta Ali bin Abi Thalib mantap.

"Baiklah, Ali. Berhati-hatilah," pesan sang Rasul.

Maka majulah Ali bin Abi Thalib ke hadapan Amr bin Abd Wad al-Amiri. Terkekeh Amr melihat seorang pemuda yang memenuhi panggilannya berduel. "Seorang anak kemairn sore? Kalian menyepelekanku?"

"Amr bin Abd Wad al-Amiri, apa lagi yang ditunggu? Aku datang memenuhi tantanganmu!" seruan Ali bin Abi Thalib penuh keberanian, tanpa gentar sama sekali.

"Baiklah. Jangan salahkan jika pedangku merobek perutmu!"

Segera saja duel antara Ali dan Amr terjadi. Amr tidak menyangka sedemikian gesit gerakan Ali. Begitu pandai pemuda itu bermain pedang. Tapi Amr tetap menerjang, tenaganya masih cukup besar untuk menyerang pemuda itu. Tapi ternyata kemampuan Ali bin Abi Thalib lebih unggul. Sebuah sabetan pedang Ali membabat keras ke arah paha Amr bin Abd Wad al-Amiri. Darah mengucur dari luka besar itu. Amr roboh sambil memaki-maki kesal.

Ali tersenyum. Ia akan segera menyudahi duel dengan menghabisi nyawa lelaki sombong itu. Tiba-tiba, Amr bin Abd Wal al-Amiri meludah ke arah muka Ali. Ludah itu mengenai wajah si pemuda. Ali marah karenanya.

Rasulullah Saw dan para sahabat melihat pertempuran itu dengan tegang. Mereka melihat kemarahan Ali atas ludahan Amr. Tapi mereka justru melihat Ali bin Abi Thalib mundur, menjauh dari musuh yang sudah tidak segarang tadi. Tapi Amr bin Abd Wad al-Amiri bisa saja tiba-tiba menyerang meski pahanya sudah terluka robek besar. Para sahabat khawatir keadaan berbalik, jika Ali membiarkan dedengkot Quraisy itu masih hidup.

Ternyata tidak berapa lama kemudian, Ali bin Abi Thalib kembali mendekati Amr dan menuntaskan tugasnya. Pedang Ali menebas tubuh Amr bin Abd Wad al-Amiri, mengantar kematiannya.

"Ali, mengapa tadi sempat ragu membunuhnya? Dia orang yang berbahaya," bertanya seorang sahabat.

Ali bin Abi Thalib memandang sahabat itu. Lalu menjawab, "Semula aku sudah hendak menuntaskan duel dengan menghabisi nyawanya dengan niat lillahi ta'ala. Tapi begitu ia meludahiku, aku marah. Aku tidak mau membunuhnya berdasar kemarahanku. Perlu beberapa saat untuk aku jinakkan kemarahan ini, hingga aku bisa membunuhnya semata karena Allah Swt."

Para sahabat tertegun mendengar alasan itu. Sebuah pelajaran berharga ditunjukkan seorang pemuda berkelas.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP