Loading...
Tuesday, October 9, 2012

Jangan Kita yang Diajari

Anak pertama kami baru berusia setahun, tapi alhamdulillah sudah pintar mengucap sepatah-dua patah kata. Memang masih minim suku kata, paling mudah mengucap kata yang hanya terdiri dari 1 atau 2 suku kata, seperti yah, mbah, mbak, mas, atau ayah, ayam, dan menirukan suara-suara yang didengar seperti suara hewan di sekitar, suara motor, mobil dan sebagainya.

Suatu kali ketika sedang bermain, anak kami Haikal, entah terkena apa tiba-tiba mengadu pada saya yang ada di dekatnya, dengan menunjukkan tangannya sambil berkata, "Yah, atit... atit!"

Saya tahu atit maksudnya sakit. Lekas saya tanggapi dengan meniup jarinya yang dibilang sakit. "Mana yang atit, Sayang?"

Istri saya yang berada di dekat saya langsung menegur, "Ayah kok ikut-ikutan atit? Ayah yang harusnya ngajarin Adek apa Ayah yang diajarin sama Adek?"

Saya tersenyum dan meralat, "Mana yang sakit, Dek?"

Saya akui, apa yang istri saya tegurkan itu memang benar. Anak-anak yang belum bisa berbicara dengan baik tentu masih belajar bagaimana mengucapkan segala sesuatu dan tak pelak sering kali cadel. Seperti yang anak saya coba ucapkan.

Pada masa-masa seperti ini, anak biasa meniru apa yang ia lihat dan dengarkan. Ini bisa kita jadikan sebagai sarana untuk mengajari yang baik-baik kepada anak kita. Kita praktikkan amal-amal shalih yang bisa dipelajari secara langsung oleh buah hati kita tersebut.

Selain amal shalih, kita juga bisa mengajari perkataan-perkataan yang baik, mengucap kalimat-kalimat toyibah agar anak terbiasa dengan ucapan-ucapan yang baik. Tentu harapan ke depannya, amalan kebaikan yang kita ajarkan secara praktik langsung ini bisa diaplikasikan olehnya untuk bekal menjadi muslim taat dan anak yang berbakti. Siapa juga yang akan diuntungkan? Kita, bukan?

Tetapi kadang orangtua salah langkah, di mana seharusnya kita bisa mengajari anak, eh malah kita yang meniru-niru apa yang anak kita ucap dan lakukan. Memang kita akan menemukan kelucuan dari keluguan-keluguan buah hati kita itu, tapi apa cukup kelucuan yang kita lihat dan saksikan bertaruh dengan daya serap kebaikan pada masa-masa emas kanak-kanak?

Maka dari itu, mari kita betulkan ucapan anak yang salah karena cadel dengan membantu menunjukkan kata yang sebenarnya kepada buah hati kita. Bukan sebaliknya. Jangan sampai kita malah meniru apa yang diucapkan olehnya. Kita yang mengajari, bukan kita yang diajari. Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP