Loading...
Sunday, July 28, 2019

Tasawuf Sosial, Kiai Sahal Mahfudz, dan NKRI

Tasawuf Sosial Kiai Sahal Mahfudh untuk Keutuhan NKRI 

Tugas utama manusia sebagai khalifatullah adalah menyembah kepada Allah (ibadatullah) dan membangun bumi (imaratul ardli).

KH. MA. Sahal Mahfudz adalah tokoh besar sarat prestasi yang menjadi teladan umat dan bangsa ini. Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA. dalam buku setebal 244 halaman ini mengkaji tasawuf sosial Kiai Sahal yang menjadi laku kesehariannya, yang disaksikan keluarga, santri, orang dekat, dan masyarakat secara umum yang bisa menjadi teladan kehidupan.

Dalam bahasa Alquran, kesuksesan seseorang tidak lepas dari akar kuat yang menghunjam dalam jiwa (ashluha tsabitun) dan melahirkan buah yang menjulang tinggi ke angkasa (wa far’uha fis sama’). Dalam bahasa agama, akar kuat itu adalah tasawuf, ilmu hati yang membentuk karakter utama dan menjadi pijakan dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui kondisi jiwa dan sifat-sifatnya, baik yang terpuji maupun tercela. Topik kajiannya adalah jiwa dengan segala kondisi dan sifat yang mengitarinya. (halaman 14)

Sejarah tasawuf bermula pada era Nabi yang dinamakan era zuhud dengan tokoh Hasan Al-Bashri dan Rabi’ah Al-Adawiyah. Pada abad ke 4, 5, dan 6 Hijriyah, internalisasi zuhud sudah berjalan dan istilah tasawuf mulai dikenal. Selanjutnya muncul era lahirnya tarekat untuk menjembatani agar teori tasawuf yang rumit bisa dinikmati oleh orang awam. (halaman 16)

Sahal Mahfudz dan Tasawuf

Orang yang bertasawuf tidak harus bertarekat. Tarekat lahir belakangan setelah ulama-ulama besar tasawuf meninggal, seperti Imam Hasan Al-Bashri, Imam Junaid Al -Baghdadi, dan Imam Ghazali. Meskipun demikian, dalam konteks Indonesia, orang yang bertasawuf menjadi semakin mantap jika diikuti dengan tarekat. Kiai Sahal masuk dalam kategori ini, yaitu ulama yang mendalami kajian ilmu tasawuf dan mengikuti tarekat sekaligus.

Kiai Sahal dibaiat tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah oleh KH. Muslih Mranggen Demak. Kiai Sahal awalnya dibaiat sebagai murid tarekat, kemudian dibaiat kembali menjadi mursyid tarekat. Meskipun dibaiat mursyid tarekat, Kiai Sahal tidak berkenan membaiat murid. Ketika ada orang yang ingin dibaiat, Kiai Sahal menyarankannya langsung kepada KH. Duri Nawawi. (halaman 131)

Menurut Kiai Sahal, dalam tasawuf ada dua ajaran utama, yaitu ma’rifatullah (mengetahui Allah) dengan yakin dan liqaullah (bertemu Allah) ketika mencapai titik final perjalanannya. Secara komprehensif, ajaran tasawuf dijelaskan dalam Alquran surat Yunus ayat 57 yang berbunyi; “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Kiai Sahal mengutip tafsiran Imam Junaid atas ayat tersebut, dalam strata ilmu, yaitu syariat, thariqat, hakikat, dan ma‘rifat. Mauldzoh yang berisi nasihat melakukan hal-hal yang wajib dilakukan dan mencegah hal-hal yang dilarang adalah manifestasi syariat.

Penyakit Hati

Obat hati adalah usaha yang dilakukan untuk menyembuhkan penyakit rohani sehingga seseorang mencapai kesempurnaan diri dalam pembersihan hati dari akidah yang sesat dan tabiat yang hina dan tercela. Ini adalah menifestasi tarekat. (halaman 135-136)

Tasawuf sosial Kiai Sahal dapat dicari dan dirumuskan dari pemikiran yang disampaikan di banyak kesempatan. Di antaranya adalah saleh, mampu berperan aktif, bermanfaat, dan terampil dalam kehidupan sosial. Kemudian akram, yakni pencapaian kelebihan dalam kesesuaiannya dengan makhluk terhadap Allah untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Manusia sebagai makhluk sosial diharapkan menjadi manusia yang bertanggung jawab kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka melaksanakan tugas utama manusia sebagai khalifatullah yang harus menyembah kepada Allah (ibadatullah) dan membangun bumi (imaratul ardli) sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (halaman 138)



Tasawuf dan NKRI

Salah satu tujuan tasawuf sosial Kiai Sahal adalah mengokohkan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini secara otomatis menentang segala pemikiran dan tindakan radikal, ekstrim, dan teror yang bertentangan dengan spirit Islam yang menjunjung tinggi penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Menurut Kiai Sahal, hubungan manusia ada dua. Pertama, hubungan manusia kepada Sang Pencipta (al-khaliq) yang sifatnya eksklusif. Kedua, hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam lingkungan yang sifatnya fleksibel. Dalam konteks hubungan kedua ini, prinsip dasarnya adalah toleransi (tasamuh).

Dalam konteks interaksi sesama muslim dikenal ukhuwwah islamiyyah yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Sedangkan dalam konteks interaksi dengan non-muslim, prinsip toleransi harus dikedepankan demi kepentingan kemaslahatan umum. Dengan saling memahami satu dengan yang lain akan tercipta keteraturan umum yang dikenal dengan kedisiplinan sosial. (halaman 193)

Pemikiran besar dan gerakan transformasi Kiai Sahal menjadi oase bagi kader muda Nahdlatul Ulama sekarang dan yang akan datang. Tampaknya buku yang diterbitkan PT Elex Media Komputindo melalui lini Quanta ini layak menjadi bacaan wajib generasi penerus bangsa, agar bisa belajar banyak dari tasawuf sosial Kiai Sahal demi mengokohkan NKRI.

Selamat membaca. 

Judul buku : Tasawuf Sosial KH. MA. Sahal Mahfudz
Penulis : Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA.
Penerbit : PT Elex Media Komputindo (Quanta)
ISBN : 978-602-04-9067-0
Cetakan : I, 2019
Tebal : xvi+244 halaman

*Wakhid Syamsudin ketua umum komunitas literasi One Day One Post (ODOP)

Dimuat di website Harakatuna pada 21 Juli 2019, link: https://www.harakatuna.com/tasawuf-sosial-kiai-sahal-mahfudz-dan-nkri.html

0 komentar:

Post a Comment

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP