Loading...
Friday, September 29, 2017

Ada "Rindu di Semangkuk Sup Kelereng Merah"



Kamis, 28 September 2017, dari pukul 20:00 sampai 22:00 adalah jadwal bedah tulisan di grup Kentang One Day One Post (ODOP) Batch 4. Tulisan yang dibedah adalah sebuah cerpen berjudul Rindu di Semangkuk Sup Kelereng Merah karya Mbak Rahayu Wulansari.

Sayangnya, aku tidak bisa online bersama teman-teman untuk membedah karya cantik dari Mbak Rahayu ini. Bersamaan waktu, aku menjadi pemandu acara di kampung, yakni pemutaran film Pemberontakan G30S/PKI yang diselenggarakan Takmir Masjid bekerja sama dengan Koramil setempat. Jadinya, terpaksa aku tidak bisa ikut membedah cerpen Mbak Rahayu ini. Maafkan aku ya, Mbak Rahayu.

Sebagai gantinya, aku mau sedikit mengomentari tulisan Mbak Rahayu yang sangat apik ini. Cerpennya ber-setting luar negeri, yakni Taiwan. Dan jujur, aku belum pernah sekalipun bisa menulis cerpen dengan setting luar negeri. Mbak Rahayu ini keren, bisa menuliskannya dengan asik, enak, mengalir, juga informatif. Menurutku, agar bisa menghasilkan cerita sekeren ini tentu harus mengadakan riset atau bahkan harus pernah mengalami tinggal di sana.

Aku membaca cerpen berjudul Rindu di Semangkuk Sup Kelereng Merah ini tanpa menjeda. Sekali baca karena merasa enak menikmatinya. Meskipun sedikit banyak aku bisa memprediksi ke arah mana endingnya. Tapi sangat terhibur aku mengenyamnya sampai huruf penghabisan.

Membaca judulnya aku malah penasaran, sebenarnya kata yang baku itu mangkuk apa mangkok sih? Soalnya ini judul, jadi 'tidak boleh' salah. Ya, aku langsung nanya ke paman jauhku, yakni Pamanda Google. Kata beliau memang sudah benar mangkuk, bukan mangkok. Ya sudah, aku tidak bisa mendebatnya.

Cerita sudah mengalir dengan baik dan nyaman. Aku tidak menemukan rasa janggal dalam menikmatinya. Bahkan aku belum melirik sedikit pun kupasan para mentor dan teman-teman di grup Kentang, saat menulis ini. Mungkin mereka lebih jeli dalam menilai tulisan Mbak Rahayu ini.

Mbak Rahayu cukup pintar menceritakan tentang Ama, si Nenek usia 76 tahun itu. Bagaimana rasa kangen beliau pada anak-anak cukup bisa turut kurasakan. Sayang aku belum bisa mengicipi supnya. Hehe. Mbak Rahayu sukses menyajikannya.

Aku belum bisa menulis cerpen ber-setting luar negeri, maka aku tidak punya kapasitas mengkritisinya. Sedikit saja, mungkin Mbak Rahayu agak kurang mengekpos deskripsi tempat di Taiwan-nya. Jadinya agak hambar. Tapi tidak begitu berpengaruh. Cerpennya sudah rupawan.

Membaca karya Mbak Rahayu, maka aku kembali benar-benar merasa bahwa aku ini belum apa-apa. Di ODOP Batch 4 ini aku memang seperti gelas kosong yang belum isi. Semoga bisa banyak belajar dari karya teman-teman semua. Agar gelasku terisi sedikit demi sedikit.

Mbak Rahayu Wulansari, cerpennya keren. Senang berkesempatan membacanya, meski tak bisa bersama teman-teman mengupasnya di grup. Semoga sukses, ke depannya makin banyak karyanya dan makin keren cerpen-cerpennya.

Tulisan ini sekedar asal coret asal komentar. Kalau membuat Mbak Rahayu khususnya, tidak berkenan, aku mohon maafnya ya.

13 komentar:

  1. Mengkritisi tulisan langsung jadi karangan. Kelar deh tugas...two thumbs up.

    ReplyDelete
  2. Mengkritisi tulisan langsung jadi karangan. Kelar deh tugas...two thumbs up.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya apa saja bisa jadi ide. Yowis ini jadi ide tulisannya. Hihi...

      Delete
  3. enak bgt baca tulisan Mas Wakhid, walau itu berupa paparan ttg tulisan org lain.. top lah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wong asal tulis Mbak. Kapasitas belum memadai...

      Delete
  4. Mas wakhid memang selalu bisa menuangkan apapun dalam bentuk tulisan. Maantaab

    ReplyDelete
  5. Ceritanya daleem... bahasanya sederhana tapi ngena. Suka banget

    ReplyDelete
  6. keren emang mas Wakhid ini. mengapresiasi sebuah karya dengan karya. boleh nanya mas? kalau menulis biasanya dilakukan jam berapa?

    ReplyDelete

Jangan lupa beri komentar, ya... Semoga jadi ajang silaturahim kita.

 
TOP