Coretan Basayev: Agustus 2020
Nilai Sosial Tradisi Tilik

Nilai Sosial Tradisi Tilik


Oleh: Wakhid Syamsudin
wakhid_syamsudin@hotmail.com
Ketua rukun tetangga di Sidowayah, Ngreco, Weru, Sukoharjo


Film pendek berbahasa Jawa berjudul Tilik (menjenguk) hingga hari ini masih menjadi perbincangan di banyak forum dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia maya. Sesuai judul, latar belakang film ini adalah perjalanan ibu-ibu menuju rumah sakit untuk membesuk Bu Lurah yang sedang sakit.

Di atas truk yang mengangkut mereka, para ibu itu bergosip tentang Dian yang dianggap bukan perempuan baik-baik. Tokoh yang paling menonjol adalah Bu Tejo yang menyebarkan segala gosip yang bersumber dari media sosial. Film berdurasi 30 menit itu diproduksi pada 2018 dan kini bisa ditonton di kanal Youtube Ravacana Films.

Lepas dari perbincangan terkait kemudahan mengakses informasi dan berita di dunia maya yang bagi sebagian masyarakat tanpa disertai langkah mengecek kebenaran atau kebiasaan bergunjing serta kisah rumah tangga rusak karena kehadiran orang ketiga, sesungguhnya tradisi tilik adalah kebiasaan baik yang unik di tengah masyarakat perdesaan.

Saya sebagai ketua rukun tetangga adalah salah satu penggerak tilik saat ada warga yang dirawat di rumah sakit. Pada film karya Wahyu Agung Prasetyo tersebut perjalanan warga berangkat tilik, sekitar pukul 14.00 WIB, bisa dipastikan setting waktu sebelum 2016 karena sejak tahun itu manajemen rumah sakit besar memberlakukan jam besuk pasien hanya pukul 11.00 WIB-13.00 WIB pada siang hari dan pukul 17.00 WIB-19.00 WIB pada sore hari.

Kebijakan ini untuk memberikan kesempatan istirahat yang cukup kepada pasien sekaligus memperhatikan masukan dari berbagai pihak terkait pengaturan jam mengunjungi pasien rawat inap. Aturan ini tidak berlaku selama pandemi Covid-19. Semua rumah sakit menutup pintu untuk warga yang ingin besuk menjenguk pasien yang dirawat.

Ikatan Sosial

Salah satu ciri khas warga perdesaan adalah ikatan kekeluargaan sangat kuat. Interaksi sosial masyarakat perdesaan memang lebih intensif. Komunikasi yang bersifat personal terjadi hingga di antara warga satu dan lainnya saling sangat mengenal.

Begitu pula dukungan kuatnya tradisi lokal yang turun temurun dari generasi ke generasi, seperti halnya kebiasaan tilik saat ada warga yang sakit. Solidaritas sosial masyarakat perdesaan yang begitu kuat ini lebih disebabkan adanya kesamaan ciri-ciri sosial ekonomi, budaya, dan tujuan hidup yang diimbangi pula adanya kontrol sosial yang terbentuk lewat norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Nilai-nilai ini berlaku dalam kebiasaan tilik. Begitu mudah mengajak warga menyempatkan diri bergabung bersama warga lainnya menjenguk warga yang sakit karena merasa kelak bisa saja gantian ia yang sakit.

Sanksi sosial secara tidak langsung bagi yang enggan berpartisipasi dalam kegiatan bersama seperti itu menjadi kontrol sosial yang bersifat otomatis. Kebiasaan mengerjakan segala sesuatu bersama-sama menunjukkan keguyuban antarwarga yang menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Solidaritas sosial dalam tilik tak perlu diragukan lagi. Rasa simpati dan empati menumbuhkan kerukunan dalam masyarakat perdesaan. Manfaat yang jelas dirasakan dari tradisi tilik bagi warga yang sakit adalah menumbuhkan semangat, memberi sugesti, dan memotivasi untuk segera sembuh agar lekas kembali berkumpul dengan keluarga dan tetangga seperti biasa.

Sementara bagi pengunjung, peserta tilik, adalah menambah rasa syukur atas kesehatan yang dikaruniakan Tuhan dan menyadari betapa mahalnya kesehatan. Bagi umat beragama, tilik orang sakit adalah amal yang penuh keutamaan.

Umat Islam, sebagai contoh, punya pedoman yang menguatkan tradisi tilik, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadis: barang siapa mendatangi saudaranya ketika sakit untuk menjenguk, maka ia berjalan di kebun surga hingga ia duduk, niscaya rahmat Allah meliputinya. (HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majjah).

Tradisi Positif

Tilik sudah seharusnya dilestarikan karena merupakan tradisi yang bersifat positif. Manajemen rumah sakit tempat warga dirawat yang memberikan kesempatan warga mengunjungi pasien bisa memanfaatkan untuk mengenalkan fasilitas rumah sakit dan edukasi terkait kesehatan.

Edukasi itu bisa dilakukan melalui spanduk atau poster yang tertempel di tempat strategis atau interaksi langsung petugas medis dengan warga yang sedang tilik. Ketika film garapan Ravacana Films itu menampilkan tilik sebagai wadah bergosip, seyogianya tidak memunculkan stigma pada budaya tilik.

Kebiasaan memperbincangkan keburukan orang lain bisa terjadi di mana saja dan pada aktivitas apa saja selama di situ berkumpul banyak orang. Tilik akan tetap lestari selama masyarakat perdesaan masih memegang nilai-nilai luhur dan norma yang sejauh ini masih berkembang dan berdaya.

Kita tetap mengapresiasi produksi film pendek sejenis Tilik ini, apalagi bisa mengenalkan kekayaan tradisi lokal yang masih lestari di kampung-kampung. Kita semua tentu berharap solidaritas antarwarga semakin mengukuhkan rasa persatuan dan kesatuan yang mendukung terjalinnya kerukunan sehingga masyarakat kian kompak dalam kebaikan. 

Dimuat di Harian Umum Solopos edisi 29 Agustus 2020

Gara-Gara Maskeran

Gara-Gara Maskeran

Genduk Nicole mengikuti salat Iduladha di masjid kampungnya di Weru, Sukoharjo. Seperti Idulfitri kemarin, karena pandemi Covid-19 belum mereda, jamaah salat Ied wajib menggunakan masker, di samping juga harus patuh protokol kesehatan lainnya: wudu dari rumah, bawa alas salat sendiri, dan ada pengecekan suhu tubuh di pintu masuk halaman masjid.

Sesampai di masjid, Nicole melihat sudah banyak jamaah yang datang. Saf putri juga sudah nyaris penuh. Saat ia lingak-linguk mencari tempat, seseorang memanggilnya dengan melambaikan tangan dan menunjuk bahwa di dekatnya ada tempat kosong. Tanpa pikir panjang, Nicole mendekat ke arah perempuan itu meski ia kesusahan mengenalinya lantaran mengenakan masker.



Sampai di dekat perempuan itu, Nicole mendengarnya mempersilakan, tapi tak begitu jelas karena dari pengeras suara masjid terlantun bacaan takbir dari jamaah bapak-bapak di saf dekat imam. “Mangga, sini saja, masih longgar,” kata perempuan itu.

Inggih, matur nuwun.” Nicole menjawab dengan bahasa Jawa halus, takut kalau yang menawarinya orang tua. Ia sama sekali tak bisa mendeteksi wajah yang hanya kelihatan bagian matanya saja itu.

Sampai salat Iduladha dan khotbahnya selesai, Nicole masih belum tahu siapa perempuan di sampingnya itu. Akhirnya tiba saat pulang, perempuan itu berkata, “Bareng siapa tadi berangkatnya?” dan sialnya, Nicole belum juga bisa menebak pemilik suara.

Maka Nicole menjawab dengan bahasa halus lagi. “Kula piyambakan, kok. Wau Ibuk kalih Bapak sampun tindhak rumiyin,” kata Nicole mengatakan ia datang sendiri karena orang tuanya sudah duluan.

“Dari tadi kok kamu bahasanya halus begitu, kamu pangling sama aku?” tanya si perempuan sambil menurunkan masker yang menutup sebagian wajahnya agar Nicole mengenalinya.

Seketika Nicole mengenali perempuan itu. Dia seorang tetangga beda RT, dari segi usia memang lebih tua, tapi sebelum-sebelumnya ia tak pernah menggunakan bahasa Jawa halus kalau berbincang dengannya. “Saya kira siapa, Mbak, wong maskeran begitu, susah mengenalinya.”

Perempuan itu tertawa. Lalu ia bercanda, “Apa menurutmu juga aku sekarang jadi gendutan daripada sebelum ada corona? Tapi memang iya sih, bobotku naik drastis gara-gara di rumah kebanyakan tidur dan tidak ke mana-mana. Bawaanya juga ngemil melulu,” katanya bercerita tanpa ditanya. Ia memang terkenal ceriwis.

Mereka berjalan beriringan menuju ke luar area masjid. Nicole lebih banyak mendengarkan perkataan si perempuan dan hanya menjawab seperlunya saja. Hingga tiba di perempatan, Nicole berbelok ke timur dan perempuan itu menuju arah barat karena rumah mereka memang tak lagi searah.

Baru dua langkah Nicole berjalan, perempuan itu berseru ke arahnya, “Lho, kok kamu ke timur, mau ke mana? Nggak langsung pulang?”

Nicole agak heran dengan pertanyaan itu. “Lha rumah saya sana, Mbak,” kata Nicole sambil menunjuk ke timur.



“Tunggu, tunggu, kamu bukan Lady Cempluk, ta? Jangan-jangan aku salah orang?” si perempuan mendadak curiga.

“Aku Nicole, Mbak.” Genduk Nicole lekas menurunkan maskernya juga. Dan perempuan itu akhirnya heboh sendiri.

“Ya Allah, dari tadi kupikir kamu Lady Cempluk tetangga depan rumahku. Jebul kamu Genduk Nicole. Badala, tiwas dari tadi aku ngomong ngalor-ngidul.”

Mau tidak mau, Genduk Nicole ikut tertawa melihat tingkah perempuan itu. “Saya kira cuma saya yang pangling Mbak pakai masker. Jebul jenengan lebih parah, saya Nicole bukan Lady Cempluk.”

Dan jamaah yang jalan dekat mereka ikut tertawa menyaksikan kejadian lucu itu. Ada-ada saja, gara-gara masker nih!

*) Versi asli yang saya kirim ke Solopos. Dimuat di rubrik Ah Tenane pada 19 Agustus 2020

Salah Dengar

Salah Dengar



Selepas salat Isya, Jon Koplo membuka gawainya. Terkejutlah dia saat membuka grup WhatsApp alumni sekolahnya yang mengabarkan berita duka. "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun," begitu dia refleks berucap.

Lady Cempluk, istrinya, yang tengah menonton acara televisi bersama Genduk Nicole, anak semata wayang mereka, otomatis penasaran dibuatnya. "Siapa yang meninggal, Mas?" tanya Cempluk.

"Temanku, Tom Gembus, Dik," jawab Koplo.

"Tom Gembus?" tanya Cempluk sambil mengingat-ingat. "Yang sekitar sebulan lalu main ke sini itu, ya, Mas?"

"Iya. Kasihan, anak-anaknya masih kecil-kecil," sahut Koplo lagi.

Jon Koplo bergegas berganti baju dan memakai celana panjang. Dia keluarkan motor yang tadi telanjur dia masukkan ke rumah. Lady Cempluk mengambilkan jaket suaminya.

"Ngomong-ngomong, Alhmarhum meninggal kenapa, Mas?" tanya Cempluk.

Jon Koplo mengenakan helm sambil menjawab lirih, "Jantung, Dik."

"Astagfirullah," desis Cempluk. Jon Koplo sudah menstarter motor dan mengucap salam.

Jon Koplo tak menyadari ternyata istrinya salah dengar saat dia mengatakan penyebab kematian Gembus. Ternyata telinga Cempluk mendengarnya "nggantung" alias gantung diri. Jadilah sepanjang menunggu kepulangan suaminya, Cempluk yang pada dasarnya penakut diserbu rasa ketakutan luar biasa.

Cempluk mendadak teringat saat Tom Gembus berkunjung dan duduk di kursi tamu. Seolah-olah bayangan Gembus masih duduk di situ.



Menit demi menit horor bagi Cempluk. Jon Koplo baru pulang sekitar pukul 10 malam.

"Suwe men ta, Mas," protesnya karena merasa Koplo kelamaan.

"Mas, sebenarnya Almarhum punya masalah apa sih sampai segitunya?" tanya Cempluk.

"Masalah apa maksudmu?" kata Koplo balik bertanya.

"Lha itu, Mas Gembus sampai gantung diri begitu?" jawab Cempluk.

Jon Koplo melongo. "Gantung diri? Kata siapa?" tanyanya heran.

"Lha tadi, Mas Koplo pas aku tanya, katanya Mas Gembus nggantung."

Sesaat Koplo terdiam. Barulah kemudian dia sadar yang terjadi. "Ya Allah, Dik. Jebul kamu salah dengar. Aku tadi bilang jantung, bukan nggantung!" kata Koplo.

Dimuat di Solopos edisi Rabu, 5 Agustus 2020.
Belajar Tekun bersama Yus R. Ismail

Belajar Tekun bersama Yus R. Ismail


Siapa yang tak kenal Yus R. Ismail di dunia kepenulisan? Penulis kelahiran Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat, ini sangat produktif. Selain banyak menerbitkan buku, cerpen-cerpennya pun banyak bertebaran di media. Sebut saja Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Kompas, Koran Tempo, Nova, Citra, Annida, Matra, Horison, dan banyak lagi, yang pernah memuat buah karyanya.

Saya cukup beruntung saat berkesempatan ikut diskusi daring dalam sebuah grup WhatsApp dengan Yus R. Ismail yang tak keberatan membagikan kiat menembus koran dan media lainnya. Diskusi yang diinisiasi Komala Sutha yang juga penulis produktif berdarah Sunda ini, terselenggara pada 5 Agustus 2020 sekira pukul 19.30 WIB selama lebih dari 1 jam.

Hadir dalam diskusi ini, penulis dari berbagai daerah. Sebutlah mereka: Pangerang P. Muda, Imam Fawaid, Reni Asih W, Mhd. Irfan, R. Amalia, Rilen Dicki Agustin, Negara Rofiq, Ayis A. Navis, Joe Papua, Nina Rahayu Nadea, Ahmad Zul Hilmi, Elli Rusli, dan Gandi Sugandi.

Diskusi dimulai dengan kiat memahami karakter media sehingga tulisan kita dapat dengan mudah diterima atau dimuat. Yus R. Ismail terbiasa baca-baca cerpen di media itu. Kalau ada aturannya ditaati. Misalnya aturan di Tribun Jabar yang menerima cerpen tidak lebih dari 8000 karakter. Atau di Kedaulatan Rakyat yang hanya 5000 karakter. Itu kebijakan Redaksi yang tidak boleh dilanggar kalau ingin dimuat.

Lantas, tulisan seperti apa yang dilirik oleh media? Pertama, kebutuhan media mengenai tema. Kalau Femina pastinya temanya wanita dan permasalahannya. Media juga memilih berdasar kesesuaian panjang-pendek naskah terkait ketersediaan tempat di media itu. Kita harus menyesuaikan. Pelajari satu-satu medianya. Sekarang ini banyak cerpen yang sudah diterbitkan media bisa kita baca seperti di Lakon Hidup misalnya.

Yus R. Ismail mengatakan bahwa ia sebenarnya lebih perhatian kepada “Cerpen yang akan ditulis”. Jadi misalnya kita menargetkan satu hari satu cerpen. Biasanya ia malam sebelum tidur baca-baca dulu cerpen, puisi, karya orang lain. Berhenti di cerpen yang disukai. Suka apanya saja, baik gaya bercerita, kejutan akhir, dan sebagainya. Dari cerpen itu kita harus dapat cerita baru. Tapi tentu saja ini beda dengan plagiat.

Redaktur adalah penjaga gawang media, jadi wajar jika seleranya jadi prioritas tulisan yang dimuat. Tapi pastinya Redaktur punya wawasan mengenai selera dia yakni cerpen baik pada umumnya.

Semua media sepertinya terbuka bagi penulis baru. Jadi tinggal kita pasang target, sambil belajar, kirim semua media setiap bulan minimal satu cerpen. Tunggu saja nanti juga pasti ada kejutan. Tapi memang harus dipelajari medianya. Seperti tadi, panjang-pendek naskah, dan tema.

Menurut Yus R. Ismail, nama-nama penulis senior pastinya ada prioritas. Tapi ia mengingatkan bahwa penulis senior pun awalnya juga junior. Mereka juga mengawali. Kalau cerpen kita belum tembus-tembus, tetap kirim saja terus. Yus R. Ismail tidak lagi merasa surprise bila dimuat suatu media, karena perhatiannya memang semakin ke “cerpen yang ditulis”. Setelah selesai baru “disesuaikan” mau dikirim ke media yang mana. Bila tidak dimuat, “disesuaikan” lagi untuk dikirim ke media lain. Terus saja begitu. Kalau ingin nanti banyak kejutan, ia menyarankan mengirim 30 cerpen dalam sebulan. Kalau meleset hanya 20 naskah, itu kan sudah hebat, katanya.

Soal cerpen dengan tema lokalitas daerah, selain berpotensi dimuat di koran daerah tersebut, juga memungkinkan dimuat oleh media yang notabene dari daerah lain. Misal mau mengangkat lokalitas Madura, dikirimnya ke media Padang Ekspres. Yus R. Ismail mengaku juga lebih banyak menceritakan lokalitas Sunda, dan banyak juga yang tembus di Padang Ekspres, Lampung Pos, Sulawesi Tenggara. Penting untuk mencoba mengirim. Kalau tidak dimuat 3 bulan, kita tinggal belokkan ke media lain.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah relasi penulis dengan redaktur bisa membuat penyeleksian karya yang kita kirim ke media tertentu cepat diperiksa di meja Redaksi? Menurut Yus R. Ismail, hal itu bisa jadi ada. Tapi yang paling utama: Kita mengirim naskah terus. Ia mengakui kebanyakan hanya tahu nama redaktur-redaktur media. Yus R. Ismail juga bersahabat dengan redaktur Tribun Jabar dan Pikiran Rakyat, tapi banyak cerpennya yang tidak dimuat di media tersebut. Terlebih untuk pengiriman naskah ia tetap mengirim lewat jalur redaksi, bukan ke pribadi sahabatnya itu. Kalau ketemu, ia pun tidak pernah mengobrolkan naskah. Hal ini biar redaktur enjoy juga, kalau mau menolak naskah dari sahabatnya pun tidak segan. Selain itu, Yus tidak kenal sama sekali dengan redaktur Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Media Indonesia, Republika, dan lainnya, tapi bisa dimuat di sana.

Faktor lain yang cukup menentukan sebenarnya adalah keberuntungan, naskah kita dianggap bagus, cocok, naskah lain tidak berkenan di hati redaktur, dan sebagainya. Makanya, paling penting bila kita ingin dimuat suatu media adalah dengan mengirimnya. Tidak dimuat, kirim lagi saja. Bandel saja kita kirim terus. Berjuang terus. Akan tiba saatnya naskah kita dimuat, bahkan dimuat lagi dan lagi.

Yus R. Ismail juga mengingatkan agar penulis tetap harus belajar. Cerpen yang dimuat Koran Tempo itu seperti apa dan mengapa susah nembus. Kita harus baca cerpen2 yang dimuat di sana... Trik tadi itu, baca dan berhenti di cerpen yang kita suka, lalu berimajinasi deh sampai ketemu cerpen kita dan tuliskan.

Ia menyarankan para penulis untuk pasang target pribadi. Kalau Yus sendiri, dulu langsung menarget tinggi. Setiap hari harus menulis cerpen. Baca-baca malam, eksekusi bada subuh. Terus saja begitu. Meski tidak melulu tercapai, tapi sebulan bisa 10, apalagi 20, itu juga luar biasa. Kirim ke media, targetkan 30 cerpen sebulan.

Awalnya Yus memang menulis bertiga, yakni bersama istri dan anaknya. Tapi sepertinya sekarang sudah beda jurusan masing-masinh. Yus sendiri memilih bercerpen sastra, sang istri asyik di buku anak, dan si anak malah pilih nge-youtube.

Kemudian untuk merotasi tulisan, biasanya 3 bulan tidak dimuat ia akan kirim ke media lain. Kecuali media tertentu semisal kompas.id yang lebih panjang masa tunggunya sampai 6-7 bulan. Untuk prioritas pilihan media, Yus memilih yang honornya lebih besar dulu, jika tidak dimuat, kirim ke media berikutnya, sesuai honor. Meski tak semua harus begitu.

Yus R. Ismail dalam menulis cerpen banyak yang selesai sekali duduk. Sebelum menulis, jalan cerita harus sudah selesai di kepala. Kalau belum selesai, maksa juga sampai selesai. Kecuali bila menyerah, ya sering juga yang bersambung kemudian.

Ia juga menyarankan selain menulis karya berbahasa Indonesia, sebaiknya juga menulis dalam bahasa ibu. Terutama yang orang Jawa, banyak media berbahasa Jawa. Menulis di dua bahasa, medianya tentu jadi banyak. Di Sunda juga ada carpon.

Trik yang bisa dicoba adalah menerjemahkan cerpen bahasa Indonesia ke bahasa daerah dan sebaliknya. Tidak ada larangannya. Orang lain dapat proyek, bayarannya mahal, kita punya proyek pribadi dalam rangka memperluas pembaca saja.

Bagi penulis, sifat pemalas harus dihilangkan. Nikmati saja, senangi. Baca cerpen orang lain, berhenti pada yang kita suka, dan berimajinasi. Jangan malas lagi. Belum ketemu ide, baca lagi cerpen, berhenti pada cerpen yang suka, dan paksa itu otak untuk dapat plot. Saat nulis baru pake hati.

Demikian diskusi seru bersama Yus R. Ismail. Semoga mampu memotivasi siapa saja yang ingin menekuni dunia kepenulisan. Tidak ada yang instan, semua berproses dengan perjuangan. Selamat berjuang!