Coretan Basayev: Maret 2020
Membaca Kisah Garsini

Membaca Kisah Garsini


Novel Jejak Cinta Sevilla adalah salah satu karya Pipiet Senja, salah satu penulis produktif Indonesia. Buku ini diberikan cuma-cuma oleh seorang teman facebook saya: Dia Gaara Andromeda. Terima kasih, Mbak, semoga Allah melancarkan segala rezeki dan memudahkan semua urusanmu.

Tokoh utama novel ini adalah Garsini. Seorang dara yang selalu memegang teguh keyakinannya dengan hidup istikamah. Masa kecilnya yang diwarnai kekerasan dalam rumah tangga atas perlakuan sang ayah yang temperamental, suka memukul ibu dan adik-adik Garsini, bahkan juga dirinya.

Ayah Garsini berdarah batak, menikahi istrinya tanpa restu keluarga besar. Kebiasaannya buruk, suka marah-marah, emosional, mudah sekali banting-banting barang.

Ibu Garsini adalah seorang penulis. Ia sering sakit-sakitan. Kerap menerima tindak kekerasan suaminya. Diabaikan meski kondisi sakit. Sosok yang tegar, berusaha menjaga rumah tangga dari kehancuran.

Tokoh lainnya adalah Dokter Haekal yang menyukai Garsini. Apakah ia jodoh Garsini? Baca saja novelnya sendiri. Hehehe.

Adik Haekal yang bernama Selly, aktivis yang membuat Garsini mengenal agamanya lebih dalam, hingga mampu mengubah penampilannya lebih islami. Sosok yang menginspirasi Garsini.

Banyak lagi teman-teman Garsini di luar negeri karena memang novel ini selain bersetting di Depok, juga di Jepang, Prancis, dan Jeddah.
Untuk penceritaan novel ini menurut saya banyak yang dipaksakan seperti sinetron. Banyak adegan yang terlalu mudah terjadi, sehingga kurang menarik.

Sosok Garsini pun digambarkan terlalu sempurna, selalu dipuji di mana tempat. Cara pemujiannya sangat berlebihan dan juga dipaksakan.

Novel 464 halaman ini sangat lamban bagi saya untuk menghabiskannya. Jujur, tidak ada yang memancing rasa penasaran dalam tuturan kisahnya. Barangkali karena saya baca sebagai salah satu jenis buku wajib pada tantangan baca Reading Challenge ODOP, maka saya bisa menyelesaikannya.

Tapi yang membuat salut adalah produktivitas Pipiet Senja dalam berkarya. Seperti kata Joni Ariadinata: "Satu hal yang paling mengharukan dari Pipiet Senja adalah kesetiaan. Di usia yang tidak terbilang muda, ia terus menulis. Ia adalah penulis serba bisa yang patut menjadi contoh bagi para penulis muda."

Judul: Jejak Cinta Sevilla
Penulis: Pipiet Senja
Penerbit: Jendela (Zikrul Hakim)
Cetakan: I, Maret 2020
ISBN: 978-979-063-522-7
Tebal: 464 halaman

Jalan Benar Menulis Novel

Jalan Benar Menulis Novel


Siapa yang tidak mengenal sosok Arswendo Atmowiloto, yang meninggal 19 Juli 2019 lalu. Dari tangannya pernah terlahir novel-novel yang sangat berkesan di hati penggemarnya, di antaranya adalah Senopati Pamungkas dan Canthing. Namanya juga tenar bersama Keluarga Cemara yang kaya akan pembelajaran hidup. Bahkan, kala sakitnya penulis kelahiran Solo ini sempat menyelesaikan novel berjudul Barabas Diuji Segala Sisi yang berkisah tentang terpidana mati bernama Barabas yang diselamatkan oleh Yesus dari hukuman mati, yang launching pada 19 Agustus 2019 lalu. Arswendo memang sangat menginspirasi para penulis lainnya, termasuk para pemula yang mencoba meneruskan jejak literasinya.

Sebuah buku panduan menulis berjudul Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu buah karya Wiwid Prasetyo, sangat menarik untuk bahan bacaan bagi kita, terutama yang berniat menjadi penulis novel. Mengapa harus menulis? Wiwid Prasetyo sempat mengutip pengakuan Arwendo, “Saya menulis karena memang hanya ini pekerjaan yang saya bisa, mau jadi ABRI fisik saya tidak kuat, otak juga nggak begitu pandai, mau macarin anak orang kaya wajah saya kurang ganteng, mau apa lagi, jadi ya dengan menulis ini yang saya bisa, dengan memperhatikan pengalaman saya yang menyedihkan, akhirnya bisa menjadi bahan tulisan saya sendiri.” (halaman 14)

Dengan gaya penyampaian yang sederhana, buku ini dimulai dengan memotivasi pembaca agar bersemangat dalam menulis. Novel setebal apapun akan diawali dengan tulisan tekun dari lembar ke lembar. Kata Gus Mus, menulis itu mudah, yang sulit menyelesaikannya. Maka jurus jitu dalam buku ini sangat ampuh untuk kita bisa menghasilkan novel bermutu.

Masalah klasik penulis pemula seperti kebuntuan menulis, takut karya tidak laku, hingga jurus menaklukkan mood dan bagaimana memilih waktu-waktu ajaib untuk menulis, dibahas Wiwid Prasetyo sambil menguraikan teknik-teknik menulis novel yang dipraktikkannya hingga dalam sekitar 2 tahun saja ia bisa menghasilkan lebih dari 25 judul buku. Jangan takut untuk bermimpi besar, sebab orang yang tak punya mimpi berarti tak punya cita-cita. (halaman 54)

Dalam menulis novel, kita harus menentukan cerita dari awal hingga akhir, menekuninya dari lembar ke lembar. Membuat target menulis harian. Wiwid sendiri mengaku pernah menarget menulis 20 lembar setiap hari, hingga dalam sebulan ia bisa menghasilkan dua buku, sebuah novel setebal 400 halaman dan buku anak-anak. (halaman 6). Baginya itu belum seberapa jika dibandingkan dengan Habiburahman El Shirazy yang menulis novel 400 halaman hanya dalam waktu seminggu!

Menggali ide dan mengemasnya menjadi menarik perlu mengetahui tips dan triknya. Memilih ide yang benar-benar unik dan orisinal, lalu mengutuhkannya dalam sebuah cerita, bisa dilatih dan tidak bisa hanya mengandalkan bakat. Ide adalah emas yang terpendam dalam pikiran, ia harus dikeluarkan. Walaupun ide itu juga bisa terinspirasi dari dunia luar, tetapi ia diolah dan diwujudkan dalam dunia pikiran. (halaman 68)

Hal yang tak kalah penting diperhatikan adalah memilih judul terbaik, menentukan setting tempat, waktu, kebiasaan lokalitas daerah, suasana, ataupun sejarah. Lalu membentuk karakter tokoh sekuat mungkin, mencipta alur dan plot dengan tahapan-tahapannya. Memilah sudut pandang penceritaannya. Dan yang paling pungkas adalah membuat ending yang keren. Banyak pilihan, mau ending yang misterius, penuh kejutan, klasik, atau bahkan seakan tidak selesai. Semua bisa dilatih dan dipelajari. Menyelesaikan sebuah novel seperti kontraksi pada rahim seorang ibu yang hendak melahirkan bayinya. (halaman 140)

Akhirnya, Wiwid Prasetyo tetap mengembalikan semua pada pembaca, karena buku ini tidak akan punya arti jika hanya sekadar dibaca. Calon-calon penulis mau atau tidak untuk gigih melahirkan mimpi-mimpinya jadi nyata. Mimpi memang menjadi penyemangat kita, tetapi yang patut lebih diapresiasi adalah terwujudnya mimpi itu harus diiringi dengan kerja keras.

Selamat membaca, dan semangat menulis!

Judul buku : Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu
Penulis : Wiwid Prasetyo
Penerbit : Hanum Publisher
ISBN : 978-623-90396-4-6
Cetakan : Pertama, Juli 2019
Tebal : xii + 145 halaman


Dimuat di harian Kabar Madura pada 12 Maret 2020, link versi daring: https://kabarmadura.id/jalan-benar-menulis-novel/
Bebas Razia

Bebas Razia


Jon Koplo yang baru lulus SMA, diajak merantau ke Jakarta oleh tetangganya, Lady Cempluk, untuk membantu jualan di toko kelontong di depan sebuah pasar kaget di bilangan Cakung, Jakarta Timur.

Jon Koplo menuju ibu kota hanya berbekal Suket KTP alias surat keterangan pengganti KTP yang belum jadi.

Untuk keperluan belanja barang dagangan, Jon Koplo disediakan sepeda motor jadul keluaran 70-an yang biasa disebut Si Pitung. Motor lawas itu masih kuat untuk angkut-angkut barang dagangan.


Si Pitung adalah motor kenangan milik Tom Gembus, suami Lady Cempluk yang seorang anggota TNI AD, sewaktu masih tinggal di Palembang, Sumatra Selatan.

Hari itu Jon Koplo belanja ke agen sembako melewati jalan raya. Ia terpaksa berjalan di belakang sebuah kendaraan kontainer besar karena tak memungkinkan menyalipnya. Si Pitung tak bisa diajak ngebut, apalagi membawa belanjaan yang cukup banyak. Jon Koplo memilih jalan dengan santai.

Pandangan Jon Koplo terhalang kontainer hingga ia tak menyadari ada razia kendaraan menunggu di depan. Barulah ia sadar ketika beberapa polisi meminta pengendara motor menepi, termasuk dirinya. Jon Koplo kaget dan panik.

“Selamat siang, bisa kami lihat surat kelengkapan kendaraannya, Mas?” seorang polisi yang menghentikan Si Pitung meminta STNK dan SIM.

Tetapi Koplo belum punya SIM, bahkan identitasnya hanya Suket KTP dari kampung. Ditambah lagi, Si Pitung memang tak pernah dipajaki, meski STNK selalu dibawanya dalam tas pinggang. Pak polisi menerima STNK dan Suket KTP yang diulurkan Jon Koplo.


“SIM mana SIM?” pinta polisi.

“Belum punya, Pak,” jawab Jon Koplo agak ketakutan karena ini adalah pengalaman pertamanya terkena razia.

“Kalau tidak punya SIM jangan naik motor. Apalagi motornya tidak taat pajak seperti ini,” kata polisi menasihati.

Jon Koplo hanya mengangguk. Ia pasrah mau diberi tilang atau bagaimana. Tapi kejadian selanjutnya malah membuat Jon Koplo tak habis pikir. Ternyata polisi mengembalikan STNK dan Suket KTP-nya. Setelah itu menepuk-nepuk Si Pitung.

“Ini motor jadul, bersejarah. Kamu harus merawatnya agar bermanfaat. Sana, lanjutkan perjalananmu.”

Jon Koplo pun melongo dan buru-buru menerima uluran surat-surat itu kembali.

“Terima kasih, Pak.”

Segera ia genjot starter motornya dan bersiap pergi. Tapi ia merasa Si Pitung berat sekali saat mau dijalankan. Saat ia menoleh ke belakang, ternyata polisi mengajak bercanda dengan menarik motor agar tidak jalan. Begitu Jon Koplo menoleh, polisi itu melepaskannya sambil tertawa.

“Hati-hati di jalan, ya.”

Sesampai di toko, Jon Koplo menceritakan kejadian itu kepada Lady Cempluk. Tetangganya di kampung itu pun tertawa mendengarnya.

“Ya jelas saja kamu dilepaskan, Plo. Kan alamat STNK-nya asrama tentara di Palembang dulu. Ini namanya sinergi polisi dengan tentara. Saling menolong satu sama lain. Hahaha.”

Jon Koplo ikut tertawa menyadari hal itu.

“Oalah, ternyata Si Pitung ini sakti dan bebas razia. Hahaha....”

Penulis: Wakhid Syamsudin
Sidowayah RT 001/RW 006, Ngreco, Weru, Sukoharjo.

Dimuat di harian Solopos edisi Kamis Pahing, 12 Maret 2020
Ada Pasar Ghaib di Kedung Padas

Ada Pasar Ghaib di Kedung Padas


RUMAH pamanku di kampung berdekatan dengan sungai. Tepat di belakang rumah ada palung atau kedung, bagian sungai yang dalam. Tanah di sekitar kedung itu hampir semua berbatu padas, sehingga warga menyebutnya dengan nama Kedung Padas. Nah, kata pamanku, di situ berada sebuah pasar ghaib. Aku mendengar cerita pamanku ketika suatu kali aku menginap di rumahnya.

Kata pamanku, sejak ia menikah dengan bibiku dan menempati rumah itu, ia mengalami peristiwa yang cukup membuat merinding saat diceritakannya ulang. Katanya, seringkali pada malam pasaran tertentu, aku lupa pamanku pernah menyebutkan nama pasaran jawa, saat tengah malam atau mendekati jam dua belas, saat terbangun ia mendengar suara riuh sekali. Ketika didengarkan dengan saksama, didapatinya suara riuh itu bersumber dari arah Kedung Padas.

“Suaranya seperti suara orang tawar-menawar di pasar, ramai dan tidak jelas apa yang dikatakan,” kata pamanku. Paman pernah bertanya pada bibiku, apa dia juga mendengarnya. Bibi bilang, sejak dulu saat ia masih kecil suara seperti itu sudah ada.

Menurut bibiku, ayah-ibunya pernah berkisah bahwa di Kedung Padas itu diyakini ada pasar ghaib, di mana yang melakukan jual-beli adalah para makhluk halus di sekitar kedung. “Tidak apa-apa, mereka tidak mengganggu, abaikan saja,” begitu bibiku menirukan ucapan orang tuanya dulu.

Mendengar cerita itu, aku jadi agak takut juga. Untung saja pada saat aku menginap di rumah paman waktu itu, bukan hari pasaran seperti yang disebut pamanku.

Di lain waktu, bertahun-tahun kemudian, saat aku dolan ke rumah pamanku lagi, aku bertanya apakah suara pasar ghaib itu sampai sekarang masih ada. Kata pamanku, sudah cukup lama suara ghaib itu tidak lagi ia dengar, tapi hanya sekali waktu dan tidak seramai dulu. “Mungkin mereka pindah pasar lain yang lebih lengkap barang dagangannya,” kata paman menduga-duga.

“Atau mungkin sekarang ikut tren manusia juga kali, Paman. Mereka pindah ke pasar online,” kataku dengan nada bercanda. Paman hanya tertawa, entah paham atau tidak akan apa yang aku candakan. (Wakhid Syamsudin)

Dimuat di Koran Merapi edisi Senin, 9 Maret 2020. Tautan versi daring: klik di sini.

Bacaanku Sepanjang Februari 2020

Bacaanku Sepanjang Februari 2020


Bulan kedua di tahun 2020, masih mencoba menjaga konsistensi membaca. Semoga makin banyak asupan bacaan maka makin moncer ide menulis. Ini yang kubaca sepanjang Februari 2020:

Buku
  1. De Harmonie karya Yanti Soeparmo, tentang misteri pembunuhan di masa kolonial Hindia Belanda.
  2. Kerinduan Abadi untuk Fathimah Az-Zahra' karya Ahmad Taisir Kaid tentang kisah hidup Fathimah binti Muhammad Saw. 
  3. Tanah Orang-Orang Hilang karya Pangerang P. Muda, kumpulan cerpen yang dimuat di berbagai media, diterbitkan Basa-Basi.

Cerpen
  1. Cerpen Kala Lodra karya Purwadmadi pada Kedaulatan Rakyat, 2 Februari 2020, tentang keris Kala Lodra yang meminta korban darah demi kesaktiannya.
  2. Cerpen Pemimpi karya Andri Saptono yang dimuat di Solopos Minggu, 2 Februari 2020, tentang seorang lelaki yang ditinggal kekasihnya kuliah di luar negeri, dan ternyata di sana tinggal serumah dengan lelaki lain.
  3. Cerpen Merindukan Nabi di Mushala Kami karya Supadilah yang dimuat di Republika, 02 Februari 2020 tentang anak-anak yang dimarahi karena ramai saat di mushala. 
  4. Cerpen Yang Lebih Hebat dari Kata Rindu karya Maya Sandita di Republika, 26 Januari 2020 tentang kerinduan seorang ibu pada anaknya di kala Lebaran.
  5. Cerpen Paman karya Yuditeha di Solopos 9 Februari 2020 tentang liburan ke rumah paman yang misterius.
  6. Cerpen Memasak Keyakinan karya Edi Suliswanto di web Kurungbuka edisi 2 Februari 2020, tentang seorang kakek yang memasak pasir untuk makan cucunya. 
  7. Cerpen Keluar dan Masuk Neraka karya Eko Triono di Kedaulatan Rakyat 16 Februari 2020 tentang seorang yang bermimpi masuk neraka. 
  8. Cerpen Lelaki yang Mencintai Kopi karya Edy Firmansyah di Solopos 16 Februari 2020, tentang lelaki yang sembilan kali bolak balik rumah sakit karena paru-paru bocor, tapi tak mau berhenti minum kopi dan merokok. 
  9. Cerpen Ibu yang Menangis Darah karya Kartika Catur Pelita di Bangka Pos 22 Desember 2019 tentang pengorbanan seorang ibu demi keutuhan keluarga. 
  10. Cerpen Sangkar Madu karya Kartika Catur Pelita di Bangka Pos 15 Desember 2019 tentang cinta segitiga di atas perbedaan kekayaan. 
  11. Cerpen Mimpi Melahirkan karya Komala Sutha di Bangka Pos 26 Januari 2020 tentang seseorang yang mimpi hamil dan melahirkan, ia sangka akan dapat keberuntungan. 
  12. Cerpen Rumah Lumpur Jelaga karya Maya Sandita di Padang Ekspres, 16 Februari 2020 tentang seorang anak dalam pusaran permasalahan kedua orangtua. 
  13. Cerpen Pecel karya Kartika Catur Pelita di Suara Merdeka 24 Juni 2018 tentang seorang istri yang mencari resep pecel terenak buat suaminya. 
  14. Cerpen Pembawa Kematian karya Vito Prasetyo di Bangka Pos 22 September 2019 tentang kematian kakek setelah meminum kopi. 
  15. Cerpen Bulan, Mayat, dan Sungai karya Soni Farid Maulana di Pikiran Rakyat edisi 16 Februari 2020 tentang mayat seorang tokoh yang baru meninggal kemarin, tahu-tahu ditemukan di tepi sungai di kampung tersebut. 
  16. Cerpen Gadis Penjual Jamu karya J. Akid Lampacak di Bangka Pos, 02 Februari 2020 tentang gadis yang tak malu berjualan jamu. 
  17. Cerpen Makam Keramat karya Kartika Catur Pelita di Kedaulatan Rakyat 23 Februari 2020 tentang lurah dan carik yang menjual tanah makam untuk pembangunan pabrik
  18. Cerpen Makam Keramat karya Kartika Catur Pelita di Kedaulatan Rakyat 23 Februari 2020 tentang lurah dan carik yang menjual tanah makam untuk pembangunan pabrik. 
  19. Cerpen Pulang karya Risen Dhawuh Abdullah di web Maarif NU Jateng edisi 23 Februari 2020 tentang seorang anak yang pulang dari kota ingin bertemu ibunya. 
  20. Cerpen Rumah Mawar karya Khairul Fatah di Pikiran Rakyat 26 Februari 2020, tentang sebuah misteri di rumah yang banyak ditanami bunga mawar.
  21. Cerpen Ketika Cemas Mengusik karya Sule Subaweh di Suara Muhammadiyah tanggal posting 26 Januari 2020 tentang kecurigaan istri pada suaminya.
  22. Cerpen Seperti Menggunting, Namun Ini Daging karya Yosef Astono Widhi di web ideide.id tanggal pemuatan 26 Februari 2020 tentang seorang perempuan yang mencoba membentuk utuh ujud orangtuanya dengan potongan tubuh korban-korbannya.  
  23. Cerpen Surat Cinta untuk Vin karya Khumaid Akhyat Sulkhan di web ideide.id tanggal pemuatan 19 Februari 2020 tentang cinta terpendam pada seorang pengunjung perpustakaan.
Cernak
  1. Cernak Aku Tahu Cita-Citaku karya Naila Zulfa yang dimuat di Solopos Minggu, 2 Februari 2020, tentang seorang anak yang memiliki penyakit darah sukar membeku dan bingung akan cita-citanya.
  2. Cernak Pesta Es Krim Para Peri karya Zahratul Wahdati di Solopos, 9 Februari 2020 tentang pesta es krim di negeri para peri menyambut datangnya musim panas.
  3. Cernak Puasanya Si Kupi karya Sri Mey Ekowati yang dimuat di Solopos Minggu 16 Februari 2020 tentang ulat kecil yang rakus dan tidak mau berpuasa agar jadi kupu. 
  4. Cernak Pisang-Pisang Momo karya Afrilia Dwitasari di Solopos, 23 Februari 2020 tentang monyet yang suka berbagi makanan.
Cerkak 
  1. Cerkak Jurang Kinemulan Pedhut karya Sri Wintala Achmad di Kedaulatan Rakyat 2 Februari 2020, tentang Dini dan kisah cintanya yang rumit.
  2. Cerkak Waras karya Albes Sartono yang dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi 3 Februari 2019 tentang seorang warga yang mengampuni maling yang ditangkap warga.
  3. Cerkak Ing Tlaga Sarangan karya Rita Nuryanti di Kedaulatan Rakyat 16 Februari 2020 tentang seseorang yang liburan ke Telaga Sarangan dan berbicara dengan kuda. 
  4. Cerkak Merbabu lan Merapi karya Anis Asmediana, di Solopos, 14 Februari 2020 tentang seorang perempuan yang dibohongi lelaki hingga hamil dan beranak kembar, tapi tetap mencintai lelakinya itu. 
  5. Cerkak Numpak Dhokar Mlakune Ngulon karya M Haryadi Hadipranoto di Kedaulatan Rakyat 23 Februari 2020 tentang seorang yang bertemu mantan kekasihnya yang menggandeng orang lain.
Resensi Buku
  1. Resensi Resep Mengkritik Mertua di Depan Sang Istri karya Khairul Anam di Solopos Minggu, 2 Februari 2020 yang mengulas kumcer Tanah Orang-Orang Hilang karya Pangerang P. Muda.