Coretan Basayev: Februari 2020
Selaksa Hikmah Kisah Hidup Fathimah

Selaksa Hikmah Kisah Hidup Fathimah



Saya baru saja menuntaskan baca buku berjudul Kerinduan Abadi untuk Fathimah Az-Zahra' karya Ahmad Taisir Kaid yang diterbitkan Penerbit An Nur, Jakarta. Sebuah buku yang mengisahkan kehidupan putri Rasulullah, yang memiliki banyak keutamaan. Saya mau mencoba mencatat beberapa hal penting yang bisa saya simpulkan dari buku ini.

Nama Fathimah ternyata adalah nama istimewa yang diilhamkan langsung oleh Allah Swt pada Rasulullah saat kelahiran putri beliau itu. Dalam hadis disebutkan: "Sesungguhnya dia dinamakan Fathimah adalah karena Allah akan menyapih (fathama) setiap orang yang mencintainya dari api neraka." (Al-Kulaini, Ushul al-Kafi 1/461. Riwayat Abu Hurairah).

Jodoh untuk Fathimah juga sudah disiapkan Allah. Dia adalah Ali bin Abi Thalib ra. Keutamaannya disebutkan dalam Tarikh Baghdad, 14/321, Majma' al-Zawaid 7/230, Kanz al-Ummal, 6/157: "Ali senantiasa bersama kebenaran. Dan kebenaran itu senantiasa bersama dengan Ali. Dan keduanya tidak akan pernah terpisah sampai keduanya datang kepadaku di tepi telaga."

Kelahiran Fathimah juga menjadi terasa begitu istimewa, karena Rasulullah memuliakannya di tengah tradisi jahili yang saat itu tidak menganggap kabar gembira bagi kelahiran anak perempuan. Tradisi ini tergambar dalam surat An-Nahl ayat 58, "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah." Bahkan pada At-Takwir ayat 8 disebutkan tentang tradisi biadab jahiliyah saat itu: mengubur hidup-hidup anak perempuan!

Fathimah tumbuh dalam didikan akhlak Rasulullah yang langsung ia saksikan. Sangat wajar jika segala kebaikan dari sang ayah menurun padanya. Sayyidah Aisyah ra. pernah berkata, "Aku sama sekali tidak pernah melihat orang yang lebih jujur daripada Fathimah dan ayahnya."

Akhlak Fathimah sering dijadikan alat bantu bagi Aisyah saat ada permasalahan Aisyah dengan Rasulullah, ia sering berkata, "Wahai Rasulullah, tanyakanlah kepada Fathimah, karena dia tidak pernah berdusta."

Fathimah seringkali menyaksikan langsung beratnya perjuangan Rasulullah termasuk sikap musyrikin Makkah yang menghalangi dakwah beliau, ia menangis, marah dan sulit menenangkan diri. Ayahnya kemudian yang menenangkan, "Jangan menangis wahai anak perempuanku. Karena sesungguhnya Allah itu melindungi ayahmu."

Rasulullah pernah didatangi malaikat yang berkata, "Wahai Muhammad, Allah mengucapkan salam kepadamu dan berfirman kepadamu: Sesungguhnya Aku telah menikahkan Fathimah, putrimu, dengan Ali bin Abi Thalib di puncak tertinggi. Karena itu, nikahkanlah keduanya di muka bumi." (HR Imam Ali bin Musa Al-Ridha). Sebagaimana disebutkan di atas, Ali adalah jodoh yang Allah siapkan untuk Fathimah.

Dikisahkan pula, Abu Bakar As-Sidiq pernah menyampaikan keinginan melamar Fathimah pada Rasulullah untuk meraih kesempurnaan kehormatan keluarga Nabi, tapi Rasulullah menolak halus dengan mengatakan Allahlah yang memutuskan siapa berhak memperistri Fathimah.

Umar bin Khattab juga pernah mengikuti jejak Abu Bakar itu. Sekali lagi Rasulullah tidak bisa menerimanya. "Dia masih kecil, lagipula aku sedang menunggu keputusan dari Allah," kata beliau.

Sementara Ali yang dianjurkan para sahabat untuk melamar Fathimah kebingungan karena ia tidak punya apa-apa untuk menikahi putri Rasulullah itu. Saat memberanikan diri, terkejut ia mendengar jawaban Rasulullah: "Ahlan wa marhaban, wahai Ali." Kepada para sahabat, Rasulullah berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk menikahkan Fathimah dengan Ali."

Ali tidak memiliki apa-apa untuk mahar, Rasulullah menyarankan agar mencari mahar walau cincin besi. Akhirnya Ali mempersembahkan baju besinya sebagai mahar, meski nilainya tidak sampai empat dirham.

Kehidupan rumah tangga Ali dan Fathimah jauh dari ada. Mereka sering menahan lapar karena tidak ada yang bisa dijadikan makanan. Keduanya manusia bergelimang kebijaksanaan dan tidak tergoda silau dunia. Senapas dengan isyarat Rasulullah dalam hadis qudsi, "Sesungguhnya Allah berfirman kepada dunia: Wahai dunia, siapa yang menghamba kepadamu maka jadikan ia hambamu, siapa yang menghamba pada-Ku maka jadilah engkau hambanya."

Rasulullah menempatkan keluarga Ali dan Fathimah pada kedudukan sangat mulia. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mengharamkan surga kepada orang yang menzalimi ahli baitku, memerangi mereka, membenci, dan mencaci mereka."

Menjelang meninggalnya Rasulullah, Fathimah yang menunggu sang ayah sakit dibisiki 2 hal. Bisikan pertama membuatnya menangis, bisikan kedua membuatnya tersenyum. "Ayah membisikkan padaku bahwa beliau akan meninggal dalam penyakitnya ini, menangislah aku. Lalu beliau membisikkan bahwa aku adalah ahli baitnya yang pertama menyusulnya, maka tersenyumlah aku," kisahnya.

Benar saja, Fathimah meninggal berselang enam bulan dari kepergian Rasulullah. Ada riwayat mengatakan, sesaat sebelum meninggal, Fathimah mandi sendiri dan mengenakan pakaian barunya. Ia berpesan pada Ummu Salamah agar tak seorang pun memandikan dan mengafaninya. Ali sendiri yang menggendong jazad suci istrinya untuk dikebumikan. Tidak ada yang mengafanu dan memandikannya (Riwayat Ahmad dalam al-Manaqib).

Begitulah garis besar kisah hidup Fathimah, penghulu kaum perempuan di kalangan ahli bait dan penghulu perempuan di surga. Kepergiannya menyisakan kerinduan abadi.

Judul: Kerinduan Abadi untuk Fathimah Az-Zahra'
Judul asli: Az-Zahra' Qudwatan Wa Matsalan
Penulis: Ahmad Taisir Kaid
Penerjemah: M. Alaika Salamulloh
Penerbit: An Nuur
Cetakan: I, Oktober 2008
ISBN: 978-979-18066-0-2
Tebal: xxxii + 275 halaman


Setiap Malam Melihat Mbak Berbaju Pink

Setiap Malam Melihat Mbak Berbaju Pink


JAKARTA kota metropolitan, namun tak lepas juga dengan cerita misteri. Seperti yang kualami dulu, sewaktu aku masih kerja di Jakarta dan tinggal di rumah kontrakan di bilangan Sumur Batu. Kala itu aku tinggal bertetangga dengan sebuah keluarga yang menempati kamar kos di seberang jalan.

Keluarga muda itu memiliki seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 2 tahun, sebut saja nama anak itu Rio. Keluarga itu baru beberapa hari menempati kos. Namun selama itu, hampir setiap malam si anak selalu terbangun dan menangis.

Kadang di anak susah ditenangkan sampai cukup lama. Hal ini tentu sangat mengganggu tetangga kos, termasuk aku yang kadang ikut terusik malam-malam ada yang menangis. Namun tak ada tetangga yang menegur, karena takut terjadi salah paham.

Setiap siang aku bekerja di Pasar Senen, jadi jarang bisa ketemu dengan tetangga saya itu. Suatu kali, saat aku libur, kebetulan Rio sedang disuapi ibunya di depan rumah. Aku pun iseng mendekati mereka.


“Dik Rio kenapa suka nangis kalau malam?” tanyaku pada Rio, di sela ajakan bercandaku.

“Rio takut, Om,” jawab si anak dengan polos.

“Takut apa?” tanyaku lagi.

Nah, saat itulah meluncur cerita dari mulut si bocah. “Rio takut, ada Mbak pakai baju pink.”

Aku mendengar dengan saksama penuh rasa penasaran. “Mbak siapa?”

“Mbaknya nggak pakai kepala,” katanya tanpa perubahan intonasi. Aku yang mendengar omongan anak kecil mendadak merinding.

“Mbak baju pink itu jalan-jalan ke sana ke sini, Om.”

Bulu kudukku langsung berdiri!

Ibunya Rio kemudian menyambung pembicaraan. “Ya, begitulah kalau ditanya. Katanya lihat Mbak baju pink tanpa kepala. Merinding kan, Mas?”

Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi. Bisa jadi omongan Rio benar, namun sepertinya si orang tua tak percaya dengan hal-hal seperti itu, sehingga membiarkan saja sekalipun hampir setiap malam anaknya menangis ketakutan. (Wakhid Syamsudin)

Link versi daring: https://www.harianmerapi.com/kearifan/cerita-misteri/2020/02/11/89699/setiap-malam-melihat-mbak-berbaju-pink

Dimuat di harian Merapi edisi Minggu, 8 Februari 2020
Misteri Pembunuhan di De Harmonie

Misteri Pembunuhan di De Harmonie


Judul: De Harmonie
Penulis: Yanti Soeparmo
Penerbit: Laksana
Cetakan: I, Maret 2011
ISBN: 978-602-978-534-0
Tebal: 384 halaman

Kisah dimulai dengan pergelaran peringatan ulang tahun Ratu Wilhelmina di Societeit De Harmonie, gedung pertemuan termewah di Batavia pada masa kolonial Belanda. Di tempat parkir kereta kuda, ditemukan sesosok mayat pria Belanda dengan pisau menancap di dadanya!

Dokter Rafael van Den Berg mengaku membunuh pria yang ternyata seorang pensiunan perwira militer, Mayor Laurens Vlekke. Tidak hanya Dokter Rafa yang mengaku, ada seorang perempuan pribumi bernama Salma juga mengaku dialah pembunuh sebenarnya. Inspektur Jacques Hasselar, perwira penyidik dari Hoofdburrau yang menangani kasus tersebut lekas menahan keduanya, dan melakukan penyelidikan mendalam.

Ternyata, Dokter Rafa dan Salma adalah sepasang suami istri. Salma dinikahi Dokter Rafa saat bertugas di Garut, tapi belum mendaftarkan pernikahan mereka ke pencatatan sipil. Mereka terpisah saat terjadi penyerangan militer terhadap rakyat Leles pada Juli 1919 terkait perlawanan rakyat Garut atas sistem Agraria yang merugikan rakyat.

Dalam perkembangan penyidikan kematian Mayor Vlekke, tidak hanya dua sejoli itu yang jadi tersangka. Muncul dua tersangka lainnya, seorang pemuda bernama Daniel dan kusir kereta pribadi Mayor Vlekke bernama Midin. Siapa dari keempat tersangka yang benar-benar telah menghabisi nyawa Mayor Vlekke?

Novel berlatar sejarah ini ditulis dengan cantik oleh Yanti Soeparmo, mantan wartawan Mandala. Kisah bergulir mundur ke awal pertemuan Rafa dan Salma hingga menikah dan terpisah. Salma bekerja sebagai pelayan di De Harmonie untuk mencari keberadaan suaminya. Salma membantu Mayor Vlekke menyeterika jasnya yang ketumpahan sup. Pembunuhan Vlekke tepat saat Salma mengantar jas itu ke parkiran kereta kuda Vlekke. Rafa memergoki Salma yang berlari ketakutan saat melihat mayat itu.

Inspektur Hasselaar benar-benar profesional dalam mengungkap kasus ini. Bisa dibilang, kecerdasannya telah membuat ia berhasil menemukan pembunuh sebenarnya. Banyak hal tak terduga bermunculan selama penyidikan, hingga pembaca mau tidak mau ikut berdebar dan penasaran akan akhir dari novel seru ini.

Selain disajikan konflik yang cukup mendebarkan, kita juga disuguhi pemandangan Batavia pada masa kolonial. Banyak nama-nama tempat bersejarah hadir di sini dengan sisipan catatan kaki. Meski banyak fakta sejarah terkait lokasi, namun pengetahuan itu tidak membuat novel ini jadi berat, hanya berbobot tentunya.

Yanti Soeparmo sangat piawai mengolah cerita pembunuhan Mayor Vlekke ini, dengan kejutan-kejutan di sana-sini. Pembaca seakan tak mau berhenti membuka lembar demi lembar novel agar lekas sampai pada ujung cerita. Menarik, dan sangat layak dibaca. Usai baca novel ini, saya jadi penasaran dengan karya-karya Yanti yang lainnya. Semoga berkesempatan membaca novel-novelnya yang lain.
Bacaanku Sepanjang Januari 2020

Bacaanku Sepanjang Januari 2020


Tak dipungkiri, agar bisa menulis, kita harus 'bisa' membaca. Untuk itulah, pada 2020 ini saya berusaha merutinkan membaca, dan mencatatnya sekaligus pengingat akan apa yang pernah saya baca. Berikut ini apa saja yang saya baca pada Januari 2020:

Cerpen:
  1. Cerpen Koloni Rayap karya Kristin Fourina yang dimuat di Minggu Pagi No 38 Th 72 Minggu IV Desember 2019) tentang seorang anak yang mengenang ibunya melalui laron-laron yang beterbangan di pagi hari pada musim penghujan.
  2. Cerpen Gebyok Lotus karya Widjati Hartiningtyas yang dimuat di Majalah Femina Februari 2018 tentang gebyok berdaun pintu berukir lotus yang menyimpan banyak rahasia, yang kepadanya si tokoh utama mengadukan berbagai hal.
  3. Cerpen Menantu Elektrik karya Yeti Islamawati yang dimuat di Majalah Hadila April 2019 tentang seorang menantu yang hanya bisa masak makanan serba instan dan peralatan serba listrik yang dianggap praktis.
  4. Cerpen Kalung karya Moh. Romadlon di web PojokPIM tanggal pemuatan 2 November 2019, tentang seorang pemulung yang menemukan kalung dan berusaha mengembalikan ke pemiliknya
  5. Cerpen Tulah Kemarau karya Marwita Oktaviana di Koran Solopos edisi 5 Januari 2020, tentang kemarau panjang yang meresahkan semua orang.
  6. Cerpen Detik-Detik Keberuntungan karya Ken Hanggara yang dimuat di Kurung Buka tanggal tayang 15 Desember 2019, tentang seseorang yang menjadi saksi mata sepasang kekasih bunih diri.
  7. Cerpen Ziarah Lumpur karya Kartika Catur Pelita yang dimuat di website maarifnujateng.or.id tanggal pemuatan 14 Desember 2019 tentang seorang yang hendak ziarah ke makam neneknya, tapi kampung tempat kuburnya dilanda musibah tenggelam oleh lumpur.
  8. Cerpen Selembut Angin Siang karya Komala Sutha yang dimuat di koran Tanjungpinang Pos, 5 Januari 2020 tentang persahabatan Nadia dan Elma yang nyaris renggang gara-gara Andre memutuskan Nadia dan Elma disangkakan sebagai penyebabnya.
  9. Cerpen Padang Ilalang dan Kunang-Kunang karya Yeni Purnama Sari yang dimuat di detik.com pada Minggu, 05 Jan 2020 berkisah tentang kenangan dengan seorang bernama Hana di sebuah padang ilalang.
  10. Cerpen Rumpaka karya Syukur Budiarjo yang dimuat di situs maarifnujateng.co.id tanggal pemuatan 4 Januari 2020, yang berkisah tentang seorang anak ustaz yang bunuh diri karena hamil di luar nikah.
  11. Cerpen Perempuan yang Setiap Pagi Memandang Gunung karya Irul S Budianto yang dimuat di Minggu Pagi No 40 Th 72 Minggu II Januari 2020, berkisah perempuan yang mencoba memaknai keberadaan gunung dan kodrat kewanitaannya.
  12. Cerpen Pemanggil Air karya Ahmad Taufik Budi Kusumah SPd yang dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, 05 Januari 2020, berkisah tentang peringatan si Pemanggil Air sebelum Gunung Batu dijual oleh para pejabat.
  13. Cerpen Kematian Riskan karya Agus Salim di situs apajake.id tanggal pemuatan 9 Januari 2020, tentang Riskan yang menganggap diri telah mati setelah berpisah dengan istrinya karena kesalahannya sendiri. 
  14. Cerpen Ketika Penulis Pemula Berpikir Tentang Penulis karya Yuditeha di situs apajake.id tanggal pemuatan 9 Januari 2020, tentang seorang penulis bernama Lukaveda yang bukunya banyak terbit tapi dianggap tulisannya tak berbobot oleh para penulis senior.
  15. Cerpen Yang Menelan Istrinya karya Pangerang P. Muda yang dimuat di koran Padang Ekspres, edisi 5 Januari 2020, tentang Bollo yang mencari ikan besar yang ia percaya telah memakan istrinya.
  16. Cerpen Lengkung Langit yang Sama karya Susy Ayu Tearne yang dimuat pada tabloid Minggu Pagi No 41 Th 72 Minggu III Januari 2020, berkisah tentang Grant yang selalu ditolong arwah Isabel, istrinya.
  17. Cerpen Sepasang Tangan di Jendela karya Dody Wardy Manalu yang dimuat di situs detik.com pada Minggu, 12 Jan 2020, berkisah tentang perkenalan Tiur dengan seorang pemuda sebelah rumah yang awalnya hanya kenal lewat tangannya yang terlihat di jendela.
  18. Cerpen Hikayat Pencopet karya Edy Firmansyah yang dimuat di Solopos edisi 19 Januari 2020, tentang bos copet yang sadar
  19. Cerpen Serigala Malam karya Indra Tranggono yang dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 19 Januari 2020, tentang anak-anak muda jalanan yang mencari mangsa tindakan klithih mereka. 
  20. Cerpen Fatma dan Lidahnya karya Majenis Panggar Besi yang dimuat di Suara Merdeka 21 Oktober 2018, tentang Fatma yang hendak menghadiri pernikahan saudaranya.
  21. Cerpen Salju-salju yang Berjatuhan di dalam Dadaku karya Majenis Panggar Besi yang dimuat di Media Indonesia 24 Desember 2017, tentang Yolendra yang datang membawa bingkisan dan kabar kematian. 
  22. Cerpen Mimpi Berjumpa Gus Dur karya Aljas Sahni H yang dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi 12 Januari 2020, tentang sosok Gus Dur yang mendatangi orang-orang dalam mimpi mereka, termasuk presiden. 
  23. Cerpen Perut karya Herumawan PA yang dimuat di Minggu Pagi No 42 Tahun 72 Minggu IV Januari 2020, tentang perut lapar bagi seorang pemulung. 
  24. Cerpen Perempuan Hybrid karya Pensil Kajoe yang dimuat di Kedaulatan Rakyat 6 Oktober 2019, tentang sosok perempuan hybrid yang berprofesi pemuas nafsu laki hidung belang. 
  25. Cerpen Lelaki Berdasi karya Sutono yang dimuat di Kedaulatan Rakyat 8 September 2019, tentang orangtua yang menginginkan anaknya berprofesi sebagai lelaki berdasi. 
  26. Cerpen Lelucon Para Koruptor karya Ganda Pekasih yang dimuat di Kedaulatan Rakyat 21 Juli 2019, sebuah parodi tentang koruptor di negeri ini. 
  27. Cerpen Selembar Daun yang Jatuh ke Bumi karya Nina Rahayu Nadea yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 19 Januari 2020, tentang seseorang yang selalu mengamati daun yang jatuh ke bumi, akibat sebuah kenangan. 
  28. Cerpen Mencari Kepastian karya Beni Setia yang dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi 26 Januari 2020 tentang seorang anak yang tak tahu kapan hari lahirnya yang harus dirayakan.
  29. Cerpen Sebuah Fragmen di Bioskop karya Titik Kartitiani yang dimuat di Femina No.25/XLV/Juli 2017 tentang dua insan yang bertemu terakhir kali sebelum berpisah, di sebuah bioskop dengan film tak bagus.
  30. Cerpen Kakek Pencari Kayu Bakar karya Ratna Ning di Pikiran Rakyat 26 Januari 2020 tentang seorang kakek penjaga masjid yang setiap hari mencari kayu bakar.
  31. Cerpen Sri karya Jassy Ae di Solopos edisi 26 Januari 2020 tentang Sri dan pergolakan batinnya sebagai seorang wanita.
Cerkak:
  1. Cerkak Kangen karya Sugiarto B Darmawan yang dimuat di Solopos, 7 Maret 2013, berkisah haru tentang dua pemuda desa yang merantau dan kangen kampung halaman.
  2. Cerkak Pagupon Kanggo Mbah Pon karya Budi Wahyono yang dimuat di Solopos edisi Kamis, 21 Februari 2013 berkisah tentang Mbah Pon yang hartanya dihabiskan anak tirinya yang terlibat utang.
  3. Cerkak Sor Kemuning karya Djayus Pete yang dimuat di Majalah Jaya Baya edisi No.16 Minggu III Desember 2017, tentang Soma Sadi yang meninggal minta pada anak-anaknya untuk dikubur di bawah pohon kemuning di pekuburan desa, yang ternyata dekat makam mantan kekasihnya.
  4. Cerkak Tangga Sisih Omah karya Fadmi Sustiwi yang dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 19 Januari 2020, tentang seorang perempuan cantik tetangga rumah yang mengontrak hanya dua bulan. 
  5. Cerkak Kaos Bolong lan Dhaster Suwek karya Winda Dwi Lestari di Solopos, 23 Januari 2020, tentang pakaian orangtua yang tak diperhatikan demi anak.
  6. Cerkak Mas Darma, Mitraku karya Suryadi Ws yang dimuat di Majalah Jaya Baya edisi No.1 Minggu I September 2017, tentang teman lama yang sakit dan selalu mengharap kehadiran teman sebelum meninggal.
  7. Cerkak Sobrah Julikah karya Bambang Hermanto yang dimuat di Solopos 30 Januari 2020, tentang perempuan bernama Julikah yang berprofesi sebagai penyenag laki-laki.
Cernak:
  1. Cernak Robot untuk Rio karya Riana di koran Solopos edisi 5 Januari 2020, tentang Rio yang kepengin punya mainan robot dan diajari menabung.
  2. Cernak Pelajaran Berharga karya Elisa D.S. yang dimuat di Solopos edisi 19 Januari 2020, berkisah tentang sedekah yang dibalas Tuhan dengan rezeki yang lebih banyak tanpa diduga.
  3. Cernak Angpau Nenek Oi-Yong karya Fery Lorena Yanni di Solopos edisi 26 Januari 2020 tentang imlek dan angpau dari nenek Oi-Yong yang tinggal sendirian.
Resensi buku:
  1. Resensi Mengurai Ketidaksadaran karya Dwi Alfian Bahri atas buku Jagat Digital (Agus Sudibyo, KPG, 2019) yang dimuat di situs ideide.id tanggal pemuatan 8 Januari 2020
  2. Resensi Negara Acap Kali Merecoki Hidup Kita karya Rizka Laily Muallifa dari buku Orang-Orang Oetimu (Felix K. Nesi, Marjin Kiri, 2019) yang dimuat di situs ideide.id tanggal pemuatan 27 November 2019
Buku:
  1. Anakku, Gara karya Edi AH Iyubenu yang berisi catatan sehari-hari tentang anak kedua Pak Edi dengan segala polah lucu kekanakannya, banyak hikmah terselip di dalamnya.
  2. Sejarah Konflik dan Peperangan Kaum Yahudi karya Najamuddin Muhammad yang mengulas sejarah, watak, dan karakter orang Yahudi sejak zaman Nabi hingga kini.
  3. Rahasia Bang Udin karya Sutono Adiwerna, kumpulan cerita anak sederhana penuh hikmah, bacaan bagus buat anak-anak.
  4. Islamku, Islammu, Islam Kita karya Edi AH Iyubenu tentang bagaimana memahami Islam sebagai agama yang penuh kedamaian. 
  5. Laksamana Cheng Ho Sang Penjelajah karya Nurul Asmayani tentang kisah hidup Laksamana Cheng Ho.
Lain-lain:
  1. Artikel Gado-Gado berjudul Mancing karya Mia Cisadan di Majalah Femina edisi Januari 2018, berkisah tentang kebiasaan mancing seorang suami yang sempat membuat istrinya berpikir tidak-tidak, setelah ia ikut memancing ternyata ia mendapat sebuah pengalaman berharga tentang seorang anak yang ditinggal orangtuanya.
  2. Artikel Gado-Gado berjudul Malu karya Agatha Pepy Yerinta di Majalah Femina Februari 2018, berkisah tentang pengalaman penulis yang dibuat malu oleh keadaan tertentu saat di kantor dan juga di rumahnya.
Semoga bacaan-bacaan di atas mampu memberi saya asupan bergizi dan menyehatkan jiwa.