Coretan Basayev: September 2019
Perpustakaan

Perpustakaan



PERPUSTAKAAN
Wakhid Syamsudin

Tapi tidak untuk tentang keberadaan orang-orang
karena di bangku-bangku ada beberapa jiwa dicharger katakata
dari lembar-lembar deretan rak berjajar rapi
sambil menguap terkantuk hembusan kipas angin yang menempel di dinding

Beberapa jenak,
terlihat beberapa kanak bergurau di antara buku bergambar cerita
dalam halau ibu guru bersenyum manis madu

Perpusda, April 2019

NOVEL CINTA
Wakhid Syamsudin

Telah habis berlembar tebal
menyumpal kisah tak sudah
tentang cinta yang pasrah
dalam dekap rindu dan dendam
pada halaman kesekian
aku terdiam dalam bisu

gemuruh di dadaku saat kerinduan
yang coba kulupakan
mendadak bangkit dari kuburan kasih
merobek nalarku pada cinta tak tergapai

pada halaman terakhir
tak kujumpai penutup
pada halaman terakhir
tak kutemukan penyembuh
selain luka yang kian memar

Perpusda, April 2019

BUKU PUISI
Wakhid Syamsudin

Daripada mengeja
aku memilih memejam mata
membaca puisi-puisi dengan tatap terpejam
bait-bait yang tertelan
sepat sekali rasanya

kau tak mau tahu juga?

berbaris diksi penuh gairah
telah menyerbu ke benakku
berbaris sedemikian rapi
seperti sekumpulan pelancong
yang mengantri di pintu masuk wahana
atau serupa pasukan segelar sepapan
yang siap melakulan penyerbuan

hanya baris tak habis kubaca

Perpusda, April 2019

ENSIKLOPEDIA
Wakhid Syamsudin

Kaubaca buku edukasi bergizi tinggi
pada lembarannya yang penuh dedikasi
buatkan aku sketsa ilmu
agar aku bisa memahamimu
untuk sekadar menengok buku-buku
agar tiada debu

Perpusda, April 2019

Dimuat di koran Analisa pada Rabu, 25 September 2019
Ajaran Hidup Menyejukkan dari Habib Syech

Ajaran Hidup Menyejukkan dari Habib Syech


Ia tak pernah memakai kekerasan, tapi menggunakan pendekatan persuasif, dengan cinta dan kasih sayang, membaur tapi tak melebur.

Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian, hadir menjadi rahmat bagi seluruh alam. Risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw ini menjadi ajaran dengan pengikut yang sangat besar dan tersebar di segenap penjuru dunia.

Diterimanya Islam di seluruh dunia tidak lepas dari perjuangan dakwah yang mengedepankan pendekatan halus melalui akhlakul karimah yang dicontohkan oleh Nabi sendiri. Untuk Indonesia kita dapat melihat contoh sosok Habib Syech.

Adalah Habib Syech bin Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf, seorang ulama pembina umat yang kharismatik dan fenomenal dari Solo, Jawa Tengah, mencontoh cara dakwah Nabi yang penuh kasih sayang. Kecintaannya pada Rasulullah Saw melahirkan rasa peduli yang tinggi pada masyarakat yang menginspirasi dalam berdakwah. Habib Syech mengajak umat mencintai Islam, meneladani sang junjungan, melembutkan hati, dan memperbaiki diri sehingga menjadi manusia unggulan yang paripurna.

Penyejuk Bagi Masyarakat
Ahmad Zainal Abidin dalam bukunya, Habib Syech; Indonesia Bershalawat, Indonesia Selamat, yang diterbitkan Penerbit Laksana, mengajak kita mengenal sosok kondang ini. Pada Bab 1, penulis memperkenalkan Habib Syech yang lahir di Solo, 20 September 1961, dari pasangan Abdul Qadir bin Abdurrahman dan Bustar binti Umar al-Qaziri. Kedalaman ilmu yang ia miliki adalah hasil belajar pada sang ayah, dan juga berguru pada pamannya, Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Selain itu Habib Syech juga belajar pada Habib Muhammad Anis bin Alwi al-Habsyi.

Habib Syech adalah imam Masjid Assegaf di Pasar Kliwon kota Solo. Dalam berdakwah, ia menggunakan media syi’ar shalawat dengan niat yang tulus dan penuh cinta. Terhitung dakwahnya dimulai sejak tahun 1980, diawali dengan mengikuti kegiatan masyarakat kemudian menggelar pengajian di rumahnya sehingga tumbuh menjadi penyejuk bagi masyarakat.

Habib Syech mudah diterima oleh masyarakat Solo, karena ia mampu memahami kondisi psikis masyarakat. Ketika mengadakan pengajian, ia kerap menguraikan beberapa ayat Alquran yang kemudian ditambah dengan beberapa hadits yang bisa dijadikan teladan bagi kehidupan masyarakat sehari-hari. Tentu persoalan yang dibahas tidak melangit, tetapi selalu berkaitan dengan laku hidup sehari-hari, seperti akhlak dan ajaran-ajaran hidup luhur lainnya. (halaman 17)

Dakwah Laku Hidup

Apa yang disampaikan dalam dakwah, ia jadikan sebagai laku hidup. Saat menyampaikan pentingnya shadaqah, maka ia adalah sosok yang sangat dermawan. Saat menyampaikan pentingnya membantu dan mengasihi yang lemah, maka ia praktikkan aksi sosial untuk masyarakat yang membutuhkan. Kedalaman ilmu dan keselarasan antara perkataan dengan perbuatan, ilmu dan amal, menampilkannya menjadi sosok kharismatik.

Habib Syech menyerukan ajaran hidup agar menjadi manusia yang berakhlak. Dalam suatu kesempatan pengajian akbar, ia pernah menyampaikan: “Banyak manusia yang punya ilmu, tetapi tidak punya akhlak. Hal semacam itu akan percuma. Akhlak orang Indonesia sekarang sudah sangat buruk, maka saya serukan kepada para pejabat, aparat, dan rakyat, marilah kita contoh akhlak Nabi Muhammad Saw. Aturan yang paling tepat untuk menyelamatkan bangsa Indonesia adalah mengikuti ajaran Muhammad Saw.”

Habib Syech juga sangat menjunjung tinggi persaudaraan dan perdamaian. Ia selalu menebar senyum kepada siapa saja. Setiap orang yang menjumpainya maka senyum sumringah dan kebahagiaan terpancar dari wajahnya. (halaman 46)

Ajaran Habib Syech selanjutnya, yang menjadi laku dalam hidupnya, adalah semangat yang gigih dalam berdakwah. Kata malas dan lesu sudah tak ada dalam kamus hidupnya. Seluruh aliran darah berkobar semangat untuk senantiasa memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh umat dengan cara bershalawat dan berdakwah.

Berdakwah dengan Cinta dan Kasih Sayang

Habib Syech juga memberikan teladan bagaimana memberantas kemungkaran dengan cinta. Ia tak pernah memakai kekerasan, tapi menggunakan pendekatan persuasif, dengan cinta dan kasih sayang, membaur tapi tak melebur. Banyak preman berhasil dientaskan tanpa harus caci maki, tanpa teriakan takbir, tanpa pukulan, dan tanpa pertumpahan darah.

Menekuri buku setebal 256 halaman ini, maka kita akan mendapat suntikan semangat baru dalam berdakwah. Bagaimana mengedepankan kasih sayang tanpa kekerasan. Keteladanan Habib Syech menjadi contoh yang nyata, yang bisa kita ambil ibrahnya. Islam datang membawa kedamaian, menyejukkan hati pemeluknya. Begitulah keindahan Islam yang dapat kita tampilkan dalam hidup kita, baik dalam pergaulan sesama muslim, juga dalam kebersamaan dengan umat beragama lain, untuk mendukung persatuan berbangsa dan bernegara.

Tulisan yang disusun oleh Ahmad Zainal Abidin ini dilengkapi juga dengan bacaan Qasidah Burdah dan Simtud Durar, lengkap dengan terjemahnya pada Bab 7. Habib Syech dengan metode dakwahnya yang membumikan shalawat bisa diterima dengan baik oleh umat, diinternalisasi, dan dijadikan laku hidup bermasyarakat. Selamat membaca.

Judul buku : Habib Syech; Indonesia Bershalawat, Indonesia Selamat
Penulis : Ahmad Zainal Abidin
Penerbit : Laksana
ISBN : 978-602-407-557-6
Cetakan : Pertama, 2019
Tebal : 256 halaman


Dimuat di web Harakatuna edisi 15 September 2019, link: https://www.harakatuna.com/ajaran-hidup-menyejukkan-dari-habib-syech.html
Menemukan “Why” demi Mencapai Kesuksesan

Menemukan “Why” demi Mencapai Kesuksesan


Judul : Find Your Why
Penulis : Simon Sinek, dkk
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, 2019
Tebal : xx+302 halaman
ISBN : 978-602-06-3137-0


Semua berhak bangun pagi dan bersemangat berangkat bekerja, nyaman di kantor, dan pulang de­ngan perasaan puas. Buku ini mengajak pembaca berproses menuju ke situasi tersebut dengan memahami alasan se­seorang mengerjakan sesuatu.

Konsep “mengapa” adalah sebuah perjalanan pribadi mendalam yang terlahir dari penderitaan. Penulis menemukan gagasan tersebut ketika sedang kehilangan semangat bekerja. Semua nasihat tidak banyak mem­bantu. “Kerjakan yang kamu sukai, Cari sesuatu yang membuatmu bergairah. Pertahankan semangatmu.” Semua benar, tetapi sama sekali tidak bisa dilakukan.

Secara teori, dia setuju dengan saran-saran itu, tapi tak tahu yang musti di­ubah. Ia tidak tahu yang harus dilakukam secara berbeda tiap hari. Itulah sebabnya harus menemukan jawaban atas perta­nyaan “mengapa (why)” dan menjadi­kannya kekuatan besar (halaman xi).

Selain membarui gairah, menemu­kan mengapa juga memberi sebuah filter untuk membuat keputusan-keputusan lebih baik. Jawabannya mampu memberi lensa baru dalam memandang dunia secara berbeda. In­dividu dan organisasi yang mengenali mengapa mereka, bisa menikmati kesuksesan lebih besar dan lama. Ini mengundang kepercayaan dan kesetia­an lebih besar di antara para karyawan serta pelanggan. Dia juga membuat mereka berpikiran lebih maju serta inovatif. Buku ini dirancang untuk me­nemukan mengapa setiap orang.

Dua bab pertama berisi informasi mendasar untuk menemukan me­ngapa kita. Bab 3 proses selangkah demi selangkah individu baik peng­usaha atau karyawan, untuk mengapa personal mereka. Sementara itu, bab 4 menerangkan yang diperlukan un­tuk menyiapkan cara menemukan mengapa sebuah tim, organisasi, atau kelompok.

Pada bab 5 dibahas isi bab 4 dan menjelaskan cara mengajak sebuah kelompok menjalani proses penemuan mengapa. Bab 6 berbicara “bagai­mana” sebagai jalan menuju mengapa. Bab 7 menjelaskan cara menularkan mengapa pada orang lain dan cara memulai hidup berdasarkan mengapa dalam praktik.


Buku mengutip Southwest Air­lines sebagai contoh organisasi yang berpikir, bertindak, dan berkomu­nikasi dengan mengapa sebagai titik awal. Maskapai penerbangan tersebut membangun bisnisnya di seputar keyakinan akan peduli ke­pada karyawan-karyawannya yang akhirnya peduli pada para pelanggan (halaman 260).

Agar mengapa tetap hidup sejalan dengan waktu, orang harus membuat­nya tetap di depan dan mengomu­nikasikannya. Orang perlu berkomit­men menjalankannya dengan kuat agar mengapa tak melemah, memu­dar, apalagi terlupakan. Setiap per­kembangan, pertumbuhan, atau hasil organisasi dapat diukur menggunakan sumbu waktu dan standar acuan lain (biasanya pendapatan).

Ketika sebuah organisasi didirikan, “apa” yang dikerjakannya terikat erat dengan “mengapa” organisasi itu, bahkan seandainya perusahaan itu tidak dapat mengungkapkan men­gapanya dengan kata-kata. Ketika organisasi tumbuh, apa dan mengapa nya juga tumbuh secara bersamaan (halaman 261).

Find Your Why menunjukkan cara menerapkan gagasan supaya pembaca bisa menemukan lebih banyak in­spirasi di tempat bekerja. Akhirnya juga menginspirasi orang lain di sekitar.  

Diresensi Wakhid Syamsudin
Dimuat di Koran Jakarta edisi 16 September 2019, link: http://www.koran-jakarta.com/menemukan--why--demi-mencapai-kesuksesan/
Proses Kreatif Menulis KCP

Proses Kreatif Menulis KCP


Tanggal 7 September 2019, pada salah satu grup WhatsApp kepenulisan, saya menyimak sharing proses kreatif seorang penulis bernama Kartika Catur Pelita, yang biasa dipanggil dengan nama singkatan KCP. KCP selama ini menulis prosa dan puisi. Sudah menulis 700-an, dan 100 cerpen sudah dimuat di 50 media cetak lokal-nasional, dan daring. Media tersebut di antaranya: Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Republika, Koran Merapi, Koran Muria, Koran Madura, Okezone.com, SoeraMoeria.com, Bangka Pos, Koran Rakyat Sultra, Inilah Koran Jabar, Pikiran Rakyat Jabar, Haluan Padang, Kartini, Tabloid Genie, Tabloid Nova, Solopos, Minggu Pagi, Media Indonesia, Kompas.id.

Selain berkibar di media, KCP juga sudah menerbitkan novel Perjaka, kumcer Balada Orang-Orang Tercinta, dan novel Kentut Presiden. Sungguh, membuat tidak sabar ingin tahu bagaimana proses kreatif seorang KCP dalam menulis.

Sesi tanya jawab dibuka dengan pertanyaan salah satu peserta yang menyampaikan kendalanya dalam menulis cerpen. Ia merasa di awal terasa mengalir, konflik dapat, tapi ketika mau ending seolah kehabisan kata. Hinggga banyak cerpen yang menggantung. Adapun jika dilanjutkan terus, akhirnya ia tidak bisa berhenti. Hingga baru setelah 30 halaman baru ketemu ending. "Masa iya cerpen 30 halaman. Masuk novela pun tidak," begitu ia memungkas pertanyaan.

KCP lekas memberikan kiatnya, "Pangkas bagian yang tak diperlukan. Isi cerita atau konflik sampaikan secara padat, tak bertele-tele. Ending otomatis bisa ditemukan ketika cerpenis menggunakan rumus sederhana bagian sebuah cerpen: pembukaan, konflik, penutup."

Pertanyaan dari peserta lain, ia justru kebalikan dari penanya pertama. Ia seringkali menulis cerpen dan baru 500-700 kata sudah berhenti. 1000 ribu kata baginya terasa terlalu bertele tele. Padahal setahunya, standar cerpen koran koran itu 1000 kata lebih.

KCP mengingatkan, bahwa standar cerpen Indonesia 8000-10.000 cws (1000-13.000-an kata). Perkembangan terbaru, koran Kedaulatan Rakyat 'hanya' menerima cerpen 2500 cws.

"Bertele-tele bisa dipengaruhi faktor teknik dalam menyampaikan sebuah kisah. Pemilihan PoV yang tepat bisa mengembangkan sebuah cerpen tanpa bertele-tele tapi bisa memenuhi persyaratan jumlah karakter. Tak semua cerpen harus memenuhi jumlah cws persyaratan media. Jika memang sebuah cerpen harus selesai dalam 700 kata, ya, sudah. Ending selesai," kata KCP.  "Sebagai cerpenis terkadang saya menulis cerpen hingga 15.000 cws. Padahal hendak saya kirim ke Kompas, yang maksimal 10.000 cws. Jalan keluarnya, saya kudu tega memapras hingga cerpen 'tinggal' 10.000 cws."

KCP memberikan contoh salah satu cerpennya yang berjudul Darah Daging, yang dimuat Haluan, Padang. Naskah awal sepanjang 10.000 cws atau 13.000-an kata. Karena persyaratan teknis cerpen di Haluan, 1000 kata, maka KCP papras, sunting hingga hanya tinggal 1000 kata. "Dikirim ke Haluan, alhamdulillah lolos. Honor 100 ribu, tapi belum saya tagih hingga hari ini," katanya menyayangkan.

Penulis yang dalam kurun 2008-2019 bisa menembus 50 media cetak ini juga mengatakan bahwa jika sudab terbiasa menulis cerpen koran maka otomatis otak kita bisa memrogram jumlah karakter cerpen yang kita tulis, 8000-12.000.

Diskusi terus berlanjut. Menurut KCP, penulis itu profesi paling seksi. Penulis bisa masuk ke sepenjuru  lini kehidupan. Sebagai salah satu pemenang lomba menulis cerita anak PAUD, Kanal PAUD 2016, ia dapat tiket pesawat, di Jakarta, menginap di hotel, dapat uang hadiah plus saku. Diundang di Anugerah PAUD 2016, bersua Ibu Iriana Jokowi, Ibu Mufidah Jusuf Kalla, dan Menteri Pendidikan Kebudayaan Muhadjir Effendi.

"Saya juga menulis cerita anak. Peluang naskah cerita anak sangat besar. Jika pun media yang memuat terbatas, maka mengirim naskah buku anak ke penerbit, semisal Buana Ilmu Populer, Dar! Mizan, Indiva, sangat menjanjikan," kisahnya.

Penulis itu harus berani. Berani menuangkan ide, pemikiran, angan-angan, impian, bahkan khayalan jorok. "Dulu awal-awal menulis cerpen saya menulis cerpen semau gue. Mau diksi kasar, sarkas, porno. Pernah gara-gara menulis rangkaian diksi: bulu-bulu ketek meranggas berguguran seperti daun kering, bla, bla. Seorang pembaca marah dan membuang buku kumcer yang memuat antologi cerpen, salah satunya cerpen saya yang dianggapnya porno," kenangnya. "Padahal cerpen tersebut bergenre humor, saya pikir enggak sebegitunya porno. Ternyata ada pembaca yang menganggap diksi ketek itu porno, najis. Duh...."

Salah seorang peserta yang mengaku tengah belajar, merasa masih awam dalam tema-tema sosial dan bagaimana cara menemukannya.

"Pengarang memiliki mata, telinga, rasa, yang berbeda dengan bukan pengarang.  Belajar lebih peka pada 'kehidupan' di sekitar kita. Kita akan menemukan tanpa harus mencari," kata KCP.

Sekali lagi KCP mengatakan, bahwa penulis harus berani. Jika di sekitar kita ada peristiwa unik, atau membaca hal-hal menarik memantik ide, langsung kerjakan, tulis dalam bahasa kita, semampunya. Penting tulisan/cerpen kelar. Setelah itu endapkan, kemudian proses perbaikan, penyuntingan naskah.

KCP juga memberi kiat agar bisa bikin ending menohok, yakni rajin nulis cerpen berkali-kali. "Saya baru menemukan ending ala Pecel, Cucur, atau Turun Ranjang, setelah saya nulis ratusan cerpen. Berpikir 'di luar pembaca' dan 'tega' itu sebagian tips yang bisa dipelajari."

Pecel adalah cerpen KCP yang dimuat Suara Merdeka, tapi honor hingga sekarang belum turun. "Ini sisi menyedihkan seorang penulis," katanya.

Penulis yang bisa dihubungi via Facebook Kartika Catur Pelita Pelita atau Instagram @kartikacaturpelita ini juga memberikan kiat membuat nama tokoh yang tidak pasaran. Nama tokoh hendaknya disesuaikan dengan karakter dan cerita yang kita tulis. Tipsnya,  berani dan kreatif. Berani ciptakan tokoh dengan nama unik, semisal nama makanan, nama buah, nama sayuran.

"Saya pernah memberi nama tokoh cerpen Cucur (cerpen Cucur), Salome (cerpen Begenggek), atau Kuat dan Limanov (5 November) dalam novel Perjaka. Pernah juga memberikan nama wayang pada semua tokoh seperti Larasati dan Abimanyu di cerpen Lebaran Tanpa Suami yang dimuat Nova edisi Lebaran 2012," kisahnya. "Mengapa nama unik -sesuai konteks cerita- perlu diciptakan? Supaya nyantol ke benak pembaca."

Penulis yang berasal dari Kota Ukir Jepara ini lalu membahas tentang pembuatan judul. Menurutnya, setiap penulis memiliki tips, kesukaan, maupun kemantapan yang bersumber pada kemampuan mereka dalam mengolah diksi. Judul yang singkat, cukup 1 kata, sama kuatnya dengan judul yang panjang bahkan kadang pembaca bisa mengingatnya. "Artinya, jangan ragu-ragu dalam membuat judul. Pengalaman saya dalam nulis cerpen biasanya menciptakan dulu judul ala kadarnya. Penting judul mewakili isi cerita. Semisal judul cerpen Kabut Api yang dimuat Republika (silakan baca di web Lakon Hidup). Cerpen ini semula berjudul Perempuan yang Tergila-gila Membeli Baju Baru. Saya kirim ke 1-3 media tak lolos. Saat itu di koran ramai berita kabut asap akibat kebakaran hutan. Nah, saya kepikiran mengubah  judul menjadi Kabut Api. Judul bawa hoki, cerpen dimuat Republika, hehe," katanya seraya melepas tawa ringan.


Salah seorang peserta bertanya tips supaya bisa mantap dapat ide untuk menulis. Ada yang bilang, ide itu ada di mana-mana, tapi ia merasa susah ketemu.

"Tipsnya ada pada diri penulis itu sendiri, Masbro. Sekuat apa motivasimu menulis, maka sekuat itu pula hasilnya," jawab KCP.

Ia melanjutkan, "Beberapa teman penulis ada yang memilah-milih ide dalam menulis. Saya pribadi sih melepaskan semua indra dalam menekuni dunia menulis. Cita-cita saya jadi penulis. Kekuatan dan keyakinan itu melambari hingga saya bisa menangkap ide, mengubahnya dalam wujud tulisan."

KCP memberi permisalan, bahwa dalam hidup, tentu pernah mengalami masa kanak-kanak, maka tulislah cernak. Pernah remaja, maka menulis cerpen remaja. Sudah dewasa, paruhbaya, maka kita coba menulis cerpen tentang kehidupan masa-masa sepuh. Cerpen-cerpen diwarnai aroma bahagia, ria, duka, tawa, tragis, tangis, luka. Begitulah alun kehidupan yang dicerminkan pada cerpen atau fiksi yang ditulisnya.

"Ada masa-masa dulu, saya iri ketika melihat karya teman dimuat di media ini, media itu. Iri saya iri positif. Saya belajar, semakin banyak membaca karya sastra, memperbaiki tulisan. Khususnya kaidah penulisan naskah cerpen sesuai PUEBI. Belajar menulis kata pengantar dalam mengirim cerpen. Memperhatikan hal teknis. Jumlah karakter, spasi, jenis huruf, margin. Ternyata banyak ilmu yang dimiliki penulis, dan orang awam tak tahu. Termasuk saya yang masa itu penulis pemula, tak punya guru. Hal ini yang kelak mendorong saya dan teman-teman penulis Jepara untuk mendirikan komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ) pada 10 Januari 2015. Alhamdulillah, hingga 2019 ini komunitas masih jalan, pelatihan setiap Sabtu, pukul 14.00-16.00 WIB," kisahnya.

Saat ditanya terkait jam atau waktu produktif menulis, KCP menjawab bahwa semua jam/waktu produktif. "Sejak terjun menulis sebagai profesi, kapan pun waktu dibikin produktif."

Terakhir, seorang peserta bertanya kiat mengatasi saat mendek atau writers block. "Cara menghadapi writers block: nonton yang seger-seger dulu," jawabnya ringan.

Banyak sekali ilmu yang bisa diambil dari obrolan bersama KCP. Bagi kamu yang penasaran pengin baca tulisan-tulisan bermutu karya KCP bisa googling saja, Kartika Catur Pelita, atau berkunjung ke blog pribadinya: http://kartikacaturpelita.blogspot.com/. Salah satu cara efektif belajar menulis adalah membaca karya yang sudah ada.

Yuk, geliatkan lagi semangat menulis kita!
Tahun Baru Hijriyyah dan Momentum Berhijrah

Tahun Baru Hijriyyah dan Momentum Berhijrah



Nabi Muhammad Saw akhirnya memutuskan untuk pindah ke Madinah setelah menerima perintah langsung dari Allah Swt. Berdakwah penuh tekanan di Makkah, baik secara fisik maupun mental selama kurang lebih 13 tahun lamanya, berbuah indah dengan sambutan masyarakat Madinah yang menyambut umat Islam Makkah dengan penuh rasa persaudaraan. Peristiwa besar ini dikenal dengan nama hijrah. Dan peristiwa ini juga akhirnya dijadikan patokan penanggalan Islam pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 639 M.

Sejarah Penanggalan Hijriyyah

Dikisahkan, suatu kali Khalifah Umar bin Khattab mengirimkan surat kepada Abu Musa Al-As’ari, gubernur Basrah, bawahannya, tanpa mencantumkan tahun, hanya yang tertera bulan Syakban. Maka, kemudian ia mengusulkan kepada Khalifah Umar untuk menetapkan tahun kalender Islam.

Lalu Khalifah Umar merundingkan terkait usulan itu. Maka muncul masukan untuk patokan tahun pertama kalender Islam dihitung sejak kelahiran nabi, atau sejak wahyu turun, wafat Rasulullah dan hijrah Rasulullah. Akhirnya ditetapkan hijrah Rasulullah sebagai lambang tegaknya syariat Islam. Hal itu terjadi pada 16 Rabiul Awal tahun 16 Hijriyah, setelah 30 bulan pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Tahun baru pertama Islam terjadi pada 1 Muharram 17 Hijriyah.

Memperingati dengan Berhijrah

Tahun ini kita memasuki tahun baru islam, 1 Muharram 1441 H, bertepatan dengan tanggal 1 September 2019. Spirit apa yang bisa kita tangkap sebagai ibrah dengan adanya peringatan sejarah hijrah Rasulullah ini? Tentu kita tidak harus terlena dengan gegap gempita perayaan seremonial tahun baru, melainkan bisa menjadikannya momentum untuk bermuhasabah, sekiranya apa yang bisa kita perbaiki untuk menyambut tahun yang akan datang. Tepat rasanya, kita maknai tahun Hijriyyah dengan berhijrah.

Hijrah Ma’nawiyah

Dalam buku motivasi islami berjudul Hijrah Aja Dulu buah karya Fahdmaya yang diterbitkan Quanta yang saya baca ini, disebutkan bahwa hijrah, secara garis besar dibagi menjadi 2 macam: hijrah makaniyah dan hijrah ma’nawiyah.

Hijrah makaniyah adalah berpindah secara fisik, dari satu tempat menuju tempat lain, seperti contohnya pindah Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah. Sedangkan hijrah ma’nawiyah adalah berpindah secara nilai. Dalam hal fisik tetap berada di tempat yang sama, namun secara nilai yang terkandung dalam kehidupan berpindah menuju kualitas yang lebih baik. (halaman 3-4)

Sejatinya, hidup adalah untuk terus bergerak agar tercipta keseimbangan. Hidup akan stabil jika kita terus bergerak. Bergerak dan berpindah bisa berarti meninggalkan, sebab jika jalan di tempat, sulit bagi kita untuk berubah lebih baik. Dengan berhijrah mungkin bisa membuat kita meninggalkan semua kenyamanan yang ada, kebiasaan-kebiasaan kita yang banyak mudharat daripada faedahnya. (halaman 6)

Hijrah Dulu, Istikamah Kemudian

Hijrah menuju kebaikan memang tidak mudah, dan lebih sulit lagi adalah istikamah. Tapi jangan karena takut tidak istikamah, kita beralasan untuk tidak mau hijrah. Sesuai judul buku ini, Hijrah Aja Dulu, karena istikamah bisa kita latih setelahnya. Fahdmaya memberikan kiat-kiat agar hijrah tidak gagal dan tetap bisa istikamah:

Pertama, berniat ikhlas ketika berhijrah, bukan karena tendensi dunia tetapi karena Allah semata. Kedua, Segera mencari lingkungan yang baik dan sahabat yang saleh. Ketiga, menguatkan fondasi dasar tauhid dan akidah yang kuat dengan mengilmu dan memahami makna syahadat dengan baik dan benar. Keempat, mempelajari Alquran dan mengamalkannya. Kelima, berusaha tetap terus beramal walaupun sedikit. Dan yang keenam, sering berdoa dan memohon keistikamahan dan keikhlasan.

Beberapa kutipan dari buku ini mungkin bisa kita jadikan cerminan untuk berusaha istikamah dan bersabar menjalani proses hijrah kita:

Siapa pun kita di masa lalu, bukan berarti tidak berhak menjadi muslim dan muslimah yang lebih baik. Berhijrahlah walau sejengkal demi sejengkal, jangan tunggu hari esok.

Masa lalu yang kelam jangan jadikan alasan untuk kamu tetap tinggal di sana, sebab masa depan kamu masih suci.

Di balik kata istikamah, ada perjuangan yang kuat, pengorbanan yang banyak, dan doa yang tidak pernah henti.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H.

Judul buku : Hijrah Aja Dulu
Penulis : Fahdmaya
Penerbit : Quanta (PT Elex Media Komputindo)
ISBN : 978-602-04-9606-1
Cetakan : Pertama, 2019
Tebal : vii + 172 halaman


Dimuat di portal Harakatuna edisi 1 September 2019 link klik di sini.