Coretan Basayev: Juli 2019
Tasawuf Sosial, Kiai Sahal Mahfudz, dan NKRI

Tasawuf Sosial, Kiai Sahal Mahfudz, dan NKRI

Tasawuf Sosial Kiai Sahal Mahfudh untuk Keutuhan NKRI 

Tugas utama manusia sebagai khalifatullah adalah menyembah kepada Allah (ibadatullah) dan membangun bumi (imaratul ardli).

KH. MA. Sahal Mahfudz adalah tokoh besar sarat prestasi yang menjadi teladan umat dan bangsa ini. Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA. dalam buku setebal 244 halaman ini mengkaji tasawuf sosial Kiai Sahal yang menjadi laku kesehariannya, yang disaksikan keluarga, santri, orang dekat, dan masyarakat secara umum yang bisa menjadi teladan kehidupan.

Dalam bahasa Alquran, kesuksesan seseorang tidak lepas dari akar kuat yang menghunjam dalam jiwa (ashluha tsabitun) dan melahirkan buah yang menjulang tinggi ke angkasa (wa far’uha fis sama’). Dalam bahasa agama, akar kuat itu adalah tasawuf, ilmu hati yang membentuk karakter utama dan menjadi pijakan dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui kondisi jiwa dan sifat-sifatnya, baik yang terpuji maupun tercela. Topik kajiannya adalah jiwa dengan segala kondisi dan sifat yang mengitarinya. (halaman 14)

Sejarah tasawuf bermula pada era Nabi yang dinamakan era zuhud dengan tokoh Hasan Al-Bashri dan Rabi’ah Al-Adawiyah. Pada abad ke 4, 5, dan 6 Hijriyah, internalisasi zuhud sudah berjalan dan istilah tasawuf mulai dikenal. Selanjutnya muncul era lahirnya tarekat untuk menjembatani agar teori tasawuf yang rumit bisa dinikmati oleh orang awam. (halaman 16)

Sahal Mahfudz dan Tasawuf

Orang yang bertasawuf tidak harus bertarekat. Tarekat lahir belakangan setelah ulama-ulama besar tasawuf meninggal, seperti Imam Hasan Al-Bashri, Imam Junaid Al -Baghdadi, dan Imam Ghazali. Meskipun demikian, dalam konteks Indonesia, orang yang bertasawuf menjadi semakin mantap jika diikuti dengan tarekat. Kiai Sahal masuk dalam kategori ini, yaitu ulama yang mendalami kajian ilmu tasawuf dan mengikuti tarekat sekaligus.

Kiai Sahal dibaiat tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah oleh KH. Muslih Mranggen Demak. Kiai Sahal awalnya dibaiat sebagai murid tarekat, kemudian dibaiat kembali menjadi mursyid tarekat. Meskipun dibaiat mursyid tarekat, Kiai Sahal tidak berkenan membaiat murid. Ketika ada orang yang ingin dibaiat, Kiai Sahal menyarankannya langsung kepada KH. Duri Nawawi. (halaman 131)

Menurut Kiai Sahal, dalam tasawuf ada dua ajaran utama, yaitu ma’rifatullah (mengetahui Allah) dengan yakin dan liqaullah (bertemu Allah) ketika mencapai titik final perjalanannya. Secara komprehensif, ajaran tasawuf dijelaskan dalam Alquran surat Yunus ayat 57 yang berbunyi; “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Kiai Sahal mengutip tafsiran Imam Junaid atas ayat tersebut, dalam strata ilmu, yaitu syariat, thariqat, hakikat, dan ma‘rifat. Mauldzoh yang berisi nasihat melakukan hal-hal yang wajib dilakukan dan mencegah hal-hal yang dilarang adalah manifestasi syariat.

Penyakit Hati

Obat hati adalah usaha yang dilakukan untuk menyembuhkan penyakit rohani sehingga seseorang mencapai kesempurnaan diri dalam pembersihan hati dari akidah yang sesat dan tabiat yang hina dan tercela. Ini adalah menifestasi tarekat. (halaman 135-136)

Tasawuf sosial Kiai Sahal dapat dicari dan dirumuskan dari pemikiran yang disampaikan di banyak kesempatan. Di antaranya adalah saleh, mampu berperan aktif, bermanfaat, dan terampil dalam kehidupan sosial. Kemudian akram, yakni pencapaian kelebihan dalam kesesuaiannya dengan makhluk terhadap Allah untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Manusia sebagai makhluk sosial diharapkan menjadi manusia yang bertanggung jawab kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dalam rangka melaksanakan tugas utama manusia sebagai khalifatullah yang harus menyembah kepada Allah (ibadatullah) dan membangun bumi (imaratul ardli) sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (halaman 138)



Tasawuf dan NKRI

Salah satu tujuan tasawuf sosial Kiai Sahal adalah mengokohkan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini secara otomatis menentang segala pemikiran dan tindakan radikal, ekstrim, dan teror yang bertentangan dengan spirit Islam yang menjunjung tinggi penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Menurut Kiai Sahal, hubungan manusia ada dua. Pertama, hubungan manusia kepada Sang Pencipta (al-khaliq) yang sifatnya eksklusif. Kedua, hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam lingkungan yang sifatnya fleksibel. Dalam konteks hubungan kedua ini, prinsip dasarnya adalah toleransi (tasamuh).

Dalam konteks interaksi sesama muslim dikenal ukhuwwah islamiyyah yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Sedangkan dalam konteks interaksi dengan non-muslim, prinsip toleransi harus dikedepankan demi kepentingan kemaslahatan umum. Dengan saling memahami satu dengan yang lain akan tercipta keteraturan umum yang dikenal dengan kedisiplinan sosial. (halaman 193)

Pemikiran besar dan gerakan transformasi Kiai Sahal menjadi oase bagi kader muda Nahdlatul Ulama sekarang dan yang akan datang. Tampaknya buku yang diterbitkan PT Elex Media Komputindo melalui lini Quanta ini layak menjadi bacaan wajib generasi penerus bangsa, agar bisa belajar banyak dari tasawuf sosial Kiai Sahal demi mengokohkan NKRI.

Selamat membaca. 

Judul buku : Tasawuf Sosial KH. MA. Sahal Mahfudz
Penulis : Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA.
Penerbit : PT Elex Media Komputindo (Quanta)
ISBN : 978-602-04-9067-0
Cetakan : I, 2019
Tebal : xvi+244 halaman

*Wakhid Syamsudin ketua umum komunitas literasi One Day One Post (ODOP)

Dimuat di website Harakatuna pada 21 Juli 2019, link: https://www.harakatuna.com/tasawuf-sosial-kiai-sahal-mahfudz-dan-nkri.html
Motor Sewaan

Motor Sewaan


Jon Koplo mengajak Lady Cempluk, istrinya, untuk mengikuti kopi darat (kopdar) sebuah komunitas daring. Kopdar dilaksanakan di Kota Malang pada akhir Juni lalu.

Keduanya naik kereta api dari Stasiun Solo Jebres ke Stasiun Malang. Sebelum berangkat, Koplo sudah order sewa motor untuk transportasi selama di Malang. Begitu sampai di kota Bumi Arema itu, keduanya menuju garasi persewaan motor yang tidak jauh dari stasiun.

Tidak berapa lama kemudian, Jon Koplo dan Lady Cempluk sudah berboncengan dengan motor matik sewaan menuju tempat kopdar. Acara berlangsung meriah dari pagi sampai siang hari. Setelah pukul 12.00 WIB, acara selesai, Jon Koplo dan Lady Cempluk berniat menghabiskan waktu sampai sore dengan berkeliling Kota Malang.

Jon Koplo menuju parkiran sepeda motor. Koplo hanya mengingat motor yang ia sewa dari stiker logo jasa layanan sewa motor yang menempel di slebor belakang motor matik tersebut. Begitu melihat motor berstiker itu, ia lekas naik ke jok motor dan mencoba memasukkan kunci kontak tapi kesulitan. “Kok kontaknya enggak bisa masuk?” demikian Koplo membatin.


Saat itulah datang seorang lelaki, sebut saja Tom Gembus, yang langsung menegurnya, “Sedang apa, Mas?”

“Oh, ini kuncinya kok enggak bisa ya, Mas?” kata Koplo sambil nyengir sungkan.

“Itu motor saya lo, Mas,” kata Gembus mengejutkan Koplo.

Blaik, rupanya Jon Koplo salah menaiki motor. Bersamaan itu, Lady Cempluk memanggilnya. “Mas, ini motor kita,” sambil menepuk jok matik tak jauh dari motor yang dinaiki Koplo.

“Oh, saya salah motor, Mas. Maaf, soalnya motor sewaan, cuma lihat stiker di slebor tadi,” kata Koplo sambil turun dari motor.

Gembus tersenyum. “Saya juga sewa motor ini, kok, Mas. Ternyata kita sewanya di tempat yang sama.”

“Maaf, ya, Mas,” kata Koplo menahan malu, lalu mendekati istrinya.

“Enggak apa-apa, Mas,” jawab Gembus sambil menahan diri tidak menertawakan Koplo yang sudah turun dari motor sewaannya.

“Mas Koplo gimana, sih? Kan warna motornya beda, bisa-bisanya salah motor,” kata Cempluk menyalahkan.

“Aku cuma lihat stikernya tadi,” kata Koplo sambil nyengir malu.

Pengirim: Wakhid Syamsudin
Sidowayah, Ngreco, Weru, Sukoharjo 57562

Dimuat di koran Solopos edisi Jumat Kliwon, 19 Juli 2019
OTM Juni 2019

OTM Juni 2019


Tersisa 7 peserta di grup OTM. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Terkirimlah 19 tulisan ke media, jadi total OTM batch 1 telah berhasil memaksa peserta mengirim hingga 187 tulisan ke media. Yang berhasil lolos bulan Juni 2019 adalah:
  1. Cerpen Ikan Harapan karya Dyah Yuukita pada rubrik Lakon di web Ngodop.com edisi Juni 2019
  2. Resensi Bangkitkan Semangat Menulis lewat Surat Cinta karya Suparto pada rubrik Pustaka di web Ngodop.com edisi Juni 2019
  3. Artikel Tips Jitu Promosikan Bukumu karya El Lisa pada rubrik Kiat di web Ngodop.com edisi Juni 2019
  4. Puisi-puisi Suara Hati karya Denik pada rubrik Bait di web Ngodop.com edisi Juni 2019
  5. Artikel Pertolongan Allah karya Eryndy pada rubrik Pengalaman Rohani majalah Hadila edisi Juni 2019
  6. Resensi Syawal Berkah dengan Berhijrah karya Wakhid Syamsudin di koran kedaulatan Rakyat edisi 2 Juni 2019
  7. Pangeran Tidur karya Rahayu Hestiningsih dimuat pada rubrik Ah Tenane di koran Solopos edisi 14 Juni 2019
  8. Resensi Buruh Migran dan Perjuangan Ber-Islam di Hong Kong karya Wakhid Syamsudin di portal Harakatuna.com pada 16 Juni 2019
  9. Kehilangan Ibu karya Wakhid Syamsudin dimuat pada rubrik Ah Tenane di koran Solopos edisi 18 Juni 2019
  10. Dikira Gula, Ternyata... karya Nindyah Widyastuti dimuat pada rubrik Ah Tenane di koran Solopos edisi 14 Juni 2019 
  11. Ketipu Sajadah karya Wakhid Syamsudin dimuat pada rubrik Ah Tenane di koran Solopos edisi 29 Juni 2019 
  12. Terjadi Sungguh-Sungguh karya Wakhid Syamsudin di koran Merapi edisi 29 Juni 2019

Penampakannya:


Pertolongan Allah karya Eryndy
Syawal Berkah dengan Berhijrah karya Wakhid Syamsudin
Buruh Migran dan Perjuangan Ber-Islam di Hong Kong karya Wakhid Syamsudin
Pangeran Tidur karya Rahayu Hestiningsih

 

Kehilangan Ibu karya Wakhid Syamsudin
Dikira Gula, Ternyata... karya Nindyah Widyastuti
Ketipu Sajadah karya Wakhid Syamsudin

TSS Wakhid