Coretan Basayev: Januari 2019
Piatu

Piatu



PARMIN bergegas berlari kecil mengejar pria paruh baya itu. Menyadari ada yang berlari ke arahnya, si pria berhenti berjalan. Pria berkopiah putih itu tertegun mendapati tubuh kurus Parmin di hadapannya. “Parmin, maafkan saya, ya,” pintanya.

Parmin hanya tertunduk saja. Pria dewasa di depannya mendengus. “Seharusnya, jatahmu tidak perlu dihentikan. Saya akan coba bicara lagi sama Bu Hajah.”

Usai menepuk bahu ringkih Parmin, ia melangkah pergi. Ada beberapa amplop berisi uang yang harus segera ia sampaikan kepada pemilik nama yang sudah dicatatnya. Parmin mengangkat wajah melihat pria yang beberapa bulan menjadi malaikatnya itu hilang di tikungan jalan kampung. Beberapa jenak, ia baru berbalik. Pulang.

Nenek yang melihatnya tampak dekil dengan baju lusuh itu lekas berseru, “Parmin, lekaslah mandi. Bapakmu hari ini mau pulang sama perempuan sundal itu. Bagaimana pun, perempuan itu kini adalah bini bapakmu.”

Parmin tidak menggubris perkataan Nenek. Ia masuk rumah reyotnya yang sungguh tidak layak huni. Perutnya lapar. Entah ada tidak yang dimasak Nenek hari ini. Ia meringis saat nasi hanya berkawan sambal yang ia dapati.

Parmin masih ingat pria paruh baya yang selalu memakai kopiah putih itu tempo hari berkata, “Parmin, maafkan saya, namamu sudah dicoret Bu Hajah. Kamu bukan piatu lagi.”

“Tapi cucuku anak yang malang, tidak bisakah Bu Hajah mengecualikan dia?” tanya Nenek.

“Amanat dari almarhum Pak Haji, amplop bulanan ini hanya untuk anak yatim atau piatu. Tidak punya ayah, atau tidak punya ibu.”

“Tapi, tidakkah kau lihat kemiskinan di gubuk reyot ini?”

“Saya akan bicara sama Bu Hajah. Meski saya yakin, nama Parmin tetap disilang.”

Lamunan Parmin terganggu suara kasar Bapak di luar. Nenek menyambut dua tamunya itu dan menyuruhnya masuk. Parmin tiba-tiba teringat Emak. Kalau saja dulu Bapak peduli pada kondisi kesehatan Emak, pasti Emak tidak secepat itu dikubur di pemakaman kampung. Tapi Bapak tidak pernah lepas dari minuman keras dan judi. Bahkan, perempuan yang dikawininya sebagai ganti Emak juga bukan perempuan baik-baik, begitu Nenek pernah bilang.

Tiba-tiba, mata Parmin menumbuk ke sebilah pisau dapur yang tergeletak di dekatnya. Terngiang kata-kata pria berkopiah putih. Dan ia merindukan status piatunya. Ia mendengus sambil menggenggam gagang itu dengan penuh gelegak.

*)Suden Basayev, Ketua Umum Komunitas Menulis One Day One Post (ODOP). Tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dimuat di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat edisi Minggu Pahing, 27 Januari 2019 (20 Jumadilawal 1952) halaman Budaya.


Rambu Pemaknaan Ulang Karya Ala Farrahnanda

Rambu Pemaknaan Ulang Karya Ala Farrahnanda


Sebenarnya ini resume dari Kelas Fiksi komunitas ODOP batch 6 pada Minggu, 23 Desember 2018 silam. Ketika itu, Aa Yoga Palwaguna menghadirkan Mbak Farrahnanda sebagai bintang tamu, sharing terkait dunia kepenulisan yang digelutinya.

Mbak Farrah adalah editor freelance di Penerbit Basabasi. Obrolan sarat ilmu ini diawali dengan pancingan Aa Yoga bahwa ia sering mengalami, ketika sedang menikmati sebuah karya, tiba-tiba mendapatkan inspirasi untuk membuat sesuatu berdasarkan karya itu. Nah, sejauh manakah itu bisa kita lakukan, agar tidak terjebak plagiat. Rambu-rambu apa aja yang mesti diperhatikan.

"Pertama-tama, mari sadari bahwa karya hanyalah seonggok teks/gambar/audio/gambar bergerak tanpa adanya pemaknaan dari pembaca/penonton/pendengar," Mbak Farrah memulai jawabannya. "Kata-kata yang aku tulis ini pun hanyalah teks tak bermakna, kalau tak ada pembaca yang berusaha memaknai maksud di balik kata-kataku ini."

Menurut pengasuh Klub Buku Yogya periode 2017-sekarang ini, orang-orang yang membuat karya itu mempunyai tanggung jawab sebatas pada karya tersebut, bukan pada pemaknaan orang lain terhadap karya mereka. "Sementara kita tahu, ratusan atau ribuan penikmat karya tersebut, pastilah terisi dari referensi yang berbeda. Misal, ketika membaca kata 'bunga', seorang anak ekonomika/bisnis bisa saja lsg membayangkan bunga (rate) dalam bentuk persentase, sedangkan anak agrikultur membayangkan sebenarnya bunga. Jadi, pemaknaan kata bunga tadi jelas tidak bisa seragam. Dengan asumsi kata tersebut tidak diawali atau diakhiri kata lain dan tidak dalam konteks tertentu."

Keragaman pemaknaan inilah yang membuat sebuah karya akan lebih hidup lagi jika mendapat respons dari pembaca/pendengar/penonton, dalam bentuk apa pun. Bisa dalam bentuk kritik, resensi, atau pembuatan karya serupa.

"Pemaknaan ulang ini bisa dalam macam-macam bentuk. Ketika menulis ulang cerita Sangkuriang dengan membuat cerita tersebut jadi relevan dengan konteks zaman, ini juga bisa disebut pemaknaan ulang," kata Mbak Farrah lebih lanjut, "Apakah ini diperbolehkan? Apakah tidak melanggar hak cipta? Lalu, apa bedanya dengan plagiat?"

Penulis buku Partitur Dua Musim terbitan DeTeens ini menyampaikan bahwa ada banyak pendapat tentang plagiarisme dalam berkarya. Menurutnya, plagiat hanya bisa distempel ke sebuah karya ketika tidak ada usaha untuk melakukan pemaknaan ulang atas karya tersebut. "Misal, jelas-jelas copy-paste sama persis. atau hanya mengubah susunan adegan tapi inti cerita tidak ada yg berubah. Inilah plagiat," tandasnya.

Mbak Farrah menegaskan memang tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini. Secara sadar atau tidak sadar, kita pasti pernah melakukan repetisi atau pengulangan atas karya lain, apalagi yang jelas cukup memukau bagi kita. "Ini sebetulnya beda bahasan, tapi karena relevan, bisa kuambil sebagai contoh. misal: Life of Pi pun konon terinspirasi cerita dari penulis lain yang justru kalah pamor dari Life of Pi. Garis besar kedua cerita tersebut mirip, tidak disebutkan sebagai karya plagiat tapi kita tahu kalau referensi Life of Pi adalah karya tersebut," jelasnya panjang-lebar.

Kasus semacam ini masih dalam perdebatan. Menurut Mbak Farrah, ketika kita meminjam cerita seperti ini kemudian mengganti nama tokoh dan latar tanpa ada usaha pemaknaan ulang, ini yang tidak bisa dibenarkan.

Setuju tidak setuju, beberapa karya baik mempunyai kecenderungan utk memantik respons penonton/pembaca/pendengarnya. Tapi karya yang tidak menginspirasi pun belum tentu itu tidak baik, bisa aja saking baiknya suatu karya satu-satunya cara meresponsnya adalah dengan membiarkan karya tersebut sebagai apa adanya.

"Pokoknya begini saja," ia menyimpulkan. "Selama yang dibuat merupakan hasil pemaknaan ulang, karya tersebut jelas bukan plagiat. Ranah selain itu masih diperdebatkan."

Penjelasan yang cukup mencerahkan. Ilmu yang dibagikan Mbak Farrah sangat bermanfaat. Sukses selalu, ya, Mbak. Semoga semangat Mbak pun menjadi inspirasi bagi siapa saja. Bagi teman-teman yang ingin kenal Mbak Farrahnanda lebih dekat bisa kepoin Twitter dan Instagram-nya, @farrahnanda. Atau kulik saja blognya, http://farrahnanda.blogspot.com. Kalau mau belajar menulis dengan membaca karyanya, teman-teman bisa baca buku-buku Mbak Farrah yang sudah terbit: Alles Liebe (DeTeens, 2013), Beautiful Nightmares (DeTeens, 2013), Perfection (Ice Cube, 2015), dan yang terbaru Konstelasi dan Cerita-Cerita Lain (Basabasi, September 2018). Siapa tahu, bisa mengikuti jejaknya.
Inilah 6 Fakta GA Dymar Mahafa

Inilah 6 Fakta GA Dymar Mahafa



Saya jarang ikut event give away berhadiah buku atau apapun di dunia maya. Pernah beberapa kali tapi tidak bernasib mujur. Tapi kali ini saya berhasil menang give away ala Mbak Dymar Mahafa. Senior saya di komunitas ODOP ini baru saja launching novel perdananya, berjudul R.I.P. Dan berikut fakta-fakta mengejutkan terkait kemenangan saya di GA kali ini:

1. Menang GA setelah beli novelnya.

Sebelum ikut give away ini, saya sudah memesan novel Mbak Dymar Mahafa yang berjudul R.I.P yang juga menjadi hadiah yang dijanjikan GA-nya. Tapi tidak mengapa, sih, wong niatnya juga mau meramaikan saja. Menang syukur, tidak menang nasib.

2. Ternyata semua peserta dapat hadiah.

Ini jarang terjadi. Sangat mengejutkan, ternyata Mbak Dymar berbaik hati memberikan hadiah kepada seluruh peserta GA. Iya, semua peserta GA! Termasuk saya.

3. Hadiah dikirim barengan sama pesanan saya.

Mbak Dymar mengirimkan novel hadiah GA dalam satu paket dengan novel yang saya pesan. Jadinya, saya punya 2 eksemplar R.I.P. Keren memang!

4. Saya salah buka segel bukunya.

Ketika saya memesan novel ini, Mbak Dymar pernah bertanya, apakah novel mau dikirim dengan segel utuh atau perlu ditandatangani penulis. Saya minta untuk dikasih tanda tangan.

Saat duo novel tiba, satu novel dibungkus sendiri sebelum dibungkus jadi satu dengan novel hadiah plus binder, pulpen, dan stiker. Nah, pas datang saya langsung buka segel novel yang tidak dibungkus terpisah. Baca kata pengantar dan prolog, eh teringat soal tanda tangan. Ternyata saya buka segel novel yang tidak bertanda tangan! Akhirnya saya buka segel novel yang satu lagi, dan membungkus ulang novel yang salah buka dengan segel plastik sebisanya dengan bantuan solatip.

5. Novel hadiah GA akan saya hadiahkan.

Fakta fiksi, saya akan memberikan novel hadiah GA ini agar dibaca orang lain. Tapi siapakah yang akan mendapatkannya? Tentu salah satu anggota ODOP.

6. Ternyata yang ikut GA ...

Fakta terakhir yang paling mengejutkan adalah, bahwa yang ikut GA Mbak Dymar hanya 2 orang! Padahal Mbak Dym menjanjikan hadiah buat 3 orang beruntung!

Itulah fakta-fakta mengejutkan terkait GA yang saya menangkan. Saya juga mau mengucapkan terima kasih sekali lagi buat Mbak Dymar atas hadiahnya. Dan sumpah, novelnya keren banget! Menurut saya, layak terbit mayor! Meski Mbak Dym memilih menerbitkannya secara indie.

Sukses terus ya, Mbak Dymar Mahafa. Terimalah salam dari juniormu ini.

Inspirasi Seorang Hiday Nur

Inspirasi Seorang Hiday Nur

Sumber foto https://widhyanua.com/2018/03/05/kopdar-odop/

Kali pertama berjumpa dengan Mbak Hiday adalah saat kopdar akbar perdana komunitas One Day One Post di Griya Langen Jogja. Ibunda dari Kazumi ini adalah salah satu sesepuh komunitas ODOP, sebagai penasihat. Ya, pastilah senior banget. Menurut pengakuannya, Mbak Hiday gabung ODOP pada Februari 2016. Generasi awal-awalnya komunitas ini terbentuk.

Dalam kesempatan berbicara di acara kopdar tersebut, Mbak Hiday banyak berkisah tentang perjalanan menulisnya yang tidak lepas dari keterlibatan dalam komunitas ODOP. Ia menyampaikan rasa terima kasih pada Bang Syaiha selaku pendiri, yang banyak memberikan motivasi pada teman-teman penulis pemula yang berusaha konsisten. Lebih jauh, Mbak Hiday berharap ODOP ke depannya bisa banyak berkontribusi positif bagi dunia literasi tanah air.

Mbak Hiday sekeluarga tampaknya ada agenda lain, hingga harus pamit undur duluan sebelum semua acara kopdar terlaksana. Itu saja yang saya ingat dari pertemuan dengan pemilik blog hidaynur.web.id ini di Langenastran. Tapi cukup bisa menarik kesimpulan, bahwa Mbak Hiday memang bukan orang sembarangan di dunia persilatan tinta.

Mbak Hiday ini adalah salah satu penerima beasiswa S2 Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LDPD) RI, yang kisah serunya ada di buku Awardee Stories terbitan Gramedia Pustaka Utama. Di mana pada buku itu, Mbak Hiday menulis bersama teman-teman awardee LDPD seangkatan yang sekarang study di Melbourn-Aussy, Oxford-UK, Wellington-New Zealand, dan Waterloo-Canada. Luar biasa ya, saya merasa butiran debu nih! Serius!



Dalam sebuah tulisan di blog pribadi Mbak Dymar Mahafa, senior juga di ODOP, ia menyebut Mbak Hiday adalah sosok emansipatif. Berbicara emansipatif tentu merujuk pada pengertian emansipasi yang merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha mendapatkan kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan, atau menepiskan perbedaan gender dalam segala aspek politik dan sosial kemasyarakatan.

Kalau di Indonesia, emansipasi akan terkait langsung dengan sosok RA Kartini. Pelopor kesetaraan gender yang berjuang dengan sarana literasi. RA Kartini yang banyak membaca surat kabar Semarang de Locomotife asuhan Pieter Brooshooft, dan juga menerima paket majalah yang diedarkan di toko buku kepada langganan (lestrommel). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga termasuk majalah wanita Belanda de Hollandsche Lelie. Bahkan Kartini sering mengirim tulisan dan dimuat di sana. Artinya apa? Bahwa wanita dan literasi sangat identik dengan emansipasi itu sendiri.

Saya melihat Mbak Hiday ini adalah pegiat literasi, sangat haus ilmu dan tidak pelit membagikannya pada siapa pun. Sangat sering ia memancing obrolan-obrolan tentang literasi di grup WhatsApp Keluarga Besar ODOP (KBO), agar tidak hanya penuh chat di luar jalur kepenulisan. Dari sini bisa saya simpulkan, Mbak Hiday memang sosok edukatif, inspiratif, dan bolehlah kita amini Mbak Dymar, yang menyebutnya emansipatif.

Mengenai kegusaran Mbak Hiday dengan banyaknya obrolan unfaedah di grup KBO, saya sempat merasa kena semprit juga karena segala dosa saya di grup KBO. Beberapa dosa yang telah saya perbuat di antaranya, nanya Sovia mandi belum, godain Nisa dengan panggilan Isnaini, atau pura-pura manggil Pak Guru Dwi Septiyana dengan mbak. Yang soal 'nanya mandi' itu pernah disindir serius oleh Mbak Hiday dan Uncle Ik. Ya sudah, saya akhirnya insyaf dari dosa-dosa itu, dan mulai membatasi diri ngobrol di grup KBO terutama yang out of topic. Hehe, ini beneran lho!

Dalam tulisan lain, Pak Suparto, sesepuh ODOP lainnya, bahkan menyebut wanita kelahiran Tuban, Jawa Timur ini sebagai ensiklopedi berjalan. Tidak berlebihan, karena kalau di grup KBO ada yang bertanya terkait dunia kepenulisan, Mbak Hiday dengan cemerlang akan menjawabnya.

Kontributor rubrik Sejarah Peradaban Islam di Majalah Al-Uswah Tuban ini, belakangan juga sedang merintis taman bacaan bernama Sanggar Caraka dan menggagas aneka kegiatan literasi di sana. Sukseslah untuk proyek luar biasa ini, Mbak!

Mbak Hiday juga mengagas NAC, Nulis Aja Community, komunitas anakan dari ODOP yang menampung anggota yang bermimpi pengin nulis buku solo, baik fiksi maupun nonfiksi. Hasil dari usaha Mbak Hiday dkk ngopyak-opyak peserta agar tidak lupa menulis, membuahkan hasil. Beberapa peserta sukses menelorkan buku solonya. Ada novel dan kumpulan puisi juga. Pokoknya, peran Mbak Hiday tidak bisa dianggap remeh. Saya juga menuntaskan Samara Kasih di NAC, meski belum saya terbitkan. Hihihi.

Apa lagi ya? Cukup itu kali ya, yang bisa saya tulis. Yang pasti, kenal dengan Mbak Hiday, baik maya atau nyata, tidak bakalan rugi. Sebaliknya, akan termotivasi untuk menjadi yang lebih baik lagi. Silakan berkenalan sendiri dengan Mbak Hiday, di facebook Hiday Nur, atau instagramnya, @hiday_nur_r atau @sanggarcaraka. Blog-nya juga layak dikulik. Semangat terus, ya, Mbak Hiday!
Uang Parkir

Uang Parkir


Jon Koplo dan istrinya, Lady Cempluk, baru saja selesai membayar belanja baju di salah satu toko pakaian di kawasan barat Alun-alun Sukoharjo. Uang Koplo tinggal Rp22.000, niatnya yang Rp2.000 untuk bayar parkir dan yang Rp20.000 mau buat beli es bersama sang istri. Begitu keduanya naik motor, Tom Gembus, si tukang parkir mendekat.

Koplo lekas merogoh saku baju dan menyerahkan uang parkir.

Gembus menerima uang itu dan segera mendekati temannya yang juga tukang parkir, untuk menukar uang  Koplo. Sementara Koplo dan Cempluk sudah tancap gas meninggalkan halaman toko.

“Mas, kembaliannya beluuum!” Gembus mencoba memanggil tapi rupanya tidak terdengar.

Tom Gembus geleng-geleng kepala. Dipandanginya uang Rp20.000-an milik Jon Koplo yang belum sempat ditukarkannya.

Sementara sesuai rencana, Jon Koplo mampir beli es di salah satu lapak pedagang kaki lima tidak jauh dari alun-alun. Di tengah menikmati es, Koplo merogoh sisa uangnya di saku baju dan terkejut saat yang ia jumpai uang Rp2.000-an saja!

“Dik, jebul uang yang kuberikan ke tukang parkir tadi yang dua puluhan,” kata Koplo agak panik.

Wadhuh, lha sampeyan bawa uang lain nggak, Mas?” tanya Cempluk was-was, malu kalau sampai tidak ada uang buat bayar es.

Nggak bawa, Dik. Sisa ini tadi, habis bayar baju,” kata Koplo mulai lemas.

“Kalau begitu, sampeyan balik ke parkiran tadi saja, minta baik-baik pada tukang parkirnya. Kita kan sering belanja di sana, saya yakin kembaliannya bisa diminta,” saran Cempluk.



Akhirnya dengan meninggalkan Cempluk di warung es, Koplo kembali ke parkiran tadi. Dengan malu-malu menemui Gembus. Untung Gembus masih mengenalinya dan segera menyerahkan uang kembalian. “Tadi sudah saya panggil, njenengan bablas saja, Mas. Ini kembalian parkirnya,” kata Gembus sambil tersenyum. Koplo menerima uang kembalian itu dengan wajah merah kisinan.

Wakhid  Syamsudin
(bungaduasatu@gmail.com)

Dimuat di harian Solopos edisi Sabtu Pahing, 12 Januari 2019

Taraf Olah Basa Perangkat Desa

Taraf Olah Basa Perangkat Desa


Pesta demokrasi tiap enam tahun sekali, yang kali kesekian, berupa pemilihan kepala desa serentak di Kabupaten Sukoharjo sukses digelar pada 11 Desember 2018 lalu.

Sebanyak 125 kepala desa masa jabatan 2018-2024 resmi dilantik di Pendapa Graha Satya Praja di kompleks Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Sukoharjo pada Rabu (26/12/2018) oleh Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya.

Sebagian petahana berhasil mempertahankan jabatan. Wajah baru juga banyak muncul dari hasil pemilihan kepala desa kali ini, bahkan cukup banyak kaum muda yang berani tampil memberi warna baru dalam pemerintahan tingkat desa ini.

Beberapa hari belakangan saya berkesempatan hadir dalam beberapa acara warga seperti hajatan pengantin (temanten), kematian (kesripahan), pertemuan (pepanggihan), bahkan pengajian (pengaosan) yang pada titi laksana adicara menampilkan atur waluyan atau pambagya harja juga atur pasrah wosing gati serta panampi.

Dalam semua kesempatan itu pelaksananya adalah para tokoh terhormat di desa, khususnya para pamong desa atau perangkat desa seperti kepala desa (lurah), sekretaris desa (carik), dan kepala dusun (bayan). Kebetulan beberapa perangkat desa yang baru dilantik ternyata tidak serta-merta memiliki kemampuan olah basa Jawa yang mumpuni untuk membawakan atur pangandikan seperti tersebut di atas.

Menjadi pamong di wilayah perdesaan selain memikul kewajiban administratif sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa juga harus memiliki kemampuan olah basa Jawa. Kemampuan ini adalah hal yang tidak bisa dihindari.

Segala atur pangandikan dalam acara warga biasa dipasrahkan kepada perangkat desa sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan. Kewajiban perangkat desa, khususnya kepala desa, menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 26 ayat (4) ada beberapa hal yang berkaitan dengan kemasyarakatan.

Selain kewajiban meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, memelihara ketenteraman dan ketertiban, juga disebut kewajiban membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat desa.

Nilai sosial budaya yang adiluhung seperti pelestarian olah basa Jawa merupakan bagian dari pelestarian budaya Jawa secara keseluruhan sebagai sumber kearifan dalam kehidupan bermasyarakat dan mencerminkan identitas lokal masyarakat Jawa, khususnya di perdesaan.

Kehadiran perangkat desa sebagai bagian dari pelestarian budaya Jawa akan membuat semakin banyak orang mengenal dan mendengar bahasa Jawa di ranah publik yang tentu menjadikan bahasa Jawa kian kukuh sebagai cermin budaya bangsa yang ikut membesarkan bangsa Indonesia.

Untuk mewujudkan semua itu, perangkat desa dituntut dapat melafalkan dengan benar kata-kata bahasa Jawa krama inggil. Mereka juga diwajibkan mampu mengendalikan suara agar tetap menarik dan tidak menjemukan. Selain suara, napas juga harus dikendalikan secara teratur.


Beberapa syarat yang biasa menjadi dasar bagi pelaku olah basa agar mampu melaksanakan tugas di antaranya harus memiliki kemampuan olah swara (teknik vokal) dan olah raga yang berhubungan dengan sikap, solah bawa, kesusilaan, dan subasita.

Dilatih dan Dipelajari

Memang bukan hal mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil, karena kemampuan ini bisa dilatih dan dipelajari. Sebagian perangkat desa baru biasanya memilih belajar dari dwija (guru) yang bisa melatih keterampilan olah basa, selain juga bisa belajar secara autodidak melalui buku-buku tuladha yang banyak dicetak dan terbit untuk umum.

Semakin banyak berlatih dan memperkaya kosakata akan semakin baik karena salah satu keunikan bahasa Jawa terletak pada kekayaan kosakata. Bahasa Jawa punya lebih banyak kosakata dibanding bahasa Indonesia.

Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Dhanang Respati Puguh, mengatakan terkait keunikan bahasa Jawa kekayaan kosakata paling tidak ditunjukkan dengan adanya tingkatan dalam bahasa Jawa.

Itu adalah salah satu bukti bahwa kosakata bahasa Jawa lebih kaya. Tingkatan bahasa Jawa itu adalah ngoko, krama, dan krama inggil. Yang dimaksud dengan ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan leksikon krama atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama adalah leksikon krama, bukan leksikon yang lain.

Afiks yang muncul dalam ragam ini pun semuanya berbentuk krama (misalnya, afiks dipun-, -ipun, dan -aken). Ragam krama mempunyai tiga bentuk varian, yaitu krama lugu, krama andhap, dan krama alus (Sasangka  2004:104).

Kalau kita mengkaji kebudayaan Jawa jelas sangat kaya dan sudah sepatutnya kita melestarikan kebudayaan ini. Bagi perangkat desa ini memang menjadi tuntutan kemasyarakatan di perdesaan.

Selain kemampuan melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan dan menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik, kemampuan olah basa Jawa merupakan sebuah keniscayaan bagi perangkat desa, setidaknya di kawasan Soloraya ini.

Wakhid Syamsudin (bungaduasatu@gmail.com)
Pengurus Karang Taruna Kridha Muda di Sidowayah, Ngreco, Weru, Sukoharjo


*Dimuat di harian Solopos edisi Sabtu Kliwon, 5 Januari 2019 pada rubrik Gagasan.