Coretan Basayev: September 2018
Dih, Kerennya The Perfect Husband

Dih, Kerennya The Perfect Husband



Sebelum saya menonton film ini, pernah sih baca-baca obrolan teman-teman ODOP yang ngomongin novel berjudul The Perfect Husband, yang konon bermuasal dari tulisan Indah Riyana di Wattpad. Waktu itu saya sempat pengin juga baca novelnya, tapi belum kesampaian. Bukan masalah belum punya duit buat beli novelnya sih, tapi disebabkan belum adanya teman yang bisa saya pinjami. Tapi sudahlah, saya memang belum bernasib mujur memegang novel yang bersangkutan.

Saya malah berkesempatan menonton film yang diangkat dari novel itu, judulnya sama. Bukan di bioskop juga, tapi di Iflix, mumpung ada kuota. Dan apa jadinya setelah saya menontonnya? Saya terkesima. Saya terhibur, terharu, sedih, ikut jengkel, dan termotivasi jadi seorang ayah yang baik. Ayah? Bukan suami? Husband artinya suami lho! Iya, tapi saya termotivasi jadi ayah yang baik, nggak boleh?

Film ini mengisahkan tentang Ayla, yang diperankan oleh si cantik Amanda Rawles, seorang ABG kelas 3 SMA, yang sedang seru-serunya menikmati masa remaja. Ayla ini punya kekasih bernama Ando, seorang vokalis band rock, yang diperankan Maxime Bouttier. Tanpa bertele-tele, cerita langsung masuk pada sebuah kejutan yang tidak menyenangkan bagi Ayla ketika muncul seorang pilot muda bernama Arsen, yang mengaku sebagai calon suaminya. Arsen diperankan dengan baik dan sempurna oleh Dimas Anggara.


Ayla bertambah kesal setelah tahu, Tio, ayahnya, sengaja hendak menjodohkannya dengan Arsen. Ayah Ayla yang dipercayakan pada Slamet Rahardjo sebagai pemerannya, tidak menyukai Ando yang dinilai urakan, tatoan, dan tak punya masa depan, meskipun tajir. Arsen sendiri kebalikan dari Ando, dia seorang pilot muda bermasa depan cerah, dan calon suami sempurna bagi Ayla.



Film ini menampilkan segala usaha keras Ayla untuk menggagalkan perjodohan ini. tapi di luar dugaan Ayla, Arsen ternyata tidak mudah menyerah. Arsen tetap sabar dengan usahanya mendekati Ayla, bahkan meski ibundanya tidak menyukai gadis itu. Kisah berjalan lancar diselingi humor-humor ringan tapi segar, khas film layar lebarlah!

Meski secara ending sudah bisa ditebak siapa pun, bahwa keduanya akhirnya menikah (spoiler, ya?), tapi proses menuju itulah yang sangat keren di sini. Bagaimana seorang ayah, Tio merasa wajib mencarikan suami sempurna untuk Ayla, tapi sang anak tidak mau karena memang masih SMA! Belum lagi segala kesabaran Arsen yang kadang memang tidak masuk logika. Semua diramu dengan baik oleh Rudy Aryanto sebagai sutradara.

Film yang diproduksi Screenplay kali ini bukan sekadar kisah cinta-cintaan nan alay, tapi lebih dari itu, nilai edukasi dalam keluarga cukup menjadi sorotan, terutama usaha keras seorang Tio untuk menjadi ayah yang baik. Sifat Ayla yang meski urakan dan super menjengkelkan, tapi pada dasarnya sangat hormat pada orangtua, juga memiliki nilai edukasi tersendiri di zaman sekarang yang makin langkanya sopan-santun pada generasi muda. Jujur, saya sempat terharu sampai mau menitikkan airmata, tapi berhasil saya tahan kok!

Secara keseluruhan, saya terkesima dengan film ini. Kisah seru yang didukung akting yang sempurna. Ide cerita Indah Riyana yang kuno, bertema perjodohan, ternyata bisa sekeren ini. Yang jelas, setelah menonton film ini, saya benar-benar termotivasi untuk jadi ayah yang baik. Iya, ayah yang baik. Terima kasih, Iflix, Screenplay, dan semua saja yang terlibat dalam pembuatan film ini. Semoga kedepan makin banyak novel dan film bermutu lahir dari penulis dan sineas muda tanah air. Semangat!

"Mencintaimu itu bagaikan terbang mengendarai pesawat terbang. Memiliki tanggung jawab yang besar dengan tingkat resiko yang sangat tinggi."
Imelda Saputra: Jadi Penulis Itu Bukan Bakat, Tapi Latihan!

Imelda Saputra: Jadi Penulis Itu Bukan Bakat, Tapi Latihan!



Pada hari Rabu, 19 September 2018 dimulai pukul 20.00 WIB, ada tamu spesial pada acara Bincang Penulis #2 di WhatsApp Grup Komunitas One Day One Post, yakni kehadiran Mbak Imelda Saputra. Dia adalah penulis yang sudah menerbitkan belasan buku motivasi, dan tentunya banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perbincangan dengannya.

"Saya mulai menulis dari tahun 2005," katanya memulai. Penulis kelahiran 20 Desember 1984 ini mengakui, memang karyanya lebih banyak berupa buku motivasi atau inspirasi. "Royalti atau honornya cukuplah, bisa bantu orangtua cicil mobil, renovasi rumah, bahkan jalan-jalan ke luar kota bahkan luar negeri."

Mbak Imelda sengaja mengungkapkan benefit menulisnya agar peserta jadi semangat dalam menulis. "Asal bisa bikin buku bagus dan bermutu, pasti dampaknya oke," katanya.

Penulis My Unforgettable Experience,  Sejuta Warna, Inspirasi 5 Menit, dan deretan buku motivasi lainnya ini mengungkapkan bahwa menulis itu tidak perlu bakat, tidak musti punya bakat dulu. "Di keluarga saya cuma saya yang jadi penulis. Tidak ada keturunan penulis. Intinya adalah latihan setiap hari. Percuma kalau punya bakat tapi tidak dilatih. Sebaliknya, tanpa bakat tapi disiplin komitmen mau terus belajar, pada akhirnya pasti bisa."

Mbak Imelda kemudian memberikan contoh saat mau menulis artikel inspirasi. "Mulai dengan ilustrasi, bisa dengan dongeng, kisah sukses, kisah inspirasi, hasil penelitian, dan lain-lain. Memulai dengan ilustrasi akan membuat tulisan jadi lebih kuat."

Setelah ilustrasi, jelasnya, dapat menentukan tema mau dibawa kemana. "Saya banyak nulis juga tentang market place jadi saya giring ke habit, bahas tentang uang, sikap perilaku, dan lain-lain. Paragraf ketiga aplikasi, dan akhiri penutupnya dengan quote yang menarik."

Untuk pemilihan judul juga harus menarik dan bikin penasaran baca sampai akhir. Untuk ilustrasi, hindari yang sudah terlalu sering orang pakai kayak cerita KFC, Michael Jordan, Thomas Alva Edison. "Kecuali kita mau bahas yang berbeda, misal bukan tentang kegagalan, tapi tentang hidup mereka dari sisi yang lain."

Mbak Imelda juga mengingatkan agar penulis memperhatikan ejaan dan jangan sampai salah ketik, penulisan huruf besar mesti sesuai kaidah. "Banyak baca dari koran, buku, atau internet. Dengarkan radio. Perlu juga ikuti seminar biar wawasan bertambah. Semakin banyak input maka semakin banyak pula outputnya," sarannya.

Saat ditanya spesialisasinya menulis motivasi dan inspirasi, Mbak Imelda mengatakan bahwa setiap orang punya titik kuat dan nilai plus yang mungkin orang lain tidak bisa, dan di dunia penulisan motivasi itulah dia merasa harus mendalami dan tidak minat melirik yang lain. "Sukanya apa? Kalau menulis itu bisa mengalir dengan mudah, tekuni saja," katanya.

Banyak sekali pelajaran motivasi dari obrolan bersama Mbak Imelda. Ketekunan, keseriusan, disiplin, semangat yang kuat, sangat diperlukan bagi para calon penulis. Sekali lagi, singkirkan pikiran bahwa bakat menjadi penentu. Latihan dan terus latihan itu kuncinya. Jangan mudah patah semangat!

Terima kasih Mbak Imelda, atas sharing-nya yang sangat bermanfaat. Sukses selalu, ya!



Kisahku dengan Seorang Wanita Cantik 3

Kisahku dengan Seorang Wanita Cantik 3


Baru bisa melanjutkan kisah ini. Sebagaimana sudah kutulis di postingan sebelumnya, bagian satu di sini, bagian dua di sini.

Sampailah pada cerita si nomor WhatsApp berfoto profil wanita cantik yang mengaku sudah transfer untuk daftar agen pulsa dan mengirim struk transfer palsu itu kusarankan komplain ke pemilik BRILink.

Dia pun mengirim sebuah bukti baru yang membuatku terharu. Ini penampakannya, sebuah print out mutasi dari BRILink.


Sambil dia ketik, "itu yang ada lingkaran itu mutasi ya mad.. kita kenak biaya 7000 jadi transfer ya 807.000, jadi minta tolong di bantu mas"

Kebetulan aku belum sempat membalas, dia yang tidak sabaran mengirim chat berkali-kali: "ini udah bulak balik mas, gimana mas, udah di proses belum saldo yang buat transaksi ini mad"

Lucunya lagi, aku belum mengiriminya format transaksi pulsa, eh dia sudah komplain dengan bilang, "ini saya buat cek saldo aja gak bisa mas"

Baiklah, kita teliti struk yang dikirimkannya. Kalau sudah tidak asing dengan dunia transfer dan mutasi bank, pasti bisa mengoreksi sendiri. Dia bilang transfer 800 ribu dan kena biaya antar bank 7 ribu. Yang lucu dan tidak usah ditertawakan, dia menjadikan satu jumlah transfer dan biaya yang dikenakan. Seharusnya di mutasi itu tetap terpisah, tidak gabung jadi 807 ribu begitu. Belum lagi tanggalnya seharusnya 5 September, bukan 4 September. Ah, sudahlah ....

Biar agak santai, kubalas dulu chat-nya, ya. Kuketik, "Sebentar, saya cek mutasi loading melulu. Sinyal internet lagi gak stabil."

Dia balas, "iya begini lo mas biar sama enk ya saya capek.kesana kesini mas, jadi minta tolong mas.biar saya gak malu sama atasan admin saya mas.."

Dan kasihannya dia mengiba, "itu uang kas mas." Ditambah ngemis-ngemis, "ya minta tolong isi berapa dulu mas biar saya malu..."

Belum lagi kubalas, sudah tidak sabar dia, "mas...aku ini buat maen" ta mas.. cek saldo aja lo gak bisa mas"

Dan, dia menelepon saudara-saudara! Tapi aku malas mengangkatnya. Dia protes, "kenapa gak mau angakat tlpn saya mas.. mas.. jangan maen kabur"aja mas.. kenapa gak mau angkat tlpn ya spv ku mas, gimana mas.., yang seportif enjih mad, jenengan sanjang info di brilink, udah di brilink ada bukti mutasi jenengan ko boten ngerespon."

Kasihan, kubalas segera, "Di mutasi belum masuk."

"Kalau di mutasi bca belum masuk tapi di bri ko udah ada.. mas jadi skarang saya minta hak saya mas, mas..ini gimana.."

"Kalau transferan sdh masuk, pasti saya kirim saldonya. Tenang saja," tulisku menenangkannya.

Tapi dia tetap ngeyel, "iya gimana lo mas.. saya castamer mas.. jadi saya bisa komplain ke mas la.."

"Kalau BCA blm masuk, berarti komplain ke CS BRI, biar dicek transaksinya," balasku.

"Ya tuhan mas jangan gitu...nanti saya usaha ke bank tpi bank udah bilang udah masuk tapi dalam proses..nanti mas juga gak mau isi.. jadi tolong mas.. kalau mas mau isi separo saya sekarang ke. bank biar saya di izinin sama superveser saya mas."

Akhirnya, aku bersikap tanggung jawab dengan membalas untuk menemuinya di tempat kerjanya, "Atau gini aja, jam istirahate jenengan jam brp. Ntar saya ke puskesmas."

"mas kesini terserah kalau mas ada apa" saya gak nanggung jawab lo.." Bahasanya kayak mengancam begini. "Iya mas kalau gak percaya mas kesini aja.. soalnya ini udah mau lapor polisi.."

Lapor polisi? Takuuttt ...! Pura-pura panik ah, "Ya udah nanti jam 12 saya ke situ. Sabar jangan ke polisi dulu."

"kalau saya udah kuat mas ada bukti transferan sama mutasi saya..sebentar ya mas.."

Kayaknya dia belum jadi lapor polisi, malah lapor ke BRI. "ini suami saya udah di bank. ngprin buku tabungan ya mas, sekalian tangak ke bank ya.."

"Oke, biar suaminya nanya dulu ke bank nya," balasku.

"udah di bank tingal nomer giliranya aja.."

Hm ... ternyata masih gigih juga dia. Kayaknya musti bersambung lagi, nunggu si suami dipanggil teller BRI. Kita beri dia waktu untuk mengirimkan bukti baru apa lagi.

Bersambung, Saudaraku!
Salah Gawang

Salah Gawang


Kisah memalukan tapi seru dan ngguyokke ini dialami Mbah Jon Koplo saat ikut lomba tujuhbelasan di kampungnya, di daerah Sukoharjo, Agustus lalu.

Salah satu lomba yang diadakan adalah sepakbola pakai daster. Mbah Koplo yang sama sekali tidak hobi bola, turut serta meramaikan dengan bergabung di tim bapak-bapak.

Pertandingan berjalan lancar penuh gelak tawa karena lucunya aksi para pemain bola yang kebanyakan asal tendang saja. Mbah Koplo beberapa kali terjatuh saat mengejar bola, tapi semangatnya tidak pernah patah.

Setengah permainan, tim bertukar gawang. Saat itulah, kejadian lucu ini terjadi. Mbah Koplo yang tiba-tiba berhasil mendapatkan bola langsung menendang sekuat tenaga. "Gooolll...!" seru Mbah Koplo saat bola yang ditendangnya masuk ke gawang.

Tapi kegembiraan Mbah Koplo disambut tawa terpingkal-pingkal seluruh penonton. Anggota tim Mbah Koplo malah terlihat kecewa. "Mbah, ini gol bunuh diri!' Tom Gembus, kiper satu tim dengan Mbah Koplo, yang sempat kaget dengan tendangan bola Mbah Koplo sedikit kesal juga.


"Lho, kok kowe njaga gawange mungsuh?" protes Mbah koplo belum paham.

"Kita pindah gawang, Mbah! Ini gawang kita!" seru Gembus.

Mbah Koplo terkejut juga. "Laah... Kok ora omong-omong nek pindah gawang! Payah!"

Penonton kembali tertawa melihat tingkah Mbah Koplo yang tidak mau disalahkan. Meski kecewa dengan gol Mbah Koplo, tapi tim tetap ikut geli juga. Memang kalah atau menang tidak begitu penting, yang penting kebersamaan dan guyub rukun sesama warga kampung.

Sabtiyaningsih
Sidowayah RT 001/RW 006, Ngreco, Weru, Sukoharjo

Dimuat di harian Solopos edisi Kamis Legi, 13 September 2018 pada rubrik Ah... Tenane.

 


Alhamdulillah, tulisan saya lolos lagi di koran Solopos. Sebenarnya ini saya kirim bulan Agustus 2018, beberapa hari setelah dimuatnya Bendera Penjajah. Selama ini, saya mengamati, bahwa nama yang sama dalam rentang waktu berdekatan tidak akan dimuat di rubrik yang sama, maka saya pakai nama istri saya. Trik lama sih, tapi jitu juga, meski September baru dimuat.

Lumayan, bisa buat jajan bakso. Hehehe. Semangat nulis teruuss!
Kisahku dengan Seorang Wanita Cantik 2

Kisahku dengan Seorang Wanita Cantik 2



Pagi yang indah di hari Rabu, hari kelima bulan September 2018. Sebelum berangkat kerja, aku bilang ke istri tercinta tentang nomor baru yang mengirim pesan WhatsApp semalam. Yang kutulis pada postingan sebelumnya. Klik di sini.

"Nggak kenal, Yah," kata istriku.

"Kita tunggu saja, kalau dia mau transfer duluan, kita kasih saldo," kataku.

"Hati-hati lho, Yah. Mencurigakan, cantik lagi," katanya dengan nada penuh selidik.

Sesampainya di tempat kerja, saat aku buka WhatsApp, terlihat ada pesan baru dari nomor berfoto profil wanita cantik semalam. Pukul 08:35 WIB. "saget nyuwun brosur mas"

Bersamaan ia mengirim sebuah foto bukti transfer. Ini penampakan fotonya:



"niku barusan kulo transfer"
"pripun niki saget gawe isi pulsa listrik"
"bisa buat al oprator pengisian pulsA ya mas"

"Bisa utk pulsa listrik dan pulsa biasa," jawabku.

"untuk caranya isi pulsa listrik gimana bisa tdk. caranya gimana mas"

"Nanti brosur tak antar ke puskesmas aja gimana?" tawarku.

Aku lekas melihat bukti transfer yang dia kirimkan. Aku sudah terbiasa melihat struk seperti itu, dan cukup jeli untuk langsung memfonis bahwa itu struk palsu alias editan. Untuk memastikan kucek mutasi rekeningku. Tidak ada transferan masuk.

Kejanggalan struk yang langsung bisa kulihat adalah, penulisan angka 0, jelas itu beda-beda. Logikanya dalam satu struk pasti jenis font-nya sama. Kan lucu, angka 0 ada semacam garis di tengahnya, tapi yang diedit 0-nya oval sempurna dengan tengah bolong.

Kejanggalan kedua, jelas-jelas itu struk kertas dalam posisi melengkung, tapi pada nomor rekening, nama, dan nominal transfernya terketik lurus. Ini editan yang tidak sempurna!

Saat aku kembali ke obrolan WhatsApp, nomor baru itu sudah memberondong chat:

"iya udah la tapi ini gimana saldo ya udah di isi belum soalnya temen" udah nanyak in mas"
"brosur ya biar nanti nanti tak ambil jam istirahat aja.."
"mas pripun"
"udah isi saldo ya belum mas.."

Kubalas, "Sabar ya, ini lagi di jalan."

"di jalan ko onlain.."

"Sambil buka wa ini," tulisku.

"iya terus saldo ku gimana mas"
"bisa kan sambil isi saldo ya.."

Benar-benar tidak sabaran rupanya. Dia menelepon WhatsApp. Kuangkat tapi tidak bersuara. Tapi setelah panggilan terputus, dia malah yang komplain, "ko gk ada suaranya mas"

Ditambah, "gimana niki.. sekareng kulo mendet hak ku"

Jadi pengin tertawa saja. Dengan santai kubalas, "Tunggu saya transferkan dananya ke server dulu ya..."

Dia protes, "ya kirain jenengan yang jdo server ya."

"Kok dana belum masuk ya?" tanyaku pura-pura bodoh.

"ko belum masuk gimana mas.." tanyanya.

"Dicek di mutasi belum masuk."

"itu lo bukti transferan dari brilink langsung" gigihnya.

Struk editan tidak mutu begitu dia jadikan senjata. Kusarankan, "Coba komplain dulu ke brilink nya mbak."

"iya apa mas kurang percaya saya mimtain mutasi saya kak msd"
"oke mas"

"Atau ke BRI Weru, jauh gak dari puskesmas?" saranku.

"saya ini skarang izin ke atasan ku dulu kalau mau laporan ke bri"

"BRI nya jauh gak? Kasihan kalau jauh," tulisku mencoba memancing.

"iya jauh la mas jenengan bilang gak masuk aku penasaran aja mas bener aku transfer sndiri ko gak masuk"

Ini nih bikin ngakak. Orang BRI sama puskesmas tinggal nyeberang jalan tidak sampai 80 meter, dia bilang jauh. Penipu yang gagal!

"Kalau jauh ke BRIlink saja mbak," saranku pula. "Biar dicek sama yg punya BRIlink"

"iya ini mau ke briling minta bukti mutasi ya mas"
"iya kalau di briling bilang ada.trus mutasi ada juga kalau transfer gimana mas.."
"jangang bikin saya pusing lo mas"
"otw mas brilink"

Hm... Belum menyerah juga. Sabar juga ya. Jadi penasaran, pasti dia akan menunjukkan editan struk lain. Aku jadi tertarik, seberapa gigih dia dalam dunia tipu-tipu?

Sambil menunggu kejutan darinya, postingan ditutup dulu saja, ya. To be continued lagi deh! Tetap hati-hati ya, jangan sampai penipu bisa mudah pecundangi kita. Jangan asal percaya, waspada tetap penting.

Bersambung....
Kisahku dengan Seorang Wanita Cantik

Kisahku dengan Seorang Wanita Cantik



Selasa, 4 September 2018, aku sedang menghadiri acara rubukan di rumah salah seorang warga yang akan menikahkan anaknya. Rubukan adalah rembukan pembentukan panitia pelaksana selama hajatan dilaksanakan nantinya.

Ada sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor baru pada pukul 20.13 WIB. Kubuka dan kubaca segera. Pengirimnya dari nomor +6281999461555. Nomor yang lumayan cantik. "assalammualaikum apa bener ini dengan BUNGA 21 CELL"

Itu kalimat pertanyaan, harusnya ditutup tanda tanya. Tapi sudahlah, kutulis di sini apa adanya saja ya. Disusul chat selanjutnya, "NAMA .INDAH LESTARI, ADMIN Puskesmas Weru, Jl. Cawas - Tawangsari, Jelimbang, Ngreco, Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. saya mau daftar jadi agen pulsa"

Saya lekas membalas,  "Waalaikumussalam... Nggih leres... Dapat info dari mana nggih?"

Bersamaan dia menulis, "enjih niki nomer seng di daftar ne.081330878881 Nama PHC1 cell"

Dia juga membalas pertanyaanku, "dari 82 cell nami ne mas wanto."

"Kok asing nggih? 82 cell ki pundi?" tanyaku. Aku memang tidak bisa mengingat apakah ada atau kenal yang disebutnua 82 cell dan Mas Wanto. Atau memang daya ingatku sudah berkurang kali ya?

Dia membalas lagi, "dugi kecamatan gatak..niki kulo wa teros e teko beomi cell.. jadi 82 cell di kasi nomer ya dri beomi cell terus di kasih kan ten kulo.p"

Aku benar tidak ingat. Ada Beomi Cell juga. Kubalas, "Untuk transaksi bisa pakai sms atau pake telegram."

"siap mas.." tulisnya, "udah di daftarin belum mas"

"Belum," jawabku, "Ini masih acara rubukan. Utk deposit mau via transfer bank atau setor kesini?"

"iya kalau bisa dua" ya..mas, kulo pas wonten waktu kulo meriku lek kulo boten enten waktu pas saldo hbis kan saget di transfer ngoten lo mas"

Ditambahinya, "enjih lek jenengan sampun daftar ne jenengan kabari male enjih..kale jenenagan kerim nomer rekening e.."

"Nggih," balasku.

"enjih kulo entosi enjih mas," tulisnya.

"Jenengan kerja di puskesmas weru? Bagian nopo?" tanyaku.

"enjih, admin," balasnya. "pon di daftar ne dereng mas"

Lekas kudaftarkan di salah satu server pulsa yang kuikuti. Lalu kubalas, "Sdh saya daftarkan. Utk deposit transfer dilayani jam 6 pagi sampai 9 sore."

Agak lama tidak ada balasan. Aku segera ingat salah seorang teman SMP yang bertugas di Puskesmas Weru. Iseng kukirim WhatsApp padanya pada 21:01 WIB, "Assalamualaikum. Nyuwun pangapunten ganggu bu..."

Kukirimkan screenshot nomor dan foto profil nomor baru tadi padanya sambil kutanya apakah kenal, "Ngertos nomor niki bu? Tepang mboten?"

Ini screenshot-nya, cantik ya? Hehehe.
Untung temanku itu masih melek. Dia membalas, "Wa'alaikumussalam,, Wah,, gk kenal itu om. Knp itu?"

Dia menyebutku Om membahasakan (memosisikan panggilan) anaknya. Kubalas, "Tak kiro pun sare."

Lalu kukirim copy-an chat-ku dengan si nomor baru:

[4/9 20.13] +62 819-9946-1555: assalammualaikum apa bener ini dengan BUNGA 21 CELL
[4/9 20.39] +62 819-9946-1555: NAMA .INDAH LESTARI
ADMIN
Puskesmas Weru
Jl. Cawas - Tawangsari, Jelimbang, Ngreco, Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
[4/9 20.39] +62 819-9946-1555: saya mau daftar jadi agen pulsa

Temanku membalas, "Alamat pusksmas nya aj salah om. Cb tny2,,di puksms bagian ap?"

Aku juga janggal dengan alamat puskesmas yang tertulis, tapi aku cek di google memang alamat itu yang tercantum di sana. Kubalas dengan screenshot percakapan berikutnya:

[4/9 20.50] Wakhid Syamsudin: Nggih leres...
[4/9 20.51] Wakhid Syamsudin: Dapat info dari mana nggih?
[4/9 20.51] +62 819-9946-1555: enjih niki nomer seng di daftar ne.081330878881
Nama PHC1 cell
[4/9 20.51] +62 819-9946-1555: dari 82 cell nami ne mas wanto.
[4/9 20.52] Wakhid Syamsudin: Kok asing nggih? 82 cell ki pundi?
[4/9 20.57] +62 819-9946-1555: dugi kecamatan gatak..niki kulo wa teros e teko beomi cell..
[4/9 20.58] +62 819-9946-1555: jadi 82 cell di kasi nomer ya dri beomi cell terus di kasih kan ten kulo.p"

Sambil kukomentari, "Aneh. Koyo ra nyambung. Hehe."

"Hehee,, iyaaa," balas temanku. "Ya udah diemin aj om,,"

"Makasih bu... Maaf ganggu."

"Ya om,, sami2,,"

Kukirim percakapan yang ini:

[4/9 21.08] Wakhid Syamsudin: Jenengan kerja di puskesmas weru?
[4/9 21.08] Wakhid Syamsudin: Bagian nopo?
[4/9 21.21] +62 819-9946-1555: enjih
[4/9 21.21] +62 819-9946-1555: admin

"Cb di pancing2 om. Pura2 aj gk tau,," balas temanku.

"Mau tak daftarke dulu ntar biar transfer buat isi saldo."

"Yg pnting ati2 om,, Soale dr awal wes gak bener/ngapusi," tulisnya mengingatkan.

"Kalau dia transfer yo diiseni saldo," balasku.

"😁😁👍" balasnya dengan mengirim emoji tertawa dan jempol.

Nomor baru itu membalas pada pukul 22.40 WIB, "iya maaf tadi masih sibuk klosingan.. sekarang bisa gak mas deposit niki kulo wangsul kerjo ben kulo transfer sekarang sekalian?"

Kubalas, "Depositnya pakai sistem tiket. Otomatis masuk. Tapi jam 6-21."

Kuberi solusi lain, "Atau titip utk dimasukkan besok pagi boleh. Kirim ke rek BCA 0152617605 an Wakhid Syamsudin. Minimal 50rb."

"kalau rek ini rek ya siapa.." tanyanya tanpa tanda tanya.

"Ini rek saya."

Balasnya, "kalau tiket takut salah.."

"Jenengan pakai bank apa?" tanyaku.

"bri.. meno saget isi saldo sak niki.."

"Saldo mulai jam 6 pagi," balasku menegaskan.

"enjeh pon niki benjeng mawon pas kulo brangkat kerjo njeh," tulisnya, ia akan melanjutkan besok saat berangkat kerja.

"Nggih," pungkasku.

Malam semakin larut. Aku sudah pulang dari acara rubukan. Tampaknya kisah ini masih harus bersambung ke postingan berikutnya. Semoga kalian bersedia membaca lanjutannya. Sudah dulu, ya.

To be continued.
Curhat September

Curhat September


Memasuki bulan kesembilan penanggalan masehi, artinya saya kembali kepada kenangan tahunan yang tidak terlupakan. Ada tanggal penting yang saya tandai di bulan ini, yakni tanggal 25.

Benar, saya terlahir pada tanggal itu. Saya tidak akan membicarakan tentang zodiak, meski kata orang saya berbintang libra. Tapi apalah gunanya, saya bahkan tidak mau ambil tahu manfaat percaya-percayaan ilmu perbintangan satu itu.

Ada momen tidak terlupakan selain sekadar menandai hari lahir, yaitu hari bersejarah saya. Saya menikah dengan istri pada tanggal 25 juga. Dan sesungguhnya, saya sama sekali tidak punya andil dalam penentuan tanggal pernikahan itu. Murni dari keluarga pihak perempuan yang menentukan. Dan Tuhan maha berkehendak, ketika pilihan itu jatuh pada tanggal yang sama dengan kelahiran saya. Itu sebuah kebetulan yang unik.

Penentuan hari pernikahan itu juga bukan asal comot. Konon, bapak mertua saya, bapaknya istri saya, bisa disebut masih fanatik dengan hitungan-hitungan jawa dalam menentukan hari baik. Meski kami tidak peduli hal itu, tapi demi mematuhi beliau, maka kami menurut saja hasil hitungan hari baik versi beliau itu.

Tahun demi tahun kami lewati dalam kebahagiaan berumah tangga. September demi September kami lalui dengan segenap syukur. Beberapa pencapaian-pencapaian kecil maupun besar dalam rumah tangga, sebagian juga terjadi pada bulan kesembilan ini. Di antaranya membangun gubuk sederhana kami pada usia 5 tahun pernikahan yang juga harinya ditentukan oleh bapak.

Istri saya sok ikut-ikutan mencoba membuat rencana penentuan hari baik saat kami ingin memiliki anak kedua. Dihitung-hitungnya agar bisa lahir pada bulan September. Tapi sayang, kehamilan kedua belum terjadi pada bulan yang dihitungnya. Rupanya ia tidak sepandai bapak dalam menentukan hari baik, anak kedua kami lahir bulan November (Hallo, Rara!).

Itulah arti September bagi saya. Soal ulang tahun, kalian tidak usah memikirkan kado. Saya tidak merayakannya kok. Paling banter jajan keluar sekeluarga, dan itu juga untuk mengenang hari pernikahan. Sederhana saja, yang penting kebersamaannya. Kembali soal kado, tidak usah mikir bulannya, tidak harus September, kado buku bisa dikirim ke saya kapan saja. Mbak Wiwid juga tidak menunggu September untuk mengirimkan kado buku kemarin. Hehehe. (Makasih, Mbak Wid.)

Duh, ngomongin September, saya jadi ingat kalau pajak motor saya juga harus segera dibayar bulan ini. Ya sudah, segini dulu ya, curhatan September ala saya. Semoga September kita ceria, ya.

Selalu sejuk memandang wajahmu
Selalu tenang saat di sampingmu
Dua puluh lima september dulu
Janji setia di depan penghulu

Terasa sungguh kumembutuhkanmu
Terasa takut kan kehilanganmu
September demi september berlalu
Semakin dalam cintaku padamu


(Lirik lagu 25 September by Suden Basayev)
Bahayanya Bakat Menulis

Bahayanya Bakat Menulis


Sabtu malam, 1 September 2018, di grup WhatsApp NAC (Nulis Aja Community) salah satu program lanjutan ODOP untuk anggota yang ingin menulis buku solo, ada kelas dengan tema "Proses Kreatif Menulis" yang disampaikan oleh Mbak Dymar Mahafa.

Dalam penyampaiannya, ada salah satu pembahasan yang sempat membuat saya terhenyak. Mbak Dymar menukil tulisan John M Watson dalam Complete Guide to Magazine Article Writing, yang mengatakan bahwa bakat justru merupakan hal yang paling berbahaya dan merusak, jika kita tidak berhati-hati menerapkannya.

Mbak Dymar menjelaskan, bagi penulis pemula, ketika dia merasa memiliki bakat dalam hal tulis menulis, maka akan ada kecenderungan merasa mampu, bangga diri, tepuk dada dan melambung, hingga sesumbar bahkan jumawa. Seolah bakat menulisnya adalah segalanya, sehingga merasa bahwa menulis akan mudah saja dengan kemampuannya.

"Padahal kehidupan dan pengetahuan terus berjalan dan bertambah. Sehingga bukan nggak mungkin dia akan disalip oleh pribadi-pribadi yang tekun dan telaten, para calon professional," kata pemilik blog Dunia Dymar ini.

Menurutnya, ada baiknya setiap calon penulis memahami berbagai tehnik penulisan dalam ragam jurnalistik. Pemahaman itu sama pentingnya dengan kebutuhan akan impuls/rangsang kreatifitas di setiap penulisan artikel. "Nulis fiksi juga demikian," lanjutnya, "Pahami tehnik tulisan fiksi dengan baik."

Bagi Mbak Dymar, latihan terbaik adalah menulis, dan terus menulis. "Mungkin awalnya bisa dengan sedikit 'meniru' penulis lain, yang dikagumi atau yang cocok dengan sense kita. Tapi kemudian temukan kepribadian menulis teman-teman sendiri," demikian katanya.

Jadi, sudah jelaslah, sangat berbahaya jika kita merasa punya bakat dalam kepenulisan, sehingga rasa sombong untuk menerima ilmu baru akan menutup peluang kita untuk maju. Sekali lagi, kita bisa tertinggal dan disalip jauh oleh pribadi-pribadi yang tekun dan telaten, mereka itulah para calon professional.

Masih percaya menulis dan bakat adalah teman baik? Bolehlah kita tahu bakat kita di situ, tapi tetaplah berhati-hati dari kenyamanannya. Tetap harus mempelajari tehnik-tehnik menulis, dan senantiasa terbuka menerima masukan dan asupan-asupan ilmu baru.

Terima kasih, Mbak Dymar, atas materinya yang keren. Sukses selalu, ya!


Yuk, Kirim Tulisan ke Majalah Hadila

Yuk, Kirim Tulisan ke Majalah Hadila


Pertama kali mengenal Majalah Hadila, adalah ketika istri pulang liqa dan membawa salah satu edisinya. Saya sempat membaca-bacanya. Bagus sekali, meski majalah bulanan ini tidak dijual bebas, tapi hanya dibagikan untuk para donatur Solo Peduli, ternyata konten di dalamnya tidak asal-asalan yang hanya sebagai pelengkap laporan keuangan saja. Tapi majalah ini sangat total dalam mengupas tema yang berbeda tiap edisinya.

Tidak hanya itu, Hadila memiliki kontributor tetap yang mereka adalah para pakar di berbagai bidang yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sebut saja nama-nama itu; Sholihin Abu Izzudin, Maimon Herawati, Cahyadi Takariawan, Miftahul Jinan, Farida Nuraini, Supomo, dan beberapa nama lain. M. Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting, sempat dikontrak juga jadi kontributor Hadila, sayang beberapa edisi belakangan ini sudah tidak tampak lagi di rubriknya. Mungkin habis kontrak dan belum atau tidak diperpanjang.

Majalah Hadila tercatat sudah diterbitkan sejak November 2006, dan sampai September 2018 ini sudah masuk edisi ke-135. Majalah dengan tagline “Sahabat Keluarga Menuju Takwa” ini berupaya menjadi majalah yang terbaik untuk umat. Di samping itu, Hadila memiliki perhatian yang mendalam terhadap berbagai persoalan yang ada di masyarakat terutama pendidikan keluarga, keislaman, dan tumbuh kembang anak. Website resminya bisa kunjungi https://hadila.co.id/.

Sebagai manusia yang bercita-cita jadi penulis, saya selalu memperhatikan rubrik-rubrik pada majalah atau koran yang bisa dikirimi naskah. Begitu juga di Hadila ini. Saya melihat beberapa rubrik memang diperuntukkan untuk diisi pembaca.

1. Opini

Rubrik nonfiksi ini berisi opini yang kekinian, tema-tema yang dimuat tentu saja hal yang lagi tren. Artikel untuk rubrik ini dibatasi maksimal 4600 karakter termasuk spasi.

2. Pengalaman Rohani

Sebagaimana nama rubriknya, halaman ini khusus berisi kisah pengalaman spiritual atau kerohanian dari pembaca. Kita bisa mengirimkan kisah kita dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama (POV 1). Tidak banyak, maksimal 2500 karakter saja. Contoh tulisan saya di rubrik ini bisa dilihat di sini dan di sini.

3. Fiksi

Nah, ini untuk penyuka fiksi, bisa mengirim cerpennya ke Hadila. Tema yang diangkat seputar romantika rumah-tangga, dan cukup maksimal 6500 karakter termasuk spasi. Teman-teman bisa mengasah kemampuan dengan mengirim cerpen ke Hadila. Contoh tulisan saya di rubrik ini bisa dilihat di sini.

Tiga rubrik di atas adalah rubrik yang bisa diisi oleh pembaca. Semua naskah bisa dikirimkan via email ke majalah_hadila@yahoo.com. Kalau dimuat ada honor yang disiapkan oleh redaksi Hadila.  Untuk Pengalaman Rohani honor 100 ribu, cerpen dirubrik Fiksi honor 200 ribu, dan dikirimi  majalah bukti terbit. Dulu juga ada rubrik Kolom Muslimah, tapi sekarang tidak ada lagi. Tulisan istri saya pernah dimuat di rubrik itu berjudul Anak Itu Pun Rezeki, honornya sama, 100 ribu dan juga dikirimi 2 eksemplar majalah bukti terbit. Jadi cantumkan nama, alamat lengkap, dan nomor rekening bank dalam naskah yang dikirimkan.

Selain rubrik di atas, ada juga rubrik kiriman pembaca, tapi tidak berhonor seperti Tausiah (taushiah singkat lewat WhatsApp), Surat Pembaca, Sahabat Hadila (wadah ikut nampang foto kegiatan), Konsultasi Keluarga dan Konsultasi Syariah (pembaca yang mengirim pertanyaan). Untuk rubrik-rubrik ini tidak usah mencantumkan nomor rekening, ya.

Nah, saatnya ambil peluang. Yuk, kirim naskah ke Hadila. Lumayan honornya bisa buat beli novel baru. Sekaligus mengasah kemampuan menulis. Kan puas kalau ada tulisan kita bisa dimuat di media cetak. Semangat!

Mengenang Semangat Ngodop

Mengenang Semangat Ngodop


Saya suka membaca, lalu kepengin bisa menulis seperti apa yang saya baca. Mungkin itulah awal mula ketertarikan saya untuk menjadi seorang penulis. Meskipun saya sampai sekarang belum bisa benar-benar produktif dalam dunia corat-coret ini.

Perkenalan saya dengan komunitas menulis bernama ODOP (One Day One Post), yang mengajak saya Ngodop setiap hari, menantang saya untuk memaksimalkan kemampuan menulis. Atau mengasah pisau menulis tepatnya. Dan saya waktu itu, menyambutnya dengan antusias, hingga saya lolos menjadi anggota ODOP Batch 4.

Tidak terasa sudah nyaris setahun saya mengenal ODOP, hingga merasa menjadi bagian dari komunitas ini. Ada yang benar-benar tidak bisa terlupakan, sebagai kenangan saat Ngodop. Di antaranya adalah kemunculan tantangan tiap pekan yang selalu saya tunggu. Dan waktu itu, saya berusaha menyelesaikannya paling awal dari peserta yang lain.

Setiap habis salat Isya sampai menjelang jam 24.00, saya selalu menyempatkan menulis. Saya berusaha menyetor tulisan esok hari dari hasil menulis hari ini. Dan alhasil, setiap pukul 00.01 saya seringkali sudah mengirim link tulisan ke grup Share Link ODOP. Di grup Kentang waktu itu, saya ingat betul, sering berebut nomor 1 di share link dengan Mbak Uky. Seru juga rasanya. Dan puas kalau sudah bisa nangkring di urutan wahid.

Interaksi dengan sesama peserta ODOP sangat kental sekali. Saling kunjung blog, saling komentar kasih kritik-saran, atau sekadar say hello di grup. Obrolan-obrolan di grup baik yang serius, bahkan sampai yang kacau-balau, semua makin mendekatkan sesama peserta ODOP.

Dan kini, September ini, ada tantangan dari Bang Tian, sang ketua umum ODOP untuk Ngodop lagi. Antusiasme para anggota terlihat dari list nama yang bersedia ikut. Nah, mulai hari ini, Ngodop Lagi dimulai! Semangat! Semoga tidak kendor di tengah jalan. Aamiin.

Klik di sini untuk baca tulisan perdana Tantangan 1 di ODOP batch 4 saya dulu.