Coretan Basayev: April 2018
Umar Mukhtar Sang Singa Padang Pasir

Umar Mukhtar Sang Singa Padang Pasir


Saya baru kelar membaca sebuah buku terbitan Jazera, 2007, berjudul Umar Mukhtar, Napak Tilas Jihad Sang Singa Padang Pasir buah karya Dr. Ali Ash-Shallabi (judul asli: Umar Mukhtar, Hayatuhu wa Jihaduhu). Ini adalah buku nonfiksi sejarah yang menceritakan perjalanan jihad Islam di Libia melawan kekuatan Fasis Italia yang ditakuti di seluruh Eropa. Dipimpin mujahid besar yang tetap harum namanya hingga kini: Umar Mukhtar.

Dalam buku setebal 296 halaman ini, kita akan dibuat terpana dengan sosok mujahid sejati yang cerdas, pemahaman Islam yang tinggi, tidak kenal menyerah, ikhlas, kuat dan setiap serangannya menggentarkan para tentara lawan. Di hadapan musuhnya, Sang Singa Padang Pasir menegaskan: "Kami berperang karena Islam memerintahkan untuk melakukan hal itu!"

Kunci kehebatan Umar Mukhtar yang sangat unik adalah, bahwa dia beriman kepada Allah Taala dan semua makna dari keimanan tertanam kokoh dalam hatinya, sehingga dia tidak takut kepada siapa pun selaik Allah Azza wa Jalla.

Umar Mukhtar adalah sosok dai didikan As-Sanusiyah, yang dewasa dan tumbuh berkembang dengan melaksanakan risalah dakwah, menyampaikan amanah, memberikan peringatan serta kabar gembira. Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Bahkan wiridnya Umar Mukhtar adalah membaca Quran.

Dia sangat paham agama, menerima ajarannya secara utuh menyeluruh dan tidak parsial. Tidak boleh mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Dalam berjihad melawan kekuatan kolonial, Umar Mukhtar ikhlas semata mencari ridha Allah, sama sekali tidak mengejar popularitas.

Setiap kali pecah peperangan, bisa dipastikan kerugian demi kerugian yang cukup besar diderita penjajah Italia. Inilah kehebatan Umar Mukhtar dalam mengatur strategi perang. Cerdas dan selalu dengan perhitungan matang. Berjuang sampai usia lanjut dan akhirnya tertangkap, Umar Mukhtar pun tidak takut dengan tiang gantungan!

Salah satu ketertarikan saya membaca buku ini adalah berkat film Lion of The Desert yang pernah saya tonton. Kebetulan saya punya kaset VCD orinya. Dalam film dengan Umar Mukhtar sebagai tokoh sentralnya itu, terlihat jelas pertempuran demi pertempuran berhasil dimenangkan meski hanya berkuda sedang lawan menaiki kendaraan-kendaraan lapis baja. Kekejaman Italia terutama Jendral Grazziani yang tidak punya rasa kemanusiaan, membunuh siapa saja yang ditemui, orang tua, perempuan, dan anak-anak tak berdosa.

Di bawah ini bisa dilihat trailer film besutan Moustapha Akkad dengan pemeran utama Anthony Quinn sebagai Sang Singa Padang Pasir.



Saya merasa sudah komplit, menyaksikan film dan membaca buku yang informatif, sangat detail menjelaskan fase demi fase perang Libia ini.

Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita membaca sejarah sehebat ini. Umar Mukhtar bukan hanya menjadi pahlawan bagi Libia, lebih dari itu, dia adalah simbol mujahid sejati yang bisa dijadikan panutan bagi kaum muslimin dunia.

#tugasRCO3
#Tugas1Level3
#OneDayOnePost
Putra Salju

Putra Salju


Sovia dan Lutfi memandang sekeliling. "Kita di mana, Mas Suden?" tanya Lutfi.

"Tempat ini asing sekali. Kita tersesat?" Sovia kebingungan. Matanya tak henti memandang ke arah sungai yang arusnya cukup deras.

"Tenanglah kalian berdua. Kita menunggu seseorang. Sebentar lagi dia akan tiba." Saya mencoba menenangkan kedua remaja itu.

"Iya. Tapi mengapa tempat ini sepi sekali, Om?" tanya Sovia dengan nada kecemasan.

"Sungai ini biasa disebut Parit Besar. Ini kebetulan saja lagi sepi. Biasanya ramai kok. Banyak warga mengayuh jongkong melalui sungai ini. Bagi warga sekitar, Parit Besar ini serupa jalan raya dengan alat transportasi berupa jongkong, semacam sampan yang terbuat dari kayu bulat besar."

Lutfi terlihat serius mendengarkan penjelasan saya. Sementara Sovia masih memandang ke arah Parit Besar. "Terus, ini di mana?"

"Kita di Sebantan Besar, Sungai Guntung. Kita akan bertemu dengan seorang anak kampung bernama Putra Salju. Anak asli Bugis."

Sovia beralih memandang ke arah saya. "Namanya Putra Salju?"

Saya mengangguk. Sovia kembali bertanya, "Nama asli? Kok unik begitu?"

Saya tertawa pendek. "Itu nama pemberian Kepala Desa saat Sebantan Besar banjir besar dan anak itu menyelamatkan berkas data penting di balai desa. Ayahnya biasa memanggil dia Rudi dan ibunya memanggil Sufu."

Giliran Lutfi yang penasaran. "Kok bisa punya banyak nama begitu? Apalagi itu ... Putra Salju. Aneh banget."

"Iya. Kalau kalian penasaran kalian bisa baca novelnya."

"Novel?" Lutfi dan Sovia bertanya persis bersamaan.

"Iya. Novel yang kubaca sebagai tugas RCO yang kalian berdua sebagai pije-nya."

"Kok kita bisa sampai di sini? Menemui tokoh novel?" Sovia bertanya heran.

"Salah satu tantangan RCO, peserta diminta menulis di blog masing-masing dengan sebuah perandaian jika tokoh yang dianggap menarik dalam novel itu ada di dekat kita. Nah ... ini kita akan menemuinya."

"Bukannya kamu yang usul tantangan kayak gini, Sov?" Lutfi mengingatkan Sovia.

"Perasaan kamu deh yang pertama usul."

"Bukannya kamu?"

"Kamu kok pelupa, Lut."

Saya tersenyum melihat kedua remaja itu saling tuduh. "Sudahlah. Kalian selama ini sudah terlihat kompak. Jangan mengubah imej."

Keduanya memandang saya. Sovia bertanya, "Lalu kita mau ngapain ketemu si Putra Salju?"

"Aku berencana mengusilinya."

Duo pije muda taruna itu saling pandang dengan mulut membentuk huruf O. Lutfi huruf O besar dengan font bold, Sovia font kecil dan italic.

"Kalian ngikut saja. Nanti kalau dia datang, aku akan memamerkan kemampuanku menghilang dari pandangan mata."

"Menghilang?"

"Om bisa menghilang?"

"Iyalah. Pada cerita fiksi kali ini, Om punya ajian menghilangkan diri. Suka-suka yang nulislah."

"Enak dong. Aku juga mau bisa ngilang, Om."

"Tidak, Sov. Ini khusus untuk aku saja."

"Om curang."

"Suka-suka yang nulis dong. Kalian ikut menjadi saksi saja bagaimana aku mengerjai tuh anak."

"Mas Suden, ada yang datang." Lutfi menunjuk sebuah arah. Memang terlihat seorang anak beranjak remaja berjalan ke arah kami.

"Yang kita tunggu tiba."

Anak remaja itulah si Putra Salju. Begitu sampai di depan kami, dia berhenti. "Kaliankah yang ingin bertemu dengan saya?"

Saya lekas menjawab. "Iya. Kamu Putra Salju, bukan?"

"Orang kampung memanggil saya begitu."

"Ayahmu memanggilmu Rudi dan ibumu memanggilmu Sufu."

Putra Salju menatap heran ke arah saya. "Anda tahu itu semua? Sebenarnya siapa kalian?"

"Aku penunggu hutan tempat kamu dan teman-temanmu tempo hari mencari ilmu kesaktian macam Wiro Sableng."

"Anda juga tahu kejadian itu?" Putra Salju tambah heran.

Saya tertawa dengan nada terkesan congkak. Akting saya lumayan bagus. "Bahkan aku tahu semua tentangmu. Kamu pernah hampir kehilangan ibumu saat menjual sayur ke Kuala Selat. Jongkong kalian terbalik dan ibumu yang tidak bisa berenang itu nyaris tenggelam."

Putra Salju semakin terkejut. "Luar biasa. Bahkan kejadian menyedihkan itu sampai ke telinga Anda."

"Itu tidak penting. Aku kemari menemuimu karena aku sebagai penunggu hutan merasa terganggu dengan ulah kalian."

Putra Salju memandangi saya penuh selidik. "Anda manusia biasa, kan?"

Saya tergelak. "Sudah kubilang aku adalah penunggu hutan. Aku bukan umumnya makhluk sepertimu. Aku bisa menghilang. Perhatikan baik-baik."

Saya segera merapal ajian menghilang. Dalam sekejap tubuh saya lenyap dari pandangan Putra Salju, Sovia, dan Lutfi. Putra kaget. Begitu juga duo pije RCO. Sovia saking takutnya merapat ke Lutfi dan kesempatan itu digunakan Lutfi untuk memeluknya.

"Tenang, Sov. Ini fiksi, kok," hibur Lutfi, meski ia bergidik juga menyaksikan saya bisa menghilang.

"Hahaha." Saya pamerkan tawa saya meski tubuh tidak kelihatan. Saya lihat Putra Salju pucat pasi.

"Anda benar-benar bisa menghilang? Saya ... saya mohon ampun jika ulah saya dan teman-teman mengganggu Anda. Kami janji tidak akan mengulangi lagi. Kami tidak akan mencari ilmu kesaktian lagi di hutan."

Mendengar kata-kata Putra yang gemetar itu, saya makin keras tertawa. Sovia makin erat dalam dekap Lutfi.

"Baguslah kalau kalian sadar. Jangan pernah lagi mencari kesaktian di hutan. Cukup Daeng Paraaga yang tersesat dengan ilmu hitam itu."

"Anda juga tahu tentang orang tua sakti itu?"

"Sudah kubilang semua tentangmu dan apa di sekitar hidupmu aku tahu," kata saya dengan nada sombong minta ampun. Terang saja saya tahu karena saya sudah membaca tuntas novel Putra Salju karya Salman el-Bahry yang menceritakan kisahnya itu.

Putra makin pucat saja wajahnya. "Sekali lagi saya mohon ampun."

"Baiklah. Aku ampuni kalian."

Beberapa saat kemudian, saya tampakkan ujud di depan ketiga remaja itu. Sovia lega melihat saya kembali muncul, dan baru sadar didekap Lutfi. Segera ia mendorongnya sampai terjengkang. "Lutfi kamu mencari kesempatan dalam kesempitan?"

Lutfi mengaduh. Lalu bangun. "Kan kamu yang minta perlindungan, Sov," belanya.

Putra mengatur napas menenangkan diri. Entah mimpi apa semalam sehingga kini ia bertemu penunggu hutan angker.

"Putra Salju," kata saya. "Ingat kata-katamu sendiri, ya. Jangan lagi mengulangi mencari kesaktian di hutan. Itu tidak baik."

Putra lekas mengangguk. Bersamaan terdengar sebuah suara seiring munculnya seseorang. "Rudi ... Ayah datang, Nak. Ayah merasakan kamu dalam bahaya. Ini Ayah datang siap membantumu!"

Kami semua terkejut dan melihat ke asal suara. Terlihat seorang lelaki paruh usia berperawakan gagah berdiri tidak jauh dari mereka. Lelaki itu berkacak pinggang dengan baju sedikit tersibak seolah sengaja memamerkan badik kesayangannya yang terselip di pinggang sebelah kiri.

"Ayah!" Putra Salju menghambur ke arahnya. Sesampai di dekat sang ayah, Putra berbicara dalam bahasa Bugis sambil menunjuk-nunjuk ke arah saya.

Saya terkejut bukan main. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan keduanya. Tapi saya mendadak waswas, jangan-jangan Putra mengadu bahwa saya mengancamnya atau apa. Saat ayah Putra menyentuh gagang badik membetulkan letaknya, saya tiba-tiba ketakutan. Saya hanya berpikir untuk segera kabur dari tempat ini.

"Mas Lutfi, Sovia. Itu bapaknya si Putra. Ia tak segan membunuh orang kalau ada yang mengganggu keluarganya." Suara saya bergetar. Duo pije RCO ikut kebingungan.

Saya yang panik lekas lari. Entah saya menginjak apa, licin dan membuat saya tergelincir dan tercebur ke sungai. Ya Allah ... sungainya ternyata dalam!

"Lutfi ... Mas Suden tercebur sungai!" Sovia menjerit.

Semua mata memandang ke arah saya yang kelimpungan. Tangan saya mencoba menggapai ke segala arah mencari pegangan tapi tidak meraih apa-apa. Duh ... saya akan tenggelam? Saya tidak bisa renang!

"Lutfi cepat tolongin Mas Suden!" Sovia lekas berseru ke arah Lutfi.

"Aku juga tidak bisa renang, Sov! Kamu saja cepat sana!" Suara Lutfi sempat saya dengar.

"Dih ... jangankan renang, aku menyentuh air saja ogah, kok. Mandi saja malas apalagi nyebur ke sungai!" Sovia menyahut.

Lutfi mulai panik juga.

"Terus bagaimana ini? Mas Suden akan tenggelam!" Sovia menunjuk-nunjuk ke sungai.

Saat itulah, terlihat seseorang berlari dan mencebur ke sungai. Dialah Putra Salju. Dalah yang akhirnya menyelamatkan saya. Saya tidak menyangka, meski habis saya usili ternyata anak Bugis itu dengan ikhlas menolong saya yang nyaris tenggelam.

"Keren. Putra Salju ...." Sovia terpesona.

Lutfi melihat mata Sovia berbinar membentuk tanda hati segera menariknya. "Kamu jangan macam-macam. Jangan gampang suka sama cowok yang baru kamu kenal!"

#TantanganRCO
*Putra Salju adalah nama tokoh utama dalam nove Putra Salju karya Salman el-Bahry terbitan Diva Press.

Blog Lutfi

Blog Lutfi


Saya masih di perpustakaan Serba Ada ketika sejenak berhenti membaca. Agak lelah juga mata saya melahap lembaran buku. Saya pandangi sekeliling. Pandangan saya tertumbuk ke arah seorang remaja yang tengah memilih bacaan di rak buku-buku agama. Saya lekas berdiri, berjalan mendekatinya. "Mas Lutfi," sapa saya saat sudah berada di sampingnya.

Remaja asal Jombang itu agak terkejut saat saya sapa. Mungkin dia sedang fokus pada aktivitas memilih bukunya. "Eh, Mas Suden," sambutnya dengan nada setengah terkejut.

"Kupikir kamu sudah pulang bareng Sovia tadi?"

"Belum, Mas. Saya lagi cari buku yang menginspirasi buat ditulis di blog," jawab Lutfi sambil masih asyik memilih.

"Blog kamu yang https://caklutfi.blogspot.co.id itu ya?"

Remaja kelahiran 28 Juli 1999 itu mengangguk. "Iya, Mas."

"Blog kamu bagus, lho," komentar saya jujur.

"Biasa saja, Mas. Blog pemula yang masih apa adanya," katanya merendah.

"Aku berkata jujur, lho, Mas Lutfi. Tampilannya sederhana tapi elegan, tidak berat saat dikunjungi, jadi nyaman saja bawaannya kalau baca-baca di situ."

Lutfi berhenti mencari buku dan beralih memandang saya. "Memangnya Mas Suden suka berkunjung ke blog saya?"

"Sekali waktu tentu saja," jawab saya.

"Mungkin ada masukan buat blog saya, Mas?"

Saya terdiam sejenak. "Apa, ya? Blog kamu sudah keren begitu. Tombol navigasi sudah terisi dan tidak ada yang invalid link-nya. Sudah dilengkapi tombol sosial medianya. Ada logo Facebook dan Twitter yang terhubung ke akun sosmedmu, kan?"

"Iya, itu sudah saya atur, Mas."

Saya mengangguk-angguk, sambil mengingat lagi tampilan blog remaja aktivis Rumah Muda itu. "Oh, iya, ada yang kurang."

"Apa, Mas?"

"Yang di bar bawah, rombongan About, Contact, Disclaimer, Privacy Policy, dan Sitemap belum kamu sentuh, ya?"

"Iya, itu belum, Mas. Nantilah, kalau saya sudah agak longgar waktunya. Saya sedang agak sibuk nih."

"Sibuk mengurus RCO?"

Lutfi tertawa khas. Remaja satu ini memang selalu ceria di mana pun berada. "Mas Suden tahu saja."

Aku ikut tertawa kecil.

"Apa lagi masukan Mas untuk blog saya?"

"Hanya itu mungkin. Blog kamu isinya kajian ringkas keagamaan yang cukup ringan membahasnya, kamu masukkan semua kajian itu pada label Indahnya Islam yang bisa diklik langsung di navigasi Islam Kita, bukan?"

"Iya, Mas. Saya juga bikin tutorial kecil-kecilan di label Caraku."

"Tapi itu bagus dan bermanfaat lho," sambut saya tulus. "Yang Inspirasi juga keren. Sangat memotivasi berbuat kebaikan. Semoga Allah membalas kebaikan untukmu, Mas Lutfi."

"Aamiin, Mas Suden."

"Di blog-mu juga kamu tulis hal-ihwal kegiatan Rumah Muda dan Wisata yang cukup informatif. Kamu lanjutkan terus, ya. Yang semangat menulisnya," kata saya mencoba menyemangati.

"Iya, Mas, terima kasih atas review-nya."

"Sama-sama."

"Oh, iya, Mas. Obrolan kita ini Mas tulis saja di blog Mas Suden."

"Buat apa?" tanya saya.

"Saya sama Sovia berencana bikin tantangan bonus buat peserta RCO, yakni me-review blog sesama peserta. Nah, Mas Suden bisa menulis obrolan ini tadi di blog Mas. Selesai deh tugasnya."

"Jadi, blog teman yang di-review bisa kita pilih sesukanya gitu?"

"Nanti saya bagi per kelompok. Pokoknya beres saja sama saya, Mas. Nanti saya atur biar kita satu kelompok yang saling me-review. Tapi saya akan me-review blog teman yang lain biar sama rata."

"Aku sudah pasti dapat jatah review blog Mas Lutfi?"

"Nanti Mas Suden saya tulis di list nomor atas saya. Terus, biar peserta lain tidak curiga, Mas pura-pura usul agar yang di-review adalah blog di urutan bawahnya, jadi deh blog saya yang Mas Suden dapatkan."

Saya mengangguk-angguk. "Baiklah, itu bisa diatur."

"Oke, Mas. Terima kasih lho, ya, atas kerjasamanya."

Saya tertawa. "Suka-suka kamulah, Mas Lutfi."

#TantanganBonusRCO
#ReviewBlog
Innalillahi, Sastrawan Danarto Meninggal Dunia

Innalillahi, Sastrawan Danarto Meninggal Dunia


Kabar duka dari dunia sastra Indonesia menyentak. Danarto, penulis dan sastrawan kelahiran Sragen, 27 Juni 1940, meninggal dunia akibat kecelakaan yang dialaminya. Penulis yang terkenal dengan kumpulan cerpen berjudul Godlob (1975) itu meninggal pada Selasa, 10 April 2018 pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kecelakaan yang dialami Danarto terjadi saat dia menyeberang jalan dari arah Kampung Utan di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan sekira pukul 13.30 WIB. Sastrawan yang pernah memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982 ini hendak menuju ke Kantor Cabang BRI. Saat itulah, sebuah sepeda motor yang dikendarai Surya Lesmana (20) melaju menuju Lebak Bulus dari arah Ciputat. Motor itu menabrak Danarto saat tiba di dekat showroom Mandiri Motor.


Kondisi terakhir Danarto sebelum akhirnya meninggal dunia.
Penulis penerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan tahun 2009 ini mengalami pendarahan di kepala. Dia sempat dilarikan ke Rumah Sakit UIN sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Kondisi yang parah mengantar sang sastrawan menghadap Tuhannya pada pukul 20.45 WIB.

Jenazah akan dikebumikan di Sragen, di samping makam ibunya, sesuai wasiat yang pernah disampaikannya pada salah satu sahabatnya kala masih hidup. Semoga arwah almarhum diterima di sisi Allah dan ditempatkan di tempat terbaik. Aamiin.
Di Antara Lembaran Buku

Di Antara Lembaran Buku


Sovia segera menegurku, "Om, apa kabar?"

Aku menoleh gadis remaja itu sejenak. "Apaan sih, Sov? Aku lagi sibuk baca nih!"

Sovia merengut karena aku sudah kembali pada halaman buku yang kubaca. Memang tidak asik kalau diganggu pas seru-serunya baca.

"Berhenti baca bentar napa sih, Om?"

Kututup buku juga akhirmya. Lalu memandang gadis remaja yang sudah duduk di seberang meja yang kupilih di ruangan perpustakaan Serba Ada ini. "Ada apa sih, Sov, sampai kamu ganggu aku baca?"

"Bentar saja deh, Om."

"Kamu mau bicara sesuatu?"

"Iya."

"Penting?"

"Iyalah, Om."

"Penting mana sama mandi bagimu?"

Sovia cemberut. "Dih, Om gitu!"

Aku tertawa pendek. "Baiklah, lekas katakan keperluanmu. Aku nanggung mau selesaikan baca. Ini juga untuk setoran bacaan di RCO. Kan kamu yang jadi pije-nya."

Sovia tersenyum. "Iya, sih. Bentar, Om."

Sovia mengedarkan pandangan ke segenap penjuru perpustakaan. Terlihat beberapa pengunjung memilih buku di rak-rak berjejer, sebagian menekuni bacaan di bangku-bangku yang tersedia. Beberapa anak kecil melihat ikan di dalam akuarium yang ada di pinggir ruangan. Sovia celengukan sepertinya mencari sesuatu.

"Kamu cari siapa?" tanyaku.

"Itu dia, Om, sudah kemari orangnya."

Aku ikut melihat ke arah tatapan mata Sovia. Terlihat seorang remaja lelaki yang sangat kukenal, berjalan mendekat. "Kamu ke sini sama Lutfi, Sov?" tanyaku.

Sovia mengangguk. "Iya, Om."

"Kok bisa? Bukannya kalian sudah putus?" tanyaku heran, bersamaan Lutfi tiba di meja kami.

"Mas Suden, apa kabar?" tanya Lutfi.

"Sangat baik hati, Mas Lutfi. Kamu sendiri gimana?"

Lutfi menyalamiku sambil menjawab, "Sehat selalu, Mas. Tetap ceria meski tanpa Sovia di hati. Tetap ceria dengan kesukaan saya berlagu accapela. Hahaha."

Aku ikut tertawa mendengar perkataannya.

"Oh, iya, bagaimana ceritanya sepasang mantan bisa ke perpustakaan ini berdua?" tanyaku ppenasaran.

"Mantan pacar tidak harus jadi mantan sahabat, Mas. Kita masih bersahabat baik kok," jawab Lutfi sambil melirik Sovia. "Ya, nggak, Sov?"

Sovia menganguk mantap. "Iya, Om. Kami tetap sahabatan. Apa lagi di RCO kami jadi pije berdua saja. Harus saling support biar kegiatan baca RCO lancar."

"Bagus sekali. Aku salut sama kalian," kataku tulus.

"Biasa sajalah, Om," kata Sovia. "Oh iya, kami menemui Om ini cuma mau nanya, kenapa Om ikut RCO lagi padahal sudah lulus di RCO yang kedua kemarin?"

Aku menarik napas dalam. "Semua karena aku memang merasa butuh keberadaan RCO, Sov."

"Maksud Om?"

"Tanpa RCO, mungkin hobi membacaku tidak bisa konsisten. Lebih sering lupa membaca karena kesibukan harian."

"Jadi Mas merasa dengan adanya RCO bisa membuat konsisten Mas Suden dalam membaca, gitu ya?" simpul Lutfi.

Aku mengangguk. "Dan aku selalu kangen untuk melaporkan bacaan ke RCO."

"Dih, kangen. Jangan kangenlah, Om, berat lho!" sahut Sovia.

Aku tertawa. "Memang berat kalau kangen. Makanya aku ikut RCO lagi."

"Manfaat RCO bagi Mas Suden apa?" tanya Lutfi.

"Buat memancing agar aku mau menulis terus. Karena membaca adalah syarat wajib bagi penulis. Apa lagi penulis pemula seperti aku ini."

"Gitu, ya, Mas? Baguslah."

"Apa lagi yang perlu ditanyakan? Kalau tidak ada, aku mau nerusin baca."

Kedua remaja itu saling lirik. Lalu sama-sama mengangkat bahu. Sovia lekas berkata padaku, "Cukuplah, Om. Maaf sudah mengganggu. Silakan teruskan bacanya."

"Oke. Habis ini kalian mau ke mana?" tanyaku.

Sovia agak sungkan menjawab. "Em, Sovia mau pulang, Om."

"Pulang?"

"Iya, mau mandi. Hihihi. Soalnya tadi ke sini lupa belum mandi, Om."

"Om maklum kok. Santai saja, Sov."

"Saya juga pamit, Mas. Mau baca juga, biar terbiasa membaca."

"Bagus, Mas Lutfi. Sambil accapella shalawatan juga boleh. Hehehe."

Kedua remaja itu pamit. Lalu aku kembali pada buku bacaanku.

#Tantangan1RCO'3
Peduli

Peduli


Suatu siang, saat saya pulang dari Solo menuju Weru, Sukoharjo paling selatan, motoran berbonceng sama istri dan si kecil Rara. Rara yang tadi tertidur rupanya sudah bangun dan minta berdiri di belakangku, melihat jalanan sambil dipegangi bundanya dari belakang.

Di sebuah perempatan, lampu lalu lintas menyala merah. Kami berhenti bersama belasan motor lain. Asap kendaraan berbaur dengan debu jalanan ditambah tiupan angin dan sengatan matahari siang. Sementara Rara masih asyik menunjuk-nunjuk sana-sini di belakang punggung saya. Seorang bapak yang motornya berhenti di samping kiri saya agak ke belakang tampak menyapa bundanya Rara. Saya tidak sempat mendengar dialog singkat mereka karena lampu hijau sudah menyala. Mungkin si bapak bertanya jalan.

Lampu hijau mengalirkan arus kendaraan yang searah dengan saya. Saya pun ikut pada aliran kuda-kuda besi itu. "Nanya jalan ke mana bapak itu tadi, Bun?" tanya saya ke istri sambil memacu gas motor dengan kecepatan sedang.

"Bukan nanya jalan kok, Yah," jawab bundanya Rara itu.

"Oh, kirain. Terus, nanya apa?"

"Si bapak tadi itu cuma bilang ke Bunda agar si kecil dihadapkan ke belakang. Kata beliau, kasihan madep ke depan, banyak debu dan asap kendaraan."

Aku sejenak tercenung. Lalu menanggapi, "Wah, perhatian sekali ya, beliau."

"Iya."

"Ternyata zaman sekarang masih ada yang peduli pada orang lain, ya, Bun?" komentar saya.

"Iya, Yah. Beliau sudah sepuh. Mungkin masa muda si bapak dulu orangnya juga punya empati dan simpati yang tinggi pada orang lain."

"Benar, Bun. Seharusnya rasa peduli semacam itu tetap harus dipupuk biar tidak punah," kata saya.

"Ayah benar. Jadi sebagai makhluk sosial kita tetap punya perhatian pada orang sekitar."

Saya melirik Rara. "Si Rara kok masih menghadap ke depan terus?"

Istri saya tertawa kecil. "Iya, Bunda belum mematuhi anjuran si bapak."

Lalu terdengar istri saya membujuk Rara agar mau dipangkunya dan tidak menghadapkan muka ke depan menyambut debu jalanan. Sementara kendaraan demi kendaraan berebut untuk lebih dulu berjalan.